<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pendekar Tidar &#187; Tokoh-Tokoh</title>
	<atom:link href="http://pendekartidar.org/category/tokoh-tokoh/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pendekartidar.org</link>
	<description>Komunitas Blogger Magelang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 May 2013 08:27:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Pendekar Tidar#17</title>
		<link>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar17.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar17.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 May 2013 04:21:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[ASEAN Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Tidar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=4233</guid>
		<description><![CDATA[REKYANA PATIH DOBLEH KENCONO, Sang Blogger Pewaris Trah Kethoprak Sebenarnya sosok yang satu ini sudah... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar17.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">REKYANA PATIH DOBLEH KENCONO, </span></h3>
<h1 style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Sang Blogger Pewaris Trah Kethoprak</span></h1>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-4234" alt="GusMul1" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul1.jpg" width="362" height="480" /></a>Sebenarnya sosok yang satu ini sudah sekian lama malang melintang di <i>jagad</i> perblogeran Bhumi Tidar. Di awal kiprahnya ia sudah menggawangi sebuah blog yang khusus didedikasikan untuk <i>gethuk</i> <i>magelangan</i>. Sedari awal ia memang mengesankan diri sebagai blogger yang misterius dan seolah tidak ingin nampak di dunia nyata. Sekian lama mengembara menjadi pengelana di <i>tatar</i> Sukabumi dan <i>tlatah</i> Ngayojakarta Hadiningrat menjadikannya kemudian percaya diri untuk mulai melakukan perjumpaan darat. Meskipun masih mengakui sebagai blogger 1.0, ia akhirnya muncul di <i>gethukan</i> sekitar November tahun silam.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Sore itu sekitar waktu lepas Ashar. Kami, tepatnya kalau tidak salah ada <a href="http://sangnanang.wordpress.com">saya</a>, <a href="http://afanasyevich.wordpress.com/">Nahdhi</a>, <a href="http://www.yudhakaryadi.com/">Yudha</a>, dan Mbak Dana sedang <i>lesehan gethukan</i> di serambi Masjid Agung Magelang. Cuaca memang kurang mendukung dengan guyuran rintik gerimis. Maka sebagaimana alternatif <i>papan reriungan</i> biasanya, kami merapat di serambi masjid yang senantiasa dijaga <i>Mbah Herman sang penabuh bedug</i>. Ketika pembicaraan belum berlangsung lama, nampak tergopoh-gopoh seorang pendekar gondrong dari sisi selatan serambi. Dengan senyum lebar ia mendekat dan kemudian sayapun langsung <i>ngeh</i> dengan sosoknya. Ia adalah salah seorang blogger yang eksis di Bhumi Tidar, bahkan hingga hari ini.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Obrolan <i>ngalor-ngidul</i>pun menghangatkan suasana <i>gethukan</i>. Meskipun Balatidar yang <i>kerso rawuh</i> sangat jauh dari harapan hadirin, namun tanpa mengurangi satu maknapun dari sebuah silaturahmi yang ingin senantiasa menjalin <i>paseduluran</i> yang tanpa batas. Sekitar menjelang jam 5 petang, kamipun sepakat untuk membubarkan <i>pawiwahan agung</i> tersebut. Masing-masing dari kami akhirnya meninggalkan Masjid Agung dengan suatu goresan kesan masing-masing.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Tatkala pada Minggu sore hari berikutnya, saya <i>sebatih</i> kebetulan berencana melakukan perjalanan suci ke barat dengan bus Santoso kebanggan warga Magelang. Tatkala baru memasuki pelataran garasi di Soekarno-Hatta, saya kembali menjumpai sosok gondrong sebagaimana yang sehari sebelumnya melakukan penampakan di <i>gethukan</i>. Ternyata ia juga tengah berencana melakukan perjalanan ke barat. Cerita-punya cerita, ia konon memenangkan kontes penulisan di blog dari salah satu BUMN yang bergerak di bidang <i>perteplokan</i> modern sebagai penerus setia RA Kartini yang memegang <i>sesanti</i> “habis gelap terbitlah terang” dan kerja bareng dengan detik.  Akhirnya pada kesempatan tersebut kami sempat saling tukar-menukar nomer kontak.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4237" alt="GusMul4" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul4.jpg" width="640" height="480" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Dari sanalah komunikasi diantara kami menjadi lebih intens dan akrab, baik melalui blog maupun <i>facebook</i>-an. Beberapa minggu berselang, atas <i>woro-woro Pangkopdar</i> Nahdhi, ia dan <a href="http://ivandesain.blogdetik.com/">seorang blogger</a> tetangganya bersemangat untuk <i>nggrudhuk</i> Ringin Tengah Alun-alun Kota Magelang. Tentu saja, dengan semangat 45 ia ingin kembali mempererat persaudaran. Nah, <i>ndilalah</i>nya ternyata Balatidar yang lain berhalangan hadir karena satu dan lain hal. Akhirnya jadilah <i>gethukan</i> menjadi ajang kopdaran dua blogger dari Kampung Seneng tersebut. Kecewa? Tentu saja mereka tidak bisa menyembunyikannya. <i>Grundelan</i>nya bahkan sempat menjadi warna di beberapa media sosial.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Akhirnya bersamaan dengan hajatan Pameran Magelang Tempoe Doeloe yang diadakan sebagai salah satu <i>event</i> peringatan HUT Kota Magelang ke-1107, digelarlah <i>Gethukan Tempo Doeloe</i> di Eks Karesidenan Kedu. Meskipun barisan Balatidar yang hadir juga sebatas muka-muka itu saja, namun setidaknya ada kesan yang lebih mendalam dari obrolan maupun <i>sharing</i> diskusi diantara Balatidar. Puncak gelak tawa bahkan sempat terjadi pada saat Balatidar bersama-sama menikmati sajian <i>Stand Up Comedi</i> yang nampaknya hanyalah rombongan kami yang menjadi penonton ajang lucu-lucuan tersebut.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Beberapa bulan bergeser, Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang mendapatkan kehormatan untuk turut menghadiri <a href="http://sangnanang.wordpress.com/2013/05/13/blogger-asean-berpadu-di-abfi-2013/"><i>ASEAN Blogger Festival Indonesia</i> (ABFI 2013)</a> di Surakarta, pada 9-10 Mei 2013. Kebetulan pula Balatidar hanya mendapat jatah perwakilan 3 blogger. Dengan pertimbangan secara seksama terhadap satu dan banyak hal, akhirnya duta yang berangkat ke Solo terdiri saya sendiri, Pak Gunawan Juliyanto, dan tokoh blogger kita ini.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><i>Sampeyan</i> bisa menebak siapakah <i>seleblogger</i> yang sedari tadi kita perbincangkan? Ya, dialah penghuni <i>padhepokan</i> <a href="http://agusmulyadi.com">agusmulyadi.com</a> maupun <a href="http://agusmulyadi.web.id">agusmulyadi.web.id</a>. Dari nama personal blognya tersebut, tentu tidak ada sensasi, misteri apalagi sebuah kejutan mengenai siapa tokoh di balik peristiwa ini. Dia memang bernama asli Agus Mulyadi. Tentu saja ia terlahir di bulan Agustus.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Keberangkatan ke ABFI memang ditempuh dengan cara dan jalur yang berbeda-beda diantara kami bertiga, perwakilan Balatidar. Agus Mulyadi alias GusMul, sedari awal sudah <i>kangsenan</i> dengan beberapa teman blogger di seputaran Jogja, ada Kang Jarwadi, Anno, Hendri, dan beberapa yang lain. Akhirnya baru pada Kamis sore kami sempat bertatap muka kembali, setelah sebelumnya hanya dua-tiga kali sempat berjumpa darat. Maka dimulaikan pengembaraan di Kota Bengawan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4243" alt="GusMul7" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul7.jpg" width="640" height="480" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Di Solo pulalah GusMul ini mulai <i>blak-blakan</i> berani membuka kedok dan kartu-kartu lucu-lucuannya. Bahkan tatkala di sesi <i>break out</i> rombongan blogger ABFI menuju ke situs leluhurnya di Sangiran, GusMul benar-benar nampak <i>sumringah</i> menghibur para blogger yang tengah kepanasan akibat matinya AC bus dengan sundulan <i>dagelan</i>nya. Terlebih lagi di barisan kursi belakang tersebut hadir pula Bang Komar sang blogger <i>lenong</i> Bekasi yang Betawi asli juga. Terungkaplah bahwa ternyata jiwa dan darah <i>ndagel</i>nya GusMul didapatkan secara turun-temurun dari Pak Trimo, sang ayah yang ternyata pula seorang seniman <i>dagelan kethoprak</i>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Siapa yang tidak kenal dengan Pak Trimo? Bahkan tatkala rombongan menaiki bus, saya sempat menemukan sebuah <i>headline</i> di sebuah surat kabar yang pada hari itu tengah memberitakan Pak Trimo. Termasuk <a href="http://komaribnumikam.wordpress.com">Bang Komar</a> yang orang Bekasi Betawipun mengaku tidak asing dengan nama Pak Trimo. Berarti kesimpulan saya, nama Pak Trimo itu benar-benar <i>kondang kaloka ing sakindenging nuswantara</i>!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Suasana panas di bus siang itu benar-benar menjadi cair dan <i>cool</i> oleh candaan putra Trimo Junior. Aneka ragam lelucon benar-benar meledakkan tawa para blogger melebih kedahsyatan daya ledak sebuah <i>mercon</i> <i>bumbung</i> sekalipun. Sebutlah untuk sekedar berbagi kelucuan, beberapa lontaran humornya bertemakan cinta yang sangat mewakili tema hidupnya, semisal “Cinta ditolak tuak kutenggak”, atau “Cinta ditolak Sarkem isih bukak”. Bahkan fatwa saktinya merumuskan bahwa sepak bola adalah permainan paling bodoh, bola hanya satu diperebutkan orang banyak! Lebih bodoh lagi permainan bola basket, sudah tahu ringnya berlubang, <i>eeee….</i> masih saja bolanya dimasukkan! <i>Hwwaaa…wkwkwk….wkwkwk</i>. Silakan jika <i>sampeyan</i> juga ingin tertawa. Tertawalah selagi tertawa itu belum dilarang!</span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul5.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4239" alt="GusMul5" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul5-225x300.jpg" width="225" height="300" /></a>  <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4240" alt="GusMul3" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul3-225x300.jpg" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Ada juga pertanyaan, kenapa kucing kok jalannya belok kiri terus? Dijawab sendiri oleh GusMul, ya karena kucingnya kekunci stangnya! <i>Makane ngiri terus!</i> Akhirnya ketika tiba di Sangiran, pelawak kita tersebut benar-benar tidak bisa menyembunyikan keharuan seumur hidup karena telah benar-benar bisa bersua dengan para nenek moyangnya yang selama ini memang sangat didamba dan dirindukannya. Terbukti dalam berbagai kesempatan ia sangat antusias meminta dirinya diabadikan dan dipersandingakn dengan para fosil-fosil purba itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Yang tak kalah seru dan menjadi kisah yang mengharu biru adalah perjalanan Agus ke Jakarta.  