<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PendekarTidar</title>
	<atom:link href="http://pendekartidar.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pendekartidar.org</link>
	<description>Komunitas Blogger Magelang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 10:32:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>LAILATUL KOPDAR</title>
		<link>http://pendekartidar.org/lailatul-kopdar.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/lailatul-kopdar.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 10:10:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=1899</guid>
		<description><![CDATA[MENUJU SRAWUNG BLOGGER NUSANTARA
Malam-malam likuran di bulan Ramadhan bagi umat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MENUJU SRAWUNG BLOGGER NUSANTARA</strong></p>
<p style="text-align: justify"><strong><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/04/gethukan3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1349" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/04/gethukan3.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></strong>Malam-malam <em>likuran</em> di bulan Ramadhan bagi umat Islam adalah saat-saat untuk meningkatkan amalan ibadah guna meraih <em>lailatul qodar</em>, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ummat dituntunkan untuk beriktikaf di masjid dan memperbanyak amalan sholeh.</p>
<p style="text-align: justify">Pengertian amal ibadah memang tidak hanya terbatas kepada urusan <em>habluminnallah</em> semata. Urusan <em>habluminnas</em>-pun bisa bernilai ibadah bila dilandasi niat ikhlas untuk mencapai kemaslahatan manusia. Inilah yang mendorong rekan-rekan Bala Tidar, sebutan <em>wirablogger</em> anggota Komunitas Pendekar Tidar Magelang, untuk menggelar malam kopdar atau Lailatul Kopdar di akhir Ramadhan kali ini.</p>
<p style="text-align: justify">Agenda utama acara Lailatul Kopdar adalah sebagai wahana <em>silaturahmi</em> untuk lebih mempererat persaudaraan dan kekompakan komunitas. Beberapa rangkaian acara yang disusun meliputi: buka bersama, kultum Ramadhan, sholat tarawih berjamaah, dan tentunya sahur bareng. Di samping acara peribadahan, Lailatul Kopdar sekaligus diisi dengan rapat koordinasi terkait agenda besar Visit Magelang 2011 yang akan diselenggarakan tahun depan di Magelang.</p>
<p style="text-align: justify">Berdasarkan kesepakatan <em>rembug</em> yang terungkap, akhirnya berhasil diputuskan dengan cara <em>musyawaroh</em> untuk <em>mufakot</em> bahwasanya dengan mempertimbangkan kemampuan, kekuatan, kekompakan, komitmen, konsistensi yang dimiliki oleh segenap unsur jajaran Bala Tidar, maka mimpi besar tentang Visit Magelang akan diselenggarakan pada tahun yang belum ditentukan. Adapun sebagai salah satu langkah dalam rangka mempersiapkan Visit Magelang yang sesungguhnya, pada tahun 2011 mendatang akan digelar ajang Srawung Blogger Nusantara 2011.</p>
<p style="text-align: justify">Srawung Blogger Nusantara 2011 merupakan arena pertemuan blogger dari berbagai komunitas yang eksis di segenap pelosok Nusantara. Diharapkan tidak kurang dari 15 komunitas akan meramaikan acara akbar tersebut. <em>Srawung</em> berarti bergaul, sedangkan <em>pesrawungan</em> berarti pergaulan. Melalui ajang ini diharapkan akan terbentuk pergaulan antar komunitas yang lebih luas dengan dilandasi semangat persatuan dan persaudaraan tanpa membeda-bedakan asal-usul, suku, agama, bahkan status sosial. Dengan jalinan silaturahmi yang kuat dan solid, diharapkan komunitas blogger di berbagai daerah akan dapat lebih berperan dalam rangka memasyarakatkan dan membudayakan penggunaan internet secara sehat dan positif, demi kemajuan bangsa dan negara.</p>
<p style="text-align: justify">Konsep yang mendasari Srawung Blogger Nusantara adalah turut memperkenalkan potensi daerah, baik wisata, budaya, kuliner maupun nilai kearifan lokal yang dimiliki <em>sekawan keblat gangsal pancer</em>-nya Gunung Tidar. Hal ini sesuai dengan visi dan misi Komunitas Pendekar Tidar untuk berperan aktif dalam rangka perwujudan Magelang yang mendunia, terkenal dan tenar di seantero penjuru dunia, khususnya melalui media blog atau internet.</p>
<p style="text-align: justify">Menurut rencana Srawung Blogger Nusantara 2011 akan diselenggarakan pada pertengahan tahun 2011. Agenda utama adalah kunjungan ke berbagai obyek wisata potensial yang belum banyak dikenal seperti Gunung Tidar, Museum AKMIL, Sekar Langit, Ketep Pass, Candi Asu, Gunung Pring, dan Candi Ngawen. Selain itu beberapa UKM dan industri utama akan turut dikunjungi, seperti Gethuk Gondhok Karet, Karoseri New Armada, dan pusat kerajinan arca di Prumpung.</p>
<p style="text-align: justify">Di samping menikmati  tempat wisata dan industri, para blogger juga akan diajak untuk menyelami kreativitas anak-anak lereng Merapi yang menggelar Festival Tlatah Bocah V dengan tema<em> “Moco Agawe Santoso”</em>. Inilah yang lain daripada jambore blogger yang lain, karena peserta akan diajak untuk menginap di rumah penduduk kampung dengan kesejukan hawa dingin Merapi. Dengan demikian suasana karib dengan alam dan keramah-tamahan budaya dusun, akan menjadi kenangan tak terlupakan bagi setiap <em>wirablogger</em> yang hadir.</p>
<p style="text-align: justify">Kedepan tentu saja konsep acara dan segala hal yang terkait dengan penyelenggaraan Srawung Blogger Nusantara 2011 masih akan <em>digodog</em> secara lebih matang. Oleh karena itu dibutuhkan komitmen, konsistensi, dan kekompakan segenap barisan Bala Tidar dimanapun berada. Dalam kesempatan malam Lailatul Kopdar kemarin tercatat Bala Tidar yang hadir, diantaranya Rokhmad Munawwir, Nanang, Hanafi, Pak Soli, Mas Antok, Bu Bidan, Emi, Yudha, Nahdhi, Eko Bandoro, Yudo, Agung, Maradona, Danung, Ariev, Kukuh, Deden, Kang Syahrudin, Pak Gun, Aji, dan May, serta Roji’un. Untuk itu diucapkan banyak terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas partisipasi aktif rekan Bala Tidar yang hadir, dan diharapkan rekan lain dapat turut bergabung untuk <em>tandang gawe</em> dalam agenda yang telah disepakati bersama tersebut. <em>Suradirat jayaningrat lebur dening pangastuti!</em></p>
<p style="text-align: right">Ndalem Peniten, 6 September 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/lailatul-kopdar.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jelajah Lereng Merbabu</title>
		<link>http://pendekartidar.org/jelajah-lereng-merbabu.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/jelajah-lereng-merbabu.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 08:38:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=1889</guid>
		<description><![CDATA[
oleh Farchan Noor Rachman pada 23 Agustus 2010 jam 20:02


Seandainya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><span style="color: #0000ff">oleh <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1201231617">Farchan Noor Rachman</a> pada 23 Agustus 2010 jam 20:02</span></div>
</div>
<p><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/40494_1465835484811_1201231617_31259554_3312776_n.jpg"><img class="size-full wp-image-1891 alignnone" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/40494_1465835484811_1201231617_31259554_3312776_n.jpg" alt="" width="475" height="356" /></a></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Seandainya Magelang memiliki wilayah yang berupa pantai, tentunya objek wisata magelang akan sangat lengkap. Ada gunung, air terjun, hutan, sawah, sungai. Sayangnya, Magelang memang benar-benar tidak memiliki pantai. Tapi, walaupun kelihatannya kecil, Mgelang itu luas dan ada banyak tempat yang bisa dijelajahi. Pada Sabtu 21 Agustus kemarin, Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan untuk menjelajahi Magelang lagi. Walaupun puasa, tapi tidak menyrutkan hasrat untuk berpetualang. Sasaran yang aku tempuh adalah Ketep Pass &#8211; Kopeng &#8211; Puncak Telomoyo dan Air Terjun Sekar Langit.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"> </span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>1. Ketep Pass</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00, setelah sebelumnya mempersiapkan motor dan peralatan. karena cuaca tidak terlalu dingin aku memberanikan mengenakan celana pendek agar lebih bebas. Ketep Pass merupakan semacam Gardu Pandang yang diresmikan pada medio 2001 lalu. Jarak Ketep Pass dari Magelang sekitar 30 km, namun jika dari rumah hanya sekitar 15 km ditempuh dengan waktu kurang lebih setengah jam. Jika cuaca cerah dari Ketep Pass kita bisa melihat Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro, Andong dan Telomoyo. Disini terdapat museum vulkanologi dan theater yang menjelaskan tentang Gunung Merapi. Aku hanya beristirahat sebentar disana, karena Ketep Pass belum buka dan lagi sudah males foto-foto disana karena sudah bosan. Terlalu sering berfoto di Ketep. Setelah dari Ketep Pass, sebenarnya aku ingin ke Air Terjun Kedung Kayang, namun rasa-rasanya kemarin baru saja kesana. Lalu kuputuskan putar haluan menuju Objek Wisata Kopeng, yang sebenarnya masuk ke wilayah administratif Kabupaten Semarang. Oia, Ketep Pass ini sebenarnya persilangan jalur alternatif dari Magelang menuju Boyolali atau Salatiga. Dari Ketep Pass menuju Kopeng kurang lebih berjarak 16 km (berdasar penuturan penjaga loket Ketep Pass)</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"> </span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>2. Kopeng </strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Tempat ini sebenarnya semacam Puncak Pass/Kaliurang, berupa kompleks hotel dan kolam renang. Dari Ketep bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Jalurnya dari Ketep menuju Kecamatan Pakis, Ngablak kemudian Kopeng. Di Pakis kita bisa menemui simpangan yang menuju Candimulyo, jadi bisa juga ditempuh melalui Candimulyo. Jarak tempuhnya kurang lebih sama. Sayang cuaca agak berkabut dan dingin, agak menyesal aku mengenakan celana pendek. Kedinginan sepanjang perjalanan. jalur dari Ketep menuju Kopeng sangat indah, di kanan-kiri terhampar pinus. Sebelum Pakis kita bisa berhenti sejenak, untuk menikmati pemandangan Lereng Merbabu. Suasana Kopeng tidak banyak berubah, masih tetap seperti dulu. Lagi-lagi sampai sana objeknya belum buka, yang ada hanya beberapa penjual sayuran, maka aku memutuskan melanjutkan menuju Puncak Telomoyo.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/41196_1465834084776_1201231617_31259541_5106995_n.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1895" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/41196_1465834084776_1201231617_31259541_5106995_n.jpg" alt="" width="456" height="342" /></a><br />
