Kethoprak Ampak-ampak Katresnan

AAK1Alkisah, Prabu Ambaketawang yang bertahta di Keraton Karang Kates memiliki dua orang putri nan rupawan. Putri tersebut bernama Ambar Kinasih dan Ambar Asmara. Mereka berdua memiliki kakak sulung bernama Pangeran Sumirat. Pangeran ini terkenal memiliki kedigdayaan dalam ilmu olah kanuragan.

Demi mendapatkan jodoh bagi kedua putrinya, Prabu Ambarketawang menggelar sayembara adu kesaktian. Siapa lelaki yang berhasil mengalahkan kesaktian Pangeran Sumirat akan dijodohkan sekaligus dengan kedua putrinya, Ambar Kinasih dan Ambar Asmara.

Pada hari yang telah ditentukan, banyak para pengaran, para ksatria, dan pendekar sakti yang mengikuti sayembara perjodohan di Karang Kates tersebut. Mareka satu per satu beradu kesaktian dengan peserta yang lain, sebelum pemenang terakhir berhadapan dengan Pangeran Sumirat. Hingga saat terakhir, ternyata tidak ada satupun peserta sayembara yang mampu mengalahkan kesaktian Pangeran Sumirat.

Pada detik terakhir saat keputusan hasil sayembara akan diumumkan, datanglah rombongan dari Keraton Sriwedari. Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Prabu Sentanu, seorang duda tua yang juga bertekad mengikuti sayembara. Karena memang keputusan belum ditetapkan, maka raja tua tersebut diberikan kesempatan untuk langsung melawan Pangeran Sumirat.

Di luar dugaan penampilan fisiknya yang sudah renta, ternyata Prabu Sentanu berhasil mengalahkan Pangeran Sumirat. Dengan berat hati Prabu Ambarketawang mengumumkan bahwa pemenang sayembara dan yang berhak menerima kedua putrinya adalah Prabu Sentanu dari Keraton Sriwedari.

Namun seketika mendengar keputusan romonya dan mengetahui bahwa pemenang sayembaranya adalah raja duda yang sudah tua renta, Ambar Kinasih dan Ambar Asmara menyatakan menolak perjodohan tersebut. Mereka berdua memilih untuk meninggalkan arena tempat sayembara berlangsung.

Bagaimanapun nasi telah menjadi bubur, sabda telah dituturkan menjadi ketetapan raja. Meskipun dalam lubuk sanubari terasa berat menerima calon menantua raja duda yang tua renta, namun Prabu Ambarketawang menyanggupi untuk membujuk kedua putrinya untuk dijodohkan dengan Prabu Sentanu. Ia meminta waktu sepasar hari, alias lima hari untuk memberikan pengertian kepada dua putrinya.

Di luar dugaan, atas kedunguan kedua patihnya Prabu Sentanu justru memberikan waktu dua pasar. Ia dibisiki bahwa kalau hanya diberi waktu sepasar, Prabu Ambarketawang akan mengingkari janji dengan hanya menyerahkan satu orang putrinya saja. Jika dua pasar berarti kedua putrinya secara utuh yang akan diserahkan. Inilah awal tragedi, prahara alias ampak-ampak cinta yang menyelimuti langit Karangkates.

Kisah di atas merupakan penggalan cerita awal lakon kethoprak humor berjudul Ampak-ampak Katresnan yang dipentaskan oleh Grup Kethoprak Remaja Kopi Susu Kota Magelang dengan dukungan Teater Bias dan Kelompok Musik Jodhokemil. Kisah yang disutradarai senimana berbakat, Gepeng Nugroho tersebut digelar di Alun-alun Kota Magelang pada Sabtu, 25 Juli 2015 mulai pukul 21.00 WIB hingga selesai. Pagelaran pentas seni kethoprak tersebut merupakan salah satu event dalam mendukung program Ayo Ke Magelang 2015 yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Magelang.

Ngisor Blimbing, 1 Agustus 2015

Merti Jiwo Gunung Tidar

KidungPambukoMerti, sebuah kata dalam khasanah bahasa Jawa. Merti bisa bermakna bebersih, membersihkan diri, atau mensucikan diri. Maka gabungan kata merti jiwo diartikan sebagai sebuah laku untuk mensucikan jiwa atau rohani kita sebagai manusia. Bagi sebagian ummat beragama, bersuci merupakan lelaku yang sangat penting sebagai prasyarat untuk melakukan ritual ibadah tertentu. Contohnya adalah lelaku wudlu bagi ummat Islam.

Wudlu merupakan salah satu tindakan untuk mensucikan diri, baik secara jasmani, terlebih juga sisi rohani seorang hamba. Wudlu dilakukan dengan menggunakan air suci yang harus juga mensucikan. Air dibasuhkan pada kedua tangan sebagai langkah awal untuk bersuci. Air dikumur untuk membersihkan mulut, termasuk kedua lubang hidung. Air dibasuhkan ke seluruh sudut muka agar muka senantiasa bersih dan bercahaya. Lengan tangan hingga batas siku juga dibasuh agar bersih. Selanjutnya rambut dan daun telinga turut dibasuh untuk membersihkan dan menyegarkan kepada hingga ke otak pikiran kita. Terakhir, tentu saja pembasuhan kedua kaki, mulai dari telapak kaki hingga batas mata kaki.

Berkiblat dari lelaku wudlu tadi, bersuci menjadi prasayarat atau gerbang pembuka untuk melakukan lelaku utama atau ibadah. Jika konteks ini diperluas, maka pada setiap aspek kegiatan manusia akan sangat baik jika terlebih dahulu diawali dengan tindakan bersuci. Suci terutama bermakna bersihnya hati nurani, pikiran, tekad, perkataan, hingga perbuatan yang diharapkan dapat memperlancar segala hajat dan urusan yang akan dikerjakan. Bukankah kita sering juga mengawali setiap pekerjaan dengan memanjatkan doa untuk meluruskan niat dan tujuan kita? Banyak juga di kalangan masyarakat tradisional kita yang mengawali masa tanam, membangun rumah, hajatan serta aktivitas yang lain dengan selametan.

Berkaitan dengan hajat Festival Tlatah Bocah ke-8 pada tahun 2014 ini, sudah pasti sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, event akbar kegiatan berbasis tradisi yang didedikasikan untuk anak-anak di selingkaran gunung Merapi inipun akan diawali dengan laku merti jiwo. Sebagai sebuah konsep yang seolah telah disepakati bersama oleh para penggerak Tlatah Bocah, merti jiwo biasanya dilakukan dengan pendekatan dan perenungan diri kepda Tuhan Yang Maha Esa. Tidaklah berlebihan jika gunung sebagai puncak tertinggi struktur bumi dipilih sebagai papan untuk merti jiwo setiap tahunnya.

Setelah seringkali merti jiwo alam rangka pembukaan Festival Tlatah Bocah dihelat di gunung Merapi, khusus untuk tahun merti jiwo sengaja digelar di puncak gunung Tidar. Gunung Tidar sejatinya adalah sebuah bukit kecil di sudut selatan Kota Magelang. Namun demikian, gunung ini dipercaya sebagai puser-nya Tanah Jawa. Gunung inipun diyakini merupakan pakuning bumi Jawa. Tidar memiliki arti magis strategis dalam kesadaran spiritualisme bangsa Jawa, bahkan Nusantara secara lebih luas. Tidar menjadi semacam barometer ketenangan, kestabilan, kententraman, kedamaian dan selanjutnya bagi seantero Nusantara. Anda percaya? Silakan buktikan dan maknai sendiri.

