Memilih dengan Merdeka

Pra JKDemokrasi memang telah menjadi pilihan banyak Negara dalam menyelenggarakan tata pemerintahan dan kenegaraannya. Terlepas dari segala kekurangan yang menyertainya, pada kenyataannya Negara kita juga menerapkan sistem demokrasi. Menyadari keunikan dan kekhasan kondisi sosial budaya bangsa kita, para founding fathers kita telah merumuskan Demokrasi Pancasila. Demokrasi Pancasila konon merupakan pengejawantahan nilai-nilai kearifan lokal khas Nusantara yang diangkat sebagai hukum positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Spirit utama Demokrasi Pancasila sejatinya telah terkandung di dalam sila ke Empat Dasar Negara Pancasila, yaitu Kerakyatan yang Dipimpim oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Jadi Demokrasi Pancasila merupakan wujud kedaulatan rakyat sebagai pemegang utama saham berdirinya NKRI. Demokrasi Pancasila menjadi khas Indonesia karena menjadi pengejawantahan kedaulatan rakyat yang dilandasi sebuah permusyawaratan yang penuh nilai kebijaksanaan dan hikmah luhur yang dihasilkan dari proses musyawarah mufakat dengan mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Setelah spirit demokrasi sejati terbelenggu di masa pemerintahan masa lalu, semangat reformasi telah memberikan peluang kembalinya nilai demokrasi ke pangkuan rakyat. Rakyat secara politik lebih memiliki peluang untuk mengekspresikan aspirasi politiknya melalui berbagai partai politik yang kemudian tumbuh dengan sangat pesat bak tumbuhnya cendawan di musim hujan. Atas nama demokrasi pula, rakyat memilih langsung para wakil dan pemimpinnya. Dan sebagai puncak pesta demokrasi dalam pemilihan pemimpin adalah pergelaran pemilihan presiden yang dilakukan secara langsung oleh rakyat.

Adakah dengan cara pemilihan langsung rakyat telah benar-benar mendapatkan pemimpin yang sesuai dengan dikehendakinya? Dari sekitar dua windu roda reformasi bergulir, nampaknya belum semua harapan hadirnya pemimpin-pemimpin sejati bisa terwujud menjadi kenyataan. Jangankah mendapatkan pemimpin yang amanah, di berbagai daerah justru semakin banyak muncul para pemimpin yang justru mengkorupsi kepercayaan hingga aset-aset kekayaan negara demi memperkaya diri sendiri dan golongannya.

Dalam masa pemilihan presiden yang kini tengah di depan mata, rakyat disodori dua kandidat calon pucuk pimpinan negara yang akan menduduki kursi presiden dan wakil presiden. Sekali lagi, bangsa kita tengah dihadapkan kepada sebuah pertaruhan nasib yang sangat mendebarkan. Sebuah proses perjudian kelas tinggi atas nama pesta demokrasi. Akankah pemilihan kali ini mampu melahirkan kepemimpinan sejati ataukah hanya sekedar pemimpin yang tak mumpuni untuk membawa pembaruan dan kemajuan bangsa sebagaimana yang lalu-lalu.

Setiap detik, setiap menit, jam dan setiap saat, publik senantiasa dibombardir dengan jargon-jargon, janji-janji dan segala macam bentuk kampanye dari para kandidat beserta tim sukses masing-masing. Semua menyodorkan informasi serba indah, retoris dan sedap didengarkan secara mentah-mentah. Seolah-olah semua permasalahan kompleks yang menyebabkan terpuruknya bangsa dan negara Nusantara ini bisa dibalikkan nasibnya semudah membalikkan telapak tangan. Rakyatpun tidak sedikit yang terbius, terlena, ataupun terbujuk sehingga hilang kesadaran kerakyatannya. Seolah semua permasalahan bisa diselesaikan hanya dengan hadirnya seorang pemimpin terpilih.

Dari sederetan, bahkan segudang informasi yang tersebar di media cetak, di tivi-tivi, di internet dan semua media sosial, sesungguhnya seberapa banyakkah yang akurat dan bisa dipercaya sehingga bisa menjadi pegangan rakyat untuk memilih dan mendapatkan pemimpin sejatinya? Bukan menafikan informasi dari berbagai sumber tersebut, namun nampaknya rakyat harus semakin kritis dalam menerima informasi. Setiap informasi harus ditimbang-timbang dan dianalisis untuk kemudian ditarik menjadi sebuah kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini sangat penting. Ingat kita memilih seorang pemimpin yang akan menentukan nasib hidup dan masa depan kita! Jika kita salah dan salah lagi memilih pemimpin, jangan berharap kepada perbaikan nasib ataupun kemajuan negara ini.

Sebenarnya telah banyak rujukan ataupun kriteria kepemimpinan yang dirumuskan, baik dari ajaran agama, nilai sosial kemasyarakatan, bahkan dari ramalan wara winasis di masa silam. Dalam perspektif Islam, seorang pemimpin yang baik paling kurang harus memiliki ciri sifat-sifat sidiq, fatonah, amanah, dan tabliq. Bahkan pada dua abad silam, Ranggawarsita juga “mewangsitkan” sifat-sifat kepemimpinan yang akan muncul dalam jaman edan, jaman goro-goro, jaman yang semakin tidak menentu sebagaimana yang kini tengah kita alami. Setidaknya ada tujuh tipologi kepemimpinan yang muncul si bumi Nusantara menurut dia, meliputi satria kinunjara murwa kuncara, satria mukti wibawa kesandhung kesampar, satria jinumput sumela atur, satria lelana tapa ngrame, satria piningit hamong tuwuh, satria boyong pambukaning gapuro, dan satria pinandita sinisihan wahyu.

Bung Karno sebagai tokoh Proklamator yang bersama Muhammad Hatta menyatakan kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia sangat berkesesuaian dengan penggambaran sosok satria kinunjara murwa kuncara. Di masa pergerakan nasional yang ia perjuangkan melalui PNI, Soekarno sempat mendekam di penjara Sukamiskin yang dijatuhkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pada detik-detik kegentingan saat terjadinya vacum of power ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II, Soekarnolah yang pernah terpenjara, muncul dengan sinar kepemimpinan yang gemilang, penuh perbawa, menghantarkan bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaannya. DIalah yang kemudian dinobatkan sebagai Presiden RI yang pertama.

Jika Soekarno identik sebagai satria kinunjara murwa kencana, maka Soeharto penerusnya mewakili sosok satria mukti wibawa kesandhun kesimpar. Soeharto berasal dari keturunan petani dusun biasa. Nasib telah menggariskannya menerima surat sakti Supersemar. Lepas dari kontroversi pemindahan kekuasaan dari Soekarno kepadanya, nyatanya Soeharto menggenggam kekuasaan di negeri ini selama 32 tahun. Tokoh kunci dibalik kesuksesan Soharto adalah sosok Siti Hartinah alias Ibu Tien Soeharto. Dialah yang lebih dipercaya memiliki trah darah biru yang memegang wahyu kedhaton, paling tidak ia memang keturunan dari wangsa Mangkunegara.

Pemimpin beraura satria jinumput sumela atur tidak berlebihan jika disematkan kepada Presiden BJ Habibie. Dia “sekedar” presiden transisi, memerintah tidak lebih dari 18 bulan mencatatkannya sebagai presiden tersingkat di republik ini. Hanya sekedar sumela atur, menyelingi masa transisi pasca hadirnya era reformasi.

Kemudian sosok Gus Dur menapaki pucuk kepemimpinan negeri lebih dari 250 juta jiwa ini sebagai presiden ke empat. Sosok intelektual muslim sekaligus kyai nyleneh yang pernah menjabat Ketua PB NU ini memang setia mengusung pembelaan terhadap kaum minoritas dalam semangat pluralisme. Sosok presiden santri yang tidak mau repot, termasuk dalam hal penerapan protokoler kepresidenan ini seakan cocok dengan penggambaran sosok satria lelana tapa ngrame.

Saya kira cukup kita berpikir othak-athik gathuk “ramalan” Ranggawarsita mengenai sosok pemimpin yang akan datang di bumi Nusantara ini. Semakin ke belakang nampaknya semakin jauh sosok-sosok pemimpin yang kita miliki, baik dari rumusan sang pujangga tadi maupun dari harapan rakyat paad umumnya. Pemimpin seolah sekedar hadir tanpa prestasi berarti untuk memikirkan dan memajukan kesejahteraan rakyat secara sungguh-sungguh. Para pemimpin semakin kehilangan perbawa dan kewibawaannya di mata rakyat yang sudah sangat merindukan sosok pemimpin sejati yang tiada kunjung datang.