Sebagai pemenang kontes <i>lampu kencar-kencar</i>, ia berhak atas hadiah uang tunai 2 juta rupiah, <i>plus voucher nginap</i> dan segala <i>uba rampe</i>nya di hotel berbintang di bilangan Sudirman Jakarta. Maka dengan bus Santoso ia memenuhi panggilan ibukota. Sebelumnya ia sempat berkomunikasi dengan panitia lomba agar <i>voucher nginep</i> dan makan-makannya bisa diuangkan saja. Niat hati ia ingin menggunakan uang tersebut untuk masang listrik, mumpung bersamaan ada pemutihan pendaftaran. Bagaimanapun listrik adalah barang penting baginya. Selama ini ia harus bersusah payah <i>nyetrumke aki</i>, maupun <i>nyelah diesel</i> untuk bisa menghidupkan komputer dan tersambung <i>online</i> ke internet. Singkat cerita permohonan itupun dikabulkan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4245" alt="GusMul2" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul2-225x300.jpg" width="225" height="300" /></a>GusMul memang bukan Agus namanya jika tidak memiliki jiwa nekat yang kuat. Selepas tampil tampan di hotel berbintang, ia menelusuri jalanan ibukota. Belajar dari pengalamannya <i>ngglandhang</i> di Jogja, dengan modal 20 ribu ia bisa menumpang <i>online</i> sekaligus menginap gratisan di warnet. Namun di Jakarta Gus! Jangan kira gampang menemukan warnet. Walhasil GusMul memang gagal nginep di warnet. Ia masih punya alternatif rencana. Ia akan menginap di Masjid Istiqlal.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Tatkala perjalanan sampai di sisi selatan Monas, tepatnya di depan Kementerian BUMN ia berniat menyeberang jalanan. Beberapa saat, bahkan lama sekali ia berdiri di bawah lampu merah. Satu menit, dua menit, sepuluh menit, bahkan hingga dua puluh menitan lampu merah tidak kunjung berubah warna menjadi hijau. Seorang <i>pulisi</i> yang berjaga di pos seberang <i>prapatan</i> mendekatinya dan bertanya, “<i>Mau nyabrang Mas?”</i> Agus mengangguk. “<i>Nih tombolnya dipencet, biar ijo</i>” jelas sang <i>pulisi</i> agak sinis. <i>Jagad dewa batara!</i> Betapa Agus merasa dirinya sangat bodoh kala itu!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Tujuan Istiqlal tercapai. Namun <i>cilaka</i>nya, ternyata masjid raksasa itupun tidak ramah kepada musafir seperti dirinya. Semenjak menjelang malam, semua gerbang Istiqlal digembok rapat. Akhirnya GusMul <i>ngglandhang</i> tidur di pelataran Tugu Monas! Untung ia membawa sarung untuk sekedar menyelimuti tubuhnya dari dinginnya malam Jakarta. Untuk urusan yang satu ini, mungkin dialah satu-satunya blogger dari segenap penjuru dunia yang pernah tidur di pelataran Monas. Coba tanya semua blogger yang <i>sampeyan</i> temui, pasti mereka belum melakukan keajaiban itu! Blogger BHI saja takhluk oleh <i>semut</i> <i>geni</i>nya Monas je! Blogger satu ini benar-benar tangguh!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4242" alt="GusMul6" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2013/05/GusMul6.jpg" width="498" height="378" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">GusMul setelah menyelami dunia blogging memang berbeda dengan Agus-Agus yang lainnya. Pergaulan dan perjalanan pengembaraan menjadi kian bertambah luas dan melintas batas. Jika dulu daya jelajahnya hanya sebatas “<i>tanggapan kethoprak</i>” ketika diajak ayahnya <i>mentas</i>, kini ia sudah berani berfoto dengan cewek Hungaria saat Mangkunegaran Performing Arts, bahkan menjadi pemandu wisata blogger idolanya dari Filipina. Bahkan tatkala membaur di ABFI ia sempat meminta blogger Malaysia menjadi Cik Gu-nya. Hebat bukan? Nampaknya ia sudah mulai meningkat menjadi blogger 2.0.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Ingin lucu-lucuan dengan Agus bin Trimo? Jelas <i>sampeyan</i> akan kalah lucu. Terlebih sudah sejak lama ia memang <i>digadang-gadang</i> untuk mewarisi tahta <i>Rekyana Patih Dobleh Kencono</i>. Inilah gelar yang dicita-citakannya kelak di alam sukses. Benar-benar darah Pak Trimo terwarisi olehnya.</span></p>
<p align="right">Ngisor Blimbing, 22 Mei 2013</p>
<p><span style="color: #008080;">Artikel terkait:</span></p>
<ol>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar0.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#0</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar-1.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#1</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar-2.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#2</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar3.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#3</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar-4.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#4</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar-5.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#5</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar-6.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#6</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar7.ph"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#7</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar8.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#8</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar9.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#9</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar10.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#10</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekartidar11.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#11</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar12.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#12</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tudar13.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#13</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar14.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#14</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar15.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#15</span></a></li>
<li><a href="http://pendekartidar.org/sri-kandi-mayang-hadiyanti.php"><span style="color: #008080;">Pendekar Tidar#16</span></a></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar17.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>.id dan ABFI 2013</title>
		<link>http://pendekartidar.org/id-dan-abfi-2013.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/id-dan-abfi-2013.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 May 2013 03:45:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[ABFI2013]]></category>
		<category><![CDATA[ASEAN Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=4229</guid>
		<description><![CDATA[Judul di atas nampaknya sudah sangat biasa jika dibaca dot-ai-di. Sengaja saya ingin menuliskan sebuah... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/id-dan-abfi-2013.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><img class="alignright" alt="" src="http://sangnanang.files.wordpress.com/2013/05/didi-kempot.jpg?w=275&amp;h=418" width="275" height="420" />Judul di atas nampaknya sudah sangat biasa jika dibaca <i>dot-ai-di</i>. Sengaja saya ingin menuliskan sebuah catatan dari kegiatan <a href="http://www.aseanblogger.com/"><span style="color: #3366ff;">ASEAN Blogger Festival Indonesia</span></a> (ABFI 2013) kemarin di Solo mengenai .id ini. Tetapi mohon maaf jika yang saya tuliskan nanti berbeda dengan perkiraan <i>sampeyan</i>, para pembaca yang budiman. Kita, sebagai para <i>onliner</i>, mungkin mengenal .id adalah sebuah singkatan pengenal untuk alamat domain Indonesia. Namun .id yang ini jelas berbeda dengan .id yang itu. Namun demikian .id yang saya maksudkan masih sangat terkait dengan <a href="http://www.aseanblogger.com/"><span style="color: #3366ff;">ABFI 2013</span></a>, Solo, dan tentu saja dengan tema <i>Reinventing the Spirite of Cultural Heritage in Southeast Asia</i>. Paling tidak menurut sudat pandang saya.  Penasaran?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Dari tema <a href="http://www.aseanblogger.com/"><span style="color: #3366ff;">ABFI 2013</span></a> yang ingin menggali dan menemukan kembali akar budaya bangsa Asia Tenggara, pemilihan kota Solo sebagai ajang kumpul para blogger se-ASEAN tersebut tentu saja dikaitkan dengan keberadaan Solo sebagai salah satu ibukota kebudayaan Jawa, di samping Jogjakarta. Solo, <i>the Spirit of Java.<img title="Selebihnya..." alt="" src="http://sangnanang.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" /></i></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Salah satu seni tradisi yang kini masih mengakar sangat kuat di kalangan masyarakat Solo, maupun Jawa pada umumnya adalah seni <i>campursari</i>. <i>Campursari</i> merupakan perpaduan antara <i>gendhing jawa</i> dengan musik keroncong. Jika Jogja memiliki <i>Pakdhe</i> Manthous dengan CSGK dari Gunung Kidul, salah satu maestro dari Solo yang tidak bisa ditinggalkan dalam perkembangan percampursarian adalah Didi Kempot.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Didi Kempot mewarisi darah seninya langsung dari sang Bapak, seorang pelawak sekaligus pemain <i>kethoprak</i> dan dikenal sebagai Ranto Edi Gudel. Diantara keturunan <em>mBah</em> Ranto yang terjun malang melintang di seni lawak adalah Mamik Prakosa yang turut bergabung di kelompok Sri Mulat. Dua kakak beradik ini meskipun hasil didikan dari seorang yaah yang sama, namun perkembangan mereka ternyata menemukan jalan seninya masing-masing. Mamik jelas telah tenar sebagai pelawak, sedangkan Didi menjadi penyanyi <i>campursari</i> maupun keroncong.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><a href="http://sangnanang.files.wordpress.com/2013/05/bersama-mas-didi.jpg"><span style="color: #3366ff;"><img alt="Bersama Mas Didi" src="http://sangnanang.files.wordpress.com/2013/05/bersama-mas-didi.jpg?w=225" width="275" height="366" /></span></a>Didi Kempot sebenarnya relatif masih berusia setengah baya. Kata “<i>kempot</i>” yang melekat sebagai nama tenarnya bukan berarti <i>peot</i>, atau lebih spesifik <i>pipi peot</i>. Kata <i>kempot</i> yang disandangnya tersebut merupakan akronim dari kelompok musik pengamen yang telah membesarkannya. <i>Kempot</i> oleh Didi Kempot diartikan sebagai Kelompok Musik Trotoar. Hal ini tidak terlepas dari perjalanan awal karir Didi Kempot yang menjadi penyanyi jalanan atau pengamen di pinggir trotoar.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Tidak puas dengan karir pengamen di Solo, Didi nekad merantau ke kota Metropolitan Jakarta. Dengan modal gitar dan ukelele, ia dan beberapa sahabatnya sering mengamen di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Kenangan masa lalu di jalanan Slipi masih sering dikenang oleh Didi apabila kebetulan sedang berada di Jakarta. Maka jangan heran jika ia lebih sering menginap di Hotel Ibis Slipi ketika berada di ibukota.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Nama Didi Kempot mulai <i>nggendera</i> alias berkibar pada dekade tahun 2000-an tatkala meluncur beberapa nomor hits, seperti <i>Stasiun Balapan</i> dan <i>Sewu Kutho</i>. Selepas itu, secara gencar terlahirlah puluhan bahkan mungkin ribuan lagu <i>campursari</i> yang menjadi <i>kelangenan</i> masyarakat, mulai para petani di <i>karang</i> pedesaan, para pelajar di sekolah-sekolah, para mahasiswa di kampus-kampus, para bakul dan pedagang di pasar-pasar dan kaki lima, para birokrat di kantor-kantor, hingga para pejabat. Diantara judul lagu yang saya lamat-lamat hapal syairnya, diantaranya <i>Layang Kangen, Ketaman Asmara, Tanjung Mas Ninggal Janji, Kusumaning Ati, Bapak, Penyiar Radio, Kembang Lambe, Kothekan Lesung, Malioboro, Teles Kebes, Nunut Ngiyup, Kopi Lampung, Terkintil-kintil, Klengkeng Mbandungan, Den Bei, Lingso Tresno, ataupun Parangtritis</i>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Tidak saja lagu-lagu bertemakan cinta maupun kemanusiaan, Didi Kempot juga pernah meluncurkan album bertemakan religi dengan sampul album berjudul Sholawat Didi Kempot. Diantara nomor hits dalam album tersebut adalah <i>Tulisan Tangan, Assalamu’alaikum, Sholat Jum’at,</i> <i>Lir-ilir, Eling-eling Menungso,</i> maupun <i>Islam KTP.