Acara merti jiwo dalam rangka pembukaan Festival Tlatah Bocah ke-8 akan digelar pada Ahad dini hari, 28 September 2014 di puncak gunung Tidar. Acara perenungan panjang akan diisi dengan pembacaan kidung, tembang macapat, dan doa bersama.

Ngisor Blimbing, 22 September 2014

Keris Senopati, Landmark Baru Kota Magelang

Keris1Berbicara tentang keris tentu saja tidak bisa dipisahkan dari adat dan tradisi manusia Jawa. Keris bukan satu-satunya warisan tradisi yang lahir dan hadir hanya dalam khasanah kebudayaan suku Jawa saja, suku bangsa yang lain juga mengenal keris dengan corak atau ragam khas masing-masing. Namun harus diakui bahwa pemaknaan historis dan filosofis bagi manusia Jawa relatif lebih mendalam kalau tidak bisa dikatakan kompleks alias njlimet.

Lebih dari sekedar sebagai senjata tradisional, keris merupakan piandel. Piandel berarti sesuatu yang menjadikan seseorang menjadi lebih kendel, lebih berani namun juga bisa bermakna sebagai perisai atau tameng. Sebagai sebuah piandel, seorang pemegang keris sebenarnya sangat pantang menggunakannya dalam pembelaan diri, kecuali dalam situasi yang sangat mendesak dan sebagai sebuah plihan terakhir. Keris menjadi senjata pamungkas. Dengan demikian, keris lebih berposisi sebagai perlambang pelindung dan puncak kemampuan olah budi maupun olah kanuragan seseorang yang direpresentasikan dalam wujud pamor.

Secara historis kita mungkin telah mengenal berbagai nama keris. Ada keris mPu Gandring di awal berdirinya Kerajaan Singasari. Ada kisah legenda keris Nogososro yang berlatar pemerintahan Kasultanan Demak Bintoro. Keris Brongot Setan Kober yang menjadi senjata utama Adipati Arya Penangsang dan justru merenggut jiwa pemiliknya sendiri pada sebuah pertempuran di Bengawan Sore. Bahkan Keraton Jogjakarta masih terang dengan pamor dari keris Joko Piturun atau Kyai Slamet yang termakhsyur.

Sebagai sebuah hasil karya kriya, keris menjadi puncak pencapaian evolusi teknologi penempaan logam bagi manusia Jawa. Mulai dari penemuan atau pemilihan bahan, cara pembakaran, cara penempaan, hingga cara menghadirkan pamor sebuah keris merupakan sebuah proses fisik dan spiritual yang kaya makna ataupun simbolisasi. Perpaduan antara dimensi fisika dan metafisika, jagad lahir dan batin, material dan spiritual, hingga antara jagad mikrokosmos dan makrokosmos hadir mengisi utuh luk dan pamor sebuah keris. Kompleksitas dimensi sebuah keris menghadirkan berjuta misteri yang terlampau sulit untuk bisa dipahami secara kasat mata, terlebih oleh manusia awam. Tidak mengherankan berbagai keistimewaan keris telah menjadikannya sebagai salah satu warisan adiluhung peradaban manusia yang telah diakui oleh UNESCO.

Keris3Antara keris dan Magelang, adakah hubungannya? Sebagai bagian dari kelompok masyarakat Jawa, manusia Magelang sudah pasti telah mengenal keris dalam kurun waktu yang panjang. Semenjak keberadaan Mataram Kuno di bawah pemerintahan Dinasti Sanjaya maupun Syailendra, terpahat di berbagai relief candi kegagahan para raja dan ksatria yang menyandang senjata keris di pinggangnya. Bahkan kegigihan perjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan imperialisme Kompeni Belanda diabadikan menjadi sebuah patung sang pangeran yang gagah menunggang kuda, dan tak lupa menyandang sebilah keris pusaka di pinggang depannya.

Hanya itu? Tentu saja tidak sedulur. Di sisi barat Kota Magelang, sejajar dengan bentangan Kali Progo, terdapat sebuah ruas jalan yang diberi nama Jalan Senopati. Di samping memang berarti seorang panglima perang, nama Senopati juga memiliki tautan yang sangat erat dengan sosok Panembahan Senopati ing Ngalaga yang juga bernama Sutawijaya. Dialah sosok raja pertama Mataram Islam yang bangkit setelah kejayaan Pajang surut.

Lalu kaitannya Jalan Senopati dengan keris apa? Nah itu dia! Begini sedulur semua, di salah satu tepian ruas Jalan Senopati Kota Magelang inilah kini hadir sebilah keris raksasa yang tegak menunjuk angkasa raya. Dari segi ukuran, keris dimaksud tentu bukan keris yang bisa disandangkan di pinggang. Bayangkan sebuah keris dengan ketinggian tidak kurang dari 12 meter! Berada tepat di sisi gerbang sebuah kawasan hunian baru, keris Senopati ini hadir menjadi sebuah ikon atau landmark baru di sisi barat Kota Magelang. Mungkin juga keris raksasa tersebut disebut sebagai Monumen Keris Senopati.

Tidak tahu persis latar belakang kawasan hunian baru tersebut menghadirkan sebuah ikon keris raksasa. Namun demikian bisa juga keris tersebut sengaja dihubungkan dengan nama Jalan Senopati yang mengacu kepada Panembahan Senopati yang memiliki piandel sebuah keris bergelar Setan Kober yang dilungsurnya dari Adipati Arya Jipang yang tewas di tangannya.

Bagaimanapun asal-usulnya, keberadaan Monumen Keris Senopati di Kota Magelang harus menjadi inspirasi bagi masyarakat setempat untuk menghargai, nguri-uri dan melestarikan semua bentuk warisan adat, tradisi, dan budaya adiluhung yang diwariskan para leluhur di masa lalu. Dan keris menghadirkan simbolisasi dan pamor nilai-nilai luhur tersebut. Monggo sedoyo!

Lor Kedhaton, 4 September 2014

Prepegan Pasar Muntilan

Roda waktu memang tidak bisa ditahan untuk terus bergulir. Ramadhan tahun ini segera akan berlalu. Ujung dari bulan suci tersebut adalah Idhul Fitri, kembalinya manusia kepada kefitrian dan kesucian dirinya. Manusia-manusia baru terlahirkan kembali setelah menjalani berbagai ibadah penyucian diri selama sebulan penuh. Ramadhan dengan segala hiruk-pikuk rangkaian ritual ibadahnya, ada puasa itu sendiri, tarawih, tadarus, takjilan, dan lain sebagainya usai sudah. Masa “sudah” inilah yang menjadikannya disebut sebagai lebaran. Idhul Fitri adalah Hari Lebaran.

Pasar MuntilanLebaran adalah hari kegembiraan bersama. Tidak tua tidak muda, tidak laki tidak perempuan, termasuk anak-anak sudah pasti menyambut lebaran dengan luapan kebahagiaan dan kegembiraan. Bagi kebanyakan orang, terutama bagi anak-anak, lebaran juga sering identik dengan baju baru, celana baru, sepatu baru, sarung baru. Semua hal baru hadir bersamaan datangnya lebaran. Sudah tentu hal yang paling penting adalah hadirnya hati yang baru, yang lebih taat, yang lebih taqwa, yang lebih bijaksana, dan segala hal yang lebih baik. Dan memang usai Ramadhan dan datangnya Syawal harus menjadi penanda terjadinya peningkatan kualitas hidup, secara jiwa dan ruhani, setelah tergapainya predikat taqwa sebagaimana tujuan ibadah puasa Ramadhan.