Kenapa Ranggawarsita mengidentikkan sosok pemimpin sebagai seorang satria? Satria merupakan personifikasi kaum bangsawan atau elit negara yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menjawab semua tantangan kehidupan bernegara. Ibarat seorang pendekar ulung, seorang satria memiliki bekal ilmu kadigjayan yang serba lengkap dan juga persenjataan dari semua jenis senjata. Ia adalah panglima barisan prajurit yang siap setia membela negara hingga titik darah penghabisan. Dengan semua kemampuan dan senjatanya, seorang satria diharapkan mampu mengatasi setiap permasalahan bangsa.

Bangsa ini memang tengah terpuruk pada titik nadir terendahnya. Berbagai permasalahan bangsa semakin menggurita menggerogoti pilar-pilar tegaknya sebuah negara. Korupsi, kolusi, nepotisme justru semakin menggila. Politik uang, dagang sapi, justru semaki memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Hukum sudah sedemikian rapuh dan semaki sulit untuk ditegakkan. Ekonomi semakin sangkut semarut dalam jebakan mekanisme pasar dimana yang kuat memangsa si lemah, yang kaya semakin kaya dan justru si miskin semakin termiskinkan secara struktur dan sistem. Intinya permasalahan bangsa sangat ruwet bin njlimet.

Menimbang berbagai sisi kehidupan bangsa yang penuh kompleksitas masalah yang semakin gawat keliwat-liwat, pada berbagai kesempatan Budayawan Emha Ainun Nadjib mengungkapkan bahwa Indonesia hanya bisa bangkit jika hadir sosok pemimpin yang tidak hanya sekedar baik, tetapi harus juga sosok pinandita sekaligus sinisihan wahyu. Sosok satria pinandita sinisihan wahyu, sosok pemimpin yang baik, memiliki kualitas, kapasitas serta kapabilitas untuk menangani berbagai kompleksitas permasalahan bangsa, namun juga sekaligus ditunjuk langsung oleh Tuhan melalui bisikan wahyu suci yang turun kepadanya.

Jika kekuatan manusia tidak lagi sanggup merumuskan dan menghadirkan sosok pemimpin sejati sang satria pinandita sinisihan wahyu, maka sudah saatnya sebagai hamba-Nya kita kembali menggali dan memohon pentunjuk Tuhan melalui bisikan suara hati nurani rakyat. Bukankah suara rakyat yang sejati adalah pancaran suara Tuhan?

Maka jika kemudian sebagai rakyat kita memiliki peluang untuk memilih sosok pemimpin yang akan membawa biduk besar bernama NKRI ini, sudah saatnya kita mendengarkan kembali suara hati nurani yang sejati. Memilihlah dengan cerdas dengan memahami sepaham-pahamnya visi-misi serta program-program berkualitas yang disodorkan para kandidat. Jangan memilih semata-mata demi mengikuti kepentingan sesaat, ikut-ikutan, terlebih karena iming-iming uang, jabatan ataupun janji-janji serta jargon kosong. Memilihlah secara merdeka karena pilihan yang diberikan Tuhan melalui kedalaman doa yang terpanjatkan pada kekhusukan istikharoh kita. Inilah makna kemerdekaan dan kedaulatan rakyat yang sejati.

Lor Kedhaton, 9 Juni 2014

Resensi Buku Magelang Membaca

Magelang kota adalah secuil wilayah yang terapit diantara Kali Progo dan Kali Elo. Dataran seluas tidak lebih dari 18 km2 itu menjadi sebuah kesatuan pemerintahan Kota Magelang. Posisinya yang dikelilingi gunung di empat penjurunya ditambah dengan keberadaan gunung Tidar yang senantiasa menghijau membawa hawa kesejukan di setiap penjuru kota, meskipun Magelang berkembang menjadi kota yang cukup padat.

MagelangMembacaMagelang menjadi penting bagi perkembangan pulau Jawa maupun Indonesia pada umumnya, bahkan jauh semenjak awal pemerintahan Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Raffles pada tahun 1811. Semenjak itu pula, wilayah Magelang dijadikan sebuah kesatuan kepemerintahan setingkat kabupaten di bawah Bupati Danoeningrat I. Letak geografis yang berada di pertengahan jalur utama Jogja-Semarang menjadikan Magelang berkembang dinamis dari waktu ke waktu, dari jaman hingga jaman selanjutnya. Magelang adalah kota pertanian, ekonomi, kota jasa, bahkan juga kota militer. Peran strategis ini seolah menjadi sebuah penguatan akan makna gunung Tidar sebagai pakuning Tanah Jawa. Continue reading “Resensi Buku Magelang Membaca” »

Santoso, Bus Malam Cepat Kepercayaan Warga Magelang

Santoso3Roda jaman memang terus berdinamika semakin cepat. Mobilitas barang dan jasa semakin tinggi, demikian halnya dengan mobilitas orang. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan infrastruktur perhubungan yang semakin maju, seperti sarana jalan dan yang tidak kalah pentingya adalah kendaraan transportasi.

Magelang memiliki posisi yang sangat sentral di tengah pulau Jawa. Kewilayahan Magelang yang tidak memiliki garis pantai, tentu menjadikan Magelang hanya memiliki kemungkinan pengembangan sarana transportasi darat ataupun udara. Untuk sarana transportasi udara, nampaknya untuk saat ini hingga beberapa tahun ke depan, masih belum akan berkembang karena dari pertimbangan ekonomi masih lebih efektif menginduk ke bandara Adi Sucipto di Yogyakarta, maupun Ahmad Yani di Semarang. Bahkan untuk akses ke Adi Sucipto – Magelang, sudah beberapa tahun ini dilayani dengan bus DAMRI yang sangat terjangakau bagi kebutuhan warga.

Di sisi lain, untuk sarana transportasi darat, Magelang sudah sangat lama sayonara terhadap kereta api. Di masa Hindia Belanda, maupun awal orde lama, layanan kereta api jurusan Jogja – Ambarawa, maupun Magelang – Purwokerto melalui Temanggung dan Wonosobo mengalami masa kejayaannya. Namun kisah kereta api di Magelang tinggal menjadi sejarah dan menyisakan beberapa ruas lintasan rel yang masih bisa ditemukan di beberapa titik saja. Maka transpotasi darat yang kemudian menjadi urat nadi sarana perhubungan adalah angkot, engkel, ataupun bus lokal dan antar kota antar provinsi.

Untuk transportasi antar kota seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, hingga Sumatera telah banyak dilayani armada bus, baik yang berpangkalan asli di Magelang maupun kota lain. Khusus jurusan arah wilayah pulau Jawa bagian barat dan Sumatera, layanan bus didominasi oleh bus malam. Beberapa armada yang melayani warga untuk tujuan tersebut diantaranya PO Santoso, Handoyo, Ramayana, dan Putra Remaja. Rata-rata semua armada tersebut menyatakan diri sebagai bus malam cepat.

Apa sih yang diinginkan pelanggan bus malam cepat? Tentu jawaban standar akan didapatkan, seperti kenyamanan, kecepatan dan ketepatan waktu, jaminan keselamatan, dan yang paling menentukan adalah soal harga atau tarif. Untuk penumpang kelas menengah, bisa jadi bus Santoso menjadi pilihan. Beberapa hal yang menjadikan pelanggan bus malam cepat yang satu ini diantaranya harga yang relatif terjangkau, dan faktor ketepatan atau kecepatan waktu tempuh. Untuk tarif, saat ini PO Santoso mengenakan kisaran dari Rp. 85.000,- hingga sekitar Rp. 130.000,- mulai dari kelas ekonomi, utama, bisnis (Patas AC, AC non toilet), hingga eksekutif.

Layanan trayek bus Santoso yang mencapai Klaten dan Gunung Kidul menjadikan pelanggan Santoso tidak hanya berasal dari warga Magelang saja, tetapi luas hingga Klaten, Gunung Kidul, Jogjakarta, Sleman, hingga Temanggung. Trayek tujuan Santoso di Jabodetabek dan sekitarnya meliputi Bekasi, Pulogadung, Mampang, Lebak Bulus, Kampung Rambutan, Bogor, Grogol, Tanjung Priok, Tengarang, Balaraja hingga Cilegon dan Merak.