</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"> </span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>3. Puncak Telomoyo</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Aku terakhir ke Puncak Gunung Telomoyo ketika SMP, waktu itu ada Kemah Besar. Dari lokasi perkemahan menuju Puncak Telomoyo ditempuh dengan trekking, kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 2-3 jam. Kali ini aku menempuhnya dengan sepeda motor. Ada banyak yang berubah di sana. Misalnya pintu masuk sekarang dikelola oleh Karang Taruna desa setempat dan harus membayar loket masuk Rp 2.000,-. Sebelumnya gratis. Gunung ini terletak di ketinggian 1.894 m dpl dan terletak pada perbatasan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang. Terdapat jalur beraspal untuk mencapai puncaknya, hal ini dikarenakan di Puncak Telomoyo dibangun stasiun komunikasi radio milik Provinsi Jawa Tengah dan PLN Jawa Tengah. Entah fungsinya untuk apa, tapi anyak sekali pemancar radio. Waktu aku naik, aku sempat berpapasan dengan mobil penjaga stasiun radio yang sedang turun, mungkin untuk ganti shift. Jika berniat naik ke puncak dengan sepeda motor, dianjurkan untuk berhati-hati karena aspalnya sudah banyak mengelupas dan hanya tinggal lapisan tanahnya saja, selain itu di beberapa jalur ditumbuhi lumut sehingga agak licin. Jarak tempuh dari bawah sampai puncak kurang lebih 40 menit. Namun ketika sampai puncak, pemandangan yang menakjubkan akan didapat. Jika cuaca cerah kita bisa melihat Gunung Andong dan bahkan Puncak Sumbing di kejauhan. Oiya, saat turun aku berpapasan dengan rombongan siswa SMP dari Salatiga yang sedang mengadakan trekking sampai puncak Gunung Telomoyo.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"> </span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>4. Air Terjun Sekar Langit</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Selepas dari Puncak Telomoyo, kita bisa memilih untuk turun melalui jalur Pakis &#8211; Ngablak &#8211; Tegalrejo, atau ambil jalur Ngablak &#8211; Grabag. Namun jika ambil jalur Tegalrejo sepertinya kita tidak akan menemui objek wisata lagi, kecuali kita bisa berhenti dan naik ke Wekas yang merupaka pos pendakian menuju Puncak Merbabu. Maka kemudian aku memutuskan untuk turun dan pulang ke rumah melalui jalur Grabag. Karena di Grabag kita bisa mampir sebentar di Air Terjun Sekar Langit, yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Ngablak dan Kecamatan Grabag. Dari Telomoyo menuju Air Terjun Sekar Langit sekitar 20 menit. Air Terjun ini masih seperti dulu, ketiak aku terakhir mengunjunginya kira-kira 4 tahun yang lalu. Pintu gerbang dan bangunannya masih sama, mungkin yang baru adalah dipasangnya paving blok di jalan menuju air terjun. Sebenarnya air terjun ini tidak tinggi-tinggi amat, masih kalah tinggi dibandingkan dengan Kedung Kayang. Namun letaknya yang masuk kawasan hutan dan jernihnya air adalah daya tarik tersendiri air terjun ini. Hal yang tidak didapatkan di Kedung Kayang yang sudah kotor dengan sampah. Disini sepi pengunjung, jadi kita bisa lebih menikmati suasana dan keindahan air terjun.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Selepas dari Sekar Langit, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Dari Grabag menuju Rumah ditempuh dalam waktu 1 jam. Total perjalanan kali ini menepuh jarak hampir 100 km (dilihat dari odometer motor, tentunya tidak presisi). dari jam 07.00 pagi aku menuntaskan perjalanan pada jam 12.30 siang.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"> </span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Biaya :</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Pertamax : 20.000</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Tiket Masuk Telomoyo : 2.000</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Tiket Masuk dan Parkir Sekar Langit : 2.500</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/jelajah-lereng-merbabu.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENDEKARTIDAR#11</title>
		<link>http://pendekartidar.org/pendekartidar11.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/pendekartidar11.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 06:38:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[headline]]></category>
		<category><![CDATA[angon bocah]]></category>
		<category><![CDATA[balatidar]]></category>
		<category><![CDATA[bloger]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[cak nun]]></category>
		<category><![CDATA[pendekar tidar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=1870</guid>
		<description><![CDATA[LITTLE KING ING NDALEM PENITEN
 
Apalah arti sebuah kerajaan tanpa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color: #000080"><strong>LITTLE KING ING NDALEM PENITEN</strong></span></h2>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/theyoungphillipsprince.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1874" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/theyoungphillipsprince.jpg" alt="" width="297" height="394" /></a>Apalah arti sebuah kerajaan tanpa seorang raja? Demikian halnya seperti Ndalem Peniten, sebagaimana konstitusi semi monarkhi yang telah kami sepakati. Semenjak Romo Morosepuh <em>lengser ing kasedan jati</em>, praktis kekuasaan <em>keprabon</em> kosong alias terjadi <em>vacum of power.</em> Namun suasana itupun hanya berlangsung selama beberapa tahun, karena kemudian terlahirlah sosok bocah yang kemudian langsung <em>winisuda</em> sebagai raja baru, raja kecil, Sang <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2008/02/15/arti-sebuah-nama/"><em>Little King</em></a> Ing Ndalem Peniten.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080">Adalah dini hari selepas <em>lingsir wengi</em> di hari Senin Pon sang raja menguak <em><a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2008/02/11/fakta-nyata/">jagad padhang</a>.</em> Lebih istimewa lagi beliau dilahirkan di bulan Suro, ini sekaligus sebagai pertanda bahwa kelak ia akan mewarisi sifak berani, tegas dan berwibawa dari para pendahulunya. Bahkan sekedar <em>etungan</em> para dokter tentang saat kelahiranyapun ditentangnya mentah-mentah, dan ia dengan gagahnya lahir lebih awal dan tidak mau ditolong oleh sekedar <em>Mbah Dukun</em>, apalagi bidan dan dokter. Ia memilih dilahirkan oleh alam dari tangan Tuhannya langsung, sehingga bahkan sang ibundanyapun tidak kenal merasakan sakit dan perihnya melahirkan <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2008/02/11/fakta-nyata/"><em>si ponang jabang bayi</em>.</a> Itulah tanda bakti seorang bocah kepada ibu yang di telapak kakinya tertahtakan surga abadi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080">Sedari kecil <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2008/02/15/arti-sebuah-nama/">Sang Baginda</a> memang telah menebarkan aura kewibaannya. Sorot mata nan tajam bak raja sang rajawali yang perkasa, bahkan mata itupun sangat jarang meneteskan air mata sebagai bukti ia raja kecil yang kuat. Daya ingat yang kuat untuk meniru dan menghafal para <em>abdi</em> dan <em>kawulo</em> yang <em>matur</em> di hadapannya, indra pendengar yang luar biasa bahkan sangat peka terhadap <em>swaraning asepi.</em> Dan yang pasti energinya yang sangat luar biasa untuk bergerak ke sana  ke mari meski masih dalam keterbatasan seorang bocah bayi, bahkan kegemaran utamanya di pagi hari adalah beranjang sana meninjau wilayah kerajaannya, sekaligus berhibur<em> paring dhahar</em> kepada kijang kencana kesayangannya. Maka kemudian <em>Sang</em><em>Romo</em>nyalah yang turun pangkat menjadi <em>abdi</em> setia bagi setiap keinginan <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2008/02/15/arti-sebuah-nama/">Sang <em>Little King</em></a> Ing Ndalem Peniten.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/jogokali.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1878" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/jogokali.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><em>Lelagon klangenan</em> beliau semenjak baru bisa <em>ngrasa</em> melalui indra dengarnya adalah <em>Sleeping bad</em> atau Bangun Tidur-nya Mbah Surip, sang maestro dari Ismail Marzuki. Di samping itu ia sangat <em>mad</em> dengan sholawatan kreasinya Kiai Ma’ruf Islamudin dengan grup Walisongonya dari Sragen. Demikian halnya dengan sholawatan campur sari dari Kangmas Didi Kempot. Namun demikian yang paling dikagumi Baginda dengan sangat hafalnya adalah penampilan <a href="http://www.kiaikanjeng.com">Maiyyah Indonesia dari Kiai Kanjeng</a> yang menampilkan kolaborasi alat musik perkusi yang sangat digandrunginya. Tak heran bila ia sangat menyukai bedug, drum, biola, suling, piano, <em>bonang</em>, <em>kenong</em> hingga <em>saron</em> dan <em>demung</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080">Soal minuman kegemaran <a href="http://siponang.wordpress.com">Baginda</a> sudah tentu susu <em>enpago</em>. Beliaupun sangat keranjingan dengan <em>mimik</em>-an, <em>wedang teh</em> yang dihidangkan dalam sekantong plastik kecil dan diberi sedotan yang <em>dipundhut</em>nya di warung Mbak Ambang dengan harga Rp.500,-. Tidak hanya itu, sang raja juga sangat <em>nggathok</em> dengan <a href="http://siponang.wordpress.com/2010/05/11/si-ponang-nderek-seminar/"><em>es kutak</em></a>, teh kemasan dalam kotak yang lebih dikenal sebagai teh kotak! Inilah yang membuat bajet <em>blanjan</em> ibu surinya sering <em>over</em><em>ngirit</em> </span>di tanggal tua. Maka untuk sedikit<span style="color: #000080"> ngirit dan mensiasati kebutuhan Baginda, <em>es kutak</em> coba digeser ke teh sosro yang lebih kecil. Namun apa mau dikata, Sang Raja bersabda dengan bijaksananya, “teh soso tidak enak dan <em>marake watuk!</em>” <em>Welha dalah jagad dewa batara</em>, kearifan dewa dari kayangan mana yang telah menitis ke dalam jiwa dan raga Baginda.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/adisakti1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1880" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/adisakti1.jpg" alt="" width="299" height="448" /></a>Kini usia Baginda memang belum genap tiga tahun, namun meskipun boleh dibilang belum <em>jangkep tata jalmo</em>nya, Baginda sangat paham akan arti kekuasaan. Semua <em>kawulo</em> dan anggota Ndalem Peniten harus tunduk kepadanya. Segala permintaan dan keinginannya harus dilayani tanpa protes dan saat itu juga. Ia sangat paham makna sejati dari <em>sabdo pandito ratu!</em></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080">Bila di pagi buta Baginda menginginkan untuk meninjau <em>“mesjid adoh</em>”, maka Sang Romo harus segera mengantarkannya atau bahkan <em>membopong</em>nya untuk menuju <em>mesjid</em> yang dikehendakinya. Tak jarang Beliau seringkali <em>ngoyoworo</em> minta diantarkan ke Mesjid Aceh, Demak atau Kudus dengan “numpak Honda”. Bahkan daya khayalnya yang super dahsyat membuatnya <em>ngeyel</em> ingin “<em>awwoh</em>” di Mesjid Mekkah. Di mata Baginda dunia hanyalah selebar daun kelor yang dalam sekejap mata kekuasaan dan kesaktiannya dapat menghilangkan jarak ruang dan waktu yang terbentang.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080">Pernah satu kali Beliau <em>gandrung</em> untuk segera bergabung di </span>PAUD Rumah Bintang di Potrosaran. Dengan semangat ingin tahu dan stamina pengembaraan intelektualitas kebocahannya, ia sangat rajin untuk belajar dan <span style="color: #000080"><em> </em><em> ngangsu</em> <em>kawruh</em> baru. Namun  itupun tidak bertahan lama, karena ia segera tidak terpenuhi kepuasan batinnya tatkala melihat TK Rimbani yang menampilkan aksi <em><a href="http://siponang.wordpress.com/2010/07/02/pengamen-jaranan/">drum band</a> </em>di hadapannya. Maka dengan <em>ngeyel</em> ia <em>menitah</em>kan ingin segera pindah </span><span style="color: #000080"><em>padhepokan </em></span><span style="color: #000080">di TK tersebut. Namun bagaimanapun juga, keinginan Baginda terbentur tembok birokrasi yang mensyaratkan umur minimal yang jelas-jelas belum mampu dipenuhi Si Raja Kecil.</span></p>