Nah kembali kepada yang serba baru tadi, baju baru, celana baru, kerudung baru, sarung baru, peci baru, sandal baru, kain baru dan lain sebagainya. Untuk memenuhi serba-serbi kebutuhan baru tadi juga segala hal untuk kebutuhan Idhul Fitri, masyarakat di kampung saya di Tepi Merapi, sengaja mipik untuk berbelanja segala macam kebutuhan lebaran di pasar terdekat.

Khusus di Pasar Muntilan, yang merupakan pasar tradisional di wilayah Kabupaten Magelang, pada hari-hari menjelang lebaran senantiasa dipenuhi warga dari berbagai penjuru kampung. Dari wilayah Dukun, Srumbung, Sawangan, Ngluwar, Mungkid, bahkan Tempel dan Sleman, masyarakat memadati berbagai toko, ruko dan lorong-lorong di sudut pasar. Saking banyaknya pengunjung yang mencari barang kebutuhannya, lorong-lorong pasar menjadi lautan manusia. Mereka berdiri dan berjalan berdesak-desakan. Bahkan untuk sekedar menggerakkan tubuhpun hanya tersisa ruang yang sangat sempit sehingga tak jarang satu sama lain pengunjung saling berhimpitan badan.

Suasana pasar yang pada hari-hari biasa relatif sepi dan tenang, pada hari-hari tersebut menjadi riuh rendah. Suara manusia yang saling bertegur sapa, saling tawar-menawar, pedagang yang menjajakan dagangannya menjadikan pasar seolah kembali “berkumandang“. Hari-hari demikian sering kami istilah sebagai Hari Prepegan.

Prepegan berasal dari kata mrepeg. Mrepeg dalam bahasa Jawa merupakan kata sifat yang menyatakan suatu keadaan. Mrepeg bisa diartikan mendesak, kritis, juga tergesa. Mungkin dikarenakan menjelang lebaran, pikiran masing-masing orang yang datang ke pasar dipenuhi dengan angan dan rencana-rencana untuk mendapatkan barang kebutuhan yang diinginkannya guna menyambut hari kemenangan. Dalam kondisi demikian, dalam diri orang tersebut semacam ada dorongan beban yang ingin segera dituntaskannya. Itulah kondisi sumpeg bin mrepeg yang harus segera dituntaskan. Di sisi lain, secara harfiah, pada Hari Prepegan manusia memang berjubel memenuhi pasar. Suasana pasar bertambah ramai, padat dan mungkin juga sumpeg berdesak-desakan.

Di luar hari-hari biasa, Pasar Muntilan memiliki hari Kliwon sebagai hari pasarannya. Jika hari pasaran merupakan puncak keramaian pengunjung pada setiap sepasar dina (lima harian), maka prepegan justru merupakan puncak keramaian pasar yang berskala tahunan. Hal ini tentu saja tidak dapat dipisahkan dengan akan datangnya Hari Raya Idhul Fitri, yang merupakan hari agung bagi pemeluk agama Islam wabil khusus bagi ummat Islam di Pulau Jawa.

Suasana prepegan pasar yang hiruk-pikuk dengan ribuan pengunjung juga menimbulkan sisi kerawanan. Di tengah lautan manusia yang saling berdesak-desakan tidak jarang hadir tangan-tangan jahil bin kriminil yang memanfaatan keadaan. Maka tidak mengherankan pada saat prepegan tersebut sering terjadi tindakan kriminal, dari pencopetan, pencurian, penjambretan, bahkan gendam atau hipnotis. Di sinilah setiap pengunjung pasar harus benar-benar waspada dan berhati-hati dengan segala barang berharga dan uang yang dimilikinya. Salah-salah jika pengunjung teledor atau terlena sehingga kehilangan kewaspadaan, bukannya terpenuhi kebutuhan lebarannya tetapi justru kehilangan barang miliknya entah kecopeten atau kecurian.

Lepas dari itu semua, suasana prepegan pasar yang hanya hadir pada hari-hari menjelang Hari Lebaran memang sangat khas dan unik di masing-masing daerah. Hal inilah yang menjadikan banyak orang, terlebih para perantau di luar daerah, yang justru merindukan keramaian dan hiruk-pikuk suasa prepegan. Sampeyan pernah juga merasakannya?

Lor Kedhaton, 24 Juli 2014

Lima Gunung Turun Gunung Berkenduri Cinta

Lima Gunung KC3Indonesia memang dikenal sangat kaya dengan gunung-gunungnya. Ada sebagian diantara yang masih aktif, ada pula gunung-gunung dalam fase istirahat. Ada satu daerah yang terkenal dikelilingi oleh beberapa gunung yang melingkar bagaikan rangkaian gelang raksasa maha gelang. Daerah itulah yang kini bernama Magelang, sebuah wilayah dataran tinggi yang di lingkupi lima gunung, meliputi Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan pegunungan Menoreh. Di lingkungan yang penuh aura energi alam inilah terbentuk Komunitas Lima Gunung.

Komunitas Lima Gunung merupakan paguyuban para seniman di lereng dan pucuk-pucuk gunung yang mengelilingi wilayah Magelang. Tanah yang subur, air yang melimpah, hawa udara yang sejuk, serta limpahan abu Merapi menjadikan wilayah ini menjadi sentra pertanian yang utama di Jawa Tengah. Maka tidaklah mengherankan jika sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Komunitas Lima Gunung memang merupakan komunitas para petani gunung yang berkesenian.

Lima Gunung KC2Adalah nama seniman Sutanto Mendut yang mandegani terbentuknya Komunitas Lima Gunung. Dengan naluri seninya ia menggandeng beberapa seniman lokal yang masing-masing mewakili tokoh di penjuru lima gunung. Ada Sitras Anjilin dari Padepokan Tjipto Budoyo di lereng Merapi, Sujono dari Sawangan dan Riyadi di kaki Merbabu, Supadi dari Mantran di tepi gunung Andong, Pangadi wakil dari lereng Sumbing, Ki Jowongso Sumimpen, beberada tokoh seniman yang lain.

Pertanian dan kesenian bagi Komunitas Lima Gunung merupakan satu kesatuan jiwa raga, jasmani ruhani, fisik dan psikis, sekaligus antara makhluk dan sang khaliknya. Talenta dan naluri para petani gunung tersebut sesungguhnya lahir dari kandungan anugerah alam yang tiada terkira. Seni dan tradisi telah menjadi bagian hidup sehari-hari. Hal inilah yang menjadikan mereka adalah para manusia yang tetap menjadi manusia sejati ditengah terpaan jaman edan globalisasi yang telah mengikis habis identitas maupun karakter dan jatidiri banyak kelompok masyarakat.