Ibarat pepatah ono rego ono rupo, bus Santoso sebenarnya sangat memanfaatkan celah tersebut. Pelanggan yang membutuhkan fasilitas bus yang paling ekslusif mungkin tidak akan menggunakan bus ini. Sebaliknya pelanggan yang memiliki keterbatasan uang, mungkin akan memilih armada yang laing murah meskipun dengan standar kenyamanan yang lebih rendah pula. Diantara itu semua, Santoso nampaknya menempatkan posisi di tengah-tengah segmen pelanggan tersebut.

Namun demikian, meskipun Santoso sudah memiliki segmen pelanggan yang setia dengan layanannya, tidak harus menjadikan kualitas pelayanan dan kenyamanan menjadi diabaikan sama sekali. Kondisi bus yang rata-rata sudah memasuki masa penuaan sedikit banyak menurunkan kualitas kenyamanan yang diinginkan pelanggan. Diantara keluhan yang sering mengemuka, semisal kondisi AC yang payah, toilet yang tidak terawat kebersihannya, termasuk kehandalan serta perawatan kendaraan yang seringkali menjadikan bus mogok. Bahkan untuk bus kelas VIP Eksklusif hanya dilengkapi dengan TV mati yang terkesan hanya menjadi asesories semata (sepengetahuan kami, belum pernah menikmati layanan tv yang memutar siaran televisi maupun video), termasuk sekedar iringan musik. Mungkin hal ini di masa mendatang harus menjadi perhatian manajemen sebagai sebuah standar pelayanan minimal yang harus dipenuhi dan agar pelanggan tidak beralih ke armada lain jika memang suatu saat ada pesaing yang mampu memberikan kualitas layanan yang lebih baik dengan harga tiket yang bersaing.

Santoso2

Bagaimanapun masih banyak hal yang harus dibenahi dan ditingkatkan oleh PO Santoso, namun sekian lama armada yang dimiliki putra daerah ini telah banyak mengukirkan jasa kepada warga yang membutuhkan layanan jasanya. Bahkan diantara pelanggan setia Santoso telah mendeklarasikan diri dalam wadah Santoso Mania. Kesetiaan atau loyalitas pelanggan setia Santoso ini harus diapresiasi dan mendorong manajemen untuk melakukan peremajaan armada dan peningkatan layanan serta kenyamanan para pelanggannya. Bagaimanapun pelanggan adalah raja yang akan sangat menentukan keberlangsungan bisnis armada ini di masa yang akan datang. Maka antara perusahaan dan konsumen harus ada keseimbangan hak dan kewajiban. Sama-sama saling membutuhkan, maka diantara keduanya harus bersikap sithik edhing. Pelanggan membayar tarif tiket, maka penguasaha armada harus memberikan kualitas jasa yang terbaik. Di sinilah letak simbiosis mutualisme diantara keduanya mendapatkan titik temu yang adil dan seimbang.

Alamat Kantor Pusat PO Santoso

Jln. Soekarno – Hatta No.22 Telp.(0293) 363715 Magelang

Ngisor Blimbing, 2 Desember 2012

Stop Pacaran di Atas Pohon

Petikan Kisah Kopdar Blogger Nusantara 2012 (3)

Pacaran di atas pohon? Emangnya monyet! Masa pacaran bagi sepasang kekasih yang sedang kasmaran adalah saat yang sangat mengasyikkan. Dunia serasa milik berdua, sehingga orang yang sedang dimabuk asmara seringkali mengabaikan keberadaan orang lain. Orang lain dianggap tidak ada, atau kalaupun ada hanya dianggap ngontrak dunia miliknya sehingga tidak memiliki hak untuk mengganggu apalagi menggugat keasyikan mereka. Inilah latar belakang kenapa kemudian dua sejoli muda-mudi yang tengah berpacaran mengabaikan keberadaan orang lain, termasuk segala macam unggah-ungguh atau tatanan sopan-santun pergaulan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap anggota masyarakat yang beradab.

Tindakan yang tidak menghiraukan tatanan pergaulan banyak dilakukan oleh orang yang sedang berpacaran. Tidak peduli di tempat umum sekalipun, mereka terlihat terlalu over dalam menunjukkan rasa kasing sayang. Tidak cukup dengan perbincangan yang wajar dan “berdisiplin jarak”, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang berangkulan, berpelukan, ataupun berciuman di tempat umum. Welha dalah, jagad dewa batara! Apa jadinya jika hal tersebut dilihat dan ditirukan oleh adik-adik yang belum cukup umur!

Dalam tuntunan agama bahkan tindakan berdua-duaan diantara seorang lelaki dan perempuan jelas-jelas termasuk tindakan berkholwat yang dilarang keras. Bahkan digambarkan bahwa jika seorang lelaki dan perempuan berdua-duaan di tempat sepi, maka yang ketiga diantara mereka tidak lain adalah setan. Setan siap menjerumuskan dua manusia tersebut untuk terhanyut ke dalam tindakan yang melanggar batas-batas norma agama, kesusilaan, maupun kesopanan. Dengan demikian untuk menjaga tegakknya norma-norma yang telah disepakati bersama dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, maka pacaran, setidaknya “pacaran sembarangan” harus ditertibkan, kalaupun tidak sama sekali dilrang dengan keras.

Atas latar belakang menjaga moralitas dan tata pergaulan yang baik, beberapa pihak yang memiliki kuasa atas fasilitas atau tempat-tempat umum tertentu sengaja melarang aktivitas pacaran di wilayah mereka. Dengan berbagai cara dan himbauan, pacaran dilarang keras. Tindakan yang dilakukan ada yang menempelkan tulisan larangan pacaran, hingga menyiagakan satuan petugas keamanan untuk mengusir dua sejoli yang sedang memadu kasih.

Di sela-sela padatnya agenda Kopdar Blogger Nusantara 2012 di Makassar pada awal November yang lalu, saya sempat berjalan-jalan menikmati kerindangan dan kesejukan hijaunya kampus Universitas Hasanuddin di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Dari uraian pendahuluan tulisan yang banyak menyinggung soal pacaran di atas, tentu saja sangat terkait dengan temuan unik yang sempat saya lihat di lingkungan kampus universitas terbesar di Indonesia Timur ini.

Ketika menikmati indahnya hamparan telaga yang membentang luas di tengah Kampus Unhas, di sebuah pohon yang tegak berdiri di tepian telaga terdapat rambu larangan yang sangat berbeda dengan rambu larangan lalu lintas yang banyak terdapat di pinggir jalanan. Bukan mengatur kegiatan berlalu lintas, justru rambu larangan tersebut berkaitan dengan aktivitas pacaran. Rambu tersebut secara tegas melarang pacaran di area sekitar keberadaan rambu tersebut. Hanya saja yang paling unik dan sama sekali tidak umum, rambu larangan pacaran tersebut justru dipasang tinggi-tinggi di atas sebuah pohon. Jika diamati dari jauh, tulisan yang terbaca hanyalah “STOP PACARAN”! Secara sekilas, mungkin orang akan mengartikan “dilarang pacaran di atas pohon”.

Anda pernah pacaran di atas pohon? Jangan sekali-kali mencobanya di Kampus Unhas! Anda dapat diciduk oleh satpam setempat dan dikenai sanksi tindakan pidana ringan alias tipiring.

Ngisor Blimbing, 19 November 2012

Kembang Lambe Sekar Tidar

Mangsa rendheng atau musim hujan adalah musim menanam. Kedatangan mangsa rendheng membuat hati pak tani seneng dan berbunga-bunga. Kalau pak tani menyambut mangsa rendheng dengan menanam padi, maka Pak Wali justru ingin menanam bunga. Tak tanggung, bukan satu dua tanaman bunga di satu atau dua pot atau taman saja, melainkan menanam sejuta bunga di setiap sudut kota. Tekadnya ingin menjadikan kota getuk menjadi juga kota sejuta bunga. Isu wacana Magelang menuju kota sejuta bungapun sempat menghangat jadi kembang lambe di beberapa kalangan warga semenjak akhir tahun lalu.