</i></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Tidak hanya tersebar melalui kaset maupun <i>compact disk</i>, lagu-lagu Didi Kempot lebih membahana di udara lewat pemutarannya di berbagai stasiun radio. Salah satu radio yang memiliki program pemutaran lagu-lagu <i>campursari</i>-nya Didi Kempot adalah Radio Pop FM Jogja. Radio yang berbasis <i>full</i> musik dangdut tersebut memiliki program acara .id alias Didi Kempot Idolaku. Acara inilah yang sempat menjadi acara <i>kelangenan</i> dan kegemaran saya di kala masih menetap di Tepi Merapi. Kini, saya lebih sering menikmati lagu-lagu sentimentil Mas Didi Kempot melalui <i>MP3 player</i>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Lalu apa hubungan antara Didi Kempot dengan <a href="http://www.aseanblogger.com/"><span style="color: #3366ff;">ABFI 2013</span></a>? Percaya atau tidak, meskipun hanya <i>sakedheping</i> <i>mata</i> alias dalam rentang waktu yang teramat singkat, Didi Kempot sempat nongol diantara beberapa sahabat blogger.  Jelas bukan sebuah kesengajaan, apalagi diagendakan, Didi Kempot kebetulan berada di Hotel Sahid Jaya dimana sebagian peserta <a href="http://www.aseanblogger.com/"><span style="color: #3366ff;">ABFI 2013</span></a> menginap.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Pada malam pertama, selepas acara Gala Dinner di Laji Gandrung sebagai ungkapan selamat datang dari Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo beserta jajarannya, sekembalinya di hotel saya dan beberapa sahabat blogger sengaja duduk <i>leyeh-leyeh</i> sejenak di <i>loby</i> hotel. Tanpa sengaja, di tengah keasyikan obrolan kami, tiba-tiba muncul sesosok lelaki setengah tambun dengan rambut dikuncir di bagian belakang. Dengan spontan saya berteriak, Mas Didi’. Kontan beberapa teman turut menengok. Akhirnya atas seizin Mas Didi Kempot, kami antri berfoto ria satu per satu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Saya rasa seirama dengan tema <i>Reinventing the Spirite of Cultural Heritage in Southeast Asia</i>, sosok Didi Kempot bisa menjadi ikon simbol penemuan kawula muda Indonesia untuk kembali menggeluti seni tradisi dan secara lebih luas turut melestarikan warisan budaya dari nenek moyang yang adi luhung. <a href="http://www.aseanblogger.com/"><span style="color: #3366ff;">ABFI 2013</span></a> yang didukung penuh oleh Kementerian Luar Negeri, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kemneterian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Pemerintah Kota Solo dengan dukungan <a href="http://www.telkom.co.id"><span style="color: #3366ff;">Telkomsel Indonesia</span></a> sebagai salah satu <i>media partner</i> dapat menjadi tonggak untuk menemukan kembali jati diri bangsa agar bisa merdeka secara politik dan mandiri secara ekonomi guna mewujudkan kesejahteraan rakyat secara adil dan makmur. Negara yang <i>tata titi tentrem kerta raharja</i> sebagaimana idaman semua anak bangsa.</span></p>
<p align="right">Ngisor Blimbing, 14 Mei 2013</p>
<p style="text-align: left;" align="right">Foto Didi Kempot pertama diambil dari <a href="http://celeb.kapanlagi.com/d/didi_kempot/didi_kempot_004.html">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/id-dan-abfi-2013.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yu Gindul Bangkit dari Kubur</title>
		<link>http://pendekartidar.org/yu-gindul-bangkit-dari-kubur.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/yu-gindul-bangkit-dari-kubur.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Mar 2013 01:37:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[alam kubur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=4111</guid>
		<description><![CDATA[Rumah limas berdinding papan dan gedheg itu memang terpisah dari kumpulan rumah-rumah yang lainnya di... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/yu-gindul-bangkit-dari-kubur.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><a href="http://sangnanang.files.wordpress.com/2013/03/yugindul.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-647" alt="YuGindul" src="http://sangnanang.files.wordpress.com/2013/03/yugindul.jpg" width="400" height="544" /></a>Rumah <i>limas</i> berdinding papan dan <i>gedheg</i> itu memang terpisah dari kumpulan rumah-rumah yang lainnya di <i>dusun</i> kami. Di rumah yang sederhana itu tinggal sebuah keluarga kecil, ada <i>Mbah</i> Joyo, <i>Mbok</i> War, dan Yu Gindul. Di rumah itupun ada si Kecil Rudiman, anaknya Kang Bejo, anak sulung <i>Mbok</i> War yang merantau di Jambi. Rumah milik <i>Mbah</i> Joyo itu justru nampak anggun dan asri karena terletak di lereng persawahan <i>mburi desa</i>. Itu dulu, kira-kira lebih dari 10 tahun yang lalu. Tatkala <i>Mbok</i> War meninggal, tak berselang lama kemudian <i>Mbah</i> Joyopun menyusul ke alam baka. Semenjak itu Yu Gindul mengikuti Yu Badri, sedangkan Rudiman yang sudah yatim piatu dipelihara salah satu kerabat. Dua-duanya pindah ke dusun lain. Rumah <i>mburi desa</i> itupun dibongkar dan meninggalkan sebuah <i>kebon suwung</i>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Setelah beberapa tahun <i>ngumpul</i> Yu Badri di desa sebelah, semenjak beberapa tahun yang lalu Yu Gindul kembali ke <i>dusun</i> kami dan menjadi satu keluarga dengan Kang Haryo, saudara tirinya dari lain <i>simbok</i>. Keseharian Yu Gindul diisi dengan sekedar bantu-bantu di rumah ataupun kadang-kadang juga turut ke sawah <i>ngarep desa</i>. Di samping usia sudah melampaui paruh baya, Yu Gindul memang semenjak dari kecil memiliki “keterbatasan” kemampuan pikir. Hal ini memang karena perkembangan jiwa Yu Gindul yang tidak optimal, ditambah dirinya memang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Memang Yu Gindul seorang buta huruf hingga saat ini.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Biarpun daya pikirnya sangat sederhana, Yu Gindul adalah sosok perempuan yang sangat pemberani. Tatkala semua warga <i>dusun</i> mengungsi pada saat erupsi Merapi lebih dari dua tahun yang lalu, Yu Gindullah satu-satunya perempuan yang tidak mau turun untuk mengungsi. Hidup ataupun mati ditekadinya untuk tetap berada di dalam <i>dusun</i> dan tidak mau meninggalkan makam kedua orang tuanya. Mungkin bagi Yu Gindul, maut bukanlah sesuatu yang menakutkan untuk dihadapi secara wajar dan biasa saja. Atau mungkin karena memang dulu Yu Gindul pernah mencicipi alam kubur, sehingga ia tak gentar oleh ancaman <i>wedhus gembel</i> Merapi?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Ha? Pernah mencicipi alam kubur? Menurut beberapa penuturan para <i>sesepuh</i> di <i>dusun</i> kami, dulu sekali di masa kecilnya, Yu Gindul memang pernah mengalami mati suri. Konon bocah Gindul sakit panas dan demam yang sangat mengkhawatirkan. Karena suhu badan yang sangat tinggi membuat Gindul kehilangan kesadaran dan seolah <i>ngomyang ngalor-ngidul</i>, sehingga membuat para orang tua di masa itu menyangka ia tengah kesurupan roh halus. Letak rumah <i>Mbah</i> Joyo yang hanya beberapa jengkal dari pemakaman <i>dusun</i> memang memperkuat dugaan para <i>sepuh</i> tersebut.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Di masa lalu, yang namanya orang sakit seringkali hanya dipercayakan kepada <i>orang pintar</i>. Orang sakit dianggap mengalami gangguan oleh makhluk halus. Oleh karena itu, si sakit seringkali hanya diberikan “obat air putih” yang telah <i>dijapa mantra</i> oleh <i>Mbah</i> Dukun. Mungkin hal ini sangat berhubungan dengan sarana prasarana kesehatan yang jauh dari jangkauan masyarakat <i>dusun</i>, plus tingkat pemahaman warga yang masih sangat terbatas karena tingkat pendidikan yang tidak memadai.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Singkat cerita, dari hari ke hari keadaan Gindul justru semakin memburuk. Panas tidak turun, bahkan ia mengigau tidak jelas setiap saat. Akhirnya pada suatu malam pecahlah tangis di rumah <i>Mbah</i> Joyo. Gindul diam kaku tanpa desahan nafas lagi. Ia dianggap sudah dipanggil oleh Sang Pemilik Hidup. Tidak hanya keluarga <i>Mbah</i> Joyo, segenap warga <i>dusun</i>pun tenggelam dalam kedukaan sebagaimana mereka merasakan kehilangan keluarga sendiri. Semua warga di suatu <i>dusun</i> memang sudah terikat kuat sebagai sebuah keluarga besar yang tidak lagi sekedar terikat oleh hubungan darah. Itulah gambaran kebersamaan dan kerukunan hidup di sebuah <i>dusun</i>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://sangnanang.files.wordpress.com/2013/03/makamkronggahan5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-649" alt="MakamKronggahan5" src="http://sangnanang.files.wordpress.com/2013/03/makamkronggahan5.jpg" width="640" height="480" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Akhirnya segala <i>uba rampe</i> kebutuhan pemakamanpun dipersiapkan oleh seluruh warga kampung. Pemakaman Yu Gindul diselenggarakan sebagaimana umumnya pemakaman terhadap orang yang sudah meninggal. Tidak ada yang beda dan tidak ada yang istimewa.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Namun malam berikutnya setelah pelaksanaan pemakaman, di tengah gelap gulita bulan tua, justru dari arah makam terdengar rintihan suara yang samar-samar penuh ketidakjelasan. Kesunyian malam memang telah menelan suara jangkrik maupun kicauan burung hantu. Tatkala angin tak bergerak, dan puncak kesunyian malam bergeser setelah <i>tabuh rolas</i>, <i>Mbah</i> Joyo yang memang rumahnya tidak jauh dari makam <i>dusun</i> itu justru tergagap dari mimpi dan mendengar suara rintihan dari arah makam. Secara spontan ia bangkit dari tempat tidur dan meraih senter “cap macannya”.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Dengan tanpa keraguan, <i>Mbah</i> Joyo melangkah menuju pemakaman. Dengan bergegas <i>Mbah</i> Joyo seolah tidak ingin kehilangan kesempatan untuk segera tahu apa yang telah didengarnya. Semakin mendekati area pemakaman, justru suara itu semakin terdengar keras meskipun tidak jelas. Setelah mencoba mencari sumber suara yang terdengar itu, ia semakin terkejut karena suara itu terdengar dari arah gundukan tanah yang masih merah basah. Ya, itulah pemakaman Gindul anaknya. <i>Hiiiiiyuuuung….hiiiiiyuuuung….hiiiiyuuung</i>, kurang lebih <i>Mbah</i> Joyo menyimpulkan suara itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Dengan berlari cepat, <i>Mbah</i> Joyo turun ke tengah <i>dusun</i> dan memanggil beberapa warga <i>dusun</i> yang lain. Mereka kemudian kembali ke makam untuk memastikan apa yang telah didengar dan dilihat <i>Mbah</i> Joyo. Merekapun membenarkan bahwa suara itu memang berasal dari makam Gindul yang kemarin baru dikebumikan. <i>Hiiiiiyuuuung….hiiiiiyuuuung….hiiiiyuuung. </i>Akhirnya diambillah keputusan bulat untuk membongkar makam dan memastikan apa yang telah terjadi.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Semakin tanah makam dibongkar, ternyata suara itu kian nyata. Saat <i>dak</i> yang terbuat dari tatanan bambu itu terbuka, maka benarlah bahwa si pocung yang telah dilepas tali kucirnya itu bersuara. <i>Hiiiiiyyyuuuungggg……</i>itulah kenyataan hidup yang sungguh langka terjadi di dunia. Yu Gindul hidup kembali. Wargapun berkesimpulan Gindul memang belum meninggal. Ia hanya mati suri. Berita bangkitnya mayat Yu Gindul dari alam kubur, tentu saja segera <i>gethok tular</i> menyebar menjadi berita yang sangat menghebohkan kala itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">Dalam perkembangan dan pertumbuhan fisik-psikis Yu Gindul setelah peristiwa “kebangkitanya” memang terlihat berbeda dengan kebanyakan gadis <i>sepantaran</i>nya. Secara mental spiritual, nampak memang kejiwaan Yu Gindul juga berbeda. Itulah Yu Gindul yang setiap saya pulang menengok kampung halaman senantiasa <i>dolan</i> ke rumah kami. Bagi saya, ia adalah “kekasih sejati” Allah dengan segala kesederhanaannya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/yu-gindul-bangkit-dari-kubur.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makam Kyai Raden Santri Gunung Pring</title>