Lima Gunung KC4Secara rutin pada setiap tahun Komunitas Lima Gunung menggelar Festival Lima Gunung yang telah dimulai tahun 2002. Dalam festival ini dipentaskan kreasi seni karya para seniman lima gunung. Ada seni kethoprak, wayang orang dan wayang kulit, jathilan, soreng, topeng ireng, dan pementasan berbagai tarian khas lima gunung. Seniman Lima Gunung memang terus dinamis dalam menjalani proses kreatif seninya. Melalui tangan-tangan cekatan mereka telah lahir berbagai tarian kreasi baru dengan nilai cita dan cipta rasa yang sangat tinggi sebagaimana tingginya gunung yang melingkari wilayah tinggal mereka. Sebut saja diantara ada tari kembang gunung, warok hiphop, sekar kipas, soreng, jaran kepang, juga geculan bocah. Tarian-tarian itulah yang sempat menggebrak panggung pelataran Taman Ismail Marzuki pada pagelaran HUT Komunitas Kenduri Cinta ke-14 pada Senin malam, 16 Juni 2012 yang lalu.

Persahabatan Budayawan Emha Ainun Nadjib dan Ki Jowongso Sumimpen alias Sutanto Mendut yang telah terjalin sekian lama nampak semakin menemukan momentum kehangatannya tatkala keduanya duduk berdampiang di sudut panggung sambil menghantarkan sajian satu per satu tarian khas dari Lima Gunung.

Lima Gung KC1Adalah Cak Nun yang senantiasa mengajak setiap jamaah Maiyyah yang hadir untuk tidak hanya sekedar terbuai menikmati ketakjuban sebuah sajian karya seni yang dipentaskan pada malam itu. Setiap hal, setiap peristiwa yang dilihat, dirasa dan dijalani harus dipetik makna untuk ditadaburi. Setiap gerak, nafas, serta ekspresi para penari dicoba untuk diurai satu per satu spirit dan maknanya. Hanya dengan cara demikian manusia dapat belajar untuk menemukan kesejatian nilai dalam setiap sisi kehidupan di dunia.

Di tengah jeda pementasan beberapa tarian, Cak Nun mengajak beberapa penari dan hadirin melakukan workshop serta tanya jawab sederhana. Satu per satu dari masing-masing jenis tarian diurai unsur gerak, mimik wajah, bahkan ekspresi secara keseluruhan. Dalam tari warok hiphop, ditampilkan pasangan remaja dan anak-anak yang menari dengan membusungkan dada serta mulut mecucu (menggelembungkan pipi). Ada pula adegan adu muka dan badan dua bocah terkecil dengan penuh keberanian. Dalam ekspresi demikian, hadirin banyak yang menyampaikan pendapat soal kejantanan, kepercayaan diri, teguh dalam pendirian, juga menantang jaman. Inilah ekspresi manusia ksatria.

Lima Gunung KC5Hal yang serupa juga ditunjukkan dalam gerakan tari soreng yang menggambarkan kegagahan para perwira muda yang gagah perkasa. Tubuh yang kekar, perawakan yang tegar, kumis yang mbaplang, serta gerak tubuh yang micara benar-benar menghadirkan sosok prajurit ksatria yang siap hidup mati membela nilai keadilan dan kebenaran. Inilah sesungguhnya jati diri bangsa Indonesia. Sifat dan sikap ksatria adalah karakter utama bangas Nusantara. Sayangnya pada masa-masa sekarang justru nilai-nilai ksatria itu telah dilupakan, dipinggirkan, dibuang, bahkan dicampakkan. Maka tidaklah mengherankan jika yang tersisa adalah manusia-manusia yang serakah, korup, culas, licik dan segudang sikap yang semakin merendahkan martabat ataupun derajat kemanusiaan.

Di Bawah Bayang-bayang Ksatria, itulah tema yang diangkat dalam edisi HUT ke-14 Kenduri Cinta yang sekaligus menjadi momentum untuk kembali menakar derajat ksatriaan para anak bangsa. Jika masyarakat di puncak-puncak gunung masih teguh memegang nilai dan tradisi luhur yang mencerminkan pengamalan sifat dan sikap ksatria sejati justru di kalangan masyarakat kota, kaum elit dan kaum terdidik nilai-nilai itu dianggap kuno atau bahkan usang. Jargon ksatria hanya dipolitisasi untuk strategi pencitraan dalam rangka meraih kursi kekuasaan.

Lima Gunung KC6Maka tatkala kursi kekuasaan itu benar-benar telah diduduki para ksatria palsu, apakah akan terjadi perubahan yang membawa kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Nusantara ini? Ah…yang realistis saja to kita ini! Bukankah kita hanya terus dibohongi dan kembali dibohongi lagi dari masa ke masa? Dengan demikian, di tangan akar rumput, di pelosok-pelosok kesunyian gunung-gunung yang menjulang tinggi dimana para ksatria sejati bersemayam, sebagaimana Komunitas Lima Gunung tinggal, bukan tidak mungkin perubahan akan benar-banar terjadi melalui perantara mereka pada saatnya mereka turun gunung untuk memberantas keangkara-murkaan di muka bumi ini. Monggo merenung kembali sebagaimana gunung yang melengkung.

Ngisor Blimbing, 18 Juni 2014

Mahasraddha Banawa Sekar

Menarik dan menggelitik uraian artikel pengantar yang ditulis oleh Budayawan Emha Ainun Nadjib untuk acara pisowanan agung Banawa Sekar yang akan diselenggarakan tepat pada peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, 27 Mei 2014 pekan depan. Di tengah hiruk-pikuk situasi politik menjelang pemilihan presiden, justru sekelompok kumpulan komunitas justru berikrar meng-isra’ mi’raj-kan Nusantara. Tidak tanggung-tanggung seluruh simpul jaringan Maiyyah Nusantara, seperti Kenduri Cinta Jakarta, Gambang Syafaat Semarang, Mocopat Syafaat Jogjakarta, Padhang Mbulan Jombang, Bangbang Wetan Surabaya, Paparandeng Ate’ Mandar dan beberapa elemen lain akan berkumpul dalam Pisowanan Agung di Pendopo Agung Majapahit di Trowulan, Mojokerto.

Ada beberapa kata kunci penting yang terdapat dalam tulisan pengantara Cak Nun, yaitu mahasraddha, banawa, dan sekar. Ketiga kata kunci tersebut memiliki muatan makna dan hikmah yang sangat dalam dalam konteks sejarah Majapahit, Nusantara dan Indonesia di masa kekinian. Hal ini sangat berkaitan erat dengan perjalanan laku kehidupan manusia. Sebuah lelaku sangkan paraning dumadi, dari tiada menjadi ada untuk kemudian menjadi tidak ada kembali. Konsep ini sangat senafas dengan ajaran inna lillahi wa innailaihi raji’un dalam Islam.

Baiklah coba kita uraikan satu per satu kata-kata kunci tersebut. Mahasraddha merupakan gabungan dua kata. Maha yang berarti sesuatu yang paling, sebuah ungkapan pengakuan lahir dan batin seorang manusia terhadap sesuatu yang berada di luar ukuran pencapaian nalar dan akal sehatnya. Ungkapan tentu saja sering dilekatkan kepada sifat-sifat Allah, seperti Maha Besar, Maha Suci, Maha Pengasih, dan lain sebagainya. Adapun kata sraddha, dalam bahasa Jawa Kuno memiliki makna sebagai perilaku suci untuk mengenang, mendoakan, ataupun memuliakan roh-roh leluhur yang sudah bersemayam di alam baka.

