Sensasi Air Terjun Curug Silawe Magelang

CurugSilawe3Magelang memang merupakan kawasan dataran tinggi di pusatnya Tanah Jawa. Keluasan bentang alam dataran Magelang dipagari dengan deretan gunung dan pegunungan yang membentuk gelang maha raksasa. Dengan demikian pinggiran wilayah Magelang justru merupakan kawasan gunung dan pegunungan. Kawasan inilah yang secara sosio antropologis historis dikenal dengan Panca Arga, suatu kawasan yang dikelilingi deretan lima gunung, masing-masing Merapi, Merbabu, Telomoyo, Sumbung, serta Menoreh.

Keberadaan kawasan pegunungan nan asri merupakan daerah tangkapan air yang selanjutnya menghadirkan ratusan mata air dengan ratusan aliran sungainya. Adalah kontur lereng pegunungan yang terjal dan curam, serta adanya pengaruh proses geologi yang telah berlangsung selama jutaan tahun telah menghadirkan banyak patahan aliran sungai yang membentuk air terjun atau curug.

Diantara banyak air terjun yang terdapat di wilayah Kabupaten Magelang, Curug Silawe merupakan salah satu diantaranya. Air terjun alami yang berada di lereng gunung Sumbing ini tepatnya berada di wilayah Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran, yang berjarak kurang lebih sekitar 30 km sebelah barat laut dari pusat Kota Magelang.

CurugSilawe5 CurugSilawe6

Lokasi air terjun atau Curug Silawe dapat dicapai melalui beberapa jalur alternatif. Jika pengunjung datang dari arah Borobudur atau Porworejo, Curug Silawe lebih dekat diakses melalui Salaman, melintasi wilayah Kecamatan Kajoran. Adapun bagi pengunjung dari arah Kota Magelang dapat melewati jalur Bandongan – Kaliangkrik. Sedangkan jika pengunjung datang dari arah Semarang, maka sebelum memasuki Magelang dapat belok kanan di pertigaan Payaman, kemudian melintasi Windusari, Bandongan dan Kaliangkrik.

Meskipun jalur menuju Curug Silawe merupakan jalanan berkelok dan naik-turun mengikuti kontur lereng Sumbing, namun setidaknya hingga di titik Kaliangkrik kondisi jalanan berupa jalan beraspal yang cukup mulus. Barulah ketika menaiki tanjakan menuju Kantor Desa Temanggung, jalanan sedikit menyempit berupa jalan aspal yang mulai mengelupas di sana-sini. Bahkan terdapat beberapa ruas yang meninggalkan jalan kricakan berupa tatanan batu tanpa aspal lagi.

CurugSilawe7

CurugSilawe4 CurugSilawe2

Mencapai lokasi Curug Silawe memang penuh tantangan oleh kondisi jalanan yang terjal dengan beberapa tanjakan dan turunan curam. Bahkan di ujung menjelang loket obyek wisata, tanjakan ekstrim berupa dua jalur blok cor-coran benar-benar menghadirkan degup adrenalin yang menantang. Jangankan mobil, motor baru sekalipun sangat jarang bisa lolos di tanjakan ini. Banyak pengunjung berkendaraan roda dua, terpaksa menurunkan penumpangnya dan melenggang sendirian untuk mencapai ujung tanjakan.

Kondisi infrastruktur jalan menuju lokasi wisata Curug Silawe yang belum memadai sama sekali tidak menyurutkan banyaknya pengunjung yang datang ke obyek di lereng Sumbing ini. Di samping perjalanan yang penuh tantangan, sisi kanan-kiri jalanan yang masih hijau asri dalam suasana dan nuansa khas pedesaan merupakan pemandangan yang sungguh menyegarkan mata serta pikiran. Dan Anda tidak akan pernah merasa rugi menempuh berbagai tantangan medan berat tersebut tatkala telah benar-benar sampai dan menikmati kesejukan jatuhan air bening di Curug Silawe.

Curug Silawe merupakan air terjun dengan ketinggian lebih dari 40 meter. Nama silawe konon berasal dari sebutan binatang laba-laba oleh masyarakat setempat. Pada saat belum dikelola sebagai obyek wisata, lereng terjal di sekitar air terjun dipenuhi dengan ratusan sarang laba-laba. Tentu nama tersebut sedikit meleset dari bayangan para calon pengunjung yang kebanyakan diantaranya menduga bahwa nama silawe identik dengan kata selawe yang berarti dua puluh lima. Memang banyak orang luar daerah yang menghubungkan kata selawe dengan perkiraan ketinggian air terjun.