Si Kenyung yang masih bocah nglegeno itu begitu mendengar istilah kembang lambe menjadi muncul rasa penasarannya. “Pakdhe, kembang lambe itu apa? Pohonnya seperti apa to?” tanyanya kepada Pakdhe Blongkang yang senja itu sedang ongkang-ongkang di muka Poskamling.

Sambil sedikit melotot kaget, Pakdhe Blongkang menjawab, “Woalah le thole, namanya kembang lambe itu hanya istilah tok! Kembang lambe itu artine sama dengan buah bibir! Nah nanya lagi, kok ada buah bibir itu apa hasilnya dari kembang lambe yang sudah menjadi gedhe?”

Kenyung segera memotong! “Lha iya to Pakdhe, nanya kembang malah dijawab buah! Ada kembang, ada buah, lha terus pohon itu lho yang ingin saya tahu! Pakdhe nakal!” Si Kenyung nampak mecucu dan merasa jengkel karena pertanyaannya dijawab muter-muter.

“Kamu itu lho Le, orang mau njelaske sudah kesusu dipotong wae! Kembang lambe, dalam bahasa Indonesianya sama maknanya dengan buah bibir. Frase atau gabungan kata itu memiliki arti konotasi. Arti konotasi itu arti dari sebuah kata atau gabungan kata yang tidak sebagaimana arti asline. Nah, kembang lambe itu maknanya sesuatu hal yang sedang banyak diomongke banyak orang. Lagi rame dibahas orang-orang. Ngono lho Le, paham to saiki?” Pakdhe Blongkang menjelaskan dengan pelan dan panjang lebar.

Si Kenyung hanya manggut-manggut, entah memang paham atau sekedar nglegani Pakdhe-nya. Wueeer……wuerrr….cengik! Terdengar sebuah sepeda motor BMW, bebek merah warnanya, alis Pitung milik Mas Karyadi datang merapat. Mas Karyadi merupakan tetangga Pakdhe Blongkang yang bekerja di kantor pemrentah alias seorang abdi dalem.

Pucuk dicinta ulam tiba, demikian pikir Pakdhe Blongkang. Daripada hanyut dalam isu kembang lambe tentang sejuta kembange Pak Wali yang ngalor ngidul, ia dapat bertanya langsung kepada Mas Karyadi. Lha wong dia abdi dalem pemrentah, tentu ia lebih tahu soal kebijakan-kebijakan yang telah digariskan oleh para pendhuwur-nya.

Monggo Mas, kok sore-sore baru kondur. Habis ada kerjaan lembur nopo?” sapa Pakdhe Blongkang begitu Mas Karyadi berhenti dan memarkir Pitungnya di samping Poskamling.

Lha ini baru keliling kota, ngecek proyek nandur kembang itu je Pakdhe”, jawab Mas Karyadi sambil duduk diantara Kenyung dan Pakdhe Blongkang.

Si Kenyung segera bertanya, ingin menuntaskan rasa ingin tahunya, “Pak Lik, dari tadi saya tanya Pakdhe tentang kembang lambe, malah dijawab buah bibir! Terus sejuta bunga, lha kok banyak sekali bunganya? Maksudnya apa nggih?”

Mas Karyadi tersenyum ngleges. Dengan tenang ia mulai menjelaskan, “Jadi memang di akhir tahun kemarin pemrentah telah melancarkan program kota kita sebagai kota sejuta bunga. Inginnya sih pemrentah dengan didukung warganya, membenahi dan menata kembali taman-taman yang ada dengan kekembangan yang baru. Nah harapannya, kota ini kelak akan berseri warna-warni dengan kekembangan itu. Dengan begitu akan semakin banyak wisatawan maupun investor yang datang dan menambah pendapatan daerah kita.”

Lha nek sejuta kembang itu apa ya lahan untuk menanam di seluruh wilayah kota yang tergolong kecil ini mencukupi Den Mas? Terus nantinya apakah kota ini sekedar memiliki banyak kekembangan ataukah juga menjadi produsen bunga hias atau bunga potong, ngoten lho?” tanya Pakdhe Blongkang tak kalah seriusnya.

Wah nek soal wilayahnya cukup atau nggak ya bukan bagian saya yang bisa menjawabnya Pakdhe! Itu Dinas Pertamanan pasti sudah memperhitungkannya. Nek soal kota ini mengarah menjadi kota penghasil kembang, kok kayaknya juga masih sangat jauh. Sing penting itu taman kita hijaukan dulu, berseri dulu!” jawab Mas Karyadi sekedar ngeles.

Pakdhe Blongkang sekedar unjal ambegan mendengar jawaban abdi dalem yang diharapkannya lebih mengerti persoalan dan dapat menjelaskan isu yang menjadi kembang lambe itu dengan lebih gamblang dan tuntas. Sebenarnya ia ingin bertanya juga, apakah mungkin pemrentah juga nantinya membangun sebuah pasar khusus untuk kekembangan. Jadi harapannya program itu bisa menggerakkan ekonomi masyarakat secara langsung. Sebagai seorang warga masyarakat, sebenarnya ia ingin tahu program pemrentah yang tengah jadi kembang lambe itu dan peran apakah yang bisa ia sumbangkan untuk turut mensukseskannya. Sesungguhnya iapun turut prihatin dengan perkembangan isu yang justru berkembang tentang “bunga uang”, bunga bank, “bunga pajak”, “bunga korupsi”, “bunga suap”, “bunga mark up”dan bunga-bunga yang lain yang justru keluar dari konteks persoalan.

Sebuah program pemrentah, katakanlah atas nama pembangunan dan demi kemajuan bersama, semestinya disosialisasikan dengan baik ke tengah warga masyarakat. Dengan pemahaman yang benar dan mendalam, sebuah program yang baik dan pro rakyat pasti akan didukung secara luas karena masyarakat merasa handarbeni, turut memiliki dan merasa bertanggung jawab untuk turut mensukseskan program tersebut. Jamannya jaman informasi, masyarakat menuntut keterbukaan dan transparansi informasi. Pemrentah tidak dapat berjalan seorang diri jika tidak mau dinilai menciptakan program hanya sekedar untuk menghabiskan anggaran di akhir tahun. Kepripun kelanjutan program sejuta bunga itu di awal tahun ini, rakyat tentu ingin tahu juga to?

Puasa dan Kemerdekaan

Puasa dan kemerdekaan, adakah hubungan benang merah yang jelas dan tegas? Dari sudut kronologis sejarah bangsa Indonesia, puasa tidak bisa sama sekali dilepaskan dari kemerdekaan, karena peristiwa proklamasi yang telah menghantarkan bangsa kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan tepat terjadi di bulan Puasa. Akan tetapi apakah hanya sebatas itu relasi hubungan antara puasa dan kemerdekaan?

Puasa atau pasa dalam bahasa Jawa, hakikatnya adalah menahan dari sesuatu. Hal inipun senafas dengan istilah shaum dalam bahasa Arab yang seakar dengan kata imsak. Imsak sendiri berarti menahan. Dari sudut istilah syariat Islam, puasa memiliki pengertian suatu amalan menahan untuk tidak makan, minum, serta segala perbuatan yang dapat membatalkannya semenjak matahari terbit di waktu fajar hingga matahari terbenam di kala senja.

Puasa merupakan suatu amalan yang sudah sangat purba usianya. Semenjak keberadaan Adam dan Hawa bertempat tinggal di surga, mereka sudah diperintahkan untuk menahan diri agar tidak mendekati pohon khuldi. Jangankan memakan buahnya, mendekati saja tidak diperkenankan. Akan tetapi, karena Adam dan Hawa terbujuk rayuan setan, maka mereka tergelincir tidak dapat menahan diri untuk mendekati pohon khuldi, memetiknya, bahkan hingga sempat memakannya. Dan tatkala mereka teringat akan larangan Allah, terlambat! Buah khuldi itu telah masuk di kerongkongan Adam, sedangkan buah yang lain bahkan sudah sampai di dasar dada Hawa. Akhirnya dikarena tidak dapat menahan diri dan taat atas perintah Allah untuk puasa terhadap buah khuldi, Adam dan Hawa diusir dari surga  untuk kemudian diturunkan ke muka bumi.