Sraddha kemudian menjadi upacara suci untuk memperabukan abu jenasah para leluhur yang sering kemudian dimonumentalkan dalam bentuk candi. Sempat dikisahkan dalam catatan sejarah, Raja Hayam Wuruk, Raja Majapahit ke-4, melakukan upacara sraddha dalam rangka penghormatan dan peringatan terhadap roh suci neneknda Gayatri pada tahun 1350 dan untuk ibunda Tribhuawana Tungga Dewi pada tahun 1362. Upacara sraddha sebagai wujud peringatan terhadap arwah raja-raja leluhur Majapahit disebutkan di dalam kidung Banawa Sekar karya Mpu Tanakung.

Banawa SekarPada saat Wali Songo mendakwahkan Islam di Tanah Jawa, ajaran mengenai penghormatan terhadap orang tua atau para leluhur, diselaraskan dengan kewajiban anak untuk berbakti dan berdoa kepada orang tua, bahkan setelah mereka menjadi ruh di alam kubur. Adalah doa dari anak sholekh dan sholekhah bisa menjadi amalan jariyah yang tidak akan putus dan dapat menjadi penerang bagi arwah para leluhurnya tatkala berada di alam barzah. Muncullah tradisi yang menyerap kata sraddha menjadi nyadran. Tradisi ini masih hidup di tengah masyarakat yang sering diselenggarakan pada bulan Arwah atau Ruwah, satu bulan menjelang bulan Ramadhan.

Banawa berarti perahu atau kapal. Sekar bermakna bunga, kembang, atau puspa. Sebagai uba rampe atau perangkat perlengkapan upacara sraddha memang disertakan perahu yang ditutup dengan hiasaan bunga tujuh rupa sebagai tempat sesaji yang selanjutnya dilarung, dilabuh atau dihanyutkan di sungai, telaga ataupun samudera. Banawa sekar merupakan perlambang penyatuan bumi dan air, antara daratan dan samudera. Tegaknya kekuasan Majapahit di bumi Nusantara merupakan integrasi kekuatan darat yang dipersonifikasikan Maha Patih Gajah Mada dan kekuatan maritime yang dipimpin Laksamana Nala.

Dengan demikian ungkapan mahasraddha banawa sekar secara luas dapat dimaknai sebagai perjalanan dan laku batin untuk kembali menggali akar kesejarahan Nusantara agar jatidiri bangsa kita temukan kembali untuk menjadi modal penentuan arah haluan kapal menuju masa depan. Hanya dengan mengenal secara baik asal-usul, sangkan, kesejarahan, darimana kita berasal dan lahir, maka manusia akan dapat merumuskan dan mengarahkan langkah kaki ke masa-masa yang akan datang, kepada paraning dumadi. Darimana, dimana, dan kemana langkah perjalanan hidup ini akan kita bawa.

Dalam konteks carut-marutnya tatanan kehidupan Negara Indonesia yang semakin ruwet ini, melalui berbakai usaha dan ikhtiar kita memang terus melakukan upaya-upaya membangkitkan kembali jatidiri Nusantara sebagai bangsa yang besar. Namun tatkala justru para pemimpin, penguasa dan tokoh elit negeri ini semakin pongah serta lupa daratan, maka diperlukan spektrum kesadaran untuk mengungkapkan inna lilallahi wa inna ilaihi raji’un. Segalanya berasal dari Allah dan segalanya akan kembali juga kepada-Nya.

Mahasraddha banawa sekar semoga bisa menjadi titik refleksi perjalanan Nusantara. Dari titik inilah bisa jadi perubahan yang nyata bagi bangsa ini justru akan dimulai. Semoga.

Lor Kedhaton, 23 Mei 2014

Lutungan: Seni Tradisi Kreasi Tepi Merapi

Lutung5Akh, bicara tentang kekayaan dan keragaman seni tradisi di Bhumi Nusantara memang tidak akan pernah ada kiamatnya. Salah satu yang mungkin belum banyak pihak yang mendokumentasikannya adalah seni lutungan. Lutungan? Ada to seni lutungan? Seperti apakah bentuk seni yang satu ini?

Dalam khazanah zoologi, yaitu cabang ilmu biologi yang mempelajari hewan atau binatang, kata lutung mungkin tidak begitu asing. Lutung merupakan salah satu spesies monyet yang memiliki kekhasan berupa warna bulunya yang hitam legam namun sangat mengkilat. Dalam khazanah dongeng warisan nenek moyang, ada sebuah kisah berjudul Lutung Kesarung. Secara singkat, Lutung Kesarung merupakan penjelmaan seorang pangeran yang dikutuk menjadi seekor monyet hitam. Ia hanya dapat bebas dari kutukan jahat tersebut apabila ada seorang gadis yang menyatakan cinta kepadanya. Lalu seni seperti apakah lutungan itu?

Lutung alias si monyet hitam tentu saja termasuk binatang yang sangat pandai memanjat pohon. Bahkan dengan kegesitan dan kelincahan gerak tubuhnya, ia sangat lihai melompat dari satu dahan pohon ke pohon lainnya, seolah tengah melakukan atraksi di panggung sirkus. Maka Anda tidak akan salah tebak jika mengkaitkan seni lutungan dengan pohon dan panjat-panjatan.

Dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI, sudah sangat umum diperlombakan lomba panjat pinang. Panjat pinang merupakan luapan kegembiraan anak bangsa dalam mensyukuri kenikmatan pencapaian kemerdekaan. Dengan berbagai hadiah perlombaan yang digantungkan di atas pucuk pohon pinang yang telah dilumuri dengan oli yang sangat licin, para peserta panjat pinang saling berebut untuk naik menjadi sang juara. Bayangkan, ada pakaian, sepatu, tas, rice cooker, kipas angin, aneka jajanan, bahkan sepeda ataupun voucer sepeda motor. Semakin kaya penyelenggara panjat pinang atau para sponsor di belakangnya, hampir dipastikan hadiahnya semakin banyak dan meriah.

Lutung4 Lutung2

Lalu bagaimana hubungan antara lomba panjat pinang dengan seni lutungan tadi? Tentu saja hubungannya sangat erat sekali. Lomba panjat pinang dengan puluhan peserta yang saling berebut memanjat pohon pinang licin dan saling bersaing dengan cara saling menginjak satu sama lain adalah sebuah pemandangan biasa hampir di seluruh pelosok tanah air. Akan tetapi pernahkan Sampeyan melihat para peserta panjat pinang yang seluruh permukaan tubuhnya berwarna hitam semua. Tidak hanya saling berebutan untuk menjadi pemanjat pertama yang sampai di puncak kemenangan dengan meraih hadiah utama, justru mereka juga melakukan tarian-tarian atraktif sambil mengelilingi kalangan pohon pinang. Tidak hanya ramai dengan sorak-sorai penonton yang mengelu-elukan jagoan juaranya, bahkan kalangan panjat pinang itupun hingar-bingar dengan tetabuhan gamelan, ada bedug, bendhe, saron, juga angklung dan rebana. Itulah seni lutungan yang sedang saya bicarakan.

Lutungan di masa lalu tentu saja tidak segemebyar lutungan di masa kini. Dahulu, di kala perlengkapan untuk menghias badan dirasa belum terjangkau, para lutung, demikian para pemain panjat pinang disebut, hanya menghitamkan kulit tubuh mereka dengan olesan angus dari arang yang benar-benar hitam legam, namun sekaligus kotor. Para lutung bertelanjang dada, seluruh kulit bagian dada, punggung, tangan, hingga muka dan telinga ditutupi dengan angus hitam legam.