		<link>http://pendekartidar.org/makam-kyai-raden-santri-gunung-pring.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/makam-kyai-raden-santri-gunung-pring.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2012 14:44:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[budaya dan tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah magelang]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi magelang]]></category>
		<category><![CDATA[wisata magelang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3846</guid>
		<description><![CDATA[Selepas runtuhnya kedhaton Majapahit yang ditandai dengan sengakalan Sirna Ilang Kertaning Bhumi, maka putra-putri Brawijaya... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/makam-kyai-raden-santri-gunung-pring.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Selepas runtuhnya <em>kedhaton</em> Majapahit yang ditandai dengan <em>sengakalan</em> Sirna Ilang Kertaning Bhumi, maka putra-putri Brawijaya V juga menyebar ke berbagai daerah. Satu diantara pangeran tersebut bernama  Raden Bondan Kejawen. Dialah ayah dari Ki Ageng Getas Pendowo yang menurunkan Ki Ageng Selo. Nama terakhir ini terkenal sebagai tokoh legenda yang konon dapat menakhlukkan, bahkan menangkap petir dalam sebuah pertempuran yang sangat dahsyat hingga meninggalkan api abadi di daerah Mrapen. Dirinyalah pula yang menciptakan tombak Kyai Plered, sebuah pusaka yang kemudian secara turun-temurun menjadi <em>piandel</em> bagi dinasti Mentawisan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/11/GP3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3924" title="GP3" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/11/GP3.jpg" alt="" width="600" height="421" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Tombak sakti inilah yang kelak diturunkan kepada Ki Ageng Enis dan sampai kepada Ki Ageng Pemanahan dan Danang Sutawijaya. Di masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Pajang, terjadilah upaya <em>kraman</em>, perebutan hak waris atas tahta Demak, yang dilakukan oleh Arya Jipang atau dikenal pula sebagai Arya Penangsang.  Dalam suatu peperangan yang sangat sengit akhirnya tombak Kyai Plered berhasil disarangkan ke perut Arya Jipang hingga <em>mbrodhol</em>, terurai ususnya. Dan pemberontakan pun berhasil dipadamkan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Atas jasa-jasa yang dilakukan Panglima Wiratamtama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi dalam mengatur strategi menghadapi Arya Jipang, maka Sultan Hadiwijaya berkenan memberikan Alas Mentaok sebagai tanah perdikan kepada Ki Ageng Pemanahan, sedangkan Ki Penjawi mendapat hadiah yang sama di wilayah Pati. Alas Mentaok lambat laun berkembang menjadi daerah pertanian yang subur makmur, dan kemudian menjadi cikal bakal kerajaan Mataram Islam.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/11/GP5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3926" title="GP5" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/11/GP5.jpg" alt="" width="600" height="733" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Tatkala Pajang surut, maka fajar kekuasaan menyingsing di bhumi Mataram. Danang Sutawijaya yang dikenal pula sebagai Ngabehi Loring Pasar atau Panembahan Senopati naik tahta menjadi raja pertama Mataram. Tatkala Mataram berkembang, salah seorang adik Panembahan Senopati yang bernama Pangeran Singosari,justru meminggirkan diri dari pusat kekuasaan. Semenjak awal ia memang lebih menekuni ilmu agama sebagaimana diajarkan Wali Songo ataupun para ulama setelahnya. Ia kemudian pergi mengembara dalam rangka ingin menyebarkan agama di pedalaman daerah Kedu.</span></p>
<p><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/11/GP2.jpg"><img class="size-medium wp-image-3928 alignleft" title="GP2" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/11/GP2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Di sebuah tanah perbukitan sisi barat gunung Merapi adik Senopati tersebut menetap. Bukit yang tidak seberapa tinggi tersebut memiliki gerumbul rumpun bambu yang sangat lebat. Dari kejauhan nampaklah sebuah gunung yang diselubungi rumpun bambu. Itulah sebabnya daerah tempat tinggal Pangeran Singosari ini kemudian lebih dikenal dengan nama Gunung Pring. Karena Pangeran Singosari ingin benar-benar nyawiji, membaur dengan rakyat, maka ia justru sengaja menutupi identitas kepangeranannya. Karena ia dikenal alim dan pernah nyantri di pesantren, maka masyarakat sekitar menjulukinya dengan sebutan Raden Santri.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/11/GP4.jpg"><img class="alignright  wp-image-3925" title="GP4" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/11/GP4-837x1024.jpg" alt="" width="251" height="305" /></a>Kyai Raden Santri tergolong ulama awal yang menyebarkan agama di wilayah <em>sekawan keblat gangsal pancer</em>-nya gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan deretan pegunungan Menoreh di sepanjang Kali Progo. Keturunan Kyai Raden Santri berturutan adalah Kyai Krapyak I, Kyai Krapyak II, Kyai Krapyak III, Kyai Harun, Kyai Abdullah Sajad, Kyai Gus Jogorekso, Raden Moch Anwar AS, Raden Qowaid Abdul Sajak, hingga Kyai Dalhar, dan termasuk Kyai Ahmad Abdulhaq. Anak keturunan Kyai Raden Santri inilah yang kemudian menjadi ulama penyebar dan menjadi tokoh agama Islam di wilayah Gunung Pring hingga saat ini. peran ini kini dilanjutkan melalui Pondok Pesantren Darussalam di Watucongol.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Makam Kyai Raden Santri dan anak cucunya kebanyakan berada di kawasan atas Gunung Pring dan kini menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi ummat Islam dari berbagai penjuru tanah air.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Kompleks makam Kyai Raden Santri terletak di sisi barat kota Muntilan, tepat di atas sebuh bukit yang sangat asri. Makam Gunung Pring secara administrasi berada di Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Namun demikian, secara asal-usul sejarah kepemilikian, makam kompleks makam ini merupakan milik Keraton Ngayojakarta Hadiningrat di bawah Reh Kawedanan Hageng Sriwandowo bagian Puroloyo.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/11/GP1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3927" title="GP1" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/11/GP1-237x300.jpg" alt="" width="237" height="300" /></a>Memasuki kaki bukit sebagai akses masuk ke kompleks makam, pengunjung akan disambut terminal parkir dengan deretan ruko yang menjajakan berbagai peralatan ibadah maupun souvenir hasil kerajinan masyarakat setempat. Untuk naik ke atas bukit ada dua pilihan akses jalan berundak yang dapat dilalui, satu berada di sebelah Masjid Kyai Raden Santri melewati sisi timur, dan satu lagi melewati Mushola Raden Santri lewat sisi utara bukit. Gunung Pring merupakan sebuah bukit pendek yang dapat didaki dalam waktu tidak lebih dari 20 menit.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Menapaki anak tangga yang sedikit menanjak memang membutuhkan ekstra tenaga dan tarikan nafas. Namun sambil berjalan ke atas, kita akan disuguhi pemandangan sekitar yang sangat eksotis. Ada dataran kota Muntilan di sisi timur, gunung Merapi-Merbabu jauh di sebelah timur dan timur laut. Sementara di sebelah selatan terhampar daerah pertanian yang ijo royo-royo hingga batas pegunungan Menoreh.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Ngisor Blimbing, 7 Agustus 2012</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/makam-kyai-raden-santri-gunung-pring.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Tidar#15</title>
		<link>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar15.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar15.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2012 07:11:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[bala tidar]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[persahabatan]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3844</guid>
		<description><![CDATA[YUDHO ADHI WIJOYO MONDROGUNO Memang ada dua nama mirip di barisan Bala Tidar. Antara Yudho... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar15.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">YUDHO ADHI WIJOYO MONDROGUNO<br />
</span></h2>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Memang ada dua nama mirip di barisan Bala Tidar. Antara Yudho dan Yudha terkadang memang terlalu mirip dan sulit untuk dibedakan, tentu saja dari segi pengucapan nama. Kembar jelas bukan karena memang tidak ada kemiripan sama sekali dari kedua raut muka nom-noman kita ini, namun bagaimana orang tua mereka dulu sempat kengsenan untuk mengusung nama yang hampir mirip itu juga masih tetap menjadi sebuah misteri perjalanan hidup.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/09/Yudho1.jpg"><img class="alignright  wp-image-3848" title="Yudho1" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/09/Yudho1.jpg" alt="" width="415" height="557" /></a>Yudho Adhi memang terlihat pendiam, bahkan lebih tepat dikatakan pemalu atau bahkan lebih sering malu-malu mau dan memalukan. Akan tetapi diam-diam, Yudho kita ini termasuk barisan Bala Tidar yang pertama-tama turut bergabung babat alas di bawah Ringin Tengah Alun-alun Magelang kala itu. Bersamaan dengan genderang bertalu dari beberapa grup Ndayakan yang siang terik itu menggegap-gempitakan alun-alun, Yudho turut bersila tenang di sudut ringin sisi lor-wetan. Meskipun lebih banyak mendengar daripakan medhar sabdo, namun jelas tatapan matanya menyorotkan semangat dan keseriusan yang menyala-nyala. Sebagai seorang blogger, Yudho Adhi memang beberapa waktu sebelum pisowanan itu sudah jumenengengan di malam-laut.blogspot.com.