<p><span style="color: #000080"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/BedugNgampon1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1882" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/BedugNgampon1.jpg" alt="" width="230" height="172" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/PatungSapi.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1883" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/PatungSapi.jpg" alt="" width="231" height="172" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify">Berkembara menjelajah dari desa dan <em>dusun</em> di <em>Tatar</em> Tidar adalah naluriah seorang <em>Little King</em> Ing Ndalem Peniten. Tidak hanya Peniten, Baginda mengenal betul wilayah <em>sak kukuban</em> Potrobangsan, mulai Menowo, Tuguran, Kebon Polo, Sanden, hingga <em>sebrang</em> Kedungsari. Ia sangat mengerti akan perjalanan hidup yang mesti <em>mbanyu mili,</em> mengalir sesuai titah Ilahi sebagaimana alur <a href="http://siponang.wordpress.com/2010/08/18/ponang-jogo-kali/">Kali Manggis </a>dan Kali Progo yang dengan fasih dihapalinya.</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080">Tidak cukup sampai di situ Baginda yang satu inipun sangat takzim dengan <a href="http://pendekartidar.org/mencari-kamukten-hidup.php">Mbah Kiai Mukti</a> di Ponpes An Najah yang hampir setiap Ahad Pagi dikunjunginya. Tidak hanya <em>sabdo dalem</em> Sang Kiai, ia sangat paham lekak-lekuk jumlah <em>grojokan</em>, kolam, sawah, hingga ikan lele, mujahir dan bawal yang ada di belakang komplek pesantren. Tidak hanya cukup berguru kepada seorang kiai, Bagindapun pernah <em>ngangsu kawruh</em> kepada Mbah Paiman sang juri kunci <a href="http://pendekartidar.org/lingkar-tidar.php">Gunung Tidar</a> dan Mbah Herman yang <em>mbahurekso</em></span> Mesjid Agung.</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/ManggulPonang.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1886" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/ManggulPonang.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Ndalem Peniten memang jelmaan kerajaan versi <a href="http://siponang.wordpress.com/">Si Ponang Bocah Magelang.</a></span> Di sana ia lahir, di sana ia besar dan di sana pula ia menggenggam tahta kekuasaan dengan wibawanya. Kelak di kemudian hari, semua<span style="color: #000080"><em> trah</em> Peniten hanya bisa berharap <a href="http://siponang.wordpress.com/2010/08/02/sunan-ponang/">Sang Baginda</a> diberikan umur panjang, kecerdasan, kesholehan, kebijaksanaan sehingga dapat memerintah secara <em>ambeg adil paramarta</em> sehingga bisa membawa kerajaan yang <em>gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja dan yang pasti baldatun thoyyibatun wa rabun ghafur.</em>[]</span></p>
<p><span style="color: #000080">Ndalem Peniten, 14 Agustus 2010</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/pendekartidar11.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Getuk Gondok Hj. Sri Rahayu</title>
		<link>http://pendekartidar.org/getuk-gondok-hj-sri-rahayu.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/getuk-gondok-hj-sri-rahayu.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 12:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[agenda]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[gethuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=1862</guid>
		<description><![CDATA[Kuliner maupun jajanan yang khas suatu daerah kini menjadi daya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kuliner maupun jajanan yang khas suatu daerah kini menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi para pelancong. Tak sedikit pelancong yang ingin berlibur ke suatu daerah tertentu dikarenakan hanya ingin mencicipi kuliner maupun jajanan tersebut dan bahkan bukan karena keindahan alam ataupun tempat wisatanya. Magelang yang sudah lama dikenal dengan jajanan khasnya yaitu gethuk juga menginginkan makanan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Salah satu industri gethuk yang terkenal di Magelang salah satunya adalah Getuk Gondok.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04214.jpg"><img title="DSC04214" src="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04214.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> <a href="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04215.jpg"><img title="DSC04215" src="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04215.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Alhamdulillah Pendekar Tidar berkesempatan untuk mengunjungi salah satu produksi pabrik getuk gondok yang bernama Gethuk Gondok HJ. Sri Rahayu yang berlokasi di karet 05/03 Bulurejo, Mertoyudan, Magelang. Ibu HJ. Sri Rahayu sebagai penerus bisnis produksi getuk gondok yang merupakan bisnis turun temurun dari Embah Gondok yang tidak lain tidak bukan adalah eyang dari ibu HJ. Sri Rahayu. Menurut beliau nama Gondok tersemat dikarenakan dulu eyang beliau sewaktu memproduksi getuk mempunyai penyakit gondok dan masyarakat sekitar menyebutnya getuk gondok mungkin hanya untuk membedakan dengan getuk buatan orang lain. Namun sekarang nama getuk gondok menjadi sangat terkenal di Magelang.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04185.jpg"><img title="DSC04185" src="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04185.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> <a href="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04192.jpg"><img title="DSC04192" src="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04192.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Ibu HJ. Sri Rahayu pun dengan senang hati menerangkan bagaimana proses pembuatan getuk gondok. Proses pertama adalah mengupas ketela dan kemudian dibersihkan. Kemudian di kukus selama hampir 2,5 jam. Ketela yang sudah matang lalu dimasukan ke sebuah loyang yang besar dan seketika itu ditumbuk oleh sekitar 4 pekerja. Karena ketela yang masih panas akan memudahkan proses penumbukan dibandingkan dengan yang sudah dingin. Metode penumbukannya pun tidak semudah yang dibayangkan, perlu teknik kusus agar proses tersebut tidak membuang banyak tenaga. Serat-serat ketela pun dihilangkan menggunakan alat sejenis arit agar hasil akhir gethuk menjadi halus.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04199.jpg"><img title="DSC04199" src="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04199.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04201.jpg"><img title="DSC04201" src="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04201.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> <a href="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04203.jpg"><img title="DSC04203" src="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04203.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam proses penumbukan ini diselingi dengan pemberian bahan tambahan seperti gula, pewarna dan pewangi. Pemberian bahan tambahan tersebut merupakan hal yang wajar dalam pembuatan gethuk karena bertujuan agar gethuk mempunyai warna, bau, dan rasa yang indah. Setelah itu hasil penumbukan masih diolah lagi menggunakan sebuah mesin yang mertujuan untuk lebih menghaluskan gethuk dari proses penumbukan tadi. Dan proses terakhir adalah mencetak gethuk sesuai dengan yang dinginkan pelanggan, penambahan rasa pun sering diminta oleh para pelanggan seperti rasa kopi dan durian. Semua proses tersebut dapat menghasilkan jajanan khas magelang yang luar biasa enaknya yaitu Getuk Gondok.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04210.jpg"><img title="DSC04210" src="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04210.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari biasa ibu Hj. Sri Rahayu dapat menghabiskan 25 kg ketela dan 7 kg gula sebagai bahan baku pembuatan gethuk serta beberapa bahan tambahan. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi gethuk yang akan diedarkan dalam satu hari pun memakan banyak waktu. Beliau harus bangun pagi-pagi hari agar gethuk dapat diedarkan tepat pukul 8 pagi. Pemasaran getuk gondok ibu Hj. Sri Rahayu telah mencapai luar kota seperti Semarang dan Yogyakarta. Beliau lebih memusatkan penjualannya di depan panorama tekstil di pasar Rejowinangun Magelang, namun itu dulu sebelum pasar Rejowinangun terbakar. Sekarang setelah pasar Rejowinangun terbakar beliau beserta anak-anaknya memasarkan getuk gondok di daerah pasar manuk, Magersari. Beliau kini mempekerjakan 10 karyawan termasuk anak-anaknya untuk memproduksi gethuk. Dengan semua kerja keras serta semangat beliau itu, beliau mampu menghidupi karyawan serta anak-anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04209.jpg"><img title="DSC04209" src="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04209.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> <a href="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04196.jpg"><img title="DSC04196" src="http://kukuhsetyawan.files.wordpress.com/2010/08/dsc04196.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran yang dapat saya ambil dari perjalanan getuk gondok yang dikelola ibu Hj. Sri Rahayu adalah kepemimpinan beliau. Beliau memimpin sebuah industri kecil yang dimulai dari beliau remaja dari tahun 1985 dan hingga sampai saat ini industri tersebut masih berjalan. Beliau menjalankan industri ini dengan kerendahan hati dimana banyak sekali bisnis industri yang serupa muncul di Magelang, serta kepemimpinan sejati beliau dimana banyak orang yang dipercaya menghianati beliau namun beliau masih tetap berjuang menyelamatkan industri turun temurun ini. Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka. <em>“kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya” </em>– Kenneth Blanchard.</p>
<pre>sumber : <a href="http://kukuhsetyawan.wordpress.com/2010/08/23/getuk-gondok-hj-sri-rahayu/" target="_blank">Kukuh Setyawan</a></pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/getuk-gondok-hj-sri-rahayu.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merdesa!!!</title>
		<link>http://pendekartidar.org/merdesa.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/merdesa.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 02:14:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[headline]]></category>
		<category><![CDATA[agustusan]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=1843</guid>
		<description><![CDATA[MERDEKA ATAU MERDESA!