Lutung6 Lutung3

Dengan iringan hentakan bedug yang keras dan disertai nyanyian pepujian sebagaimana halnya seni Kobra Siswa, para lutung membentuk formasi barisan dengan aneka ragam gerakan kreasi. Gerak terpadu yang dinamis menjadikan lomba panjat pinang dalam bingkai seni lutungan tidak hanya sekedar sebagai sebuah tontonan perlombaan. Setelah mencapai puncak tarian, barulah satu per satu secara bergiliran lutung-lutung itu mendapatkan giliran untuk mencoba memanjat pohon pinang yang licin dilumuri oli cair tadi.

Batang pohon pinang yang licin tentu saja sangat sulit untuk dipanjat. Satu per satu, sekali-dua kali, para lutung itu gagal. Mereka kembali menari dengan formasi tarian yang lain. Dua-tiga putaran tarian, para lutung mencoba lagi untuk memanjat. Satu per satu lutung naik, sedangkan para lutung lainnya bekerjasama saling mendukung dari bawah. Dalam lutungan, justru sangat nampak kebersamaan dan semangat gotong-royong sebagai pesan moral dari pertunjukan yang bermuatan pesan tuntunan yang sangat dalam tersebut.

Lutung1Ketika ada salah satu lutung yang mencapai puncak pohon pinang, maka iapun hanya mengambil hadiah utama dan harus turun untuk digantikan dengan lutung yang lainnya. Demikian seterusnya, hingga sampai di puncak acara, maka seekor lutung akan menjadi pemborong hadiah yang akan dimasukkannya di dalam kantong atau karung yang nantinya akan dibagikan rata kepada semua lutung yang telah turut kerja keras sebagai sebuah tim besar. Inilah makna tentang kerja sama dan pemerataan hasil dari sebuah pekerjaan besar yang dikerjakan bersama-sama. Meskipun semua lutung tidak mendapatkan bagian yang sama persis, namun nilai keadilan dan sportivitas sangat dijunjung tinggi dalam pertunjukan lutungan.

Dalam kemasan pertunjukan lutungan, hingar-bingar tetabuhan gamelan seringkali ditambah meriah dengan rangkaian berondongan mercon atau petasan yang sengaja disulut di tengah–tengah kalangan. Tidak ketinggalan luncuran kembang api yang menghiasi langit dengan warna-warni pelangi dan menghasilkan lukisan cahaya di atas angkasa langit yang berlatarkan warna hitam kelamnya malam hari.

Lutung7Tidak hanya terhenti dengan perolehan hadiah yang murah meriah, gamelan yang riuh dan ledakan petasan serta kembang api yang hingar, tarian lutungan menjadi semakin semarak, bahkan terkesan sangat mistik, tatkala sebagian dari para lutung ndadi alias trance. Dalam soal dadi-mendadi ini, lutungan tidak berbeda dengan seni tarian kolosal Jawa yang lain, seperti jathilan, reog, kuda lumping, campur, kobra siswa, ataupun ndayakan. Seseorang yang ndadi bagaikan kesurupan roh-roh halus yang memompakan kekuatan penuh kepada para lutung. Gerakan dan tarian para lutung seringkali sudah di luar kendali dari masing-masing personil. Bahkan tidak sedikit diantara para lutung yang ndadi tersebut meminta bermacam-macam suguhan, seperti air putih, kembang tujuh rupa, kelapa muda, kemenyan, bahkan pernah ada yang meminta bendera merah putih untuk dia hormati dan dicium penuh rasa penghormatan serta semangat patriotisme yang berkobar meluap-luap. Maka dalam perhelatan lutungan, kehadiran seorang pawang ruh halus sangat memegang peranan yang sangat penting. Sampeyan penasaran dengan lutungan?

Di Kronggahan, salah satu dusun di Tepi Merapi senantiasa dipentaskan seni lutungan pada rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI. Monggo dipersilakan rawuh untuk menuntaskan rasa penasaran Anda.

Ngisor Blimbing, 15 September 2013

Omah Limasan, Simbol Kearifan Lokal yang Tersisa

Negara kita memang terdiri atas berbagai suku bangsa. Hampir setiap suku bangsa yang ada memiliki ciri tradisi, adat istiadat, dan budayanya masing-masing sebagai identitas atau jati diri. Diantara ciri khas jati diri tersebut adalah bahasa, pakaian, tarian, serta rumah adat. Jika orang Minang punya rumah gadang, suku Dayak memilik rumah kalang, maka orang Jawa memiliki rumah adat yang berbentuk rumah Joglo. Joglo, sekedar othak-athik gathuk, mungkin berasal dari kata Jogja-Solo. Hal ini sangat logis mengingat dinasti penerus Mataram yang berkedudukan di keraton Jogja dan Solo merupakan trah utama yang menjadi garda terdepan dalam pelestarian adat dan budaya Jawa.

Omah LimasRumah Joglo sesungguhnya bukanlah menjadi mayoritas bangunan rumah yang ditinggali warga suku Jawa. Struktur lengkap sebuah rumah Joglo meliputi beberapa bagian, yaitu pendopo, pringgitan, dan dalem sebagai bagian utama di tengah kompleks rumah secara keseluruhan. Struktur bangunan utama tersebut ditambah dengan gandok, gadri, dan pakiwon yang mengitari di sisi kanan, kiri, dan bagian belakang. Dengan kelengkapan struktur bangunan tersebut dapat dipastikan bahwa sebuah bangunan rumah Joglo yang lengkap akan membutuhkan area tanah atau lahan yang cukup luas. Contoh paling nyata bangunan rumah Joglo yang terlengkap adalah bangunan keraton yang saat ini masih tersisa di Jogjakarta dan Surakarta.

Rumah Joglo yang gagah itu biasanya dibangun dengan bahan ataupun kayu-kayu pilihan. Kayu jati, sonokeling, nangka, dan jenis kayu ulet lainnya biasa menjadi penopang utama struktur bangunan rumah Joglo. Mulai dari soko guru, ander-ander, blandar, kusen, dinding, hingga atap sirap dibuat dari kayu-kayu plihan tersebut. Kebutuhan lahan yang luas dan bahan bangunan yang serba pilihan manjadikan biaya pembangunan rumah Joglo menjadi tidak murah dan jauh dari jangkauan warga biasa. Rumah Joglo menjadi terbatas hanya dibangun dan dimiliki oleh kalangan tertentu, seperti para bangsawan dan kaum ningrat, para pangreh pamong praja, serta kaum terpandang yang memiliki kelimpahan harta atau kedudukan pangkat jabatan yang tinggi. Selebihnya, sebagaimana kebanyakan masyarakat di pedesaan, mereka lebih umum tinggal di rumah yang lebih dikenal sebagai omah limasan.

Omah limasan merupakan satu bangunan tunggal, dengan ciri utama bagian atap terdiri atas empat sisi empyak. Dua sisi empyak di bagian paling depan dan belakang lebih mendatar, sedangkan sepasang empyak di bagian tengah lebih curam, bertemu di bagian puncak omah keong, sekaligus membentuk struktur limas dengan lima sisi.