CurugSilawe1 CurugSilawe8

Ketinggian jatuhan air dengan debit yang cukup besar menghadirkan sensasi tersendiri bagi pengunjung. Di samping tampias titik air yang terasa sangat sejuk, bahkan dingin, pada saat matahari bersinar cerah butiran air yang lembut juga membentuk bias pantulan sinar matahari yang menghadirkan warna-warni pelangi nan cantik. Cerukan di bawah jatuhan air yang deras membentuk cekungan bendungan yang mengundang pengunjung untuk berbasah ria bermain air. Bahkan tidak sedikit pengunjung yang mandi di bawah guyuran air terjun. Sungguh sebuah pengalaman yang terlampau sayang untuk dilewatkan.

Sebagai sebuah potensi obyek wisata alam yang sangat menarik, sayangnya Curug Silawe masih dikelola ala kadarnya oleh pemerintah desa setempat yang memberdayakan kaum muda dan para ibu-ibu. Ke depannya sangat penting turun tangan nyata dari pemerintah di tingkat kabupaten maupun provinsi untuk menghadirkan infrastruktur jalan dan sarana transportasi untuk mengakses Curug Silawe ini. Jika kunjungan wisatawan terus meningkat, bukan tidak mungkin obyek ini akan mampu memberikan peningkatan kesejahteraan bagi warga setempat, dan tentu saja juga bagi pendapatan asli daerah di wilayah Kabupate Magelang.

Ngisor Blimbing, 9 Januari 2015

Pesona Pesanggrahan Sendangsono

Sendangsono1  Sendangsono2

Siapa yang tidak kenal ataupun belum pernah mendengar nama besar Romo Mangun. Lelaki yang bernama lengkap YB Mangunwinajaya tersebut tidak saja dikenal sebagai seorang pastur Katholik tetapi sekaligus seorang arsitektur dan penganut paham humanism dalam setiap sepak terjangnya. Bagi penggelut sastra, nama Romo Mangun sangat akrab dengan karya-karya romannya, seperti Rara Jonggrang, Burung-burung Manyar, dll.

Salah satu jejak karya arsitektur Romo Mangun yang spektakuler adalah Pesanggrahan Sendangsono. Sendangsono sendiri merupakan sebuah situs yang sangat bersejarah dalam penyebaran agama Katholik di Tanah Jawa. Adalah Romo Vanlith, seorang misionaris yang pada awalnya datang di wilayah Muntilan, melakukan pembabtisan terhadap Barnabas Sarikrama dan beberapa warga setempat di sebuah sendang di bawah pohon sono (angsana) yang terletak di atas perbukitan Menoreh. Berawal dari keberadaan sendang inilah, tempat tersebut menjadi tujuan peziarahan kaum Katholik yang hingga kini dikenal sebagai Sendangsono.

Sendangsono terletak di gugusan perbukitan Menoreh. Dari jalur utama yang menghubungkan Muntilan – Wates, sebelum tikungan jembatan di wilayah Banjaroya kita akan menemukan sebuah pertigaan yang mengarah ke kanan. Dengan menyusuri jalanan beraspal yang relatif sepi dari hiruk-pikuk kendaraan, kita harus menyusurinya sepanjang kurang lebih 7 km untuk tiba di Sendangsono. Kondisi jalan sangat baik dan bisa dilalui, baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Meskipun perlahan jalanan menanjak, namun jalanan yang asri oleh rerimbunan pohon di kanan-kirinya menjadikan perjalanan sungguh mengasyikkan. Hal ini masih ditambah lagi dengan suguhan pemandangan di sisi bawah perbukitan dengan hamparan ngarai Kali Progo di sisi timur sungguh menyuguhkan panorama yang sangat indah.

Bagi pengunjung yang baru pertama kali menuju Sendangsono, tidak perlu khawatir akan tersesat atau salah jalan dikarenakan sepanjang perjalanan telah terpasang petunjuk arah yang memadai untuk memandu arah ke Sendangsono.

Sendangsono7

Tiba di area Pesanggrahan Sendangsono, pengunjung dapat menempatkan kendaraannya di area parkir yang telah tersedia. Selanjutnya dengan berjalan kaki, pengunjung dapat langsung memasuki gerbang gapura berbentuk persegi dengan lengkung tinggi di tengahnya serta bertatahkan batu kali yang memberikan kesan keanggunan dan keagungan dalam bingkai kebersahajaan. Selanjutnya sebuah lorong melengkung dan menanjak dengan deretan para penjual perlengkapan doa maupun souvenir khas akan mengantar pengunjung menuju area pesanggrahan.

Area pesanggrahan Sendangsono sebenarnya terletak pada sebuah ngarai yang diapit dua sisi perbukitan. Tepat di tengah ngarai inilah terdapat mata air dan sendang yang menjadi cikal bakal penamaan Sendangsono. Sebuah sendang pemandian yang terletak di bawah pohon sono. Sono sendiri merupakan salah satu jenis pohon yang hingga kini banyak terdapat di kawasan perbukitan Menoreh.