Dirgahayu HUT RI Ke-65! Rupanya bangsa ini sudah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="color: #0000ff"><strong>MERDEKA ATAU MERDESA!</strong></span></h1>
<p style="text-align: center"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Pasukan.jpg"><img class="size-full wp-image-1846 aligncenter" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Pasukan.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dirgahayu HUT RI Ke-65! Rupanya bangsa ini sudah sekian dasawarsa mengenyam nikmat kemerdekaannya. Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia mampu lepas dari belenggu penjajahan selama lebih dari tiga setengah abad. Api revolusi dan keinginan luhur para pejuang negeri ini telah membuahkan satu jembatan emas bagi cita-cita luhur untuk menggapai kesejahteraan secara adil dan merata. Namun apakah di hari ini segenap komponen bangsa, terkhusus <em>wong cilik</em> yang hidup di akar rumput, telah benar-benar mengenyam manisnya buah kemerdekaan?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Lihatlah sekeliling kita! Tengoklah setiap sudut dan penjuru Nusantara! Jelajahilah <em>dusun</em> dan desanya! Apakah benar rakyat telah merdeka? Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, dari kelaparan, dari ketidakadilan, dari kesewenang-wenangan penguasa. Tanyakanlah pertanyaan maha penting ini ke dalam lubuk hati dan dasar nurani terdalam kita!</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Areng.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1848" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Areng.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sang Kiai Mbeling bersabda, “Negeri ini telah cukup lama merdeka hingga lupa bagaimana mengerjakan kemerdekaan itu. Sekian lama pandangan kita senantiasa kabur atas nilai kehidupan, hingga kita kemudian tidak memiliki pegangan nilai yang hakiki dalam menjalani hidup.”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Manusia Indonesia yang sudah merdeka ternyata kemudian hanya terjebak kepada pramagtisme hidup. Hidup sedemikian tereduksi hanya sekedar menggapai kejayaan material tanpa mempedulikan <em>unggah-ungguh </em>tata pergaulan manusia. Kekayaan adalah segala-galanya cita-cita luhur dan telah dituhankan oleh banyak kalangan diantara kita. Para penguasa negara tidak lagi berorientasi bagaimana mewujudkan kesejahteraan dan keadilan yang serata-ratanya bagi segenap rakyat yang dipimpinnya, melainkan bagaimana kekuasaan digenggamnya erat-erat untuk pemenuhan ambisi pribadi dan memperkaya diri sendiri. Maka sesungguhnya, dalam arti yang sejati, negeri ini terjajah oleh bangsanya sendiri.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Pemkot.jpg"><img class="size-full wp-image-1850  aligncenter" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Pemkot.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Merdeka adalah lepasnya sebuah bangsa dari belenggu ketertindasan penjajahan bangsa lain. Merdeka diambil dari kata “mardikers”, sebutan bagi suatu kelompok pejuang yang menuntut kemerdekaan(persamaan derajat) di Eropa pada abad 18. Dalam hal ini makna kemerdekaan lebih sebagai suatu kebebasan berpolitik untuk menentukan nasibnya sendiri. Sebuah bangsa yang merdeka adalah sebuah bangsa yang mampu berdikari, berdiri di kaki sendiri, untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan negara dalam memakmurkan segenap komponen anak bangsa.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Namun apakah sebuah bangsa yang dibentuk dengan sistem yang secara sistematis memperkaya segolongan dan kelompok tertentu, sementara di sisi lain secara sistematis pula memiskinkan dan memarjinalkan kelompok anak bangsa yang lain, bisa disebut sebagai bangsa yang merdeka? Ataukah hal ini bisa disebut sebagai penjajahan sekelompok anak bangsa terhadap kelompok anak bangsa yang lain? Ataukah ini memang penjajahan gaya baru, sebuah penindasan modern melalui suatu sistem yang seolah-olah terlegitimasi namun sesungguhnya terjadi pengingkaran nilai demokrasi?</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Paskibra.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1852" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Paskibra.jpg" alt="" width="235" height="157" /> </a><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Bendera.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1853" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Bendera.jpg" alt="" width="234" height="157" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Kalangan para pejuang kemanusiaan  di awal dan pertengahan abad 20 terbelah menjadi dua aliran besar. Aliran pertama menempuh jalur struktural dengan melenyapkan pemerintahan penjajah dan menggantikannya menjadi suatu negeri yang berkedaulatan secara politik. Puncak perjuangan kelompok ini adalah tercapainya kemerdekaan. Kemerdekaan adalah jembatan emas sekaligus pintu gerbang untuk mensejahterakan rakyat secara lebih adil dan merata. Termasuk dalam kelompok ini adalah Soekarno, Hatta, Nehru, Kemal Atatur, Che Guavara, Josef Bros Titto, hingga Fidel Castro.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Adapun kelompok kedua lebih fokus kepada gerakan kultural atau budaya. Perjuangan utama adalah mengangkat harkat dan martabat menusia untuk mendudukkan hak asasi secara sederajat diantara sesama manusia. Puncak cita-cita perjuangan kemanusiaan dirumuskan sebagai “<em>merdesa</em>”. <em>Merdesa</em> mengandung makna yang lebih luas daripada merdeka. <em>Merdesa</em> berarti kemerdekaan yang membebaskan, kemerdekaan yang mensejahterahkan, kemerdekaan yang mencerdaskan, memakmurkan, meratakan keadilan dan segala hal yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Pasukan1.jpg"><img class="size-full wp-image-1858  aligncenter" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Pasukan1.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>Merdesa</em> diambil dari makna desa secara sosiologis antropologis, dimana masyarakat desa dalam banyak sisi, ternyata lebih mempertahankan nilai dan sikap kemanusiaan. <em>Tepo sliro, gotong royong</em>, kebersamaan, <em>keguyuban</em>, <em>welas asih</em>, dan seribu satu kebajikan yang lain. Gerakan <em>merdesa</em> lebih luas dan mendalam cakupan perjuangannya, tidak hanya khusus dalam bidang sosial budaya, namun sesungguhnya mencakup politik, ideologi, ekonomi, dan lain sebagainya. Bahkan kerasulan dan kenabian yang turun di muka bumi bertujuan untuk mencerahkan manusia sesuai kodrat dan hak asasi yang telah diberikan oleh Tuhan, manusia yang berperikemanusiaan.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Pelopor gerakan <em>merdesa</em> di abad 19 dan 20-an diantaranya Mahatma Gandhi, Ahmad Dahlan, hingga Hasyim Asyhari. Bahkan di era saat ini tokoh seperti Gus Dur, Romo Mangun, Rendra, Buya Syafii, Emha, Gus Mus, Paus, Bunda Theressa dan lainnya menggebrak penyadaran manusia akan hakikat menusia di ranah gerakan sosial budaya. Bagaimanapun Nusantara secara “politik” memang telah menikmati kemerdekaannya, namun dalam arti kedaulatan manusia atas hak asasinya, kita sama sekali belum “<em>merdesa</em>”.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Nusantara adalah negeri seribu satu impian yang dianugerahi limpahan curahan surgawi. Bagaimana bumi, air, udara dan segala sumber daya alam yang terkandung di dalamnya sangat berlimpah ruah dan sangat berpotensi untuk menjadikan bumi Nusantara sebagai bangsa besar pengusung kemajuan peradaban manusia sebagaimana nenek moyang kita di masa peradaban bangsa Atlantis dan Lemurian mencapai masa keemasannya. Nusantara adalah sang perkasa rajawali sakti, garuda raksasa yang sanggup menjelajahi dimensi ruang dan waktu, memiliki pandangan visi dan misi yang tajam menembus segala jaman.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0412.jpg"><img class="size-full wp-image-1857  aligncenter" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0412.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Namun sayang seribu sayang, bangsa ini baru mencapai sebagian “kemerdekaannya”! Hal ini yang kemudian “<em>mengempritkan</em>” sang rajawali sakti. Bagaimana sebuah bangsa yang besar hanya bersikap laksana burung emprit di percaturan pergaulan antar bangsa di dunia? Kita terlalu menunduk dan dibodohi oleh banyak bangsa lain di belahan bumi atas nama kepentingan sekelompok elit tertentu. Kita menjadi bangsa yang seolah <em>loyo</em> karena digerogoti pengkhianatan anak bangsanya sendiri. Maka mulai detik ini bersikaplah dengan sepenuh kepercayaan diri untuk lebih mandiri dan berdaulat. Moga kita akan “<em>merdesa</em>” di masa yang tidak terlalu lama lagi! <em>Merdesa</em> bangsaku, jayalah negeriku!</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"> </span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">Ndalem Peniten, 16 Agustus 2010</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/merdesa.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kabar dari Ngampon</title>
		<link>http://pendekartidar.org/kabar-dari-ngampon.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/kabar-dari-ngampon.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 01:32:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[headline]]></category>
		<category><![CDATA[agustusan]]></category>
		<category><![CDATA[angon bocah]]></category>
		<category><![CDATA[blogging]]></category>
		<category><![CDATA[desa]]></category>
		<category><![CDATA[ngampon]]></category>
		<category><![CDATA[sumbing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=1820</guid>
		<description><![CDATA[APA KABAR NGAMPON HARI INI?
Setiap cita-cita senantiasa membutuhkan proses perjuangan. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color: #000080"><strong>APA KABAR NGAMPON HARI INI?</strong></span></h2>
<p style="text-align: justify"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Perpus2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1821" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Perpus2.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><span style="color: #0000ff">Setiap cita-cita senantiasa membutuhkan proses perjuangan. Ada yang prosesnya mulus dan lancar-lancar saja. Ada yang prosesnya sangat panjang, berliku, naik-turun menempuh topan, badai dan segala macam tantangan marabahaya. Demikian halnya dengan cita-cita seorang <a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar3.php">Rojiun</a> lugu dari <a href="http://pattiro-magelang.org/2009/11/perpustakaan-warga-ngampon-kaliangkrik/"><em>Dusun</em> Ngampon</a> di lereng Gunung Sumbing.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Adalah keterisolisiran geografis tanah kelahirannya yang tidak tersentuh oleh manisnya kue pembangunan, menjadikan Ngampon seolah sangat terpencil. Padahal bila diukur jaraknya dari kota Magelang, Ngampon tidak lebih dari 15 km barat laut kota <em>gethuk</em>. Keterisolisian inilah yang menjadikan Ngampon seolah statis dalam gerak dinamika globalisasi dunia dewasa ini. Tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakatnya yang serba pas-pasan menjadikan keprihatinan salah satu tunas muda harapan dusun, seorang pemuda bernama <a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar3.php">Rojiun</a>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Menggandeng kerja sama dengan <a href="http://pendekartidar.org">Komunitas Blogger Pendekar Tidar</a> dan <a href="http://pattiro-magelang.org/">PATTIRO Magelang</a>, Rojiuan berupaya menghimpun sumbangan buku dari berbagai kalangan untuk membuat sebuah rintisan perpustakaan bagi warga <em>dusun</em>nya. Meski ia seorang pemuda <em>dusun</em>, namun ia sangat sadar akan arti pentingnya budaya membaca bagi masyarakat. Membaca adalah jendela dunia. Melalui membaca, berbagai ilmu pengetahuan dapat dipelajari oleh masyarakat tanpa harus menempuh bangku pendidikan formal.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0381.jpg"><img class="size-full wp-image-1826  aligncenter" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0381.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Bertepatan dengan hajat <em>sadranan dusun</em>, Rabu 20 Sya’ban 1430 H diresmikanlah operasional perdana p<a href="http://pendekartidar.org/agenda-ngampon.php">erpustakaan warga <em>Dusun</em> Ngampon</a>. Acara yang dikemas sekaligus dalam format pengajian kala itu dihadiri oleh segenap warga dan tokoh masyarakat, juga perwakilan dari Komunitas Blogger Magelang dan PATTIRO. Bermodal 400-an judul buku, Ngampon menggaungkan tekadnya untuk menjadikan Ngampon lebih mendunia.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Hari berganti hari dan tanpa terasa waktu telah terentang melampaui hitungan satu tahun. Bagaimana dengan Ngampon hari ini? Dan tentu saja yang sudah pasti menjadi pertanyaan kita bersama, bagaimana perkembangan perpustakaan warga Ngampon yang telah kita rintis bersama setahun yang lalu?