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Yudho Adhi konon mewarisi darah arek Suroboyo. Meskipun di balik sosok diamnya sudah sangat tidak kentara warna kebonekannya, namun Yudho masih sregep nyekar ke tanah para leluhurnya di Brang Wetan itu. Kediaman dan ketenangannya yang menghanyutkan pada sosok Yudho Adhi ini bisa jadi karena sudah sekian lama ia menjalani pertamaan dengan kungkum di padhepokan per-arsitektur-an, tepat di selatan kaki gunung Merapi. Kabar baiknya menurut swara angin yang berhembus, bahkan ia sudah winisudha mentas dari jagad percantrikannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Yudho Adhi memang sosok bermuka innocent, alias tanpa dosa. Justru air muka yang demikianlah menjadikan dirinya sempat disandera dadakan untuk menjadi wakil pemenang Lomba Menulis Antar Siswa Pelajar yang digelar Komunitas Pendekar Tidar pertama kali kala itu. Dikarenakan pemenang perempuan dari SMA Van Lith Muntilan kala itu tidak hadir saat pembacaan pemenang lomba sekaligus penganugerahan hadiah, maka Yudho Adhi tiba-tiba saja ketiban sampur untuk disorong ke depan panggung. Walhasil, nampak pringas-pringis tersipu-sipu sang Yudho Adhi berjajar dengan para pemenang yang lainnya. Suasana memang sudah kasak-kusuk tidak terkendali lagi. Peserta sudah sorak hore dan bertepuk tangan bagai bata rubuh. Namun siapa menyangku terjadi sengketa dan dilema kilat di balik panggung yang menghasilkan Yudho Adhi menerima tropi juara.</span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/09/Yudho4.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3850" title="Yudho4" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/09/Yudho4-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" /></a>  <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/09/Yudho2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3851" title="Yudho2" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/09/Yudho2-243x300.jpg" alt="" width="243" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Yudho Adhi memang tidak di kawasan pabrik kertas terbesar di Magelang ini. Sebagai warga kampung yang menyandang nama besar kuliner kupat tahu, maka sedari awal mengenalnya saya “menadzarkan” kepadanya untuk membuat postingan khusus soal serba-serbi keistimewaan kupat tahu yang sangat spesial itu. Luaaaaama sekali, menu postingan kupat tahu itu tidak pernah terhidang di meja Gethukannya Bala Tidar semua. Saya bahkan hingga kini sudah sangat lupa, apakah Yudho Adhi pernah memposting pesanan saya itu ataukah belum. Untuk soal yang satu ini, saya yakin Bala Tidar semua lebih titis dan tahu persis kenyataannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Sosok yang kelihatan pendiam bukan berarti menjadikan sosok Yudho Adhi kendhat ing tandang gawe. Pada setiap perhelatan yang digelar Bala Tidar, nama Yudho Adhi senantiasa berada di garda depan barisan pasukan yang sangat militan. Tubuh tambun dan kuat perkasa menjadikan ia seringkali mengemban amanah untuk menjadi duta Bala Tidar dalam menembus publikasi hingga ke pelosok desan dan dusun di pedalaman Magelang. Perihal lika-liku jalur sasaran sekolah-sekolah yang dirangkul untuk berpartisipasi dalam kegiatan Bala Tidar, Yudho jangan pernah dipertanyakan lagi.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/09/Yudho5.jpg"><img class="alignright  wp-image-3849" title="Yudho5" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/09/Yudho5-594x1024.jpg" alt="" width="275" height="474" /></a>Tatkala perjalanan komunitas mengalami pasang-surut kejayaan jaman, nama Yudho Adhi tetap setia mengawal eksistensi Bala Tidar. Tan kengguh ing tanggung jawab, ia berkomitmen tinggi untuk selalu menyumbangkan tenaga dan pikirannya atas nama semangat berbagi kepada sesama hidup. Bahkan termasuk ketika hanya segelintir Bala Tidar yang tersisa mnejadi mitra dan kawan sedulur-sedulur panti Ar-Rahman, nama Yudho Adhi termasuk deretan mentor yang setia menemani Bala Tidar lainnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Entah kenapa di keheningan malam tatkala deretan tulisan ini saya goreskan dan teringat sekian lama sudah terlupakan untuk membuat catatan-catatan satu per satu sosok Bala Tidar yang penuh spirit luar biasa, sosok Yudho Adhi membayang untuk dilukiskan lewat deretan huruf dan kata. Jarak memang telah membentangkan satu per satu Bala Tidar berserakan menjalani setiap jalur nasibnya masing-masing. Akan tetapi semua diantara kita seakan sudah terikat menjadi satu darah persaudaraan, hingga rasa kangen mengenangkan segala jejak perjalanan yang pernah sama-sama kita goreskan itu seakan selalu hadir di alam pikiran.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar15.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kharisma Mbah Kiai Mangli</title>
		<link>http://pendekartidar.org/kharisma-mbah-kiai-mangli.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/kharisma-mbah-kiai-mangli.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Aug 2012 01:16:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3738</guid>
		<description><![CDATA[Di masa bocah dahulu kala, biyung tuwo alias nenek sering berkisah tentang ulama kenamaan yang... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/kharisma-mbah-kiai-mangli.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><img class="alignright" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/08/1343783229825014583.jpg" alt="" width="402" height="537" />Di masa bocah dahulu kala, <em>biyung tuwo</em> alias nenek sering berkisah tentang ulama kenamaan yang <em>kondang kaloka</em> tidak saja di wilayah Magelang, tetapi <em>ing sak indenging Nuswantara</em>. Konon katanya Mbah Mangli, demikian <em>biyung</em> dan <em>para sesepuh</em> menyebutnya, merupakan sosok alim ulama yang sakti mandraguna. Tidak saja alim di dalam ilmu agama, Mbah Mangli juga memiliki <em>kasekten</em> ilmu melipat bumi. Dengan <em>kasekten</em> ini, Beliau dapat mencapai suatu tempat hanya dalam waktu <em>sakedeping mripat</em>, alias dalam hitungan detik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Di masa silam kemajuan teknologi masih sangat terbatas. Dakwah dalam bentuk pengajian masih dilakukan secara tatap muka langsung dari <em>langgar</em> ke <em>langgar</em>, atau dari satu masjid ke masjid yang lain dalam acara pengajian. Masyarakat Jawa seringkali mengagendakan pengajian dalam siklus waktu tertentu, semisal setiap tiga puluh lima hari sekali yang dikenal dengan istilah <em>selapanan</em>. <span lang="SV">Ada juga pengajian yang diadakan setiap <em>sepasar</em> atau sepekan sekali. Ada juga yang rutin digelar setiap mingguan. Pengajian biasanya dikemas untuk kalangan umum, maupun untuk kalangan khusus. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;" lang="SV">Dalam pengajian umum atau akbar, tema kajian seputar ibadah mahdzah, mulai bertaharah, shahadat, tata cara sholat, puasa, zakat, infaq dan sedekah, hingga tata cara penyelenggaraan jenazah dan hukum waris. Karena yang menghadiri pengajian biasanya kalangan awam, maka tema ibadah mahdzah dan muammalah merupakan porsi terbesar yang disampaikan para Mbah Kiai. Adapun pengajian yang bersifat lebih khusus adalah kejian yang diperuntukkan para santri atau kaum terpelajar. Ilmu yang dibahas semisal bahasa Arab, <em>nahwu sharaf, balaghah</em>, kalam, hingga <em>tasawuf</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;" lang="SV">Demikian halnya dengan dakwah Mbah Mangli. Secara khusus Mbah Mangli mendidik para santrinya di sebuah pesantren sederhana di lereng gunung Andong. Tempat pesantren itulah yang kemudian dikenal sebagai desa Mangli yang terletak di perbatasan kecamatan Grabag dan Ngablak, kurang lebih 25 km arah timur laut kota Magelang. Mbah Mangli merupakan salah satu penganut tarekat Nahsyabandiyyah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;" lang="SV">Di bawah bayang pohon pinus dengan kesejukan hawa dingin pegunungan dan dalam suasana hening diharapkan para santri dapat membiasakan diri berpikir dengan kepala dingin, bukan dengan ledakan nafsu dan amarah. Kejernihan mata air Mangli dipercaya dapat menjernihkan hati dan pikiran para santri agar mampu menjadi manusia yang jernih dalam berpikir, berucap dan bertindak sesuai dengan ajaran Kanjeng Nabi Muhammad. Ketenaran pesantren Mangli menebar ke seantero Nusantara. Hal ini terbukti dengan beragam asal usul para santri yang menuntut ilmu. Santri dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Pasundan, Sumatera hingga Kalimantan, bahkan Sulawesi banyak yang kerasan berguru kepada Mbah Mangli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;" lang="SV">Selain mendidik ummat lewat pesantren, Mbah Mangli juga aktif melakukan dakwah dan syiar agama Islam ke berbagai wilayah. Di desa Mejing wilayah kecamatan Candimulyo, bahkan Mbah Mangli secara khusus menggelar pengajian rutin bertempat di sebuah <em>langgar</em> atau surau yang dikenal sebagai langgar Linggan. Berbagai kalangan ummat Islam datang berbondong-bondong untuk mendengarkan nasehat dan petuah kiai kharismatik tersebut dengan penuh kekhidmatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;" lang="SV">Pengajian di masa lalu memang hampir tanpa sentuhan teknologi canggih seperti jaman sekarang. Jangankan peralatan perekam maupun dokumentasi foto, sekedar pengeras suarapun masih jarang bisa dijumpai. Kita bisa bayangkan seperti apakah suasana pengajian akbar tanpa pengeras suara? Namun inilah salah satu <em>kasekten</em> Mbah Mangli sebagaimana diceritakan ibu saya. Konon meskipun tanpa pengeras suara, seluruh jamaah pengajian yang hadir di tempat pengajian, apakah di sebuah masjid ataupun di sebuah lapangan terbuka, selalu dapat mendengar tausiyah Mbah Mangli dengan jelas dan terang. Meskipun jumlah jamaah ratusan, bahkan ribuan orang, dari berbagai posisi yang dekat hingga terjauh dapat mendengar suara Mbah Mangli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;" lang="SV">Konon lagi pada saat pengajian bubar, selepas mengucap salam penutup, Mbah Mangli langsung dapat berjalan dengan kecepatan kilat meninggalkan arena pengajian untuk berpindah <em>medhar sabdo</em> di tempat lain. Konon pula Mbah Mangli setiap hari Jumat selalu <em>ngrawuhi</em> sholat Jumat di Masjidil Haram. Inilah yang disebut sebagai ilmu melipat bumi, dalam <em>sakedeping mata</em> bisa berpindah tempat di berbagai penjuru dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;" lang="SV">Keistimewaan Mbah Mangli yang lain, ia dapat mengetahui maksud setiap jamaah yang datang, apa permasalahan mereka dan langsung dapat memberikan nasehat dengan tepat sasaran. Pernah seorang jamaah datang ke pengajian dengan membawa uang ibunya yang semestinya dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangganya. Di tengah pengajian, Mbah Mangli langsung menyindir orang tersebut dan menasehatinya agar uang tersebut dikembalikan dan ia segera memohon maaf kepada ibunya tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;" lang="SV">Pernah juga seorang tamu datang ke pesantren Mbah Mangli. Sejak dalam perjalanan sang tamu tersebut sudah membayangkan mendapatkan suguhan buah jeruk yang sangat ranum dan menghilangkan rasa dahaganya selepas menempuh perjalanan jauh. Dan sesampainya di tempat Mbah Mangli, apa yang ia dapatkan? Mbah Mangli benar-benar menyuguhinya dengan hidangan jeruk keprok yang sangat segar. Pucuk dicinta ulampun tiba!