“MARI GOBLOK BARENG”

Tema “Mari Goblok Bareng” memang menggelitik. Orang yang sedikit ilmu pengetahuannya dibilang goblok. Orang yang tidak begitu mengikuti tren perkembangan jaman disebut goblok. Demikianpun orang yang melakukan kecerobohan juga dikatakan goblok. Orang jujur yang tidak mau diajak oleh teman-teman di sekitar kantornya untuk berlaku korup juga dikatakan goblok oleh beberapa kelompok orang lain. Ternyata uraian dan ungkapan tentang kegoblokan tidaklah sesempit yang kita pikirkan selama ini. Kata goblok memiliki dimensi yang sangat luas maknanya, terlebih lagi jika dilihat dari berbagai disiplin analisis, mulai bahasa, sosial-budaya, psikologi, sosiologi, bahkan sekedar ilmu othak-athik gathuk.

Seiring dengan wolak-waliking jaman edan, terminologi goblok juga bisa jadi kebolak-balik dalam penerapannya. Profesor yang jujur dan tidak mau korupsi, dapat saja dikatakan goblog oleh para kroni koruptor di lingkungannya. Anggota dewan yang terhormat yang tidak benar-benar secara tulis mewakili kepentingan rakyat syah saja bagi rakyat untuk menyebutnya goblok. Aparatur pemerintah yang tidak menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadinya juga sangat harus kita katakan goblok. Bahkan kita tidak jarang mengatakan seseorang sebagai “pintar sekali” padahal yang kita maksudkan justru “sangat goblok”.

Kalaupun jaman edan kemudian identik dengan laku goblog, maka dapat dipastikan mayoritas orangnya juga orang goblog. Yang murid goblok (wajar saja). Yang rakyat jelata, bakul kaki lima, tukang becak, tukang kebersihan, petani desa, nelayan papa, tidak masalah jika goblok. Namun lazimnya di jaman edan, yang gurupun goblok. Pemerintah goblok. Wakil rakyat goblog. Sarjana, master, bahkan profesorpun ikut-ikutan goblog. Kalau semua goblok, ya sudah sekalian saja kita monggo sama-sama goblog. Goblok secara berjamaah. Mari goblok bareng!

Mari goblok bareng adalah tema besar yang diangkat dalam Festival Lima Gunung XVI Tahun 2017 yang akan berlangsung di Dusun Gejayan, Kelurahan Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang pada 28-30 Juli 2017 mendatang. Pemilihan tema “Mari Goblok Bareng” tentu bukan tanpa sebuah alasan yang mendalam. Ontran-ontran kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah air kita tidak pernah berkesudahan. Lucunya lagi, bagi para petani desa yang menjadi penggagas FLG XVI, yang menjadi penyebab ontran-ontran tak berkesudahan itu justru orang-orang berpendidikan tinggi, para pejabat teras atas, para pemuka masyarakat, para pemimpin ummat, dan sederetan orang-orang yang harusnya menyandang kualitas tinggi.

Manusia goblok masih berpeluang untuk belajar menjadi manusia pintar. Manusia goblok jauh lebih baik dibandingkan manusia serakah, manusia korup. Untuk berendah hati dalam memperbaiki diri, kita perlu merasa goblok terlebih dahulu. Menggoblokkan diri adalah metode pengosongan diri. Kesadaran mengaku lemah, mengaku rendah, mengaku belum baik, mengaku kotor adalah modal utama untuk menjadi orang baik. Orang harus lebih bisa rumangsa daripada rumangsa bisa. Bisa merasa daripada merasa bisa. Intinya ya mari goblog bareng terlebih dahulu!

Festival Lima Gunung adalah hajatannya para petani dusun yang sekaligus seniman desa yang ada di seputaran wilayah Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Sebagai sebuah hajatan bersama, segala kebutuhan festival disangga dengan semangat gotong royong. Tidak ada sponsor, tidak ada anggaran dari pemerintah, semua murni swadaya masyarakat dan kalangan yang turut berempati. Gotong royong lebih dikedepankan untuk tetap mengawal kemurnian dan keikhlasan, bahkan kesatuan dengan alam raya. Spirit inilah yang senantiasa ditanam, ditumbuhkembangkan, dan dipelihara oleh Sutanto Mendut, Sitras Anjilin, Sujono, Supadi, Riyadi, dan beberapa pemuka Lima Gunung lainnya.

Festival yang akan berlangsung secara maraton selama tiga hari penuh tersebut akan menampilkan berbagai unjuk kesenian warga Lima Gunung maupun komunitas seni dan budaya jaringan yang terkait. Tidak kurang 60 kelompok kesenian dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Solo, Semarang, Jakarta, Bandung, Lumajang, Surabaya, Indramayu, Losari, Banteng, dan Padang akan turut menyemarakkan gelaran festival.

Ada pula acara orasi budaya, sarasehan, bahkan sebagai inti FLG XVI kali ini adalah peresmian Masjid Nurul Maullah yang baru selesai dibangun secara gotong royong oleh masyarakat Dusun Gejayan. Peresmian masjid akan ditandai dengan pengajian akbar yang menghadirkan Pimpinan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang yang juga pemuka spiritual Komunitas Lima Gunung K.H. Muhammad Yusuf Chudlori.

Sebagai akomodasi untuk menyambut tamu peserta festival maupun pengunjung, warga setempat mempersiapkan masing-masing rumahnya sebagai tempat penginapan. Di samping itu selaku tuan rumah, mereka akan sepenuhnya memberikan suguhan konsumsi dengan keramahan khas masyarakat pedesaaan. Semua merupakan perwujudan paseduluran yang tulus, sikap saling berbagi dengan sesama manusia saudara sebangsa setanah air maupun sesama makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Monggo bagi Anda dimanapun dipersilakan hadir. Monggo merasakan aura kegoblokan ala petani Lima Gunung. Dalam balutan latar bentang alam Gunung Merbabu yang penuh keasrian, mari goblok bareng!

Lor Kedhaton, 21 Juli 2017

Sumber Foto by Eka Pradhaning.