</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Gapuro.jpg"><img class="size-full wp-image-1828  aligncenter" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Gapuro.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sekedar <em>nuladhani</em> semangat para <em>penggedhe</em> di masa lalu, sekaligus mengawali hari-hari di bulan puasa tahun ini, saya menguatkan tekad untuk bersafari <em>ngaruhke</em> <em>sedulur-sedulur</em> kita di Ngampon. Terpilihlah kemudian Ahad pagi nan cerah itu menjadi hari yang bersejarah bagi kunjungan saya ke <em>pedukuhan</em> di lereng Sumbing tersebut untuk yang kedua kalinya. Dan <em>ndilalah</em> memang Tuhan mempertemukan saya dengan Roji’un, sang pejuang kita tersebut.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sedikit <em>nguda rasa</em> tentang perkembangan perpustakaan, Roji’un bertutur bahwasanya semangat para pemuda dan remaja yang menjadi segmen sasaran pembentukan perpustakaan setahun yang lalu, memang mengalami pasang surut. Satu kendala yang cukup mendasar adalah minimnya tenaga pengelola yang mampu meluangkan waktu secara konsisten untuk memberikan pelayanan kepada para pembaca yang budiman.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Perpus.jpg"><img class="size-full wp-image-1827  aligncenter" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Perpus.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Di sisi lain, koleksi buku yang banyak digemari para pelajar berkaitan dengan pelengkap materi pelajaran di sekolah dan buku dongeng masih sangat sedikit. Untuk menambah koleksi judul buku yang ada, saat ini Roji’un dan kawan-kawan tengah berupaya untuk bekerja sama dengan beberapa pihak, seperti BEM UNTID Magelang, untuk menggalang buku lagi. Mungkin ada teman-teman yang berkenan untuk bergabung?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dalam hal kisah kepemudaan, Roji’un menyampaikan bahwa kebanyakan para pemuda di <em>dusun</em>nya saat ini merantau menjadi buruh proyek bangunan di Jogja dan sekitarnya. Banyak diantara mereka yang “magang” sebagai kuli dan tukang untuk kemudian menimba ilmu perproyekan. Setelah mereka paham tentang <em>gunggungan, ping, tambah, sudo </em>dan <em>poro gapit</em>nya dunia proyek, beberapa diantaranya menjelma menjadi kelompok pemborong proyek kecil-kecilan. Dua bulan atau tiga bulan sekali mereka sering menengok kampung halaman, sembari sekaligus kumpulan <em>rong lapanan</em> yang digelar rutin sebagai forum komunikasi pemuda <em>dusun</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dalam forum <em>rong lapanan</em>(dua kali 35 hari), para pemuda tersebut juga belajar ilmu <em>sabdo wicara</em> atau <em>pranata adi cara</em>. Meski penuh keterbatasan, pemuda Ngampon ingin eksis dan <em>wasis</em> dalam penguasaan bahasa Jawa yang banyak dipergunakan dalam acara adat, baik <em>pengajian, syukuran, slametan, mantenan </em>dan hajat warga yang lain.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Hutan1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1830" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Hutan1.jpg" alt="" width="166" height="132" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Hutan3.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1831" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Hutan3.jpg" alt="" width="100" height="133" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Hutan2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1832" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Hutan2.jpg" alt="" width="169" height="133" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Satu keprihatian terdalam yang diungkap Roji’un adalah desas-desus dan kabar angin yang mewartakan Perum Perhutani yang menguasai wilayah hutan di atas pedukuhan akan membabat habis hutan miliknya. Hutan hijau di atas Ngampon adalah pelindung alam bagi segenap warga. Melalui pepohonan di lereng Sumbing, Tuhan menganugrahkan banyak mata air jernih penyangga kehidupan pertanian. Hutan juga menjadi tanggul penyangga untuk menghindari erosi dan tanah longsor. Intinya bahwa hutan adalah hidup mereka, nyawa dan ruh sejati bagi terselenggaranya roda waktu di Ngampon. Apakah jadinya bila hutan itu memang kemudian akan dibabat habis dengan alasan peremajaan?</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Jalan1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1838" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Jalan1.jpg" alt="" width="230" height="172" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Jalan2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1839" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Jalan2.jpg" alt="" width="228" height="171" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Tidaklah diam dan berpangku tangan untuk pasrah menerima takdir nasib dari para penguasa tersebut, para pemuda Ngampon menghimpun kebulatan tekad untuk mendorong pemerintah Desa Ketangi agar mempertanyakan kebenaran kabar tersebut kepada yang <em>hamengku karso</em>. Bila memang nantinya kabar tersebut ternyata benar adanya, maka mereka bertekad untuk menolak!</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/BedugNgampon.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1840" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/BedugNgampon.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Ngampon mungkin hanyalah satu contoh kasus kecil dari ribuan kasus serupa yang terjadi di bumi Nusantara ini. Negeri yang mengaku sebagai negara republik namun sesungguhnya sebuah serikat kerajaan para pemilik modal ini, begitu tega menjadikan rakyatnya sendiri demi tumbal pembangunan yang seringkali hanya memperkaya seseorang tertentu atau sekelompok tertentu saja. Enam puluh lima tahun kemerdekaan ternyata belum bisa menjamin ruh kemerdekaan bisa dirasakan oleh yang namanya <em>wong cilik</em>. Maka satu-satunya jalan, <em>wong cilik</em> harus bangkit dan bersatu untuk merebut dan menentukan nasibnya sendiri! Moga Ngampon mampu eksis dengan segala nilai kearifan dan keluhuran yang telah dimilikinya bahkan semenjak republik ini belum berdiri.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"> </span></p>
<p><span style="color: #0000ff"> Ndalem Peniten, 15 Agustus 2010</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/kabar-dari-ngampon.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sabda Awal Ramadhan</title>
		<link>http://pendekartidar.org/sabda-awal-ramadhan.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/sabda-awal-ramadhan.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 06:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[headline]]></category>
		<category><![CDATA[adzan]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cak nun]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=1797</guid>
		<description><![CDATA[

Makna Spiritual Dan Sosial Ibadah Puasa



Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib



Tulisan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<h2><span style="color: #ff0000"><strong>Makna Spiritual Dan Sosial Ibadah Puasa</strong></span></h2>
</div>
</div>
<div>
<div style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Ditulis Oleh: <a href="http://www.v6.facebook.com/reharianto?v=wall&amp;story_fbid=1424826173607&amp;ref=notif&amp;notif_t=feed_comment#!/note.php?note_id=127192446563&amp;id=1528538402">Muhammad Ainun Nadjib</a></span></p>
<div>
<div><a href="http://www.v6.facebook.com/photo.php?pid=525244&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=127192446563&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=127192446563&amp;id=1528538402"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs244.snc1/9129_1198429210731_1528538402_525244_4879988_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p><span style="color: #0000ff">Tulisan  ini bisa dimulai dari perspektif Rukun Islam. Dari syahadah hingga  menunaikan haji di rumah suci Allah. Kita mencoba menjelaskan satu per  satu maqam Rukun Islam tersebut. Dan, pada akhirnya, kita akan melihat  maqam ibadah puasa, yang menjadi topik bahasan tulisan ini. Apakah  maqam-maqam itu saling terkait, atau tidak?</span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>‘Alamat’ dan ‘Jurusan’</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Syahadah. Salah satu Rukun Islam berarti ketetapan dan penetapan titik  pijak dan sekaligus arah tujuan gerak kehidupan manusia Muslim. Semacam  ‘alamat’ dan ‘jurusan’. Pertama barangkali pada spektrum kosmologis  kemudian teologis, baru kemudian kedua kultural.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Pandangan tentang ’sangkan paran’, semacam alamat historis-kosmologis,  menurut manusia untuk (melalui akal pikiran maupun melalui informasi  wahyu, mawaddah wa rahmah, juga huda, bayyinat, wa furqan) menentukan  alamat teologis (atau a-teologis)nya. Berdasarkan itu maka ia berangkat  merumuskan alamat sosialnya, alamat kulturalnya, juga mungkin alamat  politiknya, bahkan bukan tidak mungkin juga alamat geografisnya. Dengan  itu, beda pandang manusia mengenai dunia, akhirat, dan tentang dunia  akhirat menjadi terumuskan. </span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>Menduniakan Akhirat, Mengakhiratkan Dunia, dan Mendunia-akhiratkan Kehidupan</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/KiaiBudi.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1803" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/KiaiBudi.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a>Pada budaya dan perilaku manusia beserta sistem nilai yang disusun dalam  kolektivitas mereka, ada yang memandang dunia ini sebagai tujuan.  Seluruh aktivitas pribadi, gerakan sosial, pengorganisasian kekuasaan  dan kesejahteraan di antara mereka, dilaksanakan dengan mengandaikan  bahwa dunia ini adalah wadah satu-satunya dari segala awal dan segala  akhir.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Wadahnya hanya dunia. Substansinya hanya dunia. Metodenya hanya dunia.  Dan, targetnya juga hanya dunia. Orang lahir, orang bersekolah, orang  bekerja, orang berkuasa, orang berkarier, dalam ‘durasi’ dunia.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Segala sesuatunya akan berbeda dengan pandangan lain yang meletakkan  dunia sebagai titik tolak dan titik pijak untuk melangkah ke akhirat.  Sejarah di dunia dikerjakan sebagai jalan (syari’, thariq, shirath), dan  produknya adalah akhirat. Setiap kegiatan dan fungsi manusia dalam  sejarah, selama dunia berlangsung, berlaku sebagai metoda. Berkedudukan  tinggi, berjaya, unggul, atau menang di antara manusia, tidak dipahami  sebagai neraka. Sebab surga dan neraka adalah produk dari penyikapan  (teologis, moral, kultural) manusia atas semua keadaan tersebut.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Dalam hal ini belum akan kita perdebatan tentang apakah dunia dan  akhirat itu diwadahi oleh dua satuan waktu yang berbeda, atau terletak  pada rentang waktu yang sama, yang dibatasi oleh momentum yawm  al-qiyamah, ataukah dunia dan akhirat itu sesungguhnya berlangsung  sekaligus.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Ikrar teologis (yang beraktualisasi kultural) yang dilaksanakan melalui  syahadatain, ibadah lain serta ’syariat’ hidup secara menyeluruh adalah  suatu pengambilan sikap, suatu pilihan terhadap pandangna atas dunia dan  akhirat. Dengan pijakan sikap ini manusia menggerakkan aktivitas  sosialnya, melaksanakan upaya-upaya hidupnya, serta menja-dikannya  sebagai pedoman di dalam memandang, menghayati dan memperlakukan apapun  saja dalam hidupnya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Tidak termasuk dalam katagori ini pola sikap manusia yang dalam  bersyahadat seakan-akan mengambil keputusan teologis yang memetodekan  dunia untuk target akhirat, namun dalam praktiknya ia lebih cenderung  meletakkan dunia sebagai target dan tujuan.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Kerancuan sikap semacam ini bisa dilatarbelakangi oleh semacam kebutaan  (spiritual), oleh inkonsistensi (mental), oleh kemunafikan (moral), atau  oleh tiada atau tidak tegaknya pengetahuan (intelektual). Yang terjadi  padanya adalah kecenderungan menduniakan akhirat. Sementara pada manusia  yang dalam konteks tersebut tercerahkan spiritualitasnya, yang  konsisten sikap mentalnya, yang teguh moralnya, dan yang tegak  pengetahuannya- kecenderungannya adalah mengakhiratkan dunia, atau dari  sisi lain ia bermakna menduniaakhiratkan kehidupan.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>Evolusi Salat dan Idul Fitri-Idul Fitri Kecil</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/37286_1311675712721_1255487998_30785922_2439486_s.