Idul Fitri tidak terlepas dari simbol ketupat. Ketupat bagi masyarakat Jawa disebut sebagai kupat. Kupat berasal dari tembung kerata basa, ngaku lepat. Maknanya adalah mengaku bersalah. Di samping itu, kupat juga dapat diartikan laku papat, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Orang yang mengaku bersalah dan banyak dosa senantiasa akan beribadah kepada Allah SWT, akan memegang teguh ajaran dan amalan agama Islam, akan senantiasa meningkatkan keimanannya, akan selalu membersihkan diri dan berserah diri hanya kepada-Nya, sehingga benar-benar mencapai derajat manusia taqwa yang berakhlakul karimah.

Bagi daerah se-wilayah Magelangan, maupun beberapa tempat yang lain, selain identik sebagai simbol Idul Fitri, kupat juga menjadi sajian kuliner yang khas. Magelang sendiri memiliki kupat tahu, atau terkadang disebut juga tahu kupat. Sepanjang pinggiran jalan raya di tikungan Blabak tersohor sebagai pusat kuliner kupat tahu yang paling awal di Magelang. Adapun kupat tahu Pak Pangad merupakan idola kupat tahu ternama di Kota Magelang. Di samping itu, di beberapa lokasi juga tersaji kuliner bakso kupat. Sajian bakso bulat yang dilengkapi dengan irisan kupat.

Lain ladang lain belalang. Lain daerah demikian pula lain adat dan kebiasaannya. Jika kupat dikaitkan dengan lebaran sebagai menu sajian utama yang dipadukan dengan opor ayam dan disajikan sebagai menu suguhan lebaran, di Magelang dan sekitarnya hal itu tidak begitu populer. Satu dua memang ada beberapa keluarga yang menyajikan kupat dan opor ayam. Namun demikian dikarenakan jumlahnya tidak seberapa banyak, maka kupat dan opor ayam tidak bisa dikatakan identik sebagai simbolisasi lebaran di Magelang.

Meskipun demikian, kupat sebagai simbolisasi ngaku lepat sebagaimana disinggung sebelumnya dapat dikatakan secara aklamasi menjadi simbolisasi Hari Raya Idul Fitri. Sebuah perayaan ummat Islam setelah selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.

Setibanya Hari Raya Idul Fitri, sebagian besar ummat Islam merayakannya dengan saling berkunjung, saling berilaturahmi, saling bermaafan diantara sanak saudara, kerabat, kenalan, dan handai taulan. Namun demikian, ada pula sebagian kalangan ummat Islam yang hanya melakukan jeda buka puasa pada tanggal 1 Syawal saja. Selanjutnya dari tanggal 2 hingga 7 Syawal, mereka langsung melaksanakan puasa Sunnah atau nyawal. Bagi kalangan yang kedua ini, berlebaran baru dirayakan pada hari ke-8 bulan Syawal. Salah satu perayaan selepas puasa nyawal adalah gelaran Grebeg Kupat.

Salah satu gelaran Grebeg Kupat yang menyedot perhatian banyak kalangan adalah Grebeg Syawal di Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Atas inisiasi dari kalangan sesepuh dusun setempat dan dukungan dari para seniman muda yang ada di dusun tersebut digelarlah Grebeg Kupat pada Ahad, 2 Juli 2017.

Acara Grebeg Kupat diawali dengan penyelenggaraan halal bi halal warga Dusun Dawung dan kaum kerabat yang berkesempatan hadir. Acara syawalan untuk saling mengikrarkan kesalahan dan kekhilafan sekaligus untuk saling bermaafan tersebut dilaksanakan di area Masjid Darussalam semenjak pagi hari hingga menjelang waktu Dzuhur. Gunungan kupat yang sudah dipersiapkan sebelumnya sudah terpajang dengan anggun di pelataran masjid.

Dengan pementasan tarian jaran kepang dan janthilan di lapangan utama dusun, selepas tengah hari, rangkaian acara Grebeg Kupat berlanjut. Setelah sambutan sepatah dua patah kata dari perwakilan panitia dan sesepuh dusun, barisan kirab yang terdiri atas para sesepuh, pamong, dan masyarakat luas bergerak menuju Masjid Darussalam. Sambil menanti kedatangan gunungan kupat, penonton disuguhi dengan tarian buto gedruk.

Sekitar setengah jam berlalu, datanglah kirab gunungan kupat yang diusung dan diarak dari Masjid Darussalam. Cucuk lampah atau bagian terdepan barisan kirab dipimpin oleh seorang panglima pasukan yang membawa sapu lidi. Sapu lidi yang disibakkan ke kanan dan kiri oleh panglima tersebut merupakan simbolisasi agar segala halangan dan aral yang melintang di tengah jalan maupun mengganggu jalannya Grebeg Kupat dapat disingkirkan bahkan disirnakan.

Selepas gunungan kupat tiba di lapangan utama, sejurus kemudian salah seorang tetua dusun memberikan wejangan mengenai makna maupun maksud penyelenggaraan Grebeg Kupat di tempat tersebut. Pada intinya acara grebeg dijadikan sarana berkumpul warga dusun sekalian untuk sekaligus saling bermaafan seiring dengan datangnya Hari Raya Idul Fitri.

Setelah wejangan selesai, tibalah saatnya acara Grebeg Kupat dipuncaki. Dengan aba-aba dari pimpinan pamong pemerintah dusun setempat, gunungan yang terdiri atas ratusan kupat segera dikerubut dan direbutkan oleh segenap warga yang hadir. Lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak, bahkan para kakek-nenek dengan penuh semangat menggrebeg gunungan kupat setinggi lebih dari 4 meter tersebut.

Mungkin diantara para pembaca ada yang berpikiran, lha kalau kupatnya diperebutkan banyak orang apa tidak akan berjatuhan, apa tidak akan rusak tergencet, apa tidak akan kotor, apa ya kemudian bisa dimakan. Yups, sayapun pada awalnya memiliki pemikiran yang kurang lebih demikian. Namun dalam rangka mengantisipasi agar kupat yang digrebeg tidak mubazir, panitia menyiasati kupat yang dipasang pada gunungan kupat tersebut hanyalah kupat kosong. Ya, kupat kosong dan mentah. Kupat yang tidak diisi dengan beras dan dikukus. Kupat tersebut justru diisi dengan urang recehan dua ribuan, lima ribuan, hingga puluhan ribuan. Bahkan beberapa diantaranya diisi dengan vocer makan bakso atau mie ayam gratis. Elok tenan!

Meskipun acara inti dari Grebeg Kupat yang digelar adalah grebeg gunungan kupat, namun rangkaian acara keseluruhan berlangsung hingga malam hari. Di sesi malam selepas Isya’ masih dipentaskan seni topeng ireng, janthilan kuda lumping dan sendra tari.

Kehadiran penulis di acara Grebeg Kupat kali ini merupakan kehadiran untuk yang pertama kalinya. Melihat antusiasme dan keguyuban yang luar biasa dari segenap panitia, para pelaku pentas seni, dan masyarakat umum secara luas menorehkan sebuah kesan yang luar biasa betapa kayanya masyarakat dan bangsa Indonesia dengan beragam nilai kearifan lokal yang sungguh luar biasa. Semoga tradisi yang membawa kepada keguyuban dan persatuan diantara sesama anak bangsa semacam Grebeg Kupat dapat terus lestari.

Ngisor Blimbing, 9 Juli 2017

Foto dipinjam dari sini, sini, sini, sini, sini dan sini.