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;" lang="SV">Sifat istikomah Mbah Mangli dalam menyikapi perkembangan teknologi tergolong sangat unik. Beliau tidak pernah menggunakan pengeras suara maupun peralatan listrik dalam setiap kegiatan di pondok pesantrennya. Dalam acara pengajian maupun khotbah jumat tidak pernah ada pengeras suara, hal ini masih tetap dilestarikan hingga kini. Penggunaan listrik hanya terbatas untuk penerangan kegiatan belajar mengajar. Adapun radio dan televisi, apalagi <em>handphone</em> dan internet, sama sekali tidak menyentuh pesantren Mbah Mangli. Kini sosok Mbah Kiai Mangli memang sudah wafat. Namun pengajian Ahad pagi yang digelar di pesantren beliau tetap berlangsung rutin di bawah asuhan salah seorang menantu beliau, dan masih ratusan jamaah hadir menimba ilmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;" lang="SV">Di jaman itu memang seorang kiai benar-benar diyakini sangat karib dengan Gusti Allah, sehingga ia benar-benar berkedudukan sangat istimewa bahkan dipercaya sebagai waliyullah. Maka tak heran doa seorang ulama kharismatik dipercaya sangat makbul dan mujarab. Inilah barangkali magnet daya tarik sehingga ummat mau mendekat, mendengar setiap nasihat penuh khidmat, dan kemudian berujung kepada pengamalan ajaran agama dengan penuh kemantapan rasa iman dan ketaqwaan. Inilah kunci ketentraman jiwa, lahir dan batin yang akan berdampak luas terhadap ketentraman serta keguyuban masyarakat, bangsa dan negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;" lang="SV">Mbah Mangli yang memiliki nama asli KH Hasan Ashari akan senantiasa dikenang segala amalan dan jasa baiknya terhadap kemaslakhatan ummat. Segala sifat dan sikap ketawadhuan, kealiman, kesederhanaan, jujur, amanatnya seorang Mbah Mangli akan senantiasa menjadi obor penerang sekaligus cahaya pelita petunjuk jalan bagi segenap ummat yang senantiasa mendambakan keadilan dan ketentraman masyarakat, bangsa dan negara. Spirit dan semangat Mbah Mangli akan selalu hidup abadi du dunia hingga akhir jaman. Apakah kini memang menjelang jaman akhir sehingga Allah mengangkat ilmu-Nya dari permukaan bumi dengan mewafatkan para aulia dan alim ulama yang benar-benar menjadi pewaris para nabi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span style="color: #800000;">Dimuat di <a href="http://majalah.magelangkab.go.id/">Majalah Suara Gemilang Edisi Mei 2012</a> (Pemkab Magelang)</span><br />
</span></p>
<p style="text-align: right;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/kharisma-mbah-kiai-mangli.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mangkatnya Mbah Kyai yang Alim</title>
		<link>http://pendekartidar.org/mangkatnya-mbah-kyai-yang-alim.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/mangkatnya-mbah-kyai-yang-alim.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 May 2012 02:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=3666</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa kecelakaan pesawat Sukhoi SJ100 yang membawa korban 45 penumpangnya tidak terlampau membuat hati ini... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/mangkatnya-mbah-kyai-yang-alim.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/05/MbahLim.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3669" title="MbahLim" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2012/05/MbahLim.jpg" alt="" width="184" height="240" /></a>Peristiwa kecelakaan pesawat Sukhoi SJ100 yang membawa korban 45 penumpangnya tidak terlampau membuat hati ini merasa terlalu kehilangan. Turut berduka dan berbela sungkawa sudah pasti, tetapi tetap masih dalam batas rasa empati sebagai sesama manusia. <span lang="SV">Akan tetapi berita duka yang terdengar pagi kemarin sungguh mengguncang dan mengejutkan jiwa ini. Beliau yang belum pernah sekalipun saya temui, namun begitu hati ini merasa sangat kehilangan akan sosok kealimannya. Dialah Mbah Lim, atau yang bernama lengkap Kyai Haji MualimRifai Imampuro, dipanggil kehadirat-Nya pada Kamis pagi di RSI Klaten. <em>Innalillahi wa inna ilaihi roji’un</em>, semoga Gusti Allah mengampunkan segala dosanya dan mengangkat jiwanya di <em>papan kasedan jati</em> yang mulia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><span lang="SV">Mbah Lim, ……hmmmm. Kenapa sosoknya seakan terasa sangat dekat? Pertama kali mengenal sosok alim nan sederhana ini adalah di masa SMA dulu ada acara Gardu di salah satu teve swasta yang waktu itu masih baru. Acara yang dipandu budayawan Emha Ainun Nadjib itu senantiasa menghadirkan Mbah Lim untuk <em>medhar sabda</em> (menguraikan) mengenai berbagai kearifan sifat untuk menghadapi hidup yang tengah memasuki jaman edan ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><span lang="SV">Mbah Lim adalah tokoh <em>kyai khos</em> di kalangan warga <em>nahdziyyin</em> yang sangat kharismatik. Sebagai seorang ulama terkemuka, tidak ada lagi yang menyangsikan soal kealiman dan keunggulan ilmu agamanya. Hal yang paling menarik adalah sikap hidupnya yang sangat tawadlu, sangat sederhana, seakan Beliau memang sangat <em>ngiwakke</em> (mengesampingkan) kehidupan duniawi. Dialah sangat takdzim dalam meneladani kesederhanaan kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad yang memilih menjadi <em>abdan nabiyya (</em>nabi yang seorang abdi, orang biasa) daripada harus menjalani sebagai <em>mulkan nabiyya</em> (nabi yang sekaligus raja) sebagaimana pernah ditawarkan Allah melalui Jibril.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><span lang="SV">Selain kedalaman dan keluasan ilmu agamanya, Mbah Lim juga dikenal sebagai sosok ulama yang sangat mencintai tanah tumpah darahnya, Indonesia. Di masa mudanya, Beliau terkenal sebagai anggota laskar kejuangan yang mengangkat bambu runcing untuk mengenyahkan penjajahan Belanda hingga Jepang. Semangat nasionalisme dan patriotismenya itu bahkan kemudian diabadikan menjadi nama pondok pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti yang diasuhnya di Karanganom, Klaten. Sebuah pilihan nama yang sangat <em>nyleneh</em> dan tentunya tidak main-main. Nama itu benar-benar sebuah cermin abadi akan kecintaanya kepada bumi Nusantara. Baginya menjadi orang Islam yang Indonesia adalah pilihan hidup yang sangat serius. Islam dan Indonesia adalah dua entitas yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain dari seorang pribadi Mbah Lim.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><span lang="SV">Sebagaimana sering dinasehatkan oleh para alim ulama bahwasanya salah satu tanda-tanda semakin dekatnya hari kehancuran adalah diangkatnya ilmu-ilmu agama dari muka bumi. Ulama sebagai para penerus dan pewaris nabi adalah gudangnya ilmu agama. Maka dengan semakin banyaknya ulama kinasih yang dipanggil keharibaan-Nya tanpa diturunkannya pengganti yang setara sengannya adalah fenomena diangkatnya ilmu tersebut. Bukankah belum berselang di bulan Februari yang lalu juga baru berpulang Kyai Abdullah Fakih dari Langitan di Lamongan? Kenapa jarak rentang waktu kepergian mereka seakan begitu dekat? Inilah pangkal kerisauan kalbu ini sehingga kepergian Mbah Lim membekaskan rasa kehilangan yang teramat dalam di dada ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><span lang="SV">Sugeng tindak Mbah Lim, selamat jalan Mbah Kyai! Semoga kealimanmu menebarkan ke relung jiwa setiap sedulur muslim yang masih harus berjuang untuk berjihad mengalahkan hawa nafsunya sendiri di tengah <em>keedanan jaman edan</em> ini. Moga Tuhan masih memberikan kesempatan bagi manusia untuk menapaki jalan-Nya sehingga menemukan keselamatan sejati di dunia dan akhirat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"><span style="color: #0000ff;">Ngisor Blimbing, 24 Mei 2012</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/mangkatnya-mbah-kyai-yang-alim.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Tidar#14</title>
		<link>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar14.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar14.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 08:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndoroseten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh-Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=2391</guid>
		<description><![CDATA[PENGGERAK ANAK-ANAK TLATAH BOCAH Senja itu sekian puluhan remaja tengah asyik ngabuburit di seantero luasan... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar14.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="color: #800000;"><strong>PENGGERAK ANAK-ANAK TLATAH BOCAH</strong></span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/PakGun.jpg"><img class="alignleft  wp-image-2393" title="PakGun" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/PakGun.jpg" alt="" width="246" height="288" /></a>Senja itu sekian puluhan remaja tengah asyik <em>ngabuburit</em> di seantero luasan Alun-alun Kota Magelang. Suasana petang itu memang nampak <em>sumringah</em> dan hingar bingar oleh para remaja bercanda ria di bawah tower “<em>kompor</em>” alun-alun. Saat itu memang baru awal bulan Ramadhan, sehingga suasana menunggu <em>bedug</em> Maghrib masih terasa <em>nglangut</em> untuk ditunggu-tunggu. Rasanya lamaaaaa sekali. Kebetulan sekelompok anak remaja baru gede sedang menghelat acara buka bersama di alam terbuka alun-alun. Dan Tuhan menakdirkan saya dan beberapa Bala Tidar tersesat di tengah kerumunan ABG tersebut.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Singkat cerita beberapa kenalan barupun sempat tersalami. Satu dua remaja saling me-<em>mringis</em>-kan muka ketika berjabatan tangan. Setelah saling <em>mringis</em> itu, <em>lha kok</em> masing-masing bergerombol menurut fraksinya masing-masing. Walhasil, kami yang mungkin menurut kelompok itu sudah sangat <em>out of date</em> untuk disebut remaja, hanya bengong <em>kilang-kilong</em> tak tahu harus gabung ke golongan siapa. Tetapi ternyata kami tidak sendirian! Ada seorang setengah baya yang duduk tersudut tanpa seorangpun yang menemaninya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Sejurus kemudian kamipun menghampiri sosok lelaki itu. Penampilannya sangat sederhana. Sosoknya sepertinya pendiam. Mungkin karena terhanyut keterpencilan dari kesunyian yang tercipta, atau mungkin ia memang sedang <em>ngemat</em> untuk mendengarkan desauan lembut angin senja yang menyapa daun-daun beringin di tengah alun-alun. Ketika kami mengulurkan tangan untuk <em>tetepungan</em>, ia menyambutnya dengan sangat antusias. Dialah kemudian sosok yang kita kenal sebagai Pak Gun alias Gunawan Juliyanto.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000000;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/SunanBagor.jpg"><img title="SunanBagor" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/SunanBagor.jpg" alt="" width="300" height="225" /> </a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Dari obrolan pengiring senja terungkaplah sedikit rahasia jejak langkah Tlatah Bocah. Menurut <em>danyang bocah lereng Merapi</em> itu, Tlatah Bocah berawal dari keprihatinan sekelompok anak muda terhadap nasib anak-anak di pengungsian Tanjung kala Merapi meningkat aktivitasnya di tahun 2006 silam. Kehidupan di pengungsian yang diluar format kebiasaan dan adat <em>dusun</em> para bocah itu di lereng Merapi, sedikit banyak menimbulkan tekanan psikologis tersendiri. Kondisi yang khusus inilah yang diyakini membutuhkan satu pendampingan yang khusus pula. Akhirnya para relawan itu berbagi dongeng dan segala hal tentang dunia anak.