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1805" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/37286_1311675712721_1255487998_30785922_2439486_s.jpg" alt="" width="130" height="98" /></a>Salat. Ibadah Salat merupakan suatu metode ‘rutin’ kultural untuk proses  pengakhiratan. Momentum-momentum salat lima waktu memungkinkan manusia  pelakunya untuk secara berkala melakukan pengambilan ‘jarak dari dunia’.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Itu bisa berarti suatu disiplin intelektual untuk menjernihkan kembali  persepsi-persepsinya, untuk memproporsionalkan dan mensejatikan kembali  pandangan-pandangannya terhadap dunia dan isinya, sekaligus itu bermakna  ia menemukan kembali kefitrian-diri-kemanusiaan.  Salat dengan demikian adalah idul fitri-idul fitri kecil yang bersifat  rutin. Sekurang-kurangnya salat mengandung potensi untuk membatalkan  atau mengurangi keterjeratan oleh dunia. Ini sama sekali bukan pandangan  antidunia. Yang saya maksud, sebagai substansi, target, titik berat  atau tujuan kehidupan.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Ibadah salat dengan demikian adalah suatu transisi sistem yang  terus-menerus mengingatkan dan mengkodisikan pelakunya yang memelihara  sikap mengakhiratkan dunia atau menduniaakhiratkan kehidupan. Ibadah  salat menawarkan irama, yaitu proporsi kedunia-akhiratan yang dialektis  berlangsung dalam kesadaran, naluri dan perilaku manusia.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Kalau kita idiomatikkan bahwa salat itu bermakna pencahayaan (’air  hujan’, salah satu jenis air yang disebut oleh al-Qur’an), maka jenis  ibadah berkala ini berfungsi mencahayai dan mencahayakan kehidupan  pelakunya. Mencahayai dalam arti menaburkan alat penjernihan diri dan  persepsi hidup. Mencahayakan dalam arti memberi kemungkinan kepada  pelakunya untuk bergerak dari konsentrasi kuantitas (benda, materi)  menuju dinamika kreativitas (energi) sampai akhirnya menuju atau menjadi  kualitas cahaya (Allahu nur al-samawat wa al-ardl).</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Ibadah salat bersifat kumulatif dan evolusioner, sebagimana zakat yang  berlambangkan susu (jenis air lain yang disebut oleh al-Qur’an). Kambing  tidak meminum susunya sendiri, melainkan mendistribusi-kannya kepada  anak-anak dan makhluk lain. Etos zakat adalah membersihkan harta  perolehan manusia. Membersihkan artinya memproporsikan letak hak dan  wajib harta. Manusia tidak memberikan zakat, melainkan membayarkan atau  menyampaikan hak orang atau makhluk lain atasnya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>Revolusi Puasa, Melampiaskan dan Mengendalikan</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Puasa. Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih  ‘revolusioner’ radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa  yang ditentukan, seperti disebutkan al-Qur’an. Dan, waktu puasa wajib  sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau  meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan  untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di  sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang  berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak  minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’  kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia  hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk  mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang  frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari meru-pakan tujuan dan  kebutuhan.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau  mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar  nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu  mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia  untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan  akan berperang frontal jika masing-maisng menjadi lembaga sejarah yang  sama kuat.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Sementara ibadah haji adalah puncak ‘pesta pora’ dan demonstrasi dari  suatu sikap, pada saat dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia  disadari sebagai sekadar seolah-olah megah.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Ibadah thawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jenis  perjalanan personal dan personal yang tidak menjanjikan kesejatian dan  keabadian. Nanti kita ketahui gerak melingkar thawaf adalah aktualisasi  dasar teori inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Suatu perjalanan  nonlinier, perjalanan melingkar perjalanan siklikal, perjalanan yang  ‘menuju’ dan ‘kembali’nya searah.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Ihram adalah ‘pelecehan’ habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan  keduniaan yang palsu status sosial, gengsi budaya, pangkat, kepemilikan,  kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh  manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti  kalau ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan-kemegahan dunia–tak lagi  untuk disembahnya atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu  dan kekayaan.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>Tauhid Vertikal dan Tauhid Horisontal</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Haflah2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1807" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Haflah2.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh  para pelaku Rukun Islam, terutama yang ber’revolusi’ dengan puasa?</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid  horisontal (tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan  (ilahiyyah) ke atau dengan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama  manusia atau makhluk, memiliki rumus dan formulanya sendiri-sendiri.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk  diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa–sekaligus berarti  proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi. Tauhid adalah  perjalanan deeksistensialisasi, pembebasan dari tidak pentingnya  identitas dan rumbai-rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala  kedudukan, fungsi dan peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke  dalam eksistensi sejati Allah dan kasih sayang-Nya. Tauhid sebagai  perjalanan deindividualisasi berarti menyadari dan mengupayakan proses  untuk larut menjadi satu atau lenyap ke dalam wujud-qidam-baqa’ Allah.  Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah ada, ada-nya  palsu–oleh Yang Sejati Ada.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau  peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian.  Dematerialisasi bisa dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa  Isra’ Mi’raj. Rasulullah mengalami proses transformasi dari materi  menjadi energi menjadi cahaya. Maka, dematerialisasi vertikal bisa  berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan,  dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju pencapaian cahaya.  Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik diciptakan,  karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta  dihamparkan–tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi  yang fana, melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub  kepada Allah, sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam ‘kosmos’ dan  sifat-Nya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Proses dematerialisasi, proses ruhanisasi atau proses transformasi  menuju (bergabung, menjadi) Allah, meminta hal-hal tertentu ditanggalkan  dan ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan  mati-matian mencari hal-hal yang tidak bisa dibawa mati.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan  transformasi padi menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras  dengan menanggalkan kulit. Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi,  sebagaimana padi belum beras. Nasi itu substansinya padi atau beras,  tapi sudah melalui proses suatu pencapaian transformatif. Para pemakan  nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan menanggalkan kulit  padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan beras dan  tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi memproses  bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak  antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan  mentransformasikan (mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya  menjadi bermakna akhirat). Bahkan manusia akan menanggalkannya dan  meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan individu, wajah, badan,  performance, eksistensi dunia), karena ‘dirinya’ di akhirat, dirinya  yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Pada ‘citra’ waktu, dematerialisasi, peruhanian, deindividualisasi, dan  deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan.  Yang ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah  bersifat sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat,  maka fungsinya itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta  segala materi eksistensi kita bersifat sementara, yang menjadi abadi  adalah produk ruhani pemfungsian atas semua gumpalan itu.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Haflah1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1808" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Haflah1.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>Melampiaskan dan Mengendalikan</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Juga dalam proses tauhid horisontal, penyatuan berarti sosialisasi  pribadi. Kalau masih pribadi yang individualistik (ananiyyah), ia  gumpalan. Begitu integral-sosial (tawhid basyariyyah), ia mencair,  melembut. Yang ananiyyah itu temporer dan berakhir, yang tauhid  basyariyah itu baqa’ dan tak berakhir.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Identitas sosial, harta benda, individu, segala jenis pemilikan dunia,  dienergikan, diputar, disirkulasikan, didistribusikan, dibersamakan atau  diabadikan ke dalam keberbagian sosial. Itulah peruhanian horisontal.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi,  distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain  sebagainya–sesungguhnya merupakan aktualisasi tauhid secara horisontal.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Kita tinggal memperhatikan setiap sisi, segmen dan lapisan dari proses  sosial umat manusia (pergaulan, kebudayaan, negara, sistem, organisasi)  melalui terma-terma materialisasi versus peruhanian, satu versus  kemenyatuan, pensementaraan versus pengabdian, penggumpalan versus  pelembutan, sampai akhirnya nanti pelampiasan versus pengendalian.  Budaya ekonomi-industri-konsumsi kita mengajak manusia untuk  melampiaskan. Sementara agama menganjurkan manusia untuk mengendalikan.  Kalau kedua arus itu sama-sama menemukan lembaga dan kekuatan sejarahnya  yang berimbang, konflik peradaban akan serius.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Ibadah puasa merupakan jalan ‘tol’ bagi perjuangan manusia untuk  mencapai kemenangan di tengah tegangan-tegangan konflik tersebut. Juga  dalam pergulatan antara iradah al-nas dalam arti individualisme  individu-kecil dengan iradah Allah Individu Besar Total.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Kita bisa menolak ke terma sab’a samawat, tujuh langit– Roh-Benda-Tumbuhan-Hewan-Manusia- Ruhanisasi-Ruh– bisa kita temukan siklus-siklus kecil dan besar proses peruhanian yang diselenggarakan oleh manusia.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Atau terma Empat ‘Agama’–’agama’intuitif-instinktif,  ‘agama’ intelektual, ‘agama’ wahyu, serta ‘agama atas agama’&#8211;kita bisa  menemukan bahwa ketika penerapan wahyu –Agama terjebak menjadi  berfungsi gumpalan-gumpalan, maka ‘agama atas agama’ merupakan fenomena  peruhanian, kristalisasi substansi. Semua manusia bekerjasama menempuh  nilai-nilai inti peruhanian yang mengatasi gumpalan-gumpalan aliran,  sekte, kelompok, mazhab atau organisasi agama.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa  la’allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi pelakunya adalah derajat  dan kualitas takwa. Dalam terapan empiriknya, kita mencatat  stratifikasi fiqh/hukum-akhlak-takwa. Kondisi peradaban umat manusia  masih tidak gampang untuk sekadar mencapai tataan manusia fiqh/hukum  atau budaya fiqh/hukum. Apalagi naik lebih lagi ke level akhlak dan  takwa. []<br />
__________<br />
arsip/1996</span></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/sabda-awal-ramadhan.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asean Blogger Community</title>
		<link>http://pendekartidar.org/asean-blogger-community.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/asean-blogger-community.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 08:29:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[headline]]></category>
		<category><![CDATA[agustusan]]></category>