Sebagai penopang struktur atap, di pusat bangunan terdapat empat buah soko guru yang dilengkapi dengan 14 soko pendamping. Hal ini melambangkan keberadaan sekawan keblat gangsal pancer, yang merupakan perlambang empat arah mata angin dan penjuru dunia kehidupan manusia. Secara vertikal, bangunan omah limasan dapat dibagi menjadi tiga bagian utama, masing-masing bantala atau tanah, struktur penegak, dan bagian atap. Gambaran ini secara filosofi merupakan warisan nilai-nilai Budha dengan perlambang alam kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Struktur itupun juga menyimpan nilai ajaran Hindu mengenai konsep tri hita karana, pembagian jagad menjadi jagad palemahan, pawongan, dan parahyangan.

Setelah kedatangan Islam, bangunan rumah suku Jawa merupakan penggabungan nilai-nilai kepercayaan yang telah ada sebelumnya yang dipadu dengan nilai-nilai ketauhidan Islam. Omah limasan berpijak pada bantala, tanah rata yang ditinggikan dari tanah di sekitarnya dan menjadi dudukan struktur bangunan. Manusia berasal dari tanah yang merupakan unsur utama pembentuk bumi. Di bumilah manusia diperintahkan sebagai kalifatullah fil ardzi, untuk memakmurkan bumi dengan menebarkan spirit rahmatan lil’alamin.

Soko guru dan soko-soko pendamping yang ditopang dengan ompak dari batu merupakan struktur penegak. Bagian ini menjadi perlambang penggapaian nilai luhur sebagaimana ajaran yang dituntunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa melalui para Rasul dan Kitab-Nya. Bentuk soko yang tegak, kuat dan lurus mengajarkan kekuatan serta kebulatan niat, tekad, dan tindakan dalam menggapai kesejatian hidup, baik di dunia maupun di alam akhirat.

Omah Limas1Sedangkan bagian atap merupakan cita-cita tertinggi pencapaian hidup manusia. Sebagai bagian dari ruh Tuhan yang ditiupkan ke dalam wadag seorang janin di alam rahim, maka manusia memiliki kecenderungan sifat dan fitrah untuk mendekat atau menggapai nilai-nilai ke-ilahian (transenden). Atap menjadi penghubung menyatunya bumi dan langit. Dengan demikian, atap menjadi perlambang menyatunya sifat insaniah dan keilahiahan manusia dengan sang pencipta alam semesta, manunggaling kawulo gusti.

Secara horisontal, omah limasan terbagi menjadi beberapa petak ruang. Di bagian paling depan merupakan tritikan atau teras. Teras merupakan bagian rumah terbuka dan menjadi area publik. Di tempat ini sering dipasang lincak, seperangkat kursi, ataupun amben kecil, untuk berbagai keperluan. Aktivitas keseharian yang bersifat santai dan nonformal banyak dilakukan di tempat ini, mulai dari sekedar duduk dan berbincang, pepetan mencari kutu rambut bagi kaum ibu, hingga tempat leyeh-leyeh melepas penat sehabis seharian bekerja di sawah sambil nglaras uyon-uyon atau campur sari.

Batas bagian luar dan dalam omah limasan dibatasi dengan papan blabak ataupun anyaman dinding gedhek. Melalui pintu utama di bagian depan, dari tritikan kita akan memasuki ruang dalam utama. Ruang utama merupakan bagian terluas dari omah limasan. Ruang utama menjadi ruang keluarga, sekaligus tempat untuk menerima tamu secara formal. Di tengah ruang utama, berdiri kokoh soko guru yang mengajarkan kekuatan untuk bersatu padu diantara semua anggota keluarga. Di samping terdapat seperangkat kursi tamu, di ruang inipun biasa terdapat amben gedhe.

Sedikit masuk lebih ke dalam, terdapat tiga buah ruang bilik atau kamar dalam yang sering disebut sebagai senthong, ada senthong tengah yang diapit oleh senthong tengen dan kiwo. Senthong tengah merupakan pusat kesakralan dan kesucian rumah tangga. Tempat ini biasa dipergunakan untuk beribadah, atau mushola di dalam rumah. Adapun senthong tengen ataupun kiwo biasa difungsikan sebagai kamar tidur kaum perempuan maupun tempat penyimpanan barang berharga ataupun persediaan bahan makanan. Melengkapi struktur bangunan omah limasan di sisi belakang ataupun samping adalah dapur dan pakiwon. Di pakiwon biasanya terdapat sumur dan padasan untuk mengambil air wudhu. Di masa kini, pakiwon kebanyakan berwujud kamar mandi yang dilengkapi sarana kakus.

Di dalam omah limasan terdapat pembagian ruang aktivitas yang berimbang untuk anggota keluarga laki-laki dan perempuan. Seorang laki-laki sebagai kepala rumah tangga memiliki tugas utama mencari nafkah di luar rumah. Sedangkan kaum perempuan lebih banyak memegang peranan untuk mengurus rumah tangga dengan segala hal yang terkait. Ruang utama, senthong, pawon hingga pakiwon merupakan domain perempuan yang bertanggung jawab untuk merawat dan memelihara kebersihan serta kerapiannya. Seorang ibu rumah tangga memiliki “kekuasaan” penuh dalam hal pengaturan rumah tangga secara internal. Di sinilah sebenarnya nenek moyang kita telah mengajarkan pembagian peran antara kaum pria dan perempuan secara sejajar, adil, serta berimbang untuk secara terpadu menjunjung tinggi kebersamaan sebuah keluarga yang harmonis.

Globalisasi memang terus menggerus warisan luhur nenek moyang. Tidak hanya di kota, bahkan di dusun-dusun terpencil kini telah menjamur rumah-rumah dengan gaya arsitektur modern. Keberadaan omah limasan semakin terdesak dan menjadi sesuatu yang semakin sulit untuk menyisakan diri. Kemodernan memang sebuah keniscayaan jaman. Namun akankah nilai ajaran luhur yang diajarkan para leluhur melalui bangunan omah limasan masih akan dapat bertahan sebagai sebuah nilai yang abadi tak lekang oleh jaman?

Ngisor Blimbing, 6 Maret 2013

Tradisi Ujung, Mempererat Kekerabatan

Sebulan penuh ummat Islam berpuasa di bulan Ramadhan. Segala amalan ibadah telah tuntas dilaksanakan. Tarawihan, tadarusan, i’tikaf, yang dipuncaki dengan ditunaikannya zakat fitrah. Tibalah hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri yang juga dikenal sebagai Hari Lebaran. Senja selepas adzan Maghrib dikumandangkan di hari akhir puasa, menggemalah lantunan takbir, tahmid, dan tahlil semalaman penuh. Itulah wujud rasa syukur dan kegembiraan ummat Islam yang telah tunai berpuasa sebulan penuh.

Ujung4

Islam senantiasa mengajarkan keseimbangan dalam dimensi pelaksanaan ibadah. Selain berdimensi akhirat atau ukhrawi, setiap ibadah juga mengandung nilai keduniawian. Sebagai contohnya adalah puasa Ramadhan. Puasa, secara ukhrawi, diperintahkan kepada orang yang beriman untuk meraih derajat ketaqwaan yang lebih tinggi. Dengan puasa manusia dilatih bersabar dalam menghadapi setiap cobaan hidup. Inti dari nilai puasa adalah pengendalian diri terhadap nafsu-nafsu yang menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan yang merugikan, baik terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan, maupun Tuhan. Namun puasa juga memiliki dimensi kemanusiaan. Melalui puasa, ummat Islam dilatih merasakan rasa haus dan lapar sebagaimana banyak orang-orang di sekitar yang nasibnya kurang beruntung. Di dalam bulan Ramadhanpun, ummat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal shodaqoh, infaq, dan zakat, baik zakat mal maupun zakat fitrah. Hal ini menandakan bahwa ibadah puasa berdimensi akhirat sekaligus dunia sebagai inti ajaran Islam yang menata keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas.

