Lebaran memang masih kurang dua pekan. Di samping semarak berita bertema seputar mudik, media massa kita juga tengah semangatnya mengekspos Magelang. Ha……? Mengekspos Magelang bagaimana maksudnya?

Meskipun jaman sudah sedemikian pesat dengan cepatnya arus informasi, Magelang bisa dibilang sebagai sebuah daerah yang jarang menjadi buah bibir di tingkat nasional dalam artian menjadi pusat perhatian masyarakat sebangsa setanah air. Berita tentang Magelang paling banter ya tentang seputar aktivitas gunung Merapi atau perayaan Tri Suci Waisak dari Mendut dan Borobudur. Kalau tidak yang berita tentang kobongan alias kebakaran pasar tradisional. Lha yang ini bukan tentang itu po? Lalu kenapa bisa membuat gempar?

Dengar juga berita tentang dukun pengganda uang yang kini tengah hangat dimana-mana? Sebagai warga asli asal Magelang terus terang sayapun merasa kaget sekaligus nggumun tentang aksi sadis sang dukun pengganda uang. Muhyaro, demikianlah sosok buah bibir yang sedang kondang kaloka sak indenging Nuswantara itu. Sosok warga dusun Petung, desa Ngemplak, Windusari, Magelang tersebut konon hanya dikenal sebagai petani biasa yang tiba-tiba kaya mendadak. Dalam kurun waktu beberapa waktu terakhir, lelaki yang memiliki dua istri tersebut mampu membangun rumah permanen yang tergolong bagus, bahkan sekaligus membeli 3 motor plus 3 mobil. Mencermati keseharian petani yang mengelola sawah, ladang dan perkebunan itu, warga sekitar tidak menaruh kecurigaan berlebih. Namun tiba-tiba dusun sunyi di tepi gunung Sumbing tersebut menjadi perhatian masyarakat luas.

Konon pada awalnya beberapa orang percaya bahwa Muhyaro dapat menyembuhkan beberapa macam penyakit. Dari dukun penyembuh penyakit, berkembang pula ia mampu menggandakan uang. Kabar angin ini justru tersebarnya jauh di luar dusun kecil di kaki Sumbing dimana Muhyaro tinggal. Dan memang semenjak awal, para “pasien” dukun ini terdiri dari orang-orang jauh.

Mula-mula seseorang menitipkan uang ratusan ribu kepadanya. Dalam selang waktu tertentu uang tersebut dapat berlipat ganda menjadi dua kali lipatnya. Mungkin saja hal ini bisa terjadi hanya atas tipu daya dan reka-reka sang dukun untuk menipu pasien yang lebih banyak. Berita menyebar saur manuk dari mulut ke mulut. Uang yang dipercayakan untuk digandakanpun semakin besar, bahkan hingga ratusan juta dan milyaran rupiah. Ibarat seorang bandar togel, Muhyaro merasa semakin tergiur untuk menyanggupi penggadaan uang.

Semakin banyak orang dan uang yang dititipkan ternyata Muhyaro tidak sanggup benar-benar menggandakannya. Waktu kian berlalu, pihak-pihak yang merasa menitipkan uang menginginkan uangnya kembali. Didorong oleh bisikan setan untuk mempertahankan uang titipan yang sudah digenggamannya, ia nekad menghabisi beberapa pasiennya. Hingga kini sudah terungkap pembunuhan keji atas beberapa orang yang diketemukan di ladang sekitar rumahnya yang terletak di pinggiran dusun yang cukup sunyi dan sepi.

Muhyaro memang gendheng! Kasus penipuan yang terendus oleh jajaran Kepolisian tersebut menjadikannya menjadi buron dan berhasil ditangkap semingguan yang lalu. Dalam pemeriksaan yang intensif terungkaplah pengakuannya mengenai beberapa pembunuhan yang dilakukannya terhadap pasien yang menitipkan uang kepadanya. Maka jajaran Kepolisian bermaksud mengungkap kasus tersebut dan melakukan oleh TKP.

Demi menjaga agar Muhyaro tidak melarikan diri, AKP Yahya R Liyu, Kanitresmob Polda Jateng memborgol tangan sang dukun yang disatukan dengan tangannya sendiri. Gilanya, pada saat berada di tepian sebuah jurang Muhyaro nekad melakukan terjun bebas ke dalam jurang. Jurang berkedalaman 100an meter tersebut menelan Muhyaro beserta sang Polisi yang mengawalnya.

Salah satu korban kekejian Muhyaro ternyata seorang dosen pengajar di sebuah universitas terkenal di Semarang. Saya menjadi tak habis pikir! Ing atase seorang dosen yang berpendidikan tinggi, memiliki wawasan dan pengetahuan yang jauh di atas rata-rata rakyat Indonesia, bisa-bisa tersangkut urusan ganda-menggandakan uang. Bagaiman mungkin seseorang yang semestinya memiliki rasionalitas dan logika pikir yang tinggi bisa ditipu oleh seorang “dukun” yang tingkat pendidikannya tentu saja jauh lebih rendah. Apa yang terjadi?

Hal ini tentu saja bisa kita jadikan cerminan kehidupan kita. Jaman memang jaman edan. Bisa jadi setinggi apapun pendidikan manusia di negeri ini, satu-satunya cita-cita yang ingin diraih adalah menjadi kaya raya, dengan harta benda dan kekayaan dunia. Hidup sedemikian sempit dinilai serba materialistik. Bila pola pikir ini dijadikan “madzab” hidup, bisa jadi orang akan dibutakan dari segala rasionalitas dan logika pikir yang sehat. Apapun caranya, peduli amat! Yang penting kaya raya dengan jalan cepat! Segala hal, segala cara menjadi halal untuk kaya! Jaman memang jaman edan. Bagi orang yang tidak kuat imannya, mungkin ia memilih untuk ikut-ikutan ngedan. Bisa jadi ia sudah berprinsip hidup di jaman edan, daripada tidak keduman ya ikut ngedan saja!

Selagi kita juga tengah menjalani ibadah puasa, petiklah hikmah berharga dari peristiwa ini. Menghadapi jaman edan kita harus senantiasa eling lan waspada, ingat dan sadar kepada Tuhan YME. Hanya dengan mendekatkan diri dan berpegang teguh kepada segala tuntunan-Nya kita akan selamat melewati segala cobaan dan bisikan setan. Pilih kaya dengan ngedan atau mensyukuri segala pemberian-Nya untuk meraih keabadian kekayaan iman yang dapat menyelamatkan hidup dunia dan akhirat? Hidup sederhana tetapi penuh berkah. Semua terserah kembali kepada hati nurani kita masing-masing.

Ngisor Blimbing, 29 Juli 2013

Foto 1 diambil dari sini.

Foto 2 diambil dari sini.