		<category><![CDATA[bloger]]></category>
		<category><![CDATA[kopdar]]></category>
		<category><![CDATA[pendekar tidar]]></category>
		<category><![CDATA[pestablogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=1778</guid>
		<description><![CDATA[HUT KE-43 ASEAN
MENUJU KOMUNITAS BLOGGER ASEAN
Semenjak di bangku sekolah dasar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="color: #ff0000"><strong>HUT KE-43 ASEAN</strong></span></h1>
<h2><span style="color: #0000ff"><strong>MENUJU KOMUNITAS BLOGGER ASEAN</strong></span></h2>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><strong><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/AseanComm2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1780" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/AseanComm2.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></strong>Semenjak di bangku sekolah dasar kita telah diperkenalkan dengan <a href="http://asean.org">ASEAN</a>. Satu komunitas atau paguyuban bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Berangkat dari pertemuan para menteri luar negeri, ada Adam Malik dari Indonesia, Tun Abdul Razak dari Malaysia, Sir Rajaratnam dari Singapura, Thanat Khoman dari Thailand dan Jose Ramos dari Philipina, terlahirlah Deklarasi Bangkok. Delapan Agustus 1967 adalah hari kelahiran ASEAN, dan kini organisasi ini telah genap berusia 43 tahun.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Semenjak awal terbentuk, ASEAN ternyata mengambil format sebagai sebuah komunitas atau <em>paguyuban</em> yang tidak memiliki ikatan legal. Rasa persaudaraan, kebersamaan, gotong royong, saling berbagi atau yang lebih dikenal sebagai <em>ASEAN way</em> adalah landasan dasar ikatan yang mempersatukan hingga 10 negara. Konsep ini bisa dianggap sangat cocok dengan jiwa dan semangat nilai ketimuran. Namun di sisi lain, setiap kesepakatan dan perjanjian yang dibuat diantara semua anggota perhimpunan bersifat tidak mengikat secara formal, sehingga bila ada satu pihak yang melanggarnyapun tidak ada sanksi maupun konsekuensi yang harus ditanggung. Dengan demikian bisa dikatakan, sekian dasa warsa, ASEAN berjalan tanpa anggaran dasar ataupun anggaran rumah tangga sebagaimana umumnya sebuah organisasi modern.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Asean.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1785" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Asean.jpg" alt="" width="116" height="116" /></a>Nampaknya perkembangan jaman menuntut hal yang lain, satu ikatan yang lebih bersifat legal dan mengikat. Intinya diperlukan sikap pendisiplinan diri diantara masing-masing negara anggota ASEAN. Sekian lama berhimpun dalam komunitas yang sangat cair, akhirnya mulailah dirintis perumusan AD/ART ASEAN yang lebih baku, formal dan mengikat semua negara anggota dan mitra. Diawali dengan kesepahaman <em>Bali Concard</em>(2003), <em>Cebu Declaration</em>(2007), Cetak Biru ASEAN(2007), maka lahirlah Piagam ASEAN(<em>ASEAN Charter</em>, 2008).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Piagam ASEAN terdiri atas 13 bab dan 55 pasal dengan inti rumusan pembentukan tiga pilar utama pembentukan <em>ASEAN Community</em> pada tahun 2015. Ketiga pilar utama tersebut adalah peningkatan kerja sama politik dan keamanan bagi terpeliharanya perdamaian kawasan, termasuk memasyarakatkan nilai-nilai bersama seperti HAM dan demokratisasi<em>(ASPC)</em>. Pilar kedua adalah pembentukan pasar tunggal dengan <em>production base</em> untuk memfasilitasi arus perdagangan, investasi, modal, pergerakan pelaku usaha, dan tenaga kerja<em>(AEC)</em>. Adapun pilar ketiga adalah perwujudan visi <em>One Vission, One Identity, and One Caring and Sharing(ASCC).</em></span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><em><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/AseanComm3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1787" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/AseanComm3.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a><br />
</em></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Arti penting piagam ASEAN lebih lanjut dapat diuraikan diantaranya sebagai dokumen historis yang mengubah ASEAN dari suatu asosiasi yang longgar menjadi organisasi yang berlandaskan hukum<em>(rules based assosiation).</em> Piagam ASEAN juga memperkuat kemitraan, solidaritas, serta kesatuan dalam mewujudkan <em>ASEAN</em> <em>Community</em> pada 2015 mendatang. Di sisi lain ASEAN kini dapat bertindak sebagai subyek hukum dan memiliki kekuatan hukum<em>(legal personality).</em> Dari hal tersebut maka ASEAN dapat melakukan segala agenda dan kegiatannya berlandaskan kepada aturan-aturan yang telah disepakati<em>(rules based organization)</em> untuk diorientasikan bagi kemajuan dan kemakmuran rakyat<em>(people’s oriented).</em></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Manfaat lain adanya Piagam ASEAN adalah adanya panduan dalam pengambilan keputusan  dan penyelesaian sengketa diantara negara anggota. Piagam ASEAN juga dapat mendorong pemajuan HAM dan hak-hak fundamental, pelaksanaan demokratisasi dan pemerintahan yang konstitusional, <em>good governance, </em>pembangunan berkelanjutan, pengurangan kemiskinan dan penanggulangan tindakan kejahatan lintas batas. Dengan demikian nantinya dapat pula diwujudkan pasar tunggal dan basis produksi barang serta jasa yang kompetitif, kelancaran arus barang, jasa, dan investasi, serta fasilitasi pergerakan profesional, tenaga kerja dan modal. Demikian paparan sosialisasi mengenai Piagam ASEAN dan pemebntukan <em>ASEAN Community</em> 2015 yang diangkat dalam seminar sehari yang diselenggarakan oleh <a href="http://deplu.go.id">Kementrian Luar Negeri</a> dan <a href="http://bloggerbekasi.com">Komunitas Blogger Bekasi</a>, Sabtu 7 Agustus 2010 di Hotel Horison Bekasi dalam rangka HUT ASEAN ke 43.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/MasPepih2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1789" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/MasPepih2.jpg" alt="" width="530" height="397" /></a>Khusus dalam pilar sosial dan budaya, perkembangan teknologi informasi yang terus berjalan sangat cepat memungkinkan dilakukannya saling tukar informasi untuk menunjang kepentingan negara anggota masing-masing. Perwujudan <em>ASEAN Community</em> juga menuntut adanya kesepahaman mengenai visi, misi, ide dan gagasan landasan hubungan bersama bagi terwujudnya tata pergaulan yang sederajat, saling menghargai dan berbagi untuk terwujudnya kehidupan bersama yang harmonis dengan dilandasi semangat <em>ASEAN way.</em> Inilah sisi strategis bagi pertukaran informasi diantara komponen anak bangsa di masing-masing negara. Dan di sini pulalah peran sentral para blogger akan memegang kendali utama di masa depan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Blogger telah diakui sebagai sekelompok komponen anak bangsa yang menyuarakan suara hati nurani, tanpa tendensiusme dan kepentingan politik tertentu, serta memaparkan sesuatu dengan apa adanya. Blogger merupakan salah satu komponen <em>citizen journalist</em> yang menjunjung tinggi <em> independent journalisme</em>. Melalui jejaring diantara warga negara<em>(people to people)</em> diharapkan akan maujud dan menjelma menjadi landasan bagi terwujudnya hubungan antar bangsa dan negara(<em>goverment to government)</em> dalam tatanan yang harmonis dan saling menghormati.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/AseanComm1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1791" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/AseanComm1.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Alangkah indahnya misalkan diantara para blogger ASEAN saling berinteraksi dalam suasana persaudaraan antar rumpun bangsa. Perseteruan dan perselisihan yang sering kali terjadi dan membawa kepada ketegangan politik akan sangat elegan bila dapat didiskusikan dan didiplomasikan di kalangan akar rumput yang seringkali dapat merespon permasalahan lebih jernih, tanpa emosi dan tetap menjunjung semangat kebersamaan dan saling menghormati. Demikian halnya dengan isu-isu dari luar komunitas yang memojokkan ASEAN sebagai kesatuan komunitas, ataupun negara anggota tertentu, bukan tidak mungkin diantara komponen warga ASEAN dapat saling mendukung dan membantu untuk mendudukkan persoalan pada posisi yang semestinya secara obyektif. Intinya bahwa blogger diharapkan bisa menjembatani berbagai kepentingan antar bangsa, lintas sosial dan budaya bagi terwujudnya tata kehidupan yang harmonis dan menjunjung tinggi martabat manusia.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Inilah gagasan besar yang diwacanakan berbagai perwakilan blogger Indonesia dalam Seminar yang mengangkat tema Piagam ASEAN dan Pembentukan Komunitas ASEAN 2015 serta Kerja Sama Antar Kawasan yang difasilitasi Kementrian Luar Negeri RI bekerja sama dengan Komunitas Blogger Bekasi. <em>Sampeyan</em> ingin berpartisipasi aktif menduniakan kampanye perdamaian dan <em>paseduluran</em>? <em>Monggo</em> segera merapatkan barisan!</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><strong>DIRGAHAYU ASEAN KE-43!</strong></span></p>
<p style="text-align: right">Kampung Kosong, 8 Agustus 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/asean-blogger-community.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyadran lan Leluhur</title>
		<link>http://pendekartidar.org/nyadran-lan-leluhur.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/nyadran-lan-leluhur.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 04:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[headline]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[agenda]]></category>
		<category><![CDATA[desa]]></category>
		<category><![CDATA[tidar]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=1759</guid>
		<description><![CDATA[
NYADRAN: Satu Tradisi Penghormatan Arwah

Dening: Rama Sutadi – Ketua Pepadi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h2><span style="color: #000080"><strong>NYADRAN: Satu Tradisi Penghormatan Arwah<br />
</strong></span></h2>
<p><a href="http://annasagung.blog.com/2006/09/12/tradisi-tiada-henti/#comments"><span style="color: #ff3300"><strong><span style="font-family: times new roman,times">Dening: Rama Sutadi – Ketua Pepadi Jawa Tengah</span></strong></span></a></p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0444.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1762" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0444.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc">Leluhur  padha karo luhur-luhur, yaiku kang ana ing dhuwur-dhuwur. Ana sing  nyebut, para eyang sing wis seda utawa surud ing kasedan jati. Wong Jawa  uga ana sing nyebut, para eyang sing wis kondur ana ing tepet suci,  lokabaka utawa alam kelanggengan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc">Ing  tlatah Surakarta uga ana sing nyebut eyang sing wis suwargi, amarga  percaya menawa arwah eyange wis munggah ana ing suwarga. Tradisi nyadran  tumrap wong Jawa dianggep perlu lan  penting. Umume ditindakake ing  sasi Ruwah(saka tembung Arab arwah), sepuluh dina sakdurunge ngibadah  pasa, akeh kang padha nyekar para leluhur.</span></p>
</div>