Sebagai bentuk penghapusan dosa dan penyucian diri secara utuh, maka manusia tidak hanya cukup bertaubat atau memohon ampun atas segala dosa kepada Allah SWT. Manusia yang merupakan makhluk sosial senantiasa bergaul dalam anggota kelompok masyarakat yang lain dalam kehidupan sehari-sehari. Menyempurnakan ampunan dosa dari Allah, maka manusia juga sudah seharusnya memohon maaf dan saling memaafkan kesalahan diantara sesamanya. Tradisi Lebaran dengan segala macam ragam caranya telah menuntunkan pentingnya halal bil halal untuk melakukan maksud tersebut. Salah satu ragam tradisi lebaran yang masih hidup di kalangan masyarakat kita adalah “ujung”.

Ujung1

Tradisi ujung banyak dikenal dan diamalkan di selingkaran Merapi, daerah kampung halaman kami. Selepas menunaikan sholat Idul Fitri, baik di tanah lapang maupun di masjid-masjid, ummat Islam berdiri saling bersalaman satu sama lain sambil melantunkan sholawat yang diiringi dengan tabuhan irama bedug sambil membentuk kalangan lingkaran yang sangat besar. Lingkaran ini seolah simbol menyatunya siklus kehidupan manusia dalam rangkaian persatuan dan kesatuan ummat yang kokoh nan kuat.

Selepas saling bersalaman di tempat sholat Idul Fitri tersebut, ummat Islam di daerah kami merasa belum syah permintaan maafnya diantara anggota keluarga, tetangga, dan kerabat sebelum saling mengikrarkan secara lisan sambil ndada, mengakui kesalahan masing-masing. Adab yang berlaku adalah yang muda mendatangi yang lebih tua atau dituakan. Anak kepada orang tua, istri kepada suami, cucu kepada kakek-nenek, demikian seterusnya. Yang utama dan pertama dilakukan biasanya adalah saling memaafkan diantara keluarga sendiri. Setelah itu barulah saling berkunjung kepada sanak tetangga dalam wilayah satu dusun, komplit tanpa terlewati satu rumahpun.

Maka suasana lebaran bagi dusun kami merupakan suasana kegembiraan yang luar biasa selama hampir tujuh hari penuh. Padusunan yang biasa lengang nan sepi, pada hari itu seolah nampak sumringah, hidup, berseri, dan ramai oleh hilir-mudik anak-anak dan muda-mudi yang saling berkunjung antar rumah untuk ujung. Jika pada hari-hari biasa kami disibukkan oleh rutinitas urusan pekerjaan masing-masing. Yang tani sibuk dengan olah taninya, yang pedagang sibuk dengan bakulannya, yang guru sibuk dengan tugas ngajarnya, yang pegawai kantoran sibuk dengan pekerjaanya, dan lain sebagainya, maka lebaran memberikan ruang khusus untuk menanggalkan semua kesibukan tersebut. Suasana menjadi lebih lengkap dan berarti dengan mudiknya warga dusun yang sekian lama merantau di tempat jauh.

Ujung2 Ujung3

Ujung dikenal juga dengan badan, balal, atau halal bi halal. Tidak ada laku ataupun tata cara yang terlampau khusus dalam ujung. Setelah mengucapkan salam ataupun kulo nuwun kepada tuan rumah, para tamu akan dibageke, ditanyakan kabar baiknya, termasuk keluarga lain yang tidak ikut sowan atau bertandang untuk ujung. Sambil menyalami para sesepuh, kami diajarkan sungkem untuk memberikan penghormatan. Selepas itu kami ungkapkan ikrar pengakuan kesalahan, baik yang sengaja maupun karena kekhilafan selama setahun ke belakang.

Selanjutnya giliranlah para sesepuh yang kami sungkemi memberikan jawabnya. Merekapun menerima ungkapan salam penghormatan kami dan juga mengungkapkan permohonan maaf atas kesalahan maupun dosa selama setahun. Berbeda dengan kaum muda yang terhenti pada pengungkapan salah dan dosa, maka para sesepuh selanjutnya memberikan doa dan pengharapan kebaikan, kesuksesan, termasuk keselamatan hidup dunia hingga akhirat kepada yang menyalaminya. Bukankah doa dari para sesepuh yang alim dan bijak, serta telah menyerap berbagai pengalaman pengamalan ibadah yang jauh lebih banyak daripada yang muda tentu lebih mustajab untuk diijabah oleh Tuhan? Inilah “keramat”nya tardisi ujung.

Trio CiTyaRa

Tardisi ujung mengajarkan kearifan tersendiri. Tradisi yang bersendikan ajaran Islam ini memuat beberapa makna yang sangat mendalam. Di samping sebagai momentum saling memaafkan diantara sesama manusia, ujung memberikan pesan kepada semua anak manusia untuk senantiasa menyambung tali silaturahmi diantara sesama saudara, keluarga, tetangga, kerabat, dan saudara dimanapun kita berada. Ujung menjadi perekat sekaligus pengukuh hubungan silaturahmi yang di jaman ini seringkali dipandang remeh oleh manusia modern. Dalam kesempatan ujung pula kami berendah hati untuk mendatangi rumah saudara-saudara, para simbah, pakdhe, paklik atupun guru-guru kami. Hati kamipun diasah untuk memahami keadaan rumah dan lingkungan mereka dengan sebaik-baiknya. Tidak ada lagi batasan kaya-miskin, pandai-bodoh, tinggi-rendah karena kami adalah saudara. Dari sinilah kami seolah saling menguatkan satu sama lain bahwa meskipun badai kehidupan semakin ganas menerjang hidup, namun kami masih memiliki banyak sekali saudara dan kerabat yang masih senantiasa memiliki rasa asah, asih dan asuh. Bukanlah sesama muslim adalah sesama saudara? Semoga tradisi ini akan senantiasa lestari.

Ngisor Blimbing, 28 Juli 2013

Maneges Syahadat Selepas Tarawih

Desa mawa cara, negara mawa tata. Demikian para leluhur bertutur. Maksudnya adalah bahwa suatu daerah atau wilayah senantiasa memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda-beda. Begitupun dengan rangkaian peribadatan di bulan suci Ramadhan ini. Mulai dari kebiasaan penyambutan puasa, menjelang sahur, menunggu saat berbuka puasa hingga pelaksanaan sholat tarawih.

Adalah dusun kami yang semenjak dulu melaksanakan sholat tarawih dan witir sebanyak sebelas rakaat. Setelah adzan Isya’ dikumandangkan, warga dusun segera bergegas menuju masjid atau musholla tempat tarawih. Sebelum iqomad, sambil menunggu jama’ah berkumpul biasanya dilantunkan pepujian. Adapun pujian khusus pada bulan Ramadhan menjelang tarawih adalah syair:

Allahumma innaka ‘afu’un, tukhibbul ‘affa fa’fu’anni, Continue reading “Maneges Syahadat Selepas Tarawih” »