Begitu menapaki pintu masuk pesanggrahan melalui jalur jalanan berundak yang menurun, pengunjung akan langsung merasakan sebuah nuansa kedamaian dan ketentraman hati. Bentuk, tatanan, hingga penempatan bangunan sungguh memiliki perpaduan artistik yang sangat mempesona. Bahkan sekedar anak tangga dan undak-undak di berbagai tepian sungai diisi dengan rangkaian konblok yang ditata sedemikian rupa sehingga berwujud terasiring yang menampilkan sentuhan bentuk tiga dimensi yang sangat luar biasa.

Sendangsono3  Sendangsono4

Berada di bagian awal ketika pengunjung memasuki area pesanggrahan, terdapat beberapa pondok terbuka dengan dengan dominasi bahan kayu, bahkan lantainyapun berupa tatanan kayu berserat yang mengesankan alami dan berkesan sejuk. Bangunan beratap limas dengan sisi tepi bersirip tatanan genteng yang membentuk segitiga dari puncak atap hingga dasar bangunan ini mengingatkan kepada sebuah tenda yang digunakan para pramuka untuk berkemah. Bangunan kembar dua yang berdiri di lereng sungai ini sebenarnya bertingkat dua dengan tingkat atas yang sejajar dengan pelataran di teras pertama. Bangunan terbuka ini biasa difungsikan sebagai tempat diskusi bersama maupun peristirahatan para peziarah yang tinggal untuk beberapa hari di tempat ini.

Beranjak dari pelataran di terap pertama, pengunjung dapat menelusuri sebuah lorong berundak dengan hiasan ornament beberapa patung yang mengisahkan perjalanan hidup Yesus dalam bingkai relung atap mungil yang ditempatkan di dinding tebing. Lorong inilah yang disebut sebagai jalan salib pendek.

Anak tangga pada jalan salib pendek ini selanjutnya mengantarkan ke sebuah bangunan dengan dinding kaca terbuka. Uniknya bangunan yang bernama Kapel Para Rasul ini dimahkotai dengan tiga atap berbentuk piramida dengan masing-masing piramida memiliki empat pucak piramida yang lebih kecil. Atap tersebut bisa disebut atap piramida bertingkat dengan dua belas puncak piramida. Angka dua belas konon melambangkan dua belas rasul suci yang dipercayai sebagai para murid Yesus. Gaya arsitektur atap piramida tersebut mengingatkan kita kepada model istana ataupun benteng jaman eropa klasik yang dilengkapi menara atau kastik dengan puncak limas maupun kerucut dengan bendera di puncaknya.

Sendangsono6

Naik dari teras Kapel Para Rasul, sampailah pengunjung di pelataran terap ke tiga. Pelataran yang cukup luas dibandingkan pelataran yang lainnya ini memberikan sudut pandang ke segenap area pesanggrahan. Dari pelataran ini terlihat seluruh bagian pesanggrahan, baik di sisi bawah, atas, maupun seberang sendang. Dari pelataran ini bisa mengantarkan pengunjung ke bangunan kapel Maria, ke area makam Semagung yang ditandai dengan salib millenium, ke area sendang penyucian, ataupun goa Bunda Maria di sisi bawah. Dengan dinaungi sebatang pohon beringin yang besar nan rindang menjadikan suasana di pelataran ini penuh kesejukan oleh semilir angin pegunungan yang berhembus. Suasana ini benar-benar meneggelamkan siapapun yang ingin bermeditasi dan mendekatkan diri kepada alam juga kepada Tuhan.

Menyusuri sisi bangunan fisik pesanggrahan Sendangsono mungkin memang hanya memerlukan beberapa saat saja, tetapi memaknai setiap sisi abstraksi bangunan maupun historis yang ada kita memerlukan waktu yang teramat panjang untuk dapat menangkap semua aura ruhaniah yang dirancang semenjak seratus tahun yang lalu. Sendangsono seolah menjadi samudera yang luas nan maha dalam bagi pengembaraaan batin setiap insan, bahkan yang bukan seorang Katholikpun.

Wisata Candi Selogriyo

Selagriyo2Bicara mengenai candi, Kabupaten Magelang bisa dikatakan sebagai wilayah seribu candi karena banyaknya situs candi di dalamnya. Borobudur dan Mendut, mungkin sudah sangat terkenal dan diketahui oleh para wisatawan dari luar daerah maupun luar negeri. Tetapi untuk candi-candi yang lain, bisa dikatakan masih sedikit masyarakat luar Magelang yang mengetahuinya secara utuh. Salah satu candi yang memiliki keindahan sangat unik tetapi belum banyak terekspos berita adalah Candi Selogriyo di lereng Gunung Sumbing.