<p style="text-align: justify"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc">Rama Sudi  Yatmana negetung siji mbaka siji wiwit saka bapa biyung tekan  sapandhuwure. Ana ing ngelmu Kejawen, wiwit anak lan bapa biyung  sapandhuwur sinebut sejarah rolas sing gunggungane kabeh ana 4.094.  Pilahane, bapa biyung 2, mbah 4, buyut 8, canggah 16, wareng 32,  udheg-udheg 64, gantung siwur 128, gropak senthe 256, tebu sinosog 512,  petarangan bubrah 1.024, amun-amun 2.048.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0440.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1764" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0440.jpg" alt="" width="235" height="177" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0441.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1765" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0441.jpg" alt="" width="236" height="177" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc">Tradisi  Jawa pancen unik,  nduweni ngelmu sing menehi pepeling marang anak(putu)  supaya ngerti marang leluhur. Anak dikekudhang supaya ngerti bapa  biyung sing ngukir jiwa ragane. Sabanjure digulawenthah supaya ngerti  marang mula bukane wiwit mbah, mbah buyut, canggah, wareng, lan  sapendhuwure. Ana sesebutan liyane supaya anak putu ngerti silisilahe.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc">Sawise  ngerti, diweling supaya dipepundhi, amarga kabeh mau pepundhene. Ing  sasi ruwah iki akeh pepundhen kang disowani lan diresiki. Nyadran tumrap  wong Jawa dianggep wigati, amarga ana bab kang sambung karo tradisi  spiritual. Istilah tradisi, muola bukane saka tembung latin tradere  utawa traditio(basa mancane transit, handing down), tegese ” maringake  saka ndhuwur”. Sing diparingake babagan kang nduweni nilai kang  adi(luhur, luhung).</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0437.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1768" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0437.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0445.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1769" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0445.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc">Tumurune  bab kang adi mau ana sing wujud piwulang(ajaran, doktrin) religi,  nanging uga ana kang awujud piwulang metafisika. Ana ing jagad Kejawen,  akaeh banget tradisi sing ana sambung rakete karo slametan. Cliffort  Geertz, sing nulis buku Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa,  gamblang anggone ngandharake bab slametan ing masyarakat Jawa. Akeh  banget tata cara slametan sing dianake ing tlatah pradesan  Mojokutho(Pare) Jawa Timur. Tradisi sing gegayutan karo slametan lan  leluhur uga dijlentrehake dening Koentjoroningrat ing bukune Kabudayan  Jawa. Masyarakat singngrasuk paham(teologi) Jawa padha nindakake upacara  nyadran ing sasi Ruwah supaya padha ora lali marang asal-usule.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc">Rama Sudi  Yatmana kanthi pratitis nyebut tilik kubur, besrik kubur, resik kubur,  kirim donga, slametan, memule utawa nyandi, ruwahan, ziarah, misa arwah,  ngesur tanah, nelung dina, mitung dina, matang puluh, nyatus, mendhak  pisan, mendhak pindho, nyewu, khol, lan sapiturute. Kajaba saka iku, uga  nyebut upacara s<a href="http://pendekartidar.org/satu-tradisi.php">raddha </a>minangka pengetan sedane Gayatri dening Prabu  Hayam Wuruk ing taun 1362. PJ Zoetmulder anan ing buku Kalangwan uga  nyritakake bab upacara  sraddha kanggo mengeti sedane Tribhuwana Tungga  Dewi taun 1350. Upacara sraddha minangka pengetan raja-raja sing wis  puput yuswa uga sinebut ing kidung Banawa Sekar, nganggo ubarampe wujud  baita(prau) sing digawe saka kembang(puspa, sekar).</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0439.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1774" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0439.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc">Ya amarga  saka upacara iku, sing diarani nyadran saka tembung sraddha, nyraddha,  nyraddhan, terus dadi <a href="http://pendekartidar.org/satu-tradisi.php">nyadran</a>. Tradisi upacara nyadran ora bisa pisah  karo kembang(mawar, kenanga, mlati lan liya-liyane). Tradisi nyadran  pranyata wis lumaku wiwit jaman Majapahit nganti saiki. Pakurmatan  kanggo leluhur isih lestari tekan saiki lan dipepetri dening masyarakat  ing tlatah padesan.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0435.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1771" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0435.jpg" alt="" width="244" height="183" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0438.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1772" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/IMG_0438.jpg" alt="" width="244" height="183" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #0066cc">Babagan  tilik kubur utawa ziarah pancen dipratelakake ana ing agama Islam supaya  padha kelingan bab pati. Bab pati ana sesambungane karo bab urip sing  ora suwe. Paribasane kaya wong mampir ngombe. Mula ana tembang  Dhandanggula sing muni: Sanepane wong urip puniki, aneng ndonya iku  umpamanya, mung kaya wong mampir ngombe, umpama manuk mabur, lepas  saking kurunganeki, pundi mencoking benjang, aja kongsi kleru, umpama  wong njan sinanjan, ora wurung mesthi bali mulih, mring asal kamulanya.  Pungkasane, nyadran iku ngluhurake leluhur kang tundhone supaya eling  lan manembah marang Kang Maha Luhur. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-family: verdana,geneva;color: #ff0033">Intine  rembug, sakabehing titah kudu tansah mbekteni marang leluhur, snajan wis  mapan ing alam kelanggengan. Salah sawijining amalan kang ora pedhot  ganjarane yaiku dongane anak putu kang sholeh lan sholehah marang bapa  ibu lan para leluhur. Dadi ora teges anak putu nyembah marang arwahe  para leluhur, ananging ndongakake supaya arwahe para leleuhur kapapanake  ing papan kang mulya ing sandhinge Gusti. Bektine anak kudu mikul lan  mendhem jero karo wong tuwa.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/nyadran-lan-leluhur.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Naga Air Bhumi Tidar</title>
		<link>http://pendekartidar.org/naga-air-bhumi-tidar.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/naga-air-bhumi-tidar.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 03:19:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[angon bocah]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[peniten]]></category>
		<category><![CDATA[tidar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=1741</guid>
		<description><![CDATA[EKSPEDISI KALI MANGGIS
Air adalah kebutuhan primer bagi kehidupan. Jangankan manusia, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color: #800000"><strong>EKSPEDISI KALI MANGGIS</strong></span></h2>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1743" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan4.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Air adalah kebutuhan primer bagi kehidupan. Jangankan manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan makhluk hidup bersel tunggalpun memerlukan air untuk melakukan mekanisme metabolisme dalam tubuhnya. Inilah yang menyebabkan kehidupan manusia semenjak jaman pra sejarah senantiasa berkembang di daerah yang berdekatan dengan air. <em>Sampeyan</em> pasti ingat bagaimana fosil manusia purba banyak ditemukan di sepanjang tepian Bengawan Solo, atau peradaban tua di Mesir, Mesopotamia, Harappa dan Mahenjodaro, hingga Tiongkok tua.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Mirip dengan Kraton Ngayojakarto Hadiningrat yang diapit oleh kali Code di sisi timur dan kali Winongo di sisi barat, kota Magelangpun diapit oleh kali Elo dan Progo. Hal inilah yang menjadikan kota yang terletak di dataran tinggi ini tidak pernah mengenal kejadian banjir bandang.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Bila Jogja memiliki Selokan Mataram yang menghubungkan Progo ke Opak dan melintasi sisi kota bagian utara, maka Magelang memiliki kali Manggis yang membelah kota menjadi timur dan barat. Memasuki gerbang utara di wilayah perkampungan Jambewangi, Sang Naga Air menyusur kota Magelang sepanjang wilayah Kedungsari. Air terus <em>mbanyu mili</em> melintas di sisi pasar Kebon Polo, Rindam IV, kampung Gelangan, kawasan Pasar Tarumanegara, tenggelam <em>mlusup</em> di bawah tanah, dan muncul di ujung Jalan Ikhlas, melingkar di sisi Tidar, kompleks Panca Arga dan masuk wilayah Mertoyudan.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Gojokan1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1745" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Gojokan1.jpg" alt="" width="235" height="176" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan5.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1746" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan5.jpg" alt="" width="235" height="176" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Kali Manggis manyandang nama buah yang dikenal sebagai Sang Ratu Buah. Konon katanya karena memang di masa lalu, pada sisi kanan dan kiri sepanjang hulu hingga hilir, berjajar rapi pohon manggis. Inilah yang mengawali orang kemudian menamakannya sebagai kali Manggis.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Kali Manggis adalah anugerah alam bagi Magelang, bahkan semenjak bumi tersebut ditetapkan sebagai tanah <em>perdikan</em></span> <span style="color: #0000ff">di masa Sailendra dan Sanjaya. Tanah nan subur dan kaya akan humus vulkanisme membutuhkan kelengkapan pengairan yang memadai. Ketinggian badan air kali Progo dan Elo yang lebih rendah tidak memungkinkan aliran air mengaliri dataran kota yang lebih tinggi. Inilah peran sentral dan vital kali Manggis.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Di masa kini, kali Manggis memang semakin nampak sebagai sungai yang tidak alamiah. Sisi tepian sungai sepanjang perlintasannya di kota Magelang, berupa tanggul permanen yang memberikan kesan seolah-olah sungai tersebut merupakan selokan buatan. Terlebih lagi fungsi vital sebagai air irigasi untuk pertanian di wilayah kota, saat ini sudah <em>purnabakti</em> karena memang bisa dibilang sudah tidak ada lagi lahan pertanian di wilayah kota. Hanya memang masih ada segelintir warga yang memanfaatkan air kali Manggis untuk memelihara ikan air tawar, seperti lele atau bawal.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1751" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan2.jpg" alt="" width="234" height="176" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan6.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1752" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan6.jpg" alt="" width="234" height="174" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dalam kehidupan warga masyarakat, sungai sebagai penyuplai air kehidupan memiliki peran sentral. Sungai dipergunakan untuk berbagai hajat hidup, mulai air minum, mandi, cuci, bahkan kebutuhan “kakus”. <em>Sampeyan</em> pasti sangat tahu bagaimana orang membuang kotoran dan sampahpun juga di badan sungai.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Masalah utama yang harus dipertimbangkan adalah daya dan kemampuan sungai untuk secara alamiah mengurai berbagai masukan sampah dan kotoran untuk dinetralkan kembali, sehingga tidak membahayakan kelestarian lingkungan hidup. Untuk hal yang satu ini, kali Manggis jelas sudah sangat keberatan beban. Memang kebiasaan warga di titik tertentu, yang membuang sampah ke badan sungai secara tidak bertanggung jawab masih sering terjadi. Sampah memang belum membuat kali Manggis mampet dan tersumbat, namun bila hal ini terus terjadi secara masif, di samping kualitas air semakin turun, juga memungkinkan hambatan aliran yang dapat mengancam menjadi banjir bandang skala lokal.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1754" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan3.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Debit kali Manggis sebenarnya lumayan besar. Di beberapa titik aliran, bahkan ketinggian curahan air mencapai lebih dari lima meter. Hal ini sebenarnya memungkinkan untuk pengembangan pembangkit listrik skala mikrohidro. Barangkali untuk skala masayarakat atau warga lokal sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan listrik beberapa rumah. Ini bisa menjadi suatu pionir untuk pengembangan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Kali Manggis merupakan salah satu citra kota Magelang. Harapan setiap komponen warga adalah keberadaan kali Manggis yang bersih dan asri sehingga menjadikan wajah kota semakin anggun dan sejuk. Prokasih atau program kali bersih sepertinya harus lebih disosialisasikan dan digemakan kepada segenap masyarakat. Hal ini tentu saja menjadi tanggung jawab pemerintah, segenap warga kota dan semua pihak yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup. Dengan demikian anak-anak dapat <em>keceh</em> dan <em>ciblon</em> tanpa khawatir akan tertular penyakit kulit, dan para penggemar olah pancingan dapat menyalurkan hobi <em>strike</em>-nya dengan baik.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan7.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1756" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan7.jpg" alt="" width="235" height="176" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan8.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1757" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2010/08/Grojokan8.jpg" alt="" width="234" height="175" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Ke depan bahkan sangat memungkinkan dilakukannya pengembangan kali Manggis menjadi kawasan wisata maupun laboratorium lingkungan hidup. Hal ini bukanlah sebuah mimpi kosong bila daerah aliran sungai tertata rapi, rindang dengan jalur hijaunya dan tentu saja bersih. Ditambah lagi misalkan dikembangkan kawasan pemancingan dan wisata kuliner di tepian sungai. Tidak mustahil kesejukan lingkungan dan keunikan penataan kawasan dapat menarik orang untuk datang.  Bila hal ini bisa terwujud tentu saja akan sangat bermanfaat bagi peningkatan harkat dan martabat kehidupan, khususnya warga kota Magelang.</span></p>
<p style="text-align: right">Kampung Kosong, 1 Agustus 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/naga-air-bhumi-tidar.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