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Berlanjut dari barak pengungsian itulah digagas untuk tetap melakukan pendampingan anak-anak selepas mereka pulang ke <em>dusun</em> mereka di lereng Merapi. Anak adalah aset masa depan bangsa yang kelak di kemudian hari akan <em>nglintir</em> tongkat kepemimpinan. Maka anak haruslah diberikan kesempatan untuk menjalani masa bocahnya secara alamiah tanpa intervensi pemaksaan oleh orang dewasa dan lingkungan di sekitarnya yang tidak ramah anak. Dari sanalah digelar Festival Tlatah Bocah secara rutin setiap tahunnya bertepatan dengan liburan kenaikan kelas.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000000;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/PakGunEmi.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2396" title="PakGun&amp;Emi" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/PakGunEmi.jpg" alt="" width="300" height="225" /> </a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Beberapa Tlatah Bocah yang telah digelar mengambil tema <em>Ngunduh Wuh Ngangsu Kawruh, Bocah Dudu Dolanan Bocah Kudu Dolanan, <a href="http://pendekartidar.org/tutur-tinular.php">Tutur Tinular:Tuturing Ati Tinularing Pekerti</a></em>, dan kini yang tengah dihelat <a href="http://pendekartidar.org/tlatah-bocah-v.php"><em>Wayah Gumregah</em></a>. Harapannya adalah pasca erupsi Merapi akhir tahun kemarin yang begitu dahsyat, tiba masanya bagi segenap warga seputaran gunung Merapi untuk bangkit kembali menata kehidupan dan masa depan yang lebih baik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Seorang Gunawan Juliyanto biasa disapa Mas Gun, Pak Gun, bahkan selentingan ada yang menyebutknya “Gareng”(untuk yang satu ini saya tidak tahu menahu). Sosok lelaki setengah baya ini sangat <em>andhap asor</em> dan <em>prasojo</em>. Hidup baginya tidak perlu ruwet-ruwet dan dibikin repot. Hidup <em>ya</em> mengalir saja, <em>mbanyu mili</em> dan <em>sakmadya</em> dengan irama alam. Alam baginya adalah satu aspek kehidupan yang sangat mendasar dan tidak terpisahkan dari <em>kamanungsan</em>-nya <em>menungso</em>. Maka jangan heran bila pikiran, kata-kata, perbuatan, dan <em>tindak-tanduk</em> seorang Gunawan sangat-sangat humanis. Untuk yang satu ini mengingatkan saya pada sosok Gunawan Wibisono di kisah pewayangan Ramayana yang masyur itu.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000000;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/GunSabdo.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2397" title="GunSabdo" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/GunSabdo.jpg" alt="" width="300" height="225" /> </a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Gunawan memang seolah senantiasa menutupi latar belakang masa lalunya. Bukan karena masa lalu yang kelam, tetapi saya yakin terdorong karena sifat <em>andhap asor</em>-nya dan tidak ingin menonjolkan dirinya sebagai sosok yang teramat penting. Konon katanya ia dulu-dulunya sempat meneguk pendidikan di sekolah Patnamaba, bahkan berlanjut di <em>Pakultas Ngekonomi Ngunipersitas Nggajah Modo </em>di <em>mBulak Sumur</em> itu. Ia bagaikan manusia pasca modern sebagaimana sering digambarkan oleh Romo Mangun Wijaya <em>swargi</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Kehidupan Gunawan adalah kehidupan bocah-bocah Merapi yang diasuhnya. Hari demi hari dihabiskannya untuk <em>jajah deso milangkori</em> di sekeliling Ngargomulyo, Sumber, Sengi, Stabelan, Tutup Ngisor dan nduwur, Kadirojo dan masih banyak yang lainnya. <em>Wadag</em>-nya seakan tiada lelah untuk <em>ngangklang</em> menyapa bocah-bocah <em>dusun</em> dan para warganya. Ia pernah berseloroh bahwa dengan modal bensin satu liter ia bisa menyambung hidup paling kurang dalam kurun seminggu. Maksudnya gimana <em>nggih</em>?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/PB-PakGun.jpg"><img class="alignright  wp-image-2398" title="PB-PakGun" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/PB-PakGun.jpg" alt="" width="203" height="271" /></a>Begini sudulur, Pak Gun yang <em>penggawean</em>-nya berkelana ini, kesehariannya pindah <em>gonta-ganti</em> dari satu <em>dusun</em> ke <em>dusun</em> yang lain. Bila ia datang di suatu <em>dusun</em>, menyapa dan menyatu dengan kehidupan mereka, seringkali ia menginap bergiliran diantara warga <em>dusun</em> yang dikunjunginya. Adalah adat masyarakat <em>pedukuhan</em> yang masih taat pada <em>unggah-ungguh</em> dan aturan <em>syara’</em>, bahwa sudah menjadi <em>jejibahan</em> alias <em>kuwajiban</em> tuan rumah untuk <em>ngiguhke</em> tamunya dengan sebaik-baiknya. Soal makan, minum dan segala hajat hidupnya menjadi tanggungan sang tuan rumah. Di sinilah konsep tentang tamu sebagai raja. Dan nampaknya seorang Gunawan Juliyanto telah <em>mangejawantah</em> sebagai seorang raja, paling tidak di tahta kalbu para warga yang bocah-bocahnya menjadi asuhannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Meski nampak sering termenung dan dengan sangat tiba-tiba meluncurkan candaan yang menohok, sosok seorang Gunawan sangat lihai merangkul teman dan sahabat. Kemajuan dunia komunikasi dimanfaatkan betul-betul dengan asas manfaat yang sangat dihayatinya di bangku <em>cantrik</em>-nya. Facebook, apalagi twitter seolah menjadi sebagian roh hidupnya. Dari sanalah ia mewartakan setiap ide dan gagasan uniknya ke seantero Nuswantara. Dengan cara itulah ia menebar jala dan menabur benih persahabatan dan kesetiakawanan. Maka jangan terlampau heran bila setiap agenda Tlatah Bocah yang digelar selalu tergaung luas dan mendapat dukungan yang luar biasa. Saat ini bahkan tidak kurang dari 25 komunitas telah aktif mendukung Tlatah Bocah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Gunawan Juliyanto adalah sosok langka di negeri ini. Sosok yang senantiasa mengedepankan kepentingan orang lain jauh di atas kepentinganya sendiri. Baginya sudah menjadi kewajiban manusia untuk menebar kebajikan. Soal imbalan, soal pujian dan sanjungan, soal ketenaran, soal penghasilan, baginya bukanlah persoalan. Karya, karya, dan karya jauh lebih utama daripada klaim kebaikan atas nama diri sendiri. Ialah pengamal sejati warisan leluhur untuk selalu <em>sepi ing pamrih rame ing gawe.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Selamat berjuang Pak Gun! Anak-anak adalah generasi sejarah yang harus terselamatkan sebagai benih kemanusiaan di masa depan. Pada pundak merekalah harapan tentang generasi manusia yang manusiawi kita sandangkan. Teruslah berkarya untuk para bocah! Bocah Merapi, bocah Merbabu, bocah Menoreh, Sumbing, Andong dan seantero alam semesta. Tlatah Bocah, sebuah ladang pengabdian nilai kemanusiaan. <em>Matur suwun</em>.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #0000ff;"> Ngisor Blimbing, 19 Juni 2011</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar14.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Tidar#13</title>
		<link>http://pendekartidar.org/pendekar-tudar13.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/pendekar-tudar13.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 16:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariev</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh-Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=2266</guid>
		<description><![CDATA[BLOGGER DARI RANAH SERIBU PESANTREN Tegalrejo di sudut timur gunung Tidar, memang sejak lama dikenal... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/pendekar-tudar13.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color: #800000;"><strong>BLOGGER DARI RANAH SERIBU PESANTREN</strong></span></h2>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/04/Ariev3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2267" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/04/Ariev3.jpg" alt="" width="249" height="314" /></a>Tegalrejo di sudut timur gunung Tidar, memang sejak lama dikenal sebagai wilayah dengan jumlah pesantren terbanyak di Kabupaten Magelang. Banyak tokoh alim ulama skala lokal maupun nasional yang pernah nyantri di sana. Bahkan cucu pendiri NU, Gus Dur-pun, pernah mengenyam <em>ngaji</em> di pesantrennya Mbah Chudhori. Wal hasil, untuk setidaknya skala Magelang, tidaklah berlebihan bila Tegalrejo saya sebut sebagai “ranah seribu pesantren”.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Tidak ingin lebih panjang lebar mengungkap Tegalrejo, namun saya ingin mengetengahkan salah satu sosok tunas muda  harapan bangsa yang berasal dari wilayah tersebut, dan lumayan bersinggungan intens dengan Bala Tidar. Apakah yang dimaksudkan adalah Gus Yusuf? Atau barangkali Kiai Mukti dari Koripan? Wah ternyata bukan keduanya <em>sedulur</em>! Meskipun sosok keshalehannya tidak dapat saling diperbandingkan, tetapi saya ingin berbicara mengenai <em>sedulur</em> blogger Bala Tidar dari Tegalrejo! <em>Sampeyan</em> sudah bisa menebak?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Meskipun baru sempat merapat pada kesempatan kopdaran ke dua atau ke tiga, namun sosoknya termasuk meyakinkan sebagai <em>nom-noman</em> yang <em>prigel</em> dan akrab dengan <em>jagad</em> IT. Pertama bertemu sayapun sempat <em>dagdigdug</em> dan sedikit bercampur merinding. Kala itu ia <em>sowan</em> ke ringin tengah dengan me-<em>nylempang</em> sebuah bungkusan di punggungnya. <em>Dedek piadek</em>-nya memang sangat meyakinkan sebagai seorang pendekar tulen. Saya rasa yang di punggungya itu semacam pedang setan, golok naga, atau mungkin kecapi sakti. Dengan berkendara GL Pro<em>(tholan)</em>, kegagahannya jelas mengalahkan patung Diponegoro di sudut alun-alun.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Usut punya usut, tokoh Bala Tidar ini ternyata sebelumnya sudah akrab dengan <em>sedulur</em> Made Kukuh. Kemungkinan karena keduanya bekas alumni sebuah <em>padhepokan</em> SMA di sebelah gardu Wates. Hmmm…..baru kemudian saya sedikit tahu bahwa yang saya perkirakan pedang setan, golok naga atau kecapi sakti dan sering bertengger di punggungnya adalah semacam gitar asmara. Rupanya dia seorang seniman musikus yang sungguh <em>ngedap-edapi</em>. Saya baru menyadarinya tatkala dirinya <em>and the genk</em> mentas <em>nembang</em> di acara seminarnya Pendekar Tidar tahun kemarin.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em>Ealah</em>…..siapakah dia? Ternyata saya semakin tak tahan untuk terus tidak menyebutkan namanya. Baiklah saya sampaikan bahwa Bala Tidar yang sedari tadi kita <em>rasani</em> ini adalah Ariev “bijaksana” Wahyu Nugroho. <em>Nom-noman</em> dari Kebunagung!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/04/Ariev1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2271" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/04/Ariev1.jpg" alt="" width="243" height="324" /></a>Pandelengan</em> saya tentang bakat musiknya barangkali memang sangat kabur. Namun nampaknya tidak demikian dengan dugaan saya yang pertama soal kekaribannya dengan jagad IT. Ternyata saudara, ia memang salah seorang <em>cantrik</em> pada sebuah <em>padhepokan</em> IT di kota budaya Jogjakarta. <em>Nggak</em> tanggung-tanggung, bahkan dialah salah satu sosok putra terbaik Magelang yang menembus tempat kuliahnya orang berdasi. Hmmmm…..ruarrr biasa bukan! Saya yang seribu satu kali <em>ngimpi</em>-pun belum pernah kesampaikan untuk kuliah berdasi <em>je</em>!