DARI TEPI MERAPI

merapiMerapi konon dikatakan sebagai gunung api teraktif di seluruh dunia. Berada di ketinggian 2911 m di atas permukaan air laut, menjadikan sebagian wilayah di kaki Merapi sebagai daerah berhawa sejuk. Bagi warga setempat Merapi adalah anugrah alam tiada terkira dari Kang Murbeng Dumadi.

Empat kabupaten yang melingkari Merapi terdiri atas Magelang, Boyolali, Klaten, dan Sleman. Untuk wilayah Kabupaten Magelang, tiga kecamatan bersinggungan langsung dengan puncak Merapi, Kecamatan Srumbung, Dukun, dan Sawangan. Ketiga wilayah tersebut memiliki tekstur tanah vulkanik sebagai hadiah guguran abu Merapi.

Ketiga wilayah inilah yang secara langsung menyumbangkan income PAD dari berbagai sumber daya Merapi. Sumber daya anugrah Merapi dapat dibedakan menjadi sumber daya air, bahan tambang galian, kesuburan tanah dan kesejukan iklim.

Merapi sebagai daerah peresapan air, semula didukung oleh keberadaan kelebatan hutan hujan tropis di keempat sisi lerengnya. Seiring dengan perkembangan jaman terjadilah penyeragaman jenis tanaman lindung, sehingga vegetasi didominasi tanaman pinus. Pengelolaan hutan Merapi berada di bawah wewenang KPH Kedu Utara. Beberapa sungai besar mengalir dengan mata air di bawah Merapi, sebut saja diantaranya seperti Kali Blongkeng, Lamat, Putih, Bebeng dan Krasak. Air merupakan sumber kehidupan. Selain digunakan untuk kebutuhan pokok seperti air minum, mandi, cuci dan kakus, air Merapi terutama dipakai untuk menopang pertanian.

Adalah tanaman padi sebagai makanan pokok penduduk, menjadi tanaman yang tumbuh subur menghijau pada setiap terap sawah terasiring. Berselang seling dengan penanaman padi, maka jenis sayuranpun menyegarkan pandangan mata hampir di setiap waktu. Ada kubis, sawi, kacang-kacangan, tomat, cabe, terong, bayam hingga kakngkung. Dan tentu saja masih banyak jenis sayuran yang lain.

Selain sayuran dan palawija, lereng Merapi juga sangat cocok untuk jenis tanaman buah-buahan dan holtikultura. Ada ketimun, semangka, labu, melon, pisang, hingga jenis buah rambutan, klengkeng, durian, nangka, kelapa, salak dan masih banyak yang lainnya. Intinya bahwa kesuburan Merapi mampu menampung jenis tanaman apapun, mulai dari kolo kependhem, kolo kesimpar, hingga kolo gemantung komplit tersedia. Kesuburan itu tak lain karena siraman abu gunung yang kemudian lapuk menjadi pupuk dan unsur hara tiada terkira bagi kebutuhan tanaman.

Sepanjang tahun, Merapi selalu mengeluarkan erupsi dari proses vulkanologi. Proses tersebut menghasilkan batuan dan pasir. Material jenis tambang golongan C ini menjadi salah satu sumber pendapatan bagi warga sekitar yang berprofesi sebagai penambang. Tiap hari ratusan truk mengangkut batu dan pasir Merapi ke berbagai daerah. Di masa lalu pasir Merapi hanya ditambang secara tradisional menggunakan linggis, pacul, dan slenggrong. Pasca proyek sabosasi, datanglah pemodal besar yang menambang dengan peralatan berat, seperti big hoe dan traktor. Hal ini menjadikan eksploitasi berlangsung membabi buta, hingga laju kerusakan lingkungan menjadi semakin parah.

Kerusakan akibat kegiatan penambangan batu dan pasir secara sembrono lebih diperparah lagi dengan perambahan dan penebangan hutan secara liar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya sudah pasti, sebagian mata air menjadi kering. Lebih lanjut, sungai menyusut debet airnya, yang kemudian berimbas kepada dunia pertanian. Dewasa ini petani hanya dapat menanam paling lama dua siklus padi, bahkan di beberapa wilayah hanya sekali dalam satu tahunnya. Kolam ikan yang dulu banyak dimiliki pendudukpun kini hanya tinggal di pinggiran sungai besar saja. Hal ini dikarenakan di musim kemarau kebanyakan sungai menjadi kering kerontang. Sebagaimana lingkungan hidup di tempat lain, alam Merapi kini memang merana.

Nilai kearifan lokal yang memperlakukan alam sebagai sahabat sejati dan sekaligus anugerah alam nan agung, semestinya dihidupkan kembali. Bagaimana nenek moyang di masa lalu sangat hemat dalam menebang pohon, menjaga pepohonan di daerah aliran sungai adalah warisan adi luhung yang telah dilupakan oleh banyak orang. Semua pihak, mulai dari pemerintah, warga masyarakat, dan berbagai komunitas lokal yang ada hendaknya bersatu padu dan bergandengan tangan demi kelestarian alam Merapi bagi kelangsungan hidup di masa depan.