Sepanjang sejarah anak turun Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Musa, hingga Isa banyak kisah-kisah atau riwayat mereka melakukan ritual puasa, hingga kini sampai kepada ummat Muhammad. Puasa merupakan ibadah khusus yang dipersembahkan seorang hamba kepada Tuhannya. Puasa bersifat sangat rahasia, karena hanya diri seseorang dan Allah saja yang mengetahui apakah dirinya benar-benar perpuasa atau sekedar berpura-pura. Bisa saja seseorang yang bertingkah lemah, lemas, letih di kala berhadapan dengan orang lain, namun setelah masuk di dalam rumahnya sendiri ia makan-minum dengan sepuasnya. Bahkan beberapa orang yang sedang mengambil air wudlu secara bersamaanpun tidak akan tahu apakah saudara di sampingnya menelan air tatkala berkumur. Puasa sangat rahasia, sehingga Allahpun menyatakan bahwa puasa adalah persembahan seorang hamba khusus untuk-Nya dan pahalanyapun dirahasiakan hingga di akhir jaman kelak.

Jika puasa memiliki sifat menahan dan membatasi diri dari pelampiasan segala keinginan, maka berbeda dengan kemerdekaan. Kemerdekaan secara umum bisa dimaknai sebagai kebebasan. Kebebasan adalah salah satu hak asasi manusia yang paling hakiki. Manusia secara fitrah penciptaannya ingin bebas dari rasa takut, rasa lapar, haus, dan segala belenggu penindasan terhadap setiap keinginan, termasuk penindasan, penjajahan, dan kesewenang-wenangan. Di tingkatan negara dan pergaulan masyarakat dunia, setiap hak individu bahkan telah diakui dan dilindungi secara hukum.

Kebebasan adalah hak manusia. Namun harus diingat bahwa setiap pemenuhan hak harus diimbangi pula dengan kewajiban. Jika manusia memiliki hak asasi, maka manusiapun memiliki kewajiban asasi. Jika manusia memiliki kebebasan, memiliki kemerdekaan, maka sejatinya kebebasan dan kemerdekaan yang dimiliki tersebut bukanlah sesuatu yang tidak tanpa batas. Terlebih jika dihadapkan dengan kepentingan umum maupun di hadapan Tuhan, kebebasan dan kemerdekaan manusia bersifat terbatas.

Manusia merdeka untuk makan dan minum sepuasnya. Namun dalam kerangka makan dan minum terdapat batasan makanan apa yang halal untuk dimakan dan minuman apa yang halal untuk diminum. Bahkan terhadap makanan dan minuman yang halalpun terdapat batasan seberapa banyak kita diperkenankan untuk menampungnya di dalam rongga perut kita tanpa menimbulkan gangguan mekanisme biologi maupun kesehatan tubuh. Ketika batasan tersebut dilanggar, maka akan terjadi ketidakseimbangan sistem yang akan menyebabkan rasa sakit, atau bahkan timbulnya penyakit. Maka sangatlah tepat jika Kanjeng Nabi Muhammad mengajarkan kepada pengikutnya agar makanlah sebelum lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang. Kondisi keseimbangan atau pertengahan antara rasa lapar dan kenyang itulah yang terbaik bagi tubuh manusia. Manusia jangan sampai dilanda kelaparan dan kekenyangan berlebihan soal makanan.

Demikian halnya soal rejeki. Selepas menjalankan ritual ibadah khusus, manusia diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi dalam rangka menjemput rejekinya. Manusia diamanati kebebasan untuk mengelola bumi dan alam. Manusia diberikan bekal akal yang akan membimbingnya menemukan ilmu, pengetahuan dan teknologi untuk mengeksploitasi alam. Manusia bebas untuk menambang mineral bumi, menebang pohon, menangkap ikan di seluruh penjuru sudut bumi. Namun ingat, jika manusia hanya sekedar menurutkan rasa kebebasannya, maka yang akan terjadi adalah hutan gundul, polusi, pencemaran, erosi, dan segala keparahan kerusakan lingkungan hidup. Maka diperlukan batasan tindakan manusia yang tidak mengganggu keseimbangan dan kelestarian alam. Ini berarti bahwa kebebasan dan kemerdekaan mengelola alampun dibatasi dengan etika dan moralitas untuk mengawal kelestarian alam yang juga terkait langsung dengan kelestarian manusia sendiri.

Setiap kebebasan selalu ada batasan. Setiap kemerdekaan disertai dengan rambu dan koridor untuk tidak menimbulkan kerusakan. Dari segala tindakan kebebasan dan kemerdekaan diperlukan pengendalian serta pengelolaan tindakan agar membawa kepada kemanfaatan hidup. Ritual puasa mengajarkan upaya pengendalian diri terhadap segala kenginan, nafsu, dan semua potensi sifat negatif yang ada di dalam dada manusia. Pada saat manusia berpuasa, ia meninggalkan kemerdekaan untuk makan, minum, menggauli istri, meskipun mereka halal dan menjadi hak milik kita. Di sinilah manusia belajar mengenai pengendalian dan makna pembatasan diri.

Puasa merupakan sikap pembatasan diri di tengah kebebasan dan kemerdekaan yang dimiliki manusia. Puasa merupakan pengendali, pengontrol dan penyeimbang kebebasan atau kemerdekaan yang diberikan Tuhan kepada manusia agar manusia tidak terjerumus kepada kehancuran. Semoga kita bisa berpuasa sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mengajarkannya kepada kita, dan dapat memetik hikmah di dalamnya dengan sebaik-baiknya demi tegaknya peradaban manusia di atas muka bumi.

Ngisor Blimbing, 4 Agustus 2012

Jelang Hotel Aston Magelang

Apa pendapat sampeyan tentang pembangunan di Kota Magelang akhir-akhir ini? Beberapa titik memang terjamah pembangunan fisik, atau paling tidak sekedar penataan ulang maupun pembenahan. Kawasan Alun-alun Kota, beberapa jalur protokol dan taman, termasuk kawasan Pecinan. Bagaimana dengan nasib pasar Rejowinangun yang terbakar beberapa tahun lalu? Meskipun aspirasi akar rumput jelas menginginkan pembangunan kembali pasar tersebut, namun kita semua tahu bahwa proyek pro rakyat itu belum tersentuh dengan serius. Lalu bagaimana dengan proyek swasta milik pengusaha atau investor kaya raya?

Artos, sebagai monumen mall pertama di Magelang nampak tinggi menantang di batas kota dan kabupaten. Sedikit bergeser ke utara dari Artos, saat ini tengah berlangsung proyek pembangunan Hotel Aston yang nampaknya akan menjadi hotel berbintang termegah dan terbesar di kota Magelang. Tetapi sesungguhnya seberapa prioritas, urgensi, atau kemanfaatan keberadaan sebuah fasilitas mewah nan megah bagi warga Magelang yang sebagian besar merupakan kalangan menengah ke bawah?

Beberapa tahun yang lalu sempat mendengar selentingan kabar bahwa konsorsium JABABEKA, yang pemilik aslinya konon kelahiran Magelang, akan membangun hotel berkelas dunia di kota gethuk tercinta. Hal yang paling mengejutkan, sekaligus memprihatinkan adalah lokasi pembangunan hotel tersebut akan menggusur stadion Abu Bakrim. Sebagaimana kita ketahui pula, stadion kebanggaan warga Magelang yang kini sering mengantarkan kemenangan PPSM di kompetisi nasional ini akan dipindahkan ke sekitar GOR Samapta di Ngembik. Namun hingga kini, nasib stadion pengganti yang tepat berada di sisi timur kali Progo itupun tidak kunjung selesai, bahkan sepertinya terbengkalai.

Entah mengapa, tidak tahu ujung pangkalnya (karena memang jarang ada transparansi informasi tentang program pembangunan oleh pemerintah), ternyata ada sebuah proyek besar di sekitar Trunan yang mulai memancangkan paku bumi sebagai penegak pondasi sebuah bangunan gedung yang nampaknya akan tinggi menjulang. Bahkan kini nampaknya proyek tersebut dalam proses finishing bangunan. Inilah bangunan yang kemudian diketahui sebagai calon hotel berbintang megah dari Aston Group.

Apakah grand desain pembangunan hotel tersebut sudah diagendakan dalam jangka panjang dan matang? Ataukah jangan-jangan proyek yang terkesan tergesa itu sebagai sebuah justifikasi pencitraan bahwa pemerintah periode kini mampu membangun bangunan mewah dan wah? Apakah kiranya sikap kesan kemrungsung yang terlihat juga dipanasi keberadaan Artos mall yang masih berada di wilayah kabupaten Magelang? Benarkah ini semacam proyek gagah-gagahan, megah-megahan, mewah-mewahan, alias hanya oncor-oncoran semata? Jika parameter pembangunan adalah untuk mencapai kesejahteraan rakyat, maka di sisi manakah keberadaan proyek kemewahan ini mampu mewujudkan hal tersebut? Kenapa kok ya kata Artos mirip-mirip pelafalannya dengan Aston ya?

 

Wilayah Magelang, baik kabupaten maupun kota, memang memiliki beberapa potensi wisata unggulan, sebut saja Borobudur, Mendut, Ketep Pass, Kyai Langgeng, dan beberapa obyek lainnya. Kemajuan kepariwisataan di Magelang, diakui atau tidak, justru lebih banyak dinikmati keberkahan rejekinya oleh provinsi tetangga. Bagaimana tidak, mulai dari akomodasi, penginapan, travel, hingga cinderamata dan oleh-oleh kuliner, para wisatawan (apalagi mancanegara) membelanjakan uangnya di Jogjakarta. Bagaimanapun, Jogja memang pintu gerbang masuknya wisatawan yang dominan melalui jalur transportasi udara atau kereta api.

Keberadaan hotel bertaraf internasional di Magelang, sebagaimana telah dimulai Manohara Hotel di lereng Menoreh, bisa jadi menjadi alternatif pilihan wisatawan untuk menginap dan tinggal lebih lama di wilayah Magelang. Seandainya para wisatawan itu tinggal lebih lama di Magelang, sangat mungkin mereka juga akan tertarik untuk mengunjungi obyek wisata yang lain dan nglarisi oleh-oleh atau souvenir karya pengrajin lokal. Dengan demikian bisa jadi efek domino yang tidak langsung akan dirasakan pula oleh usahawan kecil atau kelas rumah tangga.

Jika konsep pemikirannya dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonmi daerah yang lebih pesat lagi, maka sosialisasi dan komunikasi merupakan kunci keberhasilan yang harus digalakkan. Sosialisasi kepada semua pemangku kepentingan pariwisata mulai pengelola tempat wisata, pedagang souvenir, warung makan atau restoran, toko oleh-oleh, bahkan hingga masyarakat secara luas.  Jika semua pihak tersebut dalam kapasitas dan peran sektor masing-masing memiliki komitmen, peran dan tanggung jawab untuk bersama-sama memajukan kepariwisataan, maka akan terjalin sebuah sinergi dan koordinasi yang dapat menggerakkan semua sektor ekonomi rakyat.

 

Pariwisata adalah everybodi’s bisniz, artinya tidak hanya pemerintah yang berperan namun semua pihak memiliki peran dan andil untuk  bersama-sama memajukan wisata. Kunci datangnya wisatawan ke sebuah obyek wisata tidak hanya sekedar ingin melihat sebuah destinasi wisata yang terkenal, namun mereka akan lebih terkesan, kerasan dan memiliki kenangan positif apabila kenyamanan, keamanan, ketertibaban, keindahan dan segala aspek wisata dapat tergarap dengan baik. Hal ini tidak bisa tidak diwujudkan, kecuali dengan sinergi dan koordinasi diantara semua pihak yang terkait dengan dunia kepariwisataan tadi.

Dengan demikian, keberadaan sebuah fasilitas mewah seperti mall ataupun hotel mewah seharusnya tidak hanya selesai kepada sebuah sikap kebanggaan semata, atau bahkan sekedar mendorong masyarakat berpola pikir dan berperilaku hedonis serta konsumtif. Jika demikian yang terjadi, maka perkembangan ekonomi yang terjadi hanya akan dinikmati oleh segelintir pengusaha yang memiliki fasilitas mewah tersebut. Akan tetapi sebaliknya, jika keberadaan fasilitas mewah menjadi pemacu pemerintah untuk bisa lebih menggerakkan sektor ekonomi kerakyatan yang dapat “menumpang” keberadaan fasilitas mewah tersebut, maka kemajuan kesejahteraan bersama akan bersama-sama pula dinikmati kalangan masyarakat yang lebih luas.

Ngisor Blimbing, 26 Juli 2012

Puasa Makan atau Kuasa Makan?

Bulan Ramadhan telah datang. Sebulan penuh ummat Islam diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa. Puasa, secara sederhana, adalah menahan makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa dari fajar hingga matahari terbenam. Yang paling inti adalah tidak makan! Memang jam sarapan pagi digeser ke waktu sahur, jam makan malam relatif tetap atau bahkan dimajukan sehabis Maghrib. Jam makan siang? Maaf, sementara waktu harus ditinggalkan. Jadi menurut logika, konsumsi makan kita berkurang dong? Dari tiga kali, menjadi dua kali. Dari tiga piring, menjadi dua piring. Berarti lebih irit dong?

Dengan pola konsumsi makan, minum, merokok, bahkan ngemil camilan yang berkurang, berarti kuantitas konsumsi kita juga berkurang. Konsumsi berkurang, maka anggaran belanja kita, maupun rumah tangga kita juga akan berkurang. Dengan anggaran yang berkurang, maka uang yang dibelanjakanpun tentu saja berkurang. Artinya dengan pelaksanaan ibadah puasa, manusia diajarkan untuk irit alias hemat. Hemat makan, minum, ngemil, hemat anggaran, hingga hemat uang! Namun benarkah demikian yang menjadi realitas di tengah masyarakat muslim kita?

Belum memasuki bulan Puasa, bahkan masih beberapa hari menjelang Ramadhan, berita di berbagai media cetak maupun eletronik mengabarkan tentang kenaikan harga berbagai sembako alias sembilan bahan pokok kebutuhan kita. Harga beras naik, minyak goring naik, telur naik. Demikian halnya dengan gula, daging, susu, sayur dan buah juga naik. Intinya semua kebutuhan manusia sehari-hari harganya melambung tinggi dibandingkan hari-hari biasanya.

Usut punya usut, selidik demi selidik, bahkan analisis dari para pakar mengatakan bahwa kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari itu terjadi karena kelangkaan pasokan barang di pasaran. Kenapa bisa terjadi kelangkaan barang? Jawaban yang didapatkan, karena konsumen memborong banyak barang untuk persediaan menyambut bulan Puasa.Dan sesuai dengan hukum ekonomi, jika permintaan barang bertambah, sementara ketersediaan atau penawaran barang tersebut berkurang di pasaran, maka harga barang yang bersangkutan tentu saja akan naik.

Apakah tidak aneh jika kedatangan bulan Puasa, bulan dimana ummat muslim mengurangi konsumsi makan dan minumnya sehingga menjadi bulan hemat, justru disambut dengan menumpuk sembako? Berdasarkan teori bahwa puasa mengurangi konsumsi kita terhadap makanan ataupun minuman, karena kita hanya makan minum di waktu sahur dan buka puasa saja, maka kedatangan bulan Puasa yang diiringi dengan kenaikan penumpukan sembako jelas menjadi tidak sesuai alias tidak logis. Setidaknya dari analisis sebab akibat, tentu saja ada ketidaksesuaian logika pikir! Lalu ada anomali apakah gerangan?

Inti dari ajaran puasa adalah imsak, artinya menahan. Ya menahan lapar, dahaga, dan yang lebih inti adalah menahan hawa nafsu. Puasa mengajarkan mengurangi makan, minum, dan segala kenikmatan ragawi yang selalu dipuja-puji oleh manusia. Memang pada waktu siang hari, dari waktu fajar hingga matahari tenggelam, kita mengosongkan perut, kita menahan lapar, menahan rasa haus dan dahaga, tetapi bagaimana setelah bedug Maghrib ditabuh?

Ibarat di siang hari kita menginjak pedal rem dalam-dalam dengan sekuat tenaga, maka bagaimana setelah adzan Maghrib dikumandangkan? Diantara kita mungkin ada yang berbuka hanya ala kadarnya, sekedar membasahi kerongkongan dengan kesejukan air putih ataupun sekecap rasa manis dari sebutir buah kurma. Namun bisa jadi lebih banyak diantara kita yang langsung mengembat semua hidangan di atas meja. Sirup ditenggak, escendol masuk, kolak, es buah, kolang kaling langsung diminum. Kue apem, lemper, pisang goreng, bakwan, tahu isi, langsung dilahap. Tidak terhenti sampai di situ, nasi sebakul plus lauk-pauk, ayam gulai, opor, ikan bakar, sayur soup, semua amblas ke dalam perut dalam waktu sekejap. Selepas mengerem sedalam-dalamnya semua keinginan badaniyah di siang hari, namun setelah waktu buka kita injak pedas gas makan-minum kita sedalam-dalamnya! Jika di wakt siang kita menahan keinginan dan nafsu seketat-ketatnya, maka di malam hari kita lepas sebebas-bebasnya keinginan dan nafsu tersebut.

Sangat umum di kalangan ibu rumah tangga yang berpandangan bahwa puasa adalah bulan istimewa. Karena di siang hari kita berlapar dan berhaus ria, maka apa salahnya setelah waktu buka kita tuntaskan rasa lapar dan haus kita. Jika di siang hari badan lemas tanpa tenaga, banyak yang khawatir bahwa asupan gizi, vitamin, segala mineral kebutuhan tubuh kita menjadi tidak terpenuhi, dan takutnya dengan puasa malah menjadikan datangnya penyakit. Maka untuk mengimbangi konsumsi yang minimalis di siang hari, ya malam harinya harus ditebus dengan makan “sebanyak-banyaknya”.

Karena keinginan makan dan minum yang serba lebih, ya lebih banyak, ya lebih enak, bahkan lebih mahal, maka anggaran belanjapun harus menyesuaikan, alias dinaikkan. Maka tidak mengherankan bila banyak ibu rumah tangga mengakui bahwa selama bulan Puasa, justru anggaran belanja rumah tangga nombok dan membengkak. Dengan demikian Ramadhan tidak lagi menjadi bulan yang irit, bulan yang hemat dengan segala pengeluaran dan dana dalam soal konsumsi makan dan minum.

Beginikah ajaran puasa yang diajarkan Rasulullah Muhammad? Bagaimana dengan puasa kita akan belajar untuk merasakan lapar dan dahaganya si fakir, bagaimana kita bisa berempati dengan penderitaan si miskin yang dalam kesehariannya, tidak siang, tidak malam, mengalami kelaparan dan kedahagaan “abadi”. Bagaimana puasa yang kita amalkan mampu membentuk manusia berakhlakul karimah dan bertaqwa sebagaimana tujuan utama dari ibadah puasa? Dalam skala yang jauh lebih luas, jika amalan puasa yang kita jalankan masih “sekelas” demikian, bagaimana mungkin puasa dapat memperbaiki akhlak dan moralitas bangsa yang kini kian terpuruk? Apakah kita akan terus terjebak sekedar mengerjakan ritual puasa tanpa mampu memetik hikmahnya?

Semoga kita mampu untuk berpikir jernih dan meredefinisikan kembali makna puasa kita. Hanya dengan hidayah dan bimbingan Allah-lah kita dapat menjalankan puasa dengan sebaik-baiknya dan mencapai tujuan jiwa yang suci, jiwa yang sungguh-sungguh bertaqwa dengan landasan rasa iman yang semurni-murninya. Dengan demikian puasa kita tidak hanya sekedar puasa makan dan minum, tetapi merupakan puasa yang sebenar-benarnya sebagaimana diajarkan melalui Rasul-Nya. Mari kita merenung dan gembirakanlah datangnya puasa. Marhaban ya Ramadhan!

Ngisor Blimbing, 17 Juli 2012

Magelang dan Jateng Visit Year 2013

Liburan sekolah atau kuliah telah tiba. Kemudian aktivitas apakah yang sering dilakukan untuk mengisi liburan? Mungkin tidak sedikit yang menjawab wisata. Ya, berwisata untuk mengisi masa liburan memang sangat menyenangkan.  Ada berbagai pilihan obyek wisata yang dapat dikunjungi, mulai dari pantai, gunung, air terjun, telaga, candi, hingga museum atau monumen, termasuk wisata kuliner. Tujuan berwisatapun bisa bervariasi, dari sekedar hiburan, petualangan, bahkan pendidikan.

Ditijau dari sisi kontribusi ekonomi, dunia pariwisata memang sangat berpeluang untuk mendongkrak pendapat asli suatu daerah. Dalam sebuah pengelolaan tempat atau obyek wisata, kunjungan wisatawan yang tinggi tentu merupakan masukan pendapatan dari penjualan tiket. Dunia wisata tidak bisa dilepaskan dari sarana prasarana jasa pendukung yang lain, ada sarana parkiran, toko souvenir, warung makan dan restoran, hingga oleh-oleh makanan khas suatu daerah. Lebih jauh lagi tentu akan terkait dengan dunia kerajinan dan industri kecil yang memproduksi aneka ragam souvenir, hingga jenis kuliner dan produk pertanian atau perkebunan. Tidak sampai di situ, pariwisata juga sangat berhubungan dengan penyediaan layanan jasa akomodasi, seperti penginapan dan transportasi. Intinya bahwa dunia pariwisata sangat berperan menyangga sektor ekonomi yang lain, dan apabila kontribusi dunia kepariwisataan tinggi, maka sektor usaha yang lain juga akan turut meningkat.

Melihat betapa sangat strategisnya peran dunia kepariwisataan, maka tidak sedikit negara-negara di dunia yang mengandalkan perekonomian negaranya dari sektor ini. Banyak contoh negara yang menopang ekonominya dari jasa kepariwisataan, sebut saja Singapura, Hongkong, Hawai, Thailand, Inggris, Prancis, bahkan Arab Saudi dengan wisata “haji dan umrahnya”. Kemudian bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia merupakan gugusan kepulauan Nusantara yang terbentang di jantung khatulistiwa. Secara alamiah, negeri ini menerima anugerah kemurahan alam yang melimpah ruah. Di bumi ini terdapat beranekaragam jenis tetumbuhan dan binatang. Bentangan alam geografis yang terpisahkan oleh lautan, dataran tinggi dan pegunungan telah melahirkan beragam akar kebudayaan yang sangat kaya dengan aneka suku bangsa, seni, tradisi, adat istiadat dan budaya yang sangat elok. Indonesia boleh berbangga sebagai negeri surgawi limpahan Ilahi Rabbi. Dengan demikian, sudah pasti negeri ini memiliki potensi pariwisata yang sangat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan, khususnya dari manca negara.

Menyempit dari bentangan Nusantara, singgahlah di wilayah Jawa Tengah. Provinsi yang tepat berada di tengah-tengah pulau Jawa ini memiliki berbagai obyek wisata yang sangat menarik. Wisata pantai terdapat di sepanjang pesisir utara, mulai daerah Brebes, Tegal, Pekalongan, Pemalang, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara hingga Rembang terdapat berbagai obyek pantai yang sangat menarik. Demikian halnya di pesisir selatan, mulai dari Cilacap, Kebumen, Purworejo, hingga Wonogiri juga memiliki panorama pantai selatan yang elok.

Wisata candi? Jawa Tengah adalah gudangnya candi Hindu-Budha peninggalan dinasti Syailendra dan Sanjaya. Sebut saja candi Borobudur, Mendut, kawasan Dieng, Sukuh, Cetho, Gedung Songo, bisa menjadi pilihan wisatawan yang gemar dengan bangunan arkeologi warisan masa lampau.

Wisata alam pegunungan? Ada Baturaden, daerah pegunungan Dieng, Grojokan Sewu, Curug Sewu, Curug Silawe, Rawapening, Ketep, Suralaya, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan wisata religius? Jawa Tengah memiliki berbagai masjid, pemakaman, petilasan, hingga tempat-tempat yang dianggap keramat. Untuk kategori ini sebut saja Masjid Agung Demak, Masjid Menara Kudus, Masjid Agung Jateng, makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, makam Sunan Muria di Jepara, Klentheng Sam Po Kong, hingga makam-makam para kiai terkemuka di Mangli, Gunung Pring, dll.

Di bidang budaya? Tentu saja Jawa Tengah memiliki Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Puro Mangkunegaran dengan segala tradisi, adat istiadat, kesenian dan budaya khasnya. Ada berbagai macam tarian dan seni tradisional, mulai jathilan, ndayakan, kubro siswo, ndolalak, hingga tayuban dan campur sari. Singkat kata, singkat cerita, Jawa Tengah memiliki lebih dari seribu satu potensi obyek wisata yang bisa dikunjungi.

Keberadaan potensi wisata yang sangat luar biasa ini masaih disadari belum optimal dalam mendukung pemasukan pendapatan daerah, termasuk dalam turut mengangkat kesejahteraan rakyat di sekitar masing-masing obyek wisata. Dengan demikian perlu dilakukan strategi dan langkah-langkah pengembangan melalui kegiatan promosi, pameran, dan penyelenggaraan berbagai festival untuk mengangkat pendapatan dari sektor kepariwisataan ini. salah satu langkah cerdas yang ditempuh oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah adalah agenda Jawa Tengah Visit Year 2013.

Program telah dicanangkan melalui berbagai tahapan agenda, mulai dari perencanaan, sosialisasi, promosi, hingga pelaksanaan di tahun depan. Semua pihak, terkhusus setiap Pemerintah Kabupatenpun harus tata-tata dan sumadya, mempersiapkan diri dengan membuat program-program di wilayahnya masing-masing. Kemudian bagaimana dengan Kabupaten dan Kota Magelang? Adakah gebrakan sosialisasi yang luas kepada kalangan masyarakat yang bersinggungan langsung dengan dunia kepariwisataan, maupun kalangan umum? Rasanya masih minimalis!

Magelang memiliki Borobudur, Mendut, Ngawen, dan berbagai candi yang lain. Di wilayah ini juga ada Ketep Pass, Jurang Jero, Kawasan Menoreh, hingga kawasan Sumbing dan gunung Andong. Kawasan inipun memiliki buah khas salak nglumut dan pondoh. Aneka kuliner seperti gethuk, pothel, slondhok, tape ketan, wajik, kupat tahu, magelangan, hingga sop snerek juga hal yang sangat menarik untuk disuguhkan kepada para wisatawan. Di kota Magelang ada Taman Kyai Langgeng dan gunung Tidar. Namun seberapa majukah wisata di kedua wilayah ini?

Magelang memang kaya dengan potensi wisata. Namun tidak berlebihan bila dikatakan bahwa masyarakat luas belum begitu merasakan manfaat ekonominya bagi kesjehateraan mereka. Borobudur memang terkenal, bahkan hingga ke manca negara. Banyak wisatawan dari luar daerah dan luar nageri yang berbondong-bondong mengunjunginya. Akan tetapi dari segi akomodasi, seperti jasa transportasi dan penginapan atau hotel, rasanya Jogjakarta lebih menikmati berkah Borobudur dan wisata di Magelang lainnya. Bahkan jangan heran apabila di luar sana, orang awam lebih mengenal Borobudur di Jogjakarta daripada di Magelang! Kenapa bisa demikian?

Demikian halnya dengan agenda Jateng Visit Year yang telah dicanangkan, apakah persiapan yang telah dilakukan Magelang? Nampaknya harus ada strategi jitu dan langkah-langkah percepatan untuk menyatukan gerak langkah semua insan yang terkait dengan kepariwisataan. Ya pemerintahnya, dinas pariwisata dan budaya, para pengelola obyek wisata, penyelenggara jasa transportasi dan akomodasi, pemandu wisata, para pedagang, hingga masyarakat umum harus diberikan sosialisasi yang lengkap dan memadai peran apakah yang harus dilakukan masing-masing. Dengan sinergi yang solid, saya rasa Magelang dapat memanfaatkan momentum Jateng Visit Year 2013 mendatang secara lebih optimal. Rasanya hal tersebut sangat perlu untuk dilakukan kalau tidak ingin berkah tahun kunjungan yang kita agendakan lebih dinikmati provinsi lain!

Ngisor Blimbing, 17 Juni 2012

Membaca dengan Inovasi Animasi

Abad ini merupakan masa-masa yang cemerlang bagi pemuda yang mempunyai semangat untuk terus berkembang maju dan positif. Berlomba-lomba mencari kemenangan mutlak untuk mengawali masa depan mereka. Salah satunya dengan cara membaca. Dengan membaca kita akan bertemu dengan kata-kata yang asing di mata kita, selain itu membaca juga dapat untuk menambah suatu wawasan ilmu yang menakjubkan.

Dalam membaca, tak hanya sekedar melihat dan membaca kalimat yang ditulis, dalam aktivitas membaca ada satu makna yang sering dilupakan, yaitu memahami. Bagaikan bunga dan serangga yang saling sangkut-paut dalam kegiatan ekosistem. Membaca dan memahami juga sama dengan hal itu, dengan membaca dan memahami setiap kata, akan menghasilkan sebuat kalimat yang elok dimata dan pikirin.

Banyak orang yang menyepelekan satu kata yang sebenarnya bisa mengubah hidup mereka yaitu membaca. Membaca tidak akan lepas dari roda perputaran aktivitas manusia. Tanpa membaca, kita akan dibayangi oleh masa depan yang suram yang tidak punya tujuan hidup yang jelas. Dengan membaca kita akan mengerti maknanya, dan dengan membaca ilmu baru akan tertabung sedikit demi sedikit dalam memori otak kita.

Dalam mengartikan sebuah bacaan, tidaklah perlu membutuhkan jarak waktu dan usaha yang lama. Di mana-mana pasti terdapat bacaan, karena bacaan merupakan jalan pintas untuk manusia menuju sebuah kebenaran dalam memahami kehidupan nyata maupun maya. Seperti halnya buku-buku yang terpampang rapi di meja belajar kita, atau perpustakaan yang berdiri megah menyambut orang yang haus ilmu.

Rotasi zaman telah mengubah kepekaan memori otak terhadap komunikasi dan informasi dalam pengembangan suatu tujuan. Salah satunya pengembangan dalam sarana dan prasarana membaca. E-book yang merupakan sarana yang paling mudah untuk kita bawa ke mana-mana. Di mana saja kita dapat menambah wawasan dengan mudah dimanapun dan kapan saja.

Andaikan setiap orang menyatukan pikiran mereka dengan membaca, dunia mereka akan selalu dihiasi oleh warna-warni ilmu pengetahuan. Dari waktu seharian yang telah diberikan cuma-cuma, hanya beberapa persen saja yang kita gunakan untuk membaca suatu kalimat. Banyak saja ujian yang melewati alam sadar kita. Permainan internet yang mencandui pikiran pemuda sekarang.

Hegemoni budaya telah tersebar sangat cepat menuju saraf kendali budaya dunia. Dengan mudah dapat diterima banyak kalangan. Untuk itu, dibutuhkanlah suatu konsep untuk membenahi masalah yang yang serius ini. Dari pengamatan yang telah dilakukan, kebanyakan kalangan tidak menyukai bacaan yang monoton terhadap tulisan yang rapat dan tidak menarik. Karena dalam hal ini, otak bekerja dua kali lipat dari yang sebenarnya. Hanya melihat tulisan tanpa ada hiburan disekitarnya.

Dengan itu, adanya gambar saat membaca dapat membuat kita merasa bahwa jika membaca itu tidak membosankan untuk dilakukan. Selain mendapatkan ilmu, dengan ada gambar kita juga dapat meningkatkan daya imajinasi kita. Dua keuntungan dalam satu objek. Selain dengan gambar, membaca bisa kita sajikan dengan sebuah permainan susun kalimat atau yang lainya.

Selain itu, menurut penelitian yang telah dilakukan membaca dengan animasi dapat menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan kita. Dengan seimbangnya otak kita, dapat membuat kita siap dalam menghadapi masa depan. Semakin sering kita membaca bersamaan dengan melihat animasi disekitarnya membuat kita dapat larut dalam suasana yang rileks.

Jadi bangkitlah dari kemunduran yang di sebabkan informasi yang tak baik, sebuah aktifitas yang sepele di pandang orang, tapi luar biasa di hadapan masa depan. Tak boleh kalah dari dorongan informasi dan komunikasi yang mengahalangi untuk membaca. Mulailah membaca dari sekarang, dengan begitu masa depan yang sempurna akan menjemput anda.

  Muhamad Al-Fath

  SMP MUHAMMADIYAH PLUS  GUNUNGPRING MUNTILAN

  Juara III Lomba Menulis Tahun 2012 Kategori SMP