Menilik dari namanya, sejarah mengenai asal usul penamaan candi Selogriyo berkenaan dengan bangunan terbuat dari batu dan bisa difungsikan selayaknya rumah. Selogriyo, dengan demikian mengacu kepada rumah yang terbuat dari batu, atau bisa juga bangunan yang merupakan “rumahnya” batu. Apakah memang semenjak awal pendiriannya di jaman Mataram Kuno candi ini telah dinamakan Selogriyo, hingga kini tidak ada satupun bukti sejarah yang bisa menjadi referensi.

Candi Selogriyo berlokasi di wilayah Desa Kembang Kuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Ada dua alternative jalur yang bisa diambil untuk menuju lokasi tersebut. Pertama, bagi pengunjung yang melalui jalur Magelang-Semarang dapat menempuh jalur Payaman, Windusari, hingga mencapai Kembang Kuning. Hanya saja keberadaan plang penunjuk arah agak sedikit tersamar pada sebuah tikungan tajam sekaligus tanjakan menyudut arah kiri, sementara plang dan arah candi berada di sisi kanan jalan. Maka jika memilih jalur ini, akan lebih baik jika pengunjung tidak melajukan kendaraannya terlalu cepat sehingga tidak terlewat jalur masuk arah Selogriyo.

Kali Progo1   Kali Progo2 Kali Progo3   Sawah1

Adapun alternatif ke dua, terutama bagi pengunjung dari arah selatan atau Kota Magelang, dapat memilih jalur Magelang, Bandongan, arah Windusari. Dengan menuruni sisi barat Kota Magelang, pengunjung dapat menyaksikan keelokan Kali Progo pada saat melewati jembatan di daerah Plikon. Jalanan selanjutnya akan kembali menanjak dan mengantarkan pengunjung tiba di Pasar Bandongan. Di samping pasar inilah terdapat pertigaan arah kanan yang akan mengantarkan menuju wilayah Windusari. Terus saja ikuti jalur ini hingga tiba di wilayah Kembang Kuning dan menemukan plang petunjuk Candi Selogriyo di sisi kiri jalan.

Selepas dari jalan utama, pengunjung akan menempuh jalanan beraspal kasar yang menanjak. Tibalah di Dusun Campurejo yang merupakan pintu gerbang menuju candi. Bagi pengunjung dengan kendaraan roda empat, perjalanan berkendara hanya bisa hingga di dusun tersebut. Kendaraan roda empat dapat diparkir di tempat-tempat parkir yang telah disediakan penduduk setempat. Perjalanan selanjutnya dapat ditempuh dengan jalan kaki ataupun menyewa ojek penduduk. Adapun untuk pengunjung dengan roda dua dapat terus melanjutkan perjalanan hingga ke pelataran parkir di gerbang atas candi.

Campurejo1

Campurejo  Campurejo2

Keluar dari Dusun Campurejo, pengunjung akan menempuh perjalanan di tepian pematang sawah yang merupakan jalanan setapak. Di sinilah terdapat sebuah pos sekaligus loket penjualan tiket masuk lokasi wisata Candi Selogriyo. Dengan harka tiket masuk lima ribu rupiah, pengunjung dapat mengeksplorasi pemandangan alam kaki gunung Sumbing sekaligus eksotika Candi Selogriyo di puncak sebuah bukit.

Perjalanan bersepeda motor pada jalur selanjutnya akan terasa menantang dan penuh rasa degdegan. Di samping karena jalur jalan setapak yang sempit, pada sebagian jalur perjalanan merupakan jalan setapak yang menempel pada tebing berbukitan yang menanjak dan berkelok-kelok. Di sisi kiri tebing terjal dengan profil dinding berbatu terjal, sedangkan sisi kanan merupakan lembah dan ngarai persawahan yang membentuk lekukan jurang menganga yang menantang jiwa raga jika pengunjung lengah sekejap mata saja. Untuk kondisi jalanannya sendiri kini sudah jauh lebih baik karena sudah dipaving selebar satu meter hingga ke sisi atas di muka gapura candi. Akan tetapi tantangan tersebut juga dibayar timpal dengan pemandangan hijau segar khas pegunungan yang akan senantiasa memanjakan mata sekaligus menyegarkan pikiran pengunjung untuk semakin mengagumi karunia alam ciptaan Tuhan.

Selogriyo1  Selogriyo2

Selogriyo6

Setelah sampai di pelataran yang difungsikan sebagai tempat parker kendaraan roda dua, pengunjung akan segera menjumpai sebuah gapura candi terbuat dari batu alam yang akan mengantarkan kepada sebuah jalur anak tangga untuk menaiki bukit dimana candi berada. Di sisi kanan-kiri tangga tertata dengan sangat elok berbagai tanaman hias dengan bebungaan yang seolah senantiasa mekar sepanjang tahun. Di sinilah kekuatan fisik, terutama nafas, pengujung benar-benar diuji. