<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pendekar Tidar</title>
	<atom:link href="http://pendekartidar.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pendekartidar.org</link>
	<description>Komunitas Blogger Magelang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 17:56:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sekar Tidar</title>
		<link>http://pendekartidar.org/sekar-tidar.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/sekar-tidar.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 02:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[alun-alun]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3372</guid>
		<description><![CDATA[Mangsa rendheng atau musim hujan adalah musim menanam. Kedatangan mangsa rendheng membuat hati pak tani... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/sekar-tidar.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/02/Alamanda.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-3373" title="Alamanda" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/02/Alamanda.jpg" alt="" width="259" height="194" /></a>Mangsa rendheng</em> atau musim hujan adalah musim menanam. Kedatangan <em>mangsa rendheng</em> membuat hati <em>pak tani</em> <em>seneng</em> dan berbunga-bunga. Kalau <em>pak tani</em> menyambut <em>mangsa rendheng </em>dengan menanam padi, maka Pak Wali justru ingin menanam bunga. Tak tanggung, bukan satu dua tanaman bunga di satu atau dua pot atau taman saja, melainkan menanam sejuta bunga di setiap sudut kota. Tekadnya ingin menjadikan kota <em>getuk</em> menjadi juga kota sejuta bunga. Isu wacana Magelang menuju kota sejuta bungapun sempat menghangat jadi <em>kembang lambe</em> di beberapa kalangan warga semenjak akhir tahun lalu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Si Kenyung yang masih <em>bocah nglegeno</em> itu begitu mendengar istilah <em>kembang lambe</em> menjadi muncul rasa penasarannya. <em>“Pakdhe, kembang lambe</em> itu apa? Pohonnya seperti apa <em>to?”</em> tanyanya kepada <em>Pakdhe</em> Blongkang yang senja itu sedang <em>ongkang-ongkang</em> di muka Poskamling.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Sambil sedikit melotot kaget, <em>Pakdhe</em> Blongkang menjawab, “<em>Woalah le thole</em>, namanya <em>kembang lambe</em> itu hanya istilah <em>tok</em>! <em>Kembang lambe</em> itu artine sama dengan buah bibir! Nah nanya lagi, <em>kok</em> ada buah bibir itu apa hasilnya dari <em>kembang lambe </em>yang sudah menjadi<em> gedhe?”</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Kenyung segera memotong! “<em>Lha iya to Pakdhe</em>, nanya <em>kembang</em> malah dijawab buah! Ada <em>kembang</em>, ada buah, <em>lha terus</em> pohon itu <em>lho</em> yang ingin saya tahu! <em>Pakdhe</em> nakal!” si Kenyung nampak <em>mecucu</em> dan merasa jengkel karena pertanyaannya dijawab <em>muter-muter</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">“Kamu itu <em>lho Le,</em> orang mau <em>njelaske</em> sudah <em>kesusu</em> dipotong <em>wae! Kembang lambe</em>, dalam bahasa Indonesianya sama maknanya dengan buah bibir. Frase atau gabungan kata itu memiliki arti konotasi. Arti konotasi itu arti dari sebuah kata atau gabungan kata yang tidak sebagaimana arti <em>asline</em>. Nah, <em>kembang lambe</em> itu maknanya sesuatu hal yang sedang banyak <em>diomongke</em> banyak orang. Lagi <em>rame</em> dibahas orang-orang. <em>Ngono lho Le</em>, paham <em>to saiki?”</em> Pakdhe Blongkang menjelaskan dengan pelan dan panjang lebar.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Si Kenyung hanya manggut-manggut, entah memang paham atau sekedar <em>nglegani</em> <em>Pakdhe</em>-nya. <em>Wueeer……wuerrr….cengik!</em> Terdengar sebuah sepeda motor BMW, bebek merah warnanya, alis Pitung milik <em>Mas</em> Karyadi datang merapat. Mas Karyadi merupakan tetangga <em>Pakdhe</em> Blongkang yang bekerja di kantor <em>pemrentah</em> alias seorang <em>abdi dalem</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Pucuk dicinta ulam tiba, demikian pikir <em>Pakdhe</em> Blongkang. Daripada hanyut dalam isu <em>kembang</em> <em>lambe</em> tentang sejuta <em>kembange</em> Pak Wali yang <em>ngalor ngidul</em>, ia dapat bertanya langsung kepada Mas Karyadi. <em>Lha wong</em> dia <em>abdi dalem pemrentah</em>, tentu ia lebih tahu soal kebijakan-kebijakan yang telah digariskan oleh para <em>pendhuwur</em>-nya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">“<em>Monggo Mas, kok</em> sore-sore baru <em>kondur</em>. Habis ada kerjaan <em>lembur nopo?”</em> sapa <em>Pakdhe</em> Blongkang begitu Mas Karyadi berhenti dan memarkir Pitungnya di samping Poskamling.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">“<em>Lha</em> ini baru keliling kota, <em>ngecek</em> proyek <em>nandur kembang</em> itu <em>je Pakdhe</em>”, jawab <em>Mas</em> Karyadi sambil duduk diantara Kenyung dan <em>Pakdhe</em> Blongkang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Si Kenyung segera bertanya, ingin menuntaskan rasa ingin tahunya, “<em>Pak Lik</em>, dari tadi saya tanya <em>Pakdhe</em> tentang <em>kembang lambe</em>, malah dijawab buah bibir! Terus sejuta bunga, <em>lha kok</em> banyak sekali bunganya? Maksudnya apa <em>nggih</em>?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/02/GrebegGethuk.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3374" title="GrebegGethuk" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/02/GrebegGethuk-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Mas</em> Karyadi tersenyum <em>ngleges</em>. Dengan tenang ia mulai menjelaskan, “Jadi memang di akhir tahun kemarin <em>pemrentah</em> telah melancarkan program kota kita sebagai kota sejuta bunga. Inginnya <em>sih</em> <em>pemrentah</em> dengan didukung warganya, membenahi dan menata kembali taman-taman yang ada dengan <em>kekembangan</em> yang baru. Nah harapannya, kota ini kelak akan berseri warna-warni dengan <em>kekembangan</em> itu. Dengan begitu akan semakin banyak wisatawan maupun investor yang datang dan menambah pendapatan daerah kita.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">“<em>Lha nek</em> sejuta kembang itu apa <em>ya</em> lahan untuk menanam di seluruh wilayah kota yang tergolong kecil ini mencukupi <em>Den Mas?</em> Terus nantinya apakah kota ini sekedar memiliki banyak <em>kekembangan</em> ataukah juga menjadi produsen bunga hias atau bunga potong, <em>ngoten lho?</em>” tanya <em>Pakdhe</em> Blongkang tak kalah seriusnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">“<em>Wah nek</em> soal wilayahnya cukup atau <em>nggak ya</em> bukan bagian saya yang bisa menjawabnya <em>Pakdhe</em>! Itu Dinas Pertamanan pasti sudah memperhitungkannya. <em>Nek</em> soal kota ini mengarah menjadi kota penghasil <em>kembang</em>, <em>kok</em> kayaknya juga masih sangat jauh. <em>Sing</em> penting itu taman kita hijaukan dulu, berseri dulu!” jawab <em>Mas</em> Karyadi sekedar <em>ngeles</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Pakdhe</em> Blongkang sekedar <em>unjal ambegan</em> mendengar jawaban <em>abdi dalem</em> yang diharapkannya lebih mengerti persoalan dan dapat menjelaskan isu yang menjadi <em>kembang lambe</em> itu dengan lebih <em>gamblang</em> dan tuntas. Sebenarnya ia ingin bertanya juga, apakah mungkin <em>pemrentah</em> juga nantinya membangun sebuah pasar khusus untuk <em>kekembangan</em>. Jadi harapannya program itu bisa menggerakkan ekonomi masyarakat secara langsung. Sebagai seorang warga masyarakat, sebenarnya ia ingin tahu program <em>pemrentah</em> yang tengah jadi <em>kembang lambe</em> itu dan peran apakah yang bisa ia sumbangkan untuk turut mensukseskannya. Sesungguhnya iapun turut prihatin dengan perkembangan isu yang justru berkembang tentang “bunga uang”, bunga bank, “bunga pajak”, “bunga korupsi”, “bunga suap”, “bunga mark up”dan bunga-bunga yang lain yang justru keluar dari konteks persoalan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT0G98znJI0eh9SFo2_tL-Fxe70tobWFln4tcM3NSnwefSCgzmR" alt="" width="264" height="191" /></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Sebuah program <em>pemrentah</em>, katakanlah atas nama pembangunan dan demi kemajuan bersama, semestinya disosialisasikan dengan baik ke tengah warga masyarakat. Dengan pemahaman yang benar dan mendalam, sebuah program yang baik dan pro rakyat pasti akan didukung secara luas karena masyarakat merasa <em>handarbeni</em>, turut memiliki dan merasa bertanggung jawab untuk turut mensukseskan program tersebut. Jamannya jaman informasi, masyarakat menuntut keterbukaan dan transparansi informasi. <em>Pemrentah</em> tidak dapat berjalan seorang diri jika tidak mau dinilai menciptakan program hanya sekedar untuk menghabiskan anggaran di akhir tahun. <em>Kepripun</em> kelanjutan program sejuta bunga itu di awal tahun ini, rakyat tentu ingin tahu juga <em>to</em>?</span></p>
<p align="right">Ngisor Blimbing, 23 Januari 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/sekar-tidar.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hotel Wisata Magelang</title>
		<link>http://pendekartidar.org/hotel-wisata-magelang.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/hotel-wisata-magelang.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 02:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Magelangan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3366</guid>
		<description><![CDATA[Magelang memiliki prosisi strategis di jalur utama Jogja – Semarang. Jalur ini merupakan ruas jalan... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/hotel-wisata-magelang.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/HotelWisata.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3367" title="HotelWisata" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/HotelWisata.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Magelang memiliki prosisi strategis di jalur utama Jogja – Semarang. Jalur ini merupakan ruas jalan yang membelah pulau Jawa menjadi bagian barat dan timur. Lebih istimewa lagi jalur ini bersilangan dengan jalur Solo – Purwokerto, balik melalui Purworejo maupun Temanggung. Di masa awal keraton Mataram, jalur yang lebih dikenal sebagai jalur Kedu ini menghubungkan daerah kutogoro, negaragung, hingga ke pesisir utara. Di masa itu kendaraan jarak jauh yang umum digunakan adalah kuda ataupun kereta kuda. Kuda memerlukan minum pada jarak 20 km, dan harus berhenti istirahat dan makan rumput pada jarak 40 km perjalanan. Hal menjadikan Magelang sebagai titik persinggahan perjalanan antara Jogja – Semarang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Di samping berada pada jalur perhubungan yang strategis, daerah Kedu merupakan kawasan dataran subur yang banyak menghasilkan komoditas pertanian. Ada padi, ketela, jagung, tembakau, hingga tebu dan sayur mayur. Posisi strategis inilah yang mendorong pemerintah kolonial Belanda mengembangkan Magelang menjadi kota transit dan perdagangan, serta berpemerintahan sendiri sebagai sebuah <em>kadipaten</em> dengan bupati pertamanya KRT Danuningrat I.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/HotelWisata1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-3368" title="HotelWisata1" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/HotelWisata1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Posisi persilangan jalur lalu lintas menjadikan Magelang menjadi kota yang ramai. Hawanya yang sejuk menjadikannya kota ini berkembang menjadi kota pesanggrahan yang terus maju sebagai tujuan plesiran atau wisata. Hal ini lebih ditunjang dengan penemuan candi Borobudur pada masa pemerintahan Letnan Jenderal Thomas Stanford Raffles. Perkembangan ini menjadikan terbukanya sektor-sektor kegiatan jasa maupun penjualan barang terkait dengan kegiatan pariwisata. Hal ini terus berlanjut hingga di jaman kemerdekaan. Pasar, toko, ruko, kedai hingga warung makan mulai tumbuh bertebaran.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Salah satu sektor pendukung pariwisata adalah penyedia jasa penginapan atau perhotelan. Beberapa hotel tumbuh berkembang di beberapa titik wilayah Magelang, mulai dari Muntilan, Borobudur, dan kota Magelang sendiri. Kelas dan tingkatan penginapan ataupun hotel yang adapun mulai dari kelas losmen, hotel melati hingga hotel berbintang. Salah satu hotel yang letaknya cukup strategis adalah Hotel Wisata.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Hotel Wisata terletak di Jalan Jend. Sudirman 149 Magelang. Tidak begitu jelas kenapa namanya menggunakan Hotel Wisata. Akan tetapi sangat dimungkinkan penamaan ini ditujukan untuk membuat suatu ikon sebagai hotel yang mendukung kegiatan pariwisata. Namun demikian pastinya hotel ini tidak dikhususkan sebagai tempat menginap para wisatawan <em>tok</em>. <em>Sampeyan</em> semua yang singgah dari luar kota di kota Magelang pastinya tetap dipersilakan mampir dan menginap di hotel ini. Bahkan bagi warga Magelang sendiri yang belum pernah merasakan kehangatan dan keramahtamahan sebuah hotel dapat mencoba menginap di sini.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Hotel Wisata Magelang merupakan sebuah hotel melati. Kelas bilik penginapan yang ada tersedia dari kelas ekonomi, standar, <em>deluxe,</em> VIP, <em>yunior suite</em>, dan <em>suite</em>. Fasilitas yang ada meliputi AC, TV, parabola, <em>intercom</em>, <em>water heater</em>, <em>laundry, room service, coffe shop, biliard</em>, ruang <em>lobby</em>, <em>silver shop, art gallery</em>, hingga area parkir yang sangat memadai. Kelebihan yang lain dari hotel ini adalah letaknya di jalur protokol kota menghadap langsung gunung Tidar di sisi barat dan pemandangan gunung Merapi dan Merbabu di sisi timur. Sebuah perpaduan latar pemandangan yang sangat eksotis dan luar biasa.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/HotelWisata2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3369" title="HotelWisata2" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/HotelWisata2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Beberapa lokasi tujuan wisata yang ada di Magelang dan sekitarnya sangat mudah diakses dari Hotel Wisata. Menyebarang jalan dan menerabas kawasan pertokoan di bekas terminal lama, pengunjung dapat naik ke puncak <a href="http://pendekartidar.org/lingkar-tidar.php">gunung Tidar</a>. Sebagai sebuah bukit kecil, Tidar sangat cocok didaki di pagi hari untuk menikmati kesejukan hawa hutan pinus sembari merasakan kehangatan sang surya di kala fajar. Gunung Tidar dipercaya sebagai <em>pusering</em> tanah Jawa. Nilai magis dan misterius juga terasa tatkala <em>sampeyan</em> sempat mengunjungi situs makam tombak Kiai Sepanjang di puncak gunung, terkhusus di malam Jumat Kliwon atau Selasa Legi.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Tujuan wisata yang lain sebagaimana tergambar di brosur yang diberikan kepada setiap tamu,  diantaranya museum Diponegoro (2 km), museum Bumi Putera (2 km), museum Abdul Jalil (2 km), <a href="http://pendekartidar.org/fantasi-pesawat-terbang.php">Taman Kyai Langgeng</a> (2 km), museum AKMIL (1,5 km). adapun tujuan di luar kota antara lain meliputi candi Borobudur (16 km), Ketep Pass (15 km), dan Kopeng (25 km). sedangkan akses transportasi dari Hotel Wisata langsung ke Jogja menggunakan <a href="http://pendekartidar.org/bis-bandara-magelang-pp.php"><em>shuttle bus</em> Damri</a> yang <em>stand by</em> dan berangkat setiap jamnya. Akses ke terminal Tidar yang terletak di jalan Sukarno Hatta juga tergolong dekat dan mudah dicapai.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Hotel Wisata diresmikan pertama kali penggunaannya di awal tahun 90-an. Dengan motto “<strong>Tamu adala Keluarga</strong>”, hotel ini berusaha memberikan pelayanan sebaik dan seramah mungkin kepada setiap tamu yang datang. Sikap <em>semanak</em>, <em>guyup</em> dan murah senyum adalah keramahan khas cerminan masyarakat Magelang. Jadi <em>sampeyan</em> ingin mencoba dan membuktikan kenyamanan bermalam di kota Getuk Magelang? Silakan mampir dan berkunjung di Hotel Wisata Magelang. Salam wisata!</span></p>
<p style="text-align: right;">Ngisor Blimbing, 21 Januari 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/hotel-wisata-magelang.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hutan Wisata Mangli</title>
		<link>http://pendekartidar.org/hutan-wisata-mangli.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/hutan-wisata-mangli.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 08:05:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Magelangan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3346</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Andong merupakan salah satu dari gelang raksasa gunung-gunung yang melingkari Magelang. Berdampingan dengan gunung... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/hutan-wisata-mangli.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3349" title="Mangli" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Gunung Andong merupakan salah satu dari <em>gelang raksasa</em> gunung-gunung yang melingkari Magelang. Berdampingan dengan gunung Telomoyo, gunung ini berada di perbatasan wilayah Salatiga, Semarang, dan Magelang. Meskipun ketinggiannya hanya sekitar 1400-an meter dari permukaan laut dan jauh di bawah gunung Merapi, Merbabu ataupun Sumbing, akan tetapi kesejukan dan kesegaran udara di semua gunung tidaklah jauh berbeda. Dengan demikian jika <em>sampeyan</em> ingin sekedar <em>ngadem</em>, mengheningkan hati dan menjernihkan pikiran, <em>monggo</em> datang di lereng gunung Andong. Satu tujuan wisata alam pegunungan yang dapat disinggahi adalah Hutan Wisata Mangli.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Hutan Mangli tidak terlalu jauh dari akses utama jalan Jogja-Semarang. Sedikit ke arah utara dari Secang akan kita jumpai pertigaan Krincing. Ada <em>plang</em> besar penunjuk arah menuju Grabag. Silakan ambil kanan terus lurus hingga sampai di sekitar Pasar Grabag. Tepat perempatan di depan pasar, ambil arah lurus ke arah timur melewati wilayah desa Ngasinan. Memasuki wilayah Kecamatan Ngablak, akan kita jumpai sebuah plang arah kiri menuju Mangli. Ikuti jalan aspal yang semakin menanjak dengan kemiringan di atas 30 derajat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Jalan sunyi nan lengang akan menemani perjalanan yang sungguh hikmat dan hening. Di kanan kiri jalan terdapat gerumbulan perdu dan rumpun tanaman cengkeh, sebuah komoditas sisa kejayaan masa kolonial yang masih bertahan. Beraneka rupa rumpun bambu juga rapi memagari kanan dan kiri jalan dengan beragam jenis, mulai bambu <em>petung, apus, legi, wulung</em> hingga <em>ampel</em>. Di beberapa bagian terasiring banyak dimafaatkan warga untuk menanam komoditas sayuran seperti kubis, wortel, kacang panjang, <em>terong</em>, hingga <em>lombok</em> dan <em>jetsin</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Setelah kurang lebih 3 km menelusuri jalanan menanjak, kita akan segera memasuki rimbunan hutan pinus dengan pucuk-pucuknya yang menjulang tinggi seakan <em>nantang</em> langit. Tanjakan demi tanjakan yang curam, dan licinnya jalan beraspal yang sedikit basah ditumbuhi tumbuhan lumut, menuntut pengendara kendaraan harus ekstra berhati-hati agar tidak <em>nemu ciloko</em>. Sikap waspada dalam berkendara menjadikan seseorang yang baru pertama menempuh jalur ini sedikit <em>dag-dig-dug</em>. Namun justru hal itu sekaligus bisa memacu adrenalin dan jiwa kepetualangan kita. Kendaraan yang prima menjadi prasyarat untuk mencapai keselamatan, <em>sluman-slumun</em> dan <em>slamet</em> hingga di tujuan.</span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli5.jpg"><img class="alignnone  wp-image-3351" title="Mangli5" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli5-300x225.jpg" alt="" width="275" height="210" />  </a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli2.jpg"><img class="alignnone  wp-image-3352" title="Mangli2" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli2-300x225.jpg" alt="" width="280" height="206" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Akhirnya kita akan menemukan sebuah titik luasan hutan yang di depannya berdiri gagah sebuah <em>gapuro</em> bertuliskan Hutan Wisata Mangli, tepat di sebelah kiri tanjakan yang memasuki dusun Mangli. Wanawisata ini masih tergolong sepi pengunjung dan belum terpromosikan dengan luas. Sayapun termasuk hanya untung-untungan menemukan obyek wisata ini, karena sebenarnya tujuan saya menelusuri daerah ini sekedar ingin menapak tilas Almarhum Mbah Mangli, tokoh kiai kharismatik yang di masa bocah sempat saya dengar cerita ”kesaktiannya” karena ia sosok ulama yang sangat alim dan tawadlu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Hutan Mangli secara administrasi pengelolaan hutan berada di bawah tanggung jawab RPH Pager Gunung, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Ambarawa yang merupakan salah satu BKPH di wilayah KPH Kedu Utara. Meskipun aslinya termasuk hutan alam hujan tropis, akan tetapi vegetasi pepohonan utama yang ada di hutan Mangli adalah tanaman pinus. Konon sebagaimana gunung yang lain, termasuk Merapi, dulunya pemerintah Kolonialah yang membawa dan menanam benih pohon pinus hingga berkembang biak meluas hingga sekarang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Memasuki pelataran gapura, pengunjung akan disuguhi pemandangan hamparan hutan pinus yang menghijau di sepanjang lembah dan ngarai sungai yang mengalir tepat di pintu masuk gapura. Penjaga gardu masuk akan dengan ramah dan <em>semanak</em> menyambut kedatangan kita. Harga tiket masuk tergolong terjangkau bagi petualang alam, karena hanya dibandrol Rp. 5.000,00. Fasilitas parkir roda dua tersedia dengan sangat memadai, demikian dengan kamar mandi atau toilet.</span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli1.jpg"><img class="alignnone  wp-image-3354" title="Mangli1" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli1-300x225.jpg" alt="" width="275" height="206" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli4.jpg"><img class="alignnone  wp-image-3355" title="Mangli4" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli4-300x225.jpg" alt="" width="275" height="206" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Beberapa titik petualangan yang dapat kita kunjungi di dalam hutan wisata ini adalah <em>kretek</em> bambu dengan aliran sungai dan beberapa <em>curug</em> rendah di bawahnya, kawasan bumi perkemahan, dan situs makam Kiai Syech Abdullah Fakil atau yang lebih dikenal sebagai Kiai Jaka Pekik. Melengkapi kesejukan desahan daun pinus, terdapat beberapa wahanan mainan anak yang telah ditambahkan seperti <em>flying fox</em>, ayunan, <em>plorodan</em>, hingga ban halang rintah. Tidak perlu khawatir tersesat, karena di beberapa titik terdapat papan peta dan petunjuk arah navigasi yang sangat jelas.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Gapura merupakan titik awal petualangan. Memasuki gapura kita langsung menuruni <em>undakan</em> tanah hingga sampai di atas sebuah jembatan bambu yang membentang perkasa di atas sebuah sungai. <em>Kemricik</em> dan kejernihan bening air sungai mengundang setiap pengunjung untuk turun ke dasar sungai sekedar merendam kaki, ataupun cuci muka. Bahkan bila <em>sampeyan</em> berkenan dapat meminum langsung air suci yang pastinya masih sangat steril. Di sela-sela bebatuan yang tertebar di sepanjang sungai, terdapat beberapa <em>curug</em> yang menimbulkan bunyi gemericik nan asyik dari air yang turun dari celah batu gunung.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Melintasi jembatan, kita dipandu menyusuri jalan setapak yang nampak sangat bersih namun sedikit licin karena ditumbuhi lumut hijau. Di sisi kiri jalan tersebut terdapat taman bermain anak yang bisa memanjakan anak atau adik-adik kita. Lurus ke depan sampailah pada sebuah pertigaan yang akan menawarkan pilihan bagi kita untuk terus lurus menuju bumi perkemahan atau ke arah kanan menuju makam Kiai Jaka Pekik.</span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli3.jpg"><img class="alignnone  wp-image-3359" title="Mangli3" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli3-300x225.jpg" alt="" width="275" height="206" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli6.jpg"><img class="alignnone  wp-image-3360" title="Mangli6" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/Mangli6-300x225.jpg" alt="" width="275" height="206" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Bumi perkemahan Mangli terhampar luas di pelataran lembah yang terlindung sejuk di sela-sela batang pohon pinus yang tegak perkasa. Di sisi pelataran mengarah ke atas, dataran terasiring melingkar rapi bertingkat-tingkat yang sering digunakan para peserta kemah mendirikan tendanya. Kawasan perkemahan yang cukup luas ini dilengkapi dengan fasilitas MCK yang sangat terawat dan terjaga kebersihannya. Hal ini menjadikan bumi perkemahan ini sangat menarik untuk dijadikan <em>base camp</em> dalam petualangan menjelajahi kawasan hutan Mangli. Pada kesempatan kunjungan saya ke Mangli ini, nampak sedang diselenggarakan acara <strong><em>Green Camp 2012</em></strong> oleh Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia dan Kelompok Pecinta Alam se-Indonesia selama 14-15 Januari 2012.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Melengkapi petualan alam di tengah hutan pinus, kita juga disuguhi ”wisata mistik” dengan mengunjungi makam Kiai Jaka Pekik. Jalan setapak di sela gerumbulan perdu akan mengantar pengunjung ke sebuah  celah jurang yang semakin menanjak. Meskipun jalan menanjak, namun dingin hawa kesejukan dan semilir angin tidak akan menjadikan kita cepat lelah. Ketakjuban kita akan ciptaan Yang Maha Karya akan ditambah dengan sentuhan gemericik air yang banyak muncul di beberapa titik mata air. Bahkan ada mata air yang sengaja dipasang pancuran untuk sekedar kita <em>mampir</em> <em>ngombe</em> atau <em>kekecehan</em>. Situs makam Kiai Jaka Pekik memang sebuah misteriusme tersendiri bagi pengunjung. Kurang jelas di titik manakah keberadaan <em>pesarean</em> tersebut, karena hingga mendaki di ketinggian lereng saya tidak dapat menemukan sekedar batu nisan atau pertanda sebuah tanah makam.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Sampeyan</em> belum pernah ke Hutan Wisata Mangli? <em>Monggo pinarak</em> dan selamat menikmati kesejatian alam yang masih sangat alamiah.</span></p>
<p align="right"><span style="color: #0000ff;">Lor Kedhaton, 17 Januari 2012</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/hutan-wisata-mangli.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagi Itu Indah</title>
		<link>http://pendekartidar.org/berbagi-itu-indah.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/berbagi-itu-indah.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 10:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariev</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bala Tidar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3335</guid>
		<description><![CDATA[Pelatihan Komputer di Panti Arrahman Magelang Dunia Maya tidak selalu menakutkan, membahayakan dan merugikan. Selalu... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/berbagi-itu-indah.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align: center;">Pelatihan Komputer di Panti Arrahman Magelang</h1>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 0pt none;" title="Pendekar Tidar Pelatihan TI Di Panti Arrahman " src="http://i301.photobucket.com/albums/nn66/bluekaizen/panti_arrahman_magelang.jpg" alt="panti_ar_rahman" width="386" height="480" border="0" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dunia Maya tidak selalu menakutkan, membahayakan dan merugikan. Selalu ada sisi positif dan manfaat yang bisa kita ambil, tergantung bagaimana cara kita dalam memperlakukan media tsb. Kalau analoginya <a href="http://www.yudhakaryadi.com/berbagi-itu-indah-ar-rahman/mashanafi.wordpress.com" target="_blank">mas Hanafi</a> : “Pisau, tergantung kitanya mau <em>dipake</em> buat apa. Buat <em>rajang-rajang bumbon</em> bisa, mau buat <em>nusuk</em> orang juga bisa.”</p>
<p style="text-align: justify;">Begitupula dengan <a href="http://www.facebook.com/" target="_blank">facebook</a>. Sebagian dari Anda ada yang punya facebook dan sebagian yang lain ada juga yang tidak punya facebook. Tidak masalah, karena memiliki facebook bukanlah merupakan sesuatu yang wajib alias keharusan. Dibalik sisi negatif facebook yang beberapa waktu lalu sering kita dengar di berita, tentunya ada juga sisi positifnya. Salah satu nilai positif facebook adalah yang jauh dapat semakin dekat dan yang dekat akan semakin merapat. Begitu juga dengan kisah <a href="http://www.yudhakaryadi.com/" target="_blank">saya </a>berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Kota <a href="http://www.yudhakaryadi.com/berbagi-itu-indah-ar-rahman/www.magelangkota.go.id">Magelang</a>, tepatnya di daerah Ngembik ada sebuah Panti Asuhan yang seringkali saya baca papan namanya (maklum, simbah saya tinggal di Ngembik jadi kalo mau kesana pasti melewati dan membaca tulisan di papan nama tsb) tapi saya belum pernah satu kali-pun menginjakkan kaki di sana. Pada suatu hari, tanpa sengaja di facebook saya melihat beberapa foto tentang mushola yang air bekas wudhunya dialirkan ke kolam ikan. Wah, menarik nih. Setelah ditelusuri ternyata yang punya foto adalah pak <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1462248990" target="_blank">Dharmawan Sumiran</a> (beliau adalah salah satu pengurus di Panti Ar Rahman, tepatnya bendahara panti).</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 0pt none;" title="Pendekar Tidar Pelatihan TI Di Panti Arrahman" src="http://i301.photobucket.com/albums/nn66/bluekaizen/nobar_linimassa.jpg" alt="Pendekar Tidar Pelatihan TI Di Panti Arrahman" width="384" height="242" border="0" /></p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, saya-pun meng-<em>add</em> beliau sebagai teman. Selain itu saya juga menyampaikan niatan untuk bersilaturahmi dan melihat-lihat aktivitas atau kegiatan teman-teman di Panti Ar Rahman. Panti Ar Rahman ternyata memiliki karakteristik yang unik bila dibandingkan panti yang lain. Kalo teman-teman berkunjung ke sana, mungkin suasananya akan sedikit berbeda dengan bayangan teman-teman selama ini. Suasana di Panti Ar Rahman ini tidak seramai maupun semeriah yang ada dalam benak kita. Mungkin karena panti putra dan putri lokasinya terpisah dan juga kadangkala teman-teman panti masih mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung sampai sore hari di sekolahnya masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekilas tentang Panti Ar Rahman. Panti Ar Rahman didirikan pada tahun 1992 dan sampai saat ini ada sekitar 70 anak yang tinggal di panti. Sebagian besar masih mengenyam pendidikan di SMP dan SMA dan sebagian yang lain ada juga yang sedang studi di universitas. Panti ini tidak hanya menampung teman-teman yatim piatu tetapi juga teman-teman dari keluarga yang kurang mampu. Selain berupaya untuk membantu agar teman-teman tetap bisa meneruskan pendidikan formal, teman-teman di Ar Rahman pun diberikan pendidikan kewirausahaan seperti perikanan, pertanian, jualan bakso, kerajinan dan keterampilan tangan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 0pt none;" title="Pendekar Tidar Pelatihan TI Di Panti Arrahman" src="http://i301.photobucket.com/albums/nn66/bluekaizen/komputer_dasar.jpg" alt="Pendekar Tidar Pelatihan TI Di Panti Arrahman" width="384" height="288" border="0" /></p>
<p style="text-align: justify;">Apakah yang bisa kita berikan ke Panti Ar Rahman? Wow…banyak sekali. Yang punya dana bisa membantu mendonasikan dananya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari maupun pendidikan teman-teman, yang punya bahan makanan bisa juga dibagikan untuk diolah oleh teman-teman dan yang punya keahlian maupun keterampilan tertentu bisa juga disebarkan ke teman-teman di panti ini. Pokoknya apapun yang teman-teman miliki, yang mungkin menurut teman-teman biasa dan tidak ada harganya, akan menjadi sesuatu yang istimewa apabila dibagikan dengan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga dengan Bala Tidar – sebutan untuk anggota Komunitas Blogger Magelang, <a href="../">Pendekar Tidar</a> – berbekal niat sederhana untuk berbagi apa yang kami miliki, kami-pun memberanikan diri untuk menerima ‘tantangan’ dari pak Dharmawan untuk memberikan pelatihan komputer di Panti Ar Rahman ini. Sampai tulisan ini diterbitkan, Alhamdulillah kami sudah melakukan 3 kali pertemuan dengan teman-teman panti. Yang pertama adalah perkenalan dan pemutaran film Linima(s)sa-nya Internet Sehat, yang kedua adalah pengenalan komputer (Computer Basics) tahap pertama dan yang ketiga adalah Computer Basics tahap kedua.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 0pt none;" title="Pendekar Tidar Pelatihan Komputer Di Panti Arrahman Magelang" src="http://i301.photobucket.com/albums/nn66/bluekaizen/pelatihan_komputer.jpg" alt="Pendekar Tidar Pelatihan Komputer Di Panti Arrahman Magelang" width="384" height="288" border="0" /></p>
<p style="text-align: justify;">Keterbatasan fasilitas bukanlah suatu hambatan bagi kami yang membuat kami galau atau menyerah. Justru keterbatasan itulah yang malah mendorong dan memotivasi kami untuk lebih bersemangat dalam berbagi dan lebih kreatif dalam menyampaikan materi. Doakan, semoga kami bisa istiqomah dalam investasi ini dan ikut membantu mewujudkan sasaran panti yaitu dapat menampung 1.000 anak sebelum tahun 2027. Anda tertarik untuk ikut menyukseskan sasaran tsb?</p>
<p style="text-align: justify;">Diambil dari Bala Tidar &#8211;&gt; <a href="http://www.yudhakaryadi.com/berbagi-itu-indah-ar-rahman/" target="_blank">Yudha Karyadi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/berbagi-itu-indah.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dejadjah Djaloer Spoor</title>
		<link>http://pendekartidar.org/dejadjah-djaloer-spoor.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/dejadjah-djaloer-spoor.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 03:59:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[magelang toea]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3332</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s320x320/375993_2497234592205_1293072067_32099121_1832099521_n.jpg" alt="" width="547" height="363" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/dejadjah-djaloer-spoor.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemanasan Jelang Lomba Menulis 2012</title>
		<link>http://pendekartidar.org/pemanasan-jelang-lomba-menulis-201.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/pemanasan-jelang-lomba-menulis-201.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 09:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3282</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://kangnanang.dagdigdug.com/files/2012/01/PusakaPustaka2.jpg" alt="" width="602" height="867" /></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kangnanang.dagdigdug.com/files/2012/01/PusakaPustaka11.jpg" alt="" width="610" height="880" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/pemanasan-jelang-lomba-menulis-201.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Magelang Jelang Tahun Baru</title>
		<link>http://pendekartidar.org/magelang-jelang-tahun-baru.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/magelang-jelang-tahun-baru.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 01:20:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[alun-alun]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3241</guid>
		<description><![CDATA[Dua tiga bulan menjelang akhir tahun ini, masyarakat Magelang menyimpan teka-teki dan tanda tanya besar... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/magelang-jelang-tahun-baru.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft" src="http://i301.photobucket.com/albums/nn66/bluekaizen/magelang_alun.jpg" alt="" width="403" height="231" /></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Dua tiga bulan menjelang akhir tahun ini, masyarakat Magelang menyimpan teka-teki dan tanda tanya besar berkaitan dengan perubahan beberapa sudut kota. Bersamaan dengan dibukanya Artos alias Armada Town Square sebagai mall pertama di Magelang, justru alun-alun sebagai pusat ruang publik di tengah kota ditutup dengan seng yang rapat. Semua warga kasak-kusuk tentang sebuah rahasia umum. Pemerintah tengah gencar melakukan penataan beberapa bagian kota. Poros utama dari program penataan itu adalah alun-alun hingga jalur protokol lurus yang kita kenal sebagai kawasan Pecinan.<span id="more-3241"></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Tidak hanya penataan kawasan alun-alun kota dan Pecinan, Pemerintah Kota Magelang konon tengah menggagas wacana Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga. Dulu, sekitar akhir tahun 80-an Kota Magelang mengibarkan diri sebagai Kota Harapan. Hidup, asri, rapi, aman, dan nyaman, begitu kira-kira semboyan lama itu. Gencarnya sosialisasi, meskipun terbatas <em>gethok tular</em> dari mulut ke mulut, namun ikon Kota Harapan itu bisa dikenal luas hingga ke pelosok desa dan dusun di wilayah Kabupaten Magelang, termasuk ke lereng Merapi daerah kami. Kala itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Nah bagaimana dengan Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga? Di tengah jaman kemajuan media komunikasi dan informasi, media massa koran, radio dan televisi, bahkan internet dengan <em>facebook</em> dan <em>twitter</em>-nya, kenapa masih ada tanda tanya dan teka-teki tentang sebuah wacana Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga? Nampaknya pemangku pemerintahan saat ini kurang bisa mengoptimalkan peluang dan kesempatan kemajuan teknologi untuk menunjang sosialisasi program-program pembangunan yang tengah dijalankannya. Sehingga jangan salahkan bila ada sebagian warga yang menanggapi wacana Kota Sejuta Bunga hanya sebagai dalih penghabisan anggaran proyek<em>. Lha kok ndilalah</em> juga kasak-kusuk ini terjadi di akhir tahun!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Terlepas dari teka-teki dan tanda tanya mengenai konsep Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga yang tidak terjawab dengan tuntas, saat ini sedikit demi sedikit tabir itu mulai tersingkap. Kawasan alun-alun yang sebelumnya dikelilingi seng, kini sudah dibuka. Jalur lambat di kawasan Pecinan yang sebelumnya dibongkar kini tengah menjalani tahap penyelesaian akhir dari sebuah kegiatan penataan ulang. Secara fisik ada yang berubah dan baru pada kedua kawasan ruang publik tersebut. Dan sewajarnya setiap hal yang baru, tentu menimbulkan keterkejutan psikologi dan sosial budaya bagi setiap manusia yang menjumpai keterbaruan tersebut.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Penataan alun-alun kota memang sudah sejak lama menjadi aspirasi sebagian warga. Memperbandingkan alun-alun sebagai jantung pusat kota sebuah tata kota warisan jaman kerajaan dan kadipaten di masa lampau, alun-alun Kota Magelang memang nampak tidak mendapatkan perhatian yang seksama dari pihak pemangku kepentingan. Rasanya kita patut merasa iri jika kita melihat alun-alun di kota-kota lain seperti Purworejo, Kebumen, atau Wonosobo. Pemerintah setempat terlihat sangat serius dalam menata kawasan alun-alunnya. Bagaimana penataan taman dengan segenap tanaman pepohonan dan bunga-bungaannya menambah keasrian, kerindangan, dan kesejukan yang benar-benar terpelihara dengan baik. Keberadaan bangunan pendukung, semisal joglo dan gasibu di segenap sudut, yang menjadi ciri penghormatan terhadap pelestarian budaya Jawa yang adiluhung masih berdiri anggun. Bagaimana pagar keliling tertata dengan kokoh dan perkasa. Bagaimana kebersihan terjaga dengan sangat baiknya, dan bagaimana semua suasana itu dapat bersanding dengan puluhan pedagang kaki lima yang tertata dengan tertib dan santun. Semua nampaknya belum bisa kita jumpai di alun-alun Magelang tercinta.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><img class="aligncenter" src="http://i301.photobucket.com/albums/nn66/bluekaizen/ringin_tengah.jpg" alt="" width="478" height="277" /><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Penataan kawasan alun-alun memang tidak bisa berlangsung hanya sekejap dalam hitungan satu hari satu malam. Proyek masa kini tentu tidak sama dengan dongeng seribu satu keajaiban pembangunan candi Prambanan oleh Bandung Bondowoso. Namun demikian, <em>tokh</em> tabir yang menutupi alun-alun beberapa bulan terakhir kini sudah terbuka dengan gamblang di hadapan segenap warga kota. Alun-alun tampil dengan tampilan barunya sebagai hasil karya proses penataan yang dilakukan oleh pemerintah Kota Magelang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Secara fisik, banyak hal yang telah dibenahi. Pemangkasan ringin induk dan ringin kurung, serta penanaman pohon-pohon baru. Penataan jalur pejalan kaki lengkap dengan lampu-lampu di sisi tepiannya dengan penampilan gaya klasik ala kolonial. Penambahan <em>landmark</em> baru berupa tulisan MAGELANG dalam ukuran raksasa. Penempatan pos keamanan di sudut barat laut berdampingan dengan <em>water torn</em>, termasuk juga penambahan tempat sampah di beberapa titik. Fisik yang baru, tentu saja membawa kepada suasana dan aura baru. Dan sesuatu yang baru, sudah pasti membawa kepada decak kagum dan rasa <em>nggumun</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Sesuatu hal yang lebih baik, tentu saja harus kita syukuri bersama. Hanya saja penataan fisik alun-alun yang sudah nampak keindahan dan dapat kita lihat serta rasakan bersama, akan sangat tidak berarti bila tidak diiringi dengan penataan “batiniah” setiap warga kota ataupun siapa saja yang berkepentingan dengan keberadaan alun-alun. Penataan batiniah yang saya maksudkan adalah kesiapan sikap dan mental kita bersama untuk <em>handarbeni</em>, merasa memiliki bersama, sehingga tumbuh sikap untuk menjaga dan memelihara keindahan yang sudah hadir melalui penataan yang telah selesai dilakukan oleh Pemerintah Kota Magelang tersebut.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Bagaimana segenap sarana prasarana dan fasilitas umum yang ada tetap terjaga dengan baik, bagaimana kebersihan terpelihara tanpa sampah berserakan, bagaimana ketertiban dan keamanan terwujud merupakan tantangan bagi kita semua. Bagaimana setiap tanaman tetap hijau dan tumbuh dengan subur, bagaimana dinding dan tembok di setiap sudut bersih dari coretan tangan jahil, semua hal itu harus menjadi perhatian bersama. Dan hal itu bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi menjadi kepentingan dan tanggung jawab semua warga kota dan setiap anggota masyarakat yang mengunjugi alun-alun. Ya para pedagang kali limanya. Ya para pengamennya. Ya para petugas keamanan dan kebersihannya. Ya dinas pertamanannya. Dan ya sudah pasti semua pengunjung, pelintas dan penikmat alun-alun.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Alun-alun dengan tampilan dan wajah barunya, kawasan Pecinan dengan jalur keramiknya, demikian halnya dengan sudut kota yang lain, merupakan kado akhir tahun untuk menyambut awal tahun baru. Tahun baru adalah harapan baru. Harapan untuk terus mewujudkan kota Magelang yang hidup, asri, rapi, aman dan nyaman. Inilah semestinya spirit yang harus kita petik dengan tampilan baru kota Magelang menjelang tahun baru. Selamat tahun baru!</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #0000ff;"> Ngisor Blimbing, 25 Desember 2011</span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #0000ff;">Foto: dari <a href="http://i301.photobucket.com/albums/nn66/bluekaizen/magelang_alun.jpg">sini</a>.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/magelang-jelang-tahun-baru.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Tahun Baru 2012</title>
		<link>http://pendekartidar.org/selamat-tahun-baru-2012.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/selamat-tahun-baru-2012.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 17:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariev</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3233</guid>
		<description><![CDATA[Selamat Datang di Portal Pendekar Tidar dot org. Syukur alhamdulillah setelah beberapa hari maentenis dan... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/selamat-tahun-baru-2012.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Selamat Datang di Portal Pendekar Tidar dot org. Syukur alhamdulillah setelah beberapa hari maentenis dan akhrinya di tahun baru 2012 resmi dilounchingkannya tampilan Portal Pendekar Tidar yang baru. Dengan nuansa hijau menggambarkan kesejukan Gunung Tidar yang ada di Kota Magelang ini semoga mampu memberikan inspirasi kita Blogger Magelang dalam menulis.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada yang spesial dari tema sekarang dengan yang dulu, tapi diharapkan pengorganisasian postingan kategori, penulis dan informasi lebih tertata jelas. Kita juga tidak mengubah apapun selain tema. Hosting, domain, konten, penulis, masih sama seperti dulu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/12/headerpt.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-3054" title="headerpt" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/12/headerpt.png" alt="Komunitas Blogger Magelang - Pendekar Tidar" width="259" height="60" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/portalportal-baru.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3234" title="portalportal baru" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/portalportal-baru-300x278.png" alt="portal pendekar tidar blogger magelang" width="300" height="278" /></a><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/portalcomen-portal.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3235" title="portalcomen portal" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/01/portalcomen-portal-300x283.png" alt="komentar portal blogger magelang" width="300" height="283" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Selamat Tahun Baru 2012 dan Selamat tinggal tahun 2011, semoga Blogger Magelang akan lebih hidup dan jaya memperbaiki kekurangan di tahun 2011 lalu, dan tentunya “Pendekar Tidar” akan selalu siap meng Go-Blog-kan Magelang dan sekitarnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Artikel tentang Kilas balik Pendekar Tidar 2011 :</h3>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://ummaymochil.wordpress.com/2011/12/26/sebuah-catatan-untuk-perjalanan" target="_blank">http://ummaymochil.wordpress.com/2011/12/26/sebuah-catatan-untuk-perjalanan</a></p>
<p><a href="http://www.ikhsan.web.id/2011/12/kaleidoskop-pendekar-tidar-2011.html" target="_blank">http://www.ikhsan.web.id/2011/12/kaleidoskop-pendekar-tidar-2011.html</a></p>
<p><a href="http://www.yudhakaryadi.com/aksi-pendekar-tidar-di-tahun-2011-1/" target="_blank">http://www.yudhakaryadi.com/aksi-pendekar-tidar-di-tahun-2011-1/</a></p>
<p><a href="http://burstcode.com/kilas-balik-2011-peran-dalam-berkomunitas.php" target="_blank">http://burstcode.com/kilas-balik-2011-peran-dalam-berkomunitas.php</a></p>
<p><a href="http://malamlarut.blogspot.com/2011/12/kilas-balik-berkomunitas-sebagai-bala.html" target="_blank">http://malamlarut.blogspot.com/2011/12/kilas-balik-berkomunitas-sebagai-bala.html</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://dekariev.blogspot.com/2011/12/perjalanan-pendekar-tidar-2011-1.html" target="_blank">http://dekariev.blogspot.com/2011/12/perjalanan-pendekar-tidar-2011-1.html</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://pikiranpojok.wordpress.com/2011/12/29/ngalor-ngidul-komunitas-kita/" rel="nofollow nofollow" target="_blank">http://<wbr>pikiranpojok.wordpress.com/<wbr>2011/12/29/<wbr>ngalor-ngidul-komunitas-kit<wbr>a/</wbr></wbr></wbr></wbr></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/selamat-tahun-baru-2012.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kilas Bala Tidar 2011</title>
		<link>http://pendekartidar.org/kilas-bala-tidar-2011.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/kilas-bala-tidar-2011.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 10:44:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bala Tidar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=2700</guid>
		<description><![CDATA[Pasang-surut, naik-turun adalah irama hidup sebagai sebuah keniscayaan. Sebagaimana ummat manusia yang mengerti agama dan... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/kilas-bala-tidar-2011.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Pasang-surut, naik-turun adalah irama hidup sebagai sebuah keniscayaan. Sebagaimana ummat manusia yang mengerti agama dan paham peradaban, kita tentu saja senantiasa berkeinginan agar hari ini lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Spirit ini semestinya memang mendorong manusia untuk senantiasa berproses menuju kepada keadaan yang lebih baik. Demikian halnya ketika sedikit dari sebagian personal yang memiliki keprihatinan tentang eksistensi <em>bhumi</em> Magelang di dunia maya, yang kemudian tergabung di dalam Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang, juga memiliki harapan menjadi sebuah komunitas yang semakin eksis dan solid.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Dua ribu sebelas merupakan masa kritis yang tidak mudah dilalui untuk mempertahankan eksistensi komunitas ini. Dinamika perjalanan komunitas mau tidak mau dan suka tidak suka harus melewati berbagai rintangan, hambatan, dan cobaan yang tidaklah semakin ringan. Soliditas dan solidaritas yang menjadi nafas kebersamaan ketika dalam komunitas ini diusung motto “Paseduluran Tanpa Batas” rupanya tidak begitu mudah untuk diwujudkan. Hal ini tidak lepas dari instabilitas stamina dari setiap Bala Tidar yang mengaku menjadi bagian dari barisan komunitas.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Awal tahun merupakan titik kulminasi kelelahan selepas hampir semua keluarga besar Bala Tidar merasakan dampak letusan dahsyat gunung Merapi yang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan bagi semua komponen masyarakat Magelang. Sisa-sisa dampak dan efek samping aktivitas erupsi Merapi masih terus berlangsung seiring dengan musim hujan yang kian menderas. Langsung ataupun tidak langsung suasana ini jelas berdampak kepada agenda komunitas yang telah dirumuskan sebelum erupsi Merapi berlangsung, seperti lomba dan seminar, dan tentunya wacana Visit Magelang 2011.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><img class="alignleft" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/02/AgungDragon.jpg" alt="" width="273" height="364" />Mengawali 2011, di bulan Januari Bala Tidar mendapatkan kehormatan untuk turut bergabung dalam acara <a href="http://pendekartidar.org/yang-dibuang-sayang.php">Napak Tilas Sejarah Bangunan Tua di Kota Magelang</a> yang digagas oleh Komunitas Kota Toea Magelang. Sejarah dan kisah mengenai Masjid Agung, alun-alun, kantor kadipaten, kweekschoool, karesidenan, gedung balaikota lama, hingga Masjid Payaman dan makam Bupati Danuningrat menambah wawasan beberapa perwakilan Bala Tidar yang turut dalam acara tersebut.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Sebagai sebuah komitmen untuk memberikan wadah kreasi para remaja untuk mengembangkan bakat dalam seni tulis-menulis, Bala Tidar tetapkan niat dan tekad untuk tetap menggelar <em>event</em> tahunan dalam rangka HUT ke-II Komunitas Pendekar Tidar. Maka secara maraton dipersiapkanlah agenda lomba menulis khusus pelajar tingkat SLTP-SLTA dan seminar untuk para guru, orang tua dan umum. Berkenaan dengan kesan erupsi Merapi yang masih segar di ingatan warga Magelang, sengaja lomba menulis mengangkat tema “1001 Sisi Erupsi Merapi”.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Januari, Februari, hingga Maret adalah selang waktu Bala Tidar berusaha merapatkan barisan untuk secara serius mempersiapkan <em>event</em> lomba dan seminar. Dengan harapan kepesertaan lomba dan seminar yang lebih meningkat dan menjangkau kalangan yang lebih luas, maka paket <em>event</em> tersebut sengaja diundurkan waktu pelaksanaannya menjadi Mei dan Juni. Di sela-sela persiapan agenda tahunan, salah seorang Bala Tidar memberikan kepastian tentang niat yang pernah diutarakannya untuk mengangkat beberapa sisi komunitas menjadi sebuah tema penelitian untuk kemudian diajukan sebagai tugas akhir guna mendapatkan gelar kesarjanaan. Sungguh kesempatan yang sangat luar biasa sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">April memang hari kelahiran Komunitas Pendekar Tidar bersamaan dengan HUT Kota Magelang. Sangat berbeda dengan saat pertama kali digelar Kopdar Bala Tidar, 11 April 2009, yang kemudian menjadi tonggak kelahiran Komunitas Pendekar Tidar, HUT ke-II komunitas berlalu tanpa ritual ataupun peringatan apapun. Semua berlalu begitu saja, seolah komunitas ini dalam suasana mati suri. Nampak sekali stamina sebagian Bala Tidar mencapai titik kritis, bahkan ada beberapa diantaranya yang kemudian tidak jelas kemana rimbanya!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Pengalaman menggelar <em>event</em> yang sama pada tahun sebelumnya sebenarnya merupakan modal awal yang sangat berharga. Dukungan Dispora Kab Magelang dirasa lebih total dan tulus turut membesarkan hati Bala Tidar. Terlebih lagi XL Magelang dan Radar Magelang turut menjadi sponsor serta media partner menjadikan harapan kegiatan tahun ini lebih sukses dari tahun sebelumnya. Namun sayang seribu sayang, eksistensi eksternal yang semakin diakui oleh beberapa kalangan masyarakat luar justru tidak menjadikan dorongan bagi sebagian besar Bala Tidar untuk lebih eksis mengawal perjalanan komunitas.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207946.jpg" alt="" width="492" height="333" /></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Detik demi detik menjelang <em>dateline</em> lomba dan seminar, barisan Bala Tidar belum <em>temata</em> bahkan semakin terlihat <em>mawut</em> dan <em>ambyar</em>. Dapat dihitung dengan jari, hanya segelintir Bala Tidar yang tetap setia dan komit terhadap komitmen yang telah diputuskan bersama. Meskipun penuh dengan peluh, kegelisahan, rasa <em>was sumelang</em> dan <em>dagdigdug</em> dari panitia inti, akhirnya panitia menerima sejumlah naskah dari peserta yang jumlahnya cukup memadai.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Hal yang lebih tragis justru terjadi untuk kegiatan seminar dimana jumlah kepesertaan hingga  detik terakhir tidak melebihi angka dua puluh. Sebuah kemunduran memang! Namun seminar akhirnya tetap berlangsung pada Sabtu 25 Juni 2011 bertempat di Pendopo drh. Soepardi, Kompleks Sekretariat Pemerintah Kabupaten Magelang, Kota Mungkid dengan tema <a href="http://pendekartidar.org/dari-seminar-pendekar-tidar-ii.php">“Internet Sehat untuk Generasi Masa Depan”</a> dengan narasumber Acep Saepudin dari Internet Sehat Indonesia/ICT Wacth, Bahtiar Rifa’i dari Komunitas Blogger BHI Jakarta, Gunawan Juliyanto dari Tlatah Bocah, dan Rahardian Mukti selaku admin group Wisata Magelang di <em>facebook</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Di bulan Juli semestinya Bala Tidar mendapatkan tawaran dari ASEAN Blogger Community chapter Indonesia yang didukung penuh Kementerian Luar Negeri untuk menggelar <a href="http://pendekartidar.org/haki-pelindung-kebudayaan.php">workshop</a> tentang pengenalan wacana ASEAN Community 2015. Acara kemudian digelar di Jogja dengan kepanitian dari Komunitas Joglo Abang. Beberapa perwakilan Bala Tidar berkesempatan menghadiri acara yang berlangsung di Hotel Melia Purosani tersebut.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><img class="alignright" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/08/aseanbloggercommunity.jpg" alt="" width="275" height="321" />Agustus, bersamaan dengan bulan Ramadhan, Bala Tidar mendapat undangan untuk bersilaturahmi dengan Komunitas Penggunan Linux Indonesia cabang Magelang. Dalam forum ini tercetus ide untuk membuat <em>website</em> bersama sebagai wadah gerak bersama bagi segenap komunitas pengguna dunia maya yang ada di Magelang.  Hampir bersaman dengan itu, perwakilan Bala Tidar juga turut menghadiri acara <a href="http://pendekartidar.org/asean-blogger-commnunity-workshop.php"><em>Workshop</em> dan Pameran Foto</a> yang digagas <em>ASEAN Blogger Community chapter Indonesia</em> di Museum Bank Mandiri, Jakarta. Menjelang Idul Fitri, Bala Tidar sempat <em>kembul bujono</em> untuk berbuka bersama di Omah Pring dengan disaksikan ketenangan aliran Kali Elo di pinggiran Kota Magelang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Bulan September 2011, <em>halal bi halal</em> di Hari Lebaran hanya sebatas lewat <em>online</em> karena pada waktu diundang ke Ndalem Peniten banyak Bala Tidar yang menyatakan diri berhalangan hadir. Bahkan pada saat Kang Ikhsan, salah seorang <em>sesepuh</em> sekaligus pendiri komunitas, melangsungkan <a href="http://pendekartidar.org/ikhsan-dan-dian.php">hari bahagia</a> dengan memetik sang kembang idaman dari <em>tlatah</em> Gelangan, tetap hanya segelintir Bala Tidar yang turut menjadi saksi.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Masih di bulan yang sama, memenuhi undangan dari Be-Blog, Komunitas Blogger Bekasi, untuk menghadiri acara <a href="http://pendekartidar.org/amprokan-blogger-2011.php">Amprokan Blogger 2012</a>. Turut hadir pada acara ini saya sendiri, Kang Dobelden, dan Faris Ashim. Acara yang menghadirkan blogger dari segenap penjuru tanah air ini berlangsung meriah dan penuh kesan karena di samping peserta dibekali pengetahuan dalam seminar yang mengangkat topik tentang <em>blogging</em>, dunia IT, <em>cyberlaw</em>, lingkungan dan etika <em>blogging</em>, kami juga turut <em>touring</em> ke Jababeka dan Taman Buaya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/09/Delegasi2.jpg" alt="" width="400" height="274" /></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">28 &#8211; 30 Oktober digelar kopdar seribu blogger dalam Forum Blogger Nusantara bertempat di Sun City, Sidoarjo, Jawa Timur. Kumpulan blogger yang memiliki visi untuk mengarahkan penggunaan blog dalam rangka blogpreunership ini banyak digagas oleh rekan-rekan dari Poros Daerah. Intinya di samping memberikan sisi peluang dan kesempatan untuk menjadikan blogging sebagai aktivitas berpendapatan, Blogger Nusantara juga ingin menepis paham Jakarta centris! Sayang seribu sayang, saya yang sudah ancang-ancang jauh hari untuk menghadirinya terhambat oleh kesehatan tubuh yang kurang bersahabat sehingga batal hadir. Harapan akan ada perwakilan Bala Tidar yang ikut <em>ngombyongi</em>, ternyata hanya harapan hampa!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Bergeser ke bulan November. Bersamaan dengan berlangsungnya acara KTT ASEAN XIV di Bali, <a href="http://pendekartidar.org/asean-blogger-conference.php">ASEAN Blogger Community juga menggelar conference</a>. Adalah sebuah kehormatan Komunitas Pendekar Tidar diundang untuk mengirimkan perwakilannya dengan ongkos transportasi dan akomodasi ditanggung penuh oleh panitia. Tanggal 22 November 2011, Graha Sabha Pramana menorehkan salah satu wisudawatinya yang mengangkat judul skripsi “Magelang dalam Blog”. <em>Sampeyan</em> ingin membacanya juga? Silakan <em>request</em> kepada kami!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Detik-detik akhir tahun segera datang menjelang. Waktu senantiasa bergerak maju tanpa ada kuasa kita untuk menghambatnya. Satu per satu prestasi telah kita torehkan bersama. Satu per satu kesalahan, bahkan kekalahan, juga telah kita catat dalam memori dan jejak sejarah komunitas kita. Adalah sebuah kegembiraan jika kita tengok bahwa Komunitas Pendekar Tidar sudah banyak terlibat di kancah nasional, bahkan mulai mengglobal dengan keikutsertaannya dalam ASEAN Blogger Community. Secara eksternal eksistensi kita semakin dikenal dan diakui oleh berbagai pihak. Namun catatan pentingnya justru secara internal kita haru semakin merapatkan dan menguatkan barisan. Soliditas dan solidaritas harus terus ditingkatkan. Stamina harus terus dijaga sebagai pijakan komitmen, konsistensi dan kebersamaan untuk terus berkarya bagi kejayaan Magelang tercinta. Monggo kembali merapatkan barisan! Salam Bala Tidar!</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #0000ff;">Ngisor Blimbing, 11 Desember 2011</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/kilas-bala-tidar-2011.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bis Bandara &#8211; Magelang PP</title>
		<link>http://pendekartidar.org/bis-bandara-magelang-pp.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/bis-bandara-magelang-pp.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 11:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Magelangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=2691</guid>
		<description><![CDATA[MAGELANG MEMBELAH ANGKASA Salah satu ciri jaman modern adalah semakin menipisnya batasan ruang dan waktu.... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/bis-bandara-magelang-pp.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: left;" align="center"><span style="color: #ff0000;"><strong>MAGELANG MEMBELAH ANGKASA</strong></span></h2>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.google.co.id/imgres?q=damri+bandara,+magelang&amp;um=1&amp;hl=id&amp;sa=N&amp;biw=1024&amp;bih=629&amp;tbm=isch&amp;tbnid=DPvyrP4s1rrXwM:&amp;imgrefurl=http://www.bismania.com/home/showthread.php%3Ft%3D2741%26page%3D1&amp;docid=cnsyZtzXSeLUKM&amp;imgurl=http://i43.tinypic.com/6i79fk.jpg&amp;w=500&amp;h=375&amp;ei=0Y_hTpalN4iHrAfr6pzOAQ&amp;zoom=1"><img src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQgKqe_h72oxyZdGO8JxGWRFxMSyc0x-SEHzD5qpoTsYzHY9AZ8hw" alt="" width="353" height="263" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Salah satu ciri jaman modern adalah semakin menipisnya batasan ruang dan waktu. Komunikasi dan transportasi merupakan karya teknologi yang mampu menembus batasan tersebut. Jarak jauh seakan tidak menjadi penghalang anak manusia untuk saling berinteraksi, tidak saja di dunia nyata namun bisa juga melalui dunia maya. Di ranah dunia nyata telah dibangun infrastruktur transportasi yang sangat memadai untuk aktivitas mobilitas yang tinggi. Jalan, jembatan, rel kereta api, terminal, stasiun, dan bandara merupakan contoh infrastruktur penunjang transportasi yang semakin maju. Berbagai sarana transportasipun telah tersedia, mulai dari sepeda, becak, <em>andhong</em>, colt, bus, kereta api, hingga pesawat terbang. Pilihan moda transportasi mana yang kita pilih sangat tergantung dengan kebutuhan dan dana yang kita miliki.