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Tapi <em>point</em>-nya bukan itu <em>sedulur</em>! Berlanjut dalam <em>event-event</em> maupun agenda yang digagas Bala Tidar, maka Sang Dekariev senantiasa <em>ketiban sampur</em> untuk <em>ngru’usi</em> masalah yang terkait dengan desain mendesain grafis. Maka jangan heran bila dari tangan dinginnya kemudian terlahir desain kartu anggota, <em>banner</em>, spanduk, <em>backdrop</em>, logo <em>event</em> dan masih banyak yang lainnya yang masih disimpannya rapat-rapat pada kantong ajaibnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Di sela-sela kesibukan kuliah dan <em>wira-wiri</em> Jogja &#8211; Magelang, Ariev tergolong sosok yang senantiasa penuh api semangat untuk <em>ngurip-urip</em> komunitas Bala Tidar. Totalitasnya yang total, serta komitmennya yang tinggi untuk <em>ambyur</em> di <em>jagad</em> komunitas, yang seringkali berjalan dengan lamban dan lesu patut diapresiasi tinggi-tinggi. Sebagaimana pernah diungkapnya, “Kalo ingin berkomunitas ya jangan tanggung-tanggung! Harus total….! Segala resiko dan tanggung jawab mesti dipikul dengan penuh amanah.” Memang tantangan, hambatan, godaan ke depan memang tidaklah semakin ringan. Namun semangat, stamina, serta optimisme yang dibangun Ariev di dadanya kiranya bisa dijadikan teladan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ide-idenya dalam desain-mendesain sangat inspiratif, ekspresif, dan sudah pasti akomodatif terhadap kondisi ruang dan waktu. Dirinya selalu membuka pintu masukan bagi sebuah ide desain yang tengah digarapnya. Nampaknya benih sikap demokratis juga tumbuh mekar di relung nuraninya. Teruslah berkarya Riev! Bhumi Tidar senantiasa menantikan karya kita bersama.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ngisor Blimbing, 17 April 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/pendekar-tudar13.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENDEKAR TIDAR#12</title>
		<link>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar12.php</link>
		<comments>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar12.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Jan 2011 13:49:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariev</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh-Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendekartidar.org/?p=2116</guid>
		<description><![CDATA[SANG MANGGALA YUDHA Kehadirannya pertama kali di Komunitas Pendekar Tidar bertepatan dengan Rembung Bala Tidar... <a class="meta-more" href="http://pendekartidar.org/pendekar-tidar12.php">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: right;"><span style="color: #ff0000;"><strong>SANG MANGGALA YUDHA</strong></span></h2>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/01/Yudha2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2117" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/01/Yudha2.jpg" alt="" width="281" height="419" /></a><span style="color: #000000;">Kehadirannya pertama kali di Komunitas Pendekar Tidar bertepatan dengan Rembung Bala Tidar I di Sawitan. Dengan pembawaannya yang <em>kalem</em> justru membawa angin segar bagi perjalanan Bala Tidar. Dan tidaklah berlebihan bila pada kehadirannya yang pertama tersebut, ia langsung <em>ketiban sampur</em> dan didaulat penuh untuk <em>mandegani</em> acara Lomba Menulis antar Pelajar se-Kedu dan Seminar Pendidikan bagi Pahlawan Tanpa tanda Jasa. Acara tersebut dihelat dalam rangka Hut ke I Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Sosoknya memang diam menghanyutkan laksana arus Kali Manggis yang membelah tepat di depan tempat tinggalnya, di bilangan Magelang Utara coret. Pria lajang yang sangat menyukai aksi kepanduan ini hingga kini sering <em>medhar kawruh</em> sebagai senior pembina di almamaternya. Menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota Gethuk, ia sempat melanglang buana ke kota Metropolitan untuk berburu ilmu di Akademi Astra.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Kini di usianya yang masih tergolong hijau, dengan mantap ia mengabdikan diri di Pemerintahan Kota Magelang. <em>Nggak</em> tahu bahwa hal ini memang menjadi cita-cita atau tujuan hidupnya, atau hanyalah sekedar <em>mbanyu mili</em><em> </em></span><span style="color: #000000;">mengikuti arus hidup, namun yang jelas ia nampak sangat menikmati rutinitas selaku</span> <span style="color: #000000;"><em>abdi dalem</em>. Dan sepertinya ia memang totalitas dalam ke-PNSD-annya, coba saja cek di blognya yang banyak menampilkan segala <em>tethek bengek</em> aturan, mulai undang-undang, keppres, peraturan pemerintah, hingga sk-sk yang sangat dihayatinya, atau bahkan mungkin dihapalnya di luar kepala. Luarrrr biasa memang abdi negara kita di daerah, setiap saat berbicara dan bertindak berdasarkan aturan baku yang resmi, penuh dengan liku administrasi dan birokrasi yang <em>ndakik-ndakik</em>, mulia dan luhur cita-citanya. Bayangkan bila Pemda kita memiliki sepuluh sosok satu ini, pastilah warna hidup di Magelang akan berbeda!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/01/Yudha41.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2123" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/01/Yudha41.jpg" alt="" width="245" height="305" /></a>Muda, <em>kalem</em>, kelihatan <em>menengan</em> tapi dengan jenjang karir yang mantap, memberikan kesan bahwa dialah pemuda idaman harapan pemudi di masa depan. Namun demikian dalam setiap kesempatan <em>gethukan</em> kiranya belum pernah ia terlihat menggandeng <em>kenya</em>, apalagi menyebarkan gosip tentang kisah-kasih klasik untuk masa depannya&#8230;&#8230;hayoooo Bala Tidarwati yang berminat silakan antri!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Tidak saja bersibuk ria dengan komunitas blogger dan kepanduan, sosok ini konon katanya juga jadi kontributor di WWF atau Walhi atau Greenpeace gitu! Hebat kan?Ya, karena saya hanya dengar <a href="http://www.yudhakaryadi.com/about/">sayup-sayup</a>, untuk pastinya <em>yo</em><em> sampeyan</em></span> <span style="color: #000000;">silakan</span> <span style="color: #000000;"> nanya langsung kepada yang berangkutan. Itupun bila Beliaunya berkenan untuk berterus terang <em>lho yo!</em> <em>Tapi ojo mekso lho, mundhak ora prasojo!</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Sedari tadi <em>ngalor-ngidul ngrasani nom-noman</em> yang satu ini, kira-kira <em>sampeyan</em> semua <em>dong nggak to? Ngerti nggak </em>dengan sosok yang saya maksudkan? Kalo penasaran ya silakan hadir di setiap <em>gethukan</em>nya Bala Tidar. Hmmmm&#8230;..saya tetap <em>nggak tega ding!</em> Baiklah, terus terang saja <em>blak-blakan</em> dan <em>blaka suta tanpa tedheng aling-aling</em> bahwa sosok yang sedari tadi diketengahkan ke hadirin ini adalah S<a href="http://www.yudhakaryadi.com/">ang Manggala Yudha </a>Karyadi Dahlan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em>Lho lak tenan!</em> Apa <em>nggak</em> hebat? Dari namanya saja sudah dapat ditebak manusia macam apa Sang Manggala ini. Lahir di tengah prahara asmara dan kesibukan kerja kedua orang tuanya, maka diberikan <em>tetenger</em> nama Yudha Karyadi(yudha=perang; karya=kerja). Sebuah nama yang disarikan dari bahasa Sansekerta. Sedangkan nama Dahlan? Mungkin kedua orang tuanya mengidolakan Ahmad Dahlan, atau bisa jadi mereka dulunya tinggal di Jln. Dahlan. Tapi ini jelas hanya <em>othak-athik gathukan</em> saya saja lho. <em>Sampeyan</em><em> </em></span><span style="color: #000000;">percaya </span><span style="color: #000000;"><em>monggo</em>, <em>nggak</em> percaya&#8230;&#8230;..<em>awaas</em>!!!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Satu catatan dalam penggalan langkah kecil Bala Tidar adalah perjuangan saat menghelat lomba menulis dan seminar di tahun lalu. Bagaimana tidak hebat dan <em>ngedap-edapi, lha wong</em> pada saat <em>musyawaroh</em> telah dicapai kata mufakat untuk bersama-sama, <em>golong gilig</em> dan <em>gotong royong</em> untuk bekerja sama dan sama-sa bekerja&#8230;&#8230;<em>eee tekan titi mangsane</em>, hanya segelintir Bala Tidar yang <em>cancut tali wanda.</em> Dan ini jelas termasuk sang <em>steering commite </em>Yudha Karyadi Dahlan.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000000;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/01/Yudha3.jpg"><img class="size-full wp-image-2126 aligncenter" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/01/Yudha3.jpg" alt="" width="400" height="267" /></a></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Dari persiapan dan sosialisasi lomba, langkah berat dan berbagai rintangan datang menghadang. Proses yang sangat berat dan berdarah-darah terpaksa harus tetap dijalani untuk memenuhi <em>jejering satriya</em> yang<em> tan keno selak ing janji</em>, bisa dipegang kata-kata dan tindakannya. Walhasil, hingga menjelang akhir pengumpulan naskah, belum juga ada tanda-tanda peserta yang turut maju lomba. Bagaimana tidak stress, suasana  begitu berat! Hingga jangan heran bila tekanan ini terbawa ke alam tidur, dan memang Yudha mengaku sampai <em>impen-impenen</em> ada kiriman naskah lomba <em>saking</em> penasarannya. Dan mimpi itu mendorongnya untuk <em>ngecek</em> email setiap saat, namun ternyata Tuhan belum mengabulkan. Hingga akhirnya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/01/YudhaK.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2140" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/01/YudhaK.jpg" alt="" width="240" height="318" /></a>Di saat <em>deadline</em> tiba, dan sebagian Bala Tidar sudah <em>mutung lan pasrah marang kersaning Gusti,</em> secara bertubi-tubi dan <em>sekonyong-konyong koder, </em></span><span style="color: #000000;">banjir email di </span><span style="color: #000000;"><em>account</em> Pangkodar. Lebih dari 50-an tulisan hadir mengikuti <em>giri patemboyo! </em>Hmmmmm&#8230;&#8230;..serasa terbayar segala jerih payah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Rangkaian acarapun berlanjut dengan seminar untuk para guru. Dan sebagai ketua panitia, sudah tentu Sang Manggala Yudha harus menyampaikan kata sambutan dan membuka acara dikarenakan tuan rumah tidak berkenan hadir. Jadilah sederetan kata-kata bijak dan petuah sakti dibacakannya dalam keadaan <em>gembrobyos</em> <em>saking</em> semangatnya. Namun apapun yang dirasa, alhamdulillah acara berjalan sukses!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Detik berlalu hari berjalan, <em>gethukan</em> dihelat dua kali di setiap bulannya. Satu per satu Bala Tidar berguguran di tengah medan perjalanan yang semakin penuh tantangan. Sang Maggala Yudha tetap tidak bergeming untuk senantiasa bertekad mengawal <em>gethukan</em> di ringin tengah, hingga seakan masih berat untuk berpikir tentang menikah. Dan kini pekerjaan rutin tahunanpun menunggu di hadapannya, rangkaian HUT Pendekar Tidar ke-2.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em>Monggo</em> dilanjutkan dan saling bahu-membahu, serta membantu diantara sedulur Bala Tidar. Selamat berjuang&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em><strong><span style="color: #0000ff;">Taman Sari, 6 Januari 2011</span></strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendekartidar.org/pendekar-tidar12.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