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Berbicara tentang kendaraan transportasi yang paling cepat untuk menembus jarak dan waktu, kita semua paham dengan pesawat terbang. Magelang sebagai wilayah strategis di tengah-tengah pulau Jawa, juga tidak ketinggalan dengan akses terhadap angkutan udara. Semenjak beberapa tahun ke belakang, masyarakat <em>kota gethuk</em> sebenarnya sudah bisa menikmati naik pesawat terbang dengan biaya murah (kalau belum naik Rp 5.000,- ). Nama armada yang setia menunggu setiap calon penumpang yang akan menaikinya itu adalah <strong>Kyai Langgeng Airline!</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Wah itu <em>ngoyo woro</em>, alias sama juga bohong <em>Kang!</em> Meskipun pesawat terbang sungguhan, Kyai Langgeng Airline <em>kan nggak</em> bisa <em>mabur!</em> <em>Lha wong</em> itu hanya pesawat bekas yang dipajang di <strong>Taman Wisata Kyai Langgeng</strong> <em>je!</em> Memang Kyai Langgeng Airline tidak lagi bisa mengudara sebagaimana pada saat pesawat itu belum berstatus sebagai ”bekas pesawat”. Tetapi sebagai sekedar <em>tombo kangen</em> bagi orang yang tidak pernah berkesempatan naik pesawat sungguhan sudah sangat lumayan, bahkan luar biasa <em>to?</em> Meskipun hanya sebuah pesawat terbang fantasi!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Duren-duren, roti yo roti! </em><em>Mbiyen-mbiyen, saiki yo saiki!</em> Lain beberapa waktu lalu, tentu saja lain dengan kenyataan sekarang. Mau naik pesawat terbang dari Magelang? <em>Emang</em> bisa? <em>Emange</em> Magelang sudah <em>mbangun</em> bandara sendiri?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Bukan begitu <em>sedulur!</em> Magelang memang hingga kini tidak memiliki bandara alias lapangan udara sendiri. Pesawat yang bisa mendarat di Magelang paling-paling memang hanya helikopter, atau paling pol pesawat model capung sebagaimana yang dipergunakan Bung Karno dan Ngarso Dalem HB IX yang mendarat di puncak <strong>Tidar</strong> pada saat akan anjangsana ke gunung Merapi di akhir tahun 50-an. Tentu saja yang saya maksudkan naik pesawat dari Magelang tidaklah sepenuhnya naik dari bandara di Magelang, tetapi masih <em>nunut</em> menggunakan fasilitas bandara Meguwo alias <strong>Adi Sucipto</strong> di Ngayojakarta Hadiningrat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.google.co.id/imgres?q=damri+bandara,+magelang&amp;um=1&amp;hl=id&amp;sa=N&amp;biw=1024&amp;bih=629&amp;tbm=isch&amp;tbnid=Pga0pjxoAmy1pM:&amp;imgrefurl=http://bismania.org/jadwal-dan-harga/perum-damri-dari-dan-ke-bandara-adisutjipto-yogyakarta/&amp;docid=1jVUoKDNgDujYM&amp;imgurl=http://bismania.org/wp-content/uploads/2010/03/damri-adisutjipto.jpg&amp;w=525&amp;h=297&amp;ei=0Y_hTpalN4iHrAfr6pzOAQ&amp;zoom=1"><img class="aligncenter" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSO1O8dkD_q0p3vEzb1hRf4_nLUproDMOHT9yvLVTAjNjIQAWfuZw" alt="" width="299" height="169" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Lha</em> kalo memang masih tetap <em>nyengklak</em> pesawat dari Adi Sucipto kan masih tetap sama dengan sebelum-sebelumnya? Dalam hal itu memang sama, tetapi ada yang sedikit sudah berbeda! Lalu apanya yang sudah sedikit berbeda tersebut? Begini <em>Kangmas</em>, begini <em>Mbakyu</em>, <em>sampeyan</em> pernah melihat bus Damri jurusan Adi Sucipto – Magelang melintas di jalur Jogja – Magelang? Itulah yang saya maksudkan! Sudah lebih dari satu tahunan ini ada layanan <em>shuttle</em> bus dari bandara Adi Sucipto langsung menuju Magelang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Layanan <em>shuttle bus</em> Damri dari bandara Adi Sucipto – Magelang pulang pergi berlangsung jam 04.00 pagi 16.00 petang, bahkan arah dari bandara menuju Magelang dilayani hingga jam pendaratan terakhir. Apabila <em>sampeyan</em> mendarat di bandara Adi Sucipto, silakan keluar melalui akses terowongan bawah yang menuju ke Stasiun Maguwo, berdampingan dengan stasiun tersebut dapat <em>sampeyan</em> temukan loket tiket <em>shuttle bus</em> tersebut. Rute perjalanan yang ditempuh bus tersebut setelah keluar dari Stasiun Maguwo melalui <em>ring road</em> utara hingga Jombor, melintasi jalur Jogja – Magelang, hingga finis di depan <strong>Hotel Wisata</strong> Jln. Jenderal Sudirman No.149 Magelang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Sebaliknya bila <em>sampeyan</em> ingin ke bandara dari arah Magelang, <em>sampeyan</em> tinggal pesan tiket dan datang ke Hotel Wisata tersebut. <em>Sampeyan</em> yang berada di Muntilan dan sekitarnya juga bisa naik di restoran Sari Nikmat sebelah utara lampu <em>bangjo</em> Sayangan. Karena jalur Magelang – Jogja termasuk jalur yang sangat padat di siang hari, maka jarak tempuh ke bandara bisa mencapai 1,5 – 2 jam. Oleh karena itu untuk mengantisipasi agar tidak ketinggalan pesawat, <em>sampeyan</em> disarankan untuk naik bus dua jam sebelum <em>boarding time</em> di tiket yang sudah <em>sampeyan</em> pesan. Untuk sekali perjalanan, tiket yang dikenakan saat ini sebesar Rp. 35.000,-. Lumayan bukan?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Dari sudut pandang kemajuan suatu daerah, kemudahan akses transportasi dalam rangka meningkatkan laju mobilitas orang, termasuk barang dan jasa, merupakan sebuah peluang untuk meningkatkan perputaran roda ekonomi. Keterhubungan Magelang dengan bandara internasional Adi Sucipto sebagai salah satu pintu gerbang dari dunia luar bisa dijadikan peluang untuk mengundang lebih banyak wisatawan domestik maupun asing untuk mengunjungi dan menetap di Magelang. Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya dimana wisawatan lebih senang menginap di Jogja dan hanya menjadikan Magelang sebagai salah satu tujuan kunjungan saja.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Dengan waktu tinggal atau menginap para wisatawan di Magelang yang semakin lama berarti akan menggerakkan sektor penginapan, hotel, dan tentu saja restoran atau rumah makan. Demikian halnya dengan pusat oleh-oleh kuliner khas dan souvenir hasil kerajinan rakyat juga berpeluang mendapatkan penglarisan yang lebih baik. Begitu pula sektor penyedia jasa, seperti taksi, pemandu wisata, tukang becak hingga kusir <em>andhong-</em>pun berpeluang untuk menambang untung. Dengan tergeraknya sisi hilir sektor pariwisata, maka sektor hulu seperti pertanian dan industri kecilpun akan turut tergerak, dan efeknya tentu saja kepada peningkatan penghasilan dan kesejahteraan para pelaku ekonomi dan masyarakat secara lebih luas.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Di sektor bisnis atau industri, akses Magelang yang mudah dan cepat dari dunia luar akan sangat memungkinkan berbagai investor tertarik untuk menanamkan modalnya di Magelang. Peluang digelarnya <em>event-event</em> budaya, seminar, lokakarya, kongres, konser dan berbagai aneka lomba tingkat nasional atau internasional akan semakin terbuka dengan akses transportasi yang menunjang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Nah segala peluang itu tinggal mau dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh semua pihak pemangku kepentingan yang terkait atau tidak? Pemerintah, pengusaha lokal, pelaku dunia wisata, pemerhati masyarakat, bahkan berbagai komunitas informal yang ada, apakah mau menangkap peluang tersebut? Memang keberadaan shuttle bus Damri ke bandara Adi Sucipto saat ini masih dalam tahap perintisan, karena penggunanya masih sangat sedikit. Bisa <em>sampeyan</em> bayangkan dalam satu perjalanan kadang bus tersebut hanya mengangkut satu – dua penumpang. Dari sisi keekonomisan bisnis, tentu tidak untung, bahkan buntung! Tetapi komitmen dari Damri yang kuat untuk tetap konsisten dengan pelayanan primanya patut diacungi jempol!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Bila Damri sebagai salah satu pihak yang terlibat yang secara tidak langsung terkait dengan kemajuan Magelang saja memiliki komitmen yang kuat, <em>lha monggo</em> pihak yang lain juga turut bergandengan tangan! Pemerintah Kota dan Kabupaten Magelang, dunia promosi, dunia bisnis, dunia wisata, dan publik secara lebih luas dapat berperan dalam mensosialisasikan keberadaan <em>shuttle bus</em> Damri Magelang – Adi Sucipto sebagai sebuah peluang untuk bersama-sama memajukan Magelang! Peluang ini bisa ditangkap sebagai peluang Magelang membelah angkasa raya Nusantara, bahkan mancanegara. Dengan peluang tersebut akan semakin terbentang peluang yang lebih luas bagi Magelang untuk lebih menasional dan mengglobal! Bukankah begitu? Saya rasa <em>sampeyan</em> semua sepakat dengan saya.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right"><span style="color: #0000ff;">Lor Kedhaton, 25 November 2011</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/bis-bandara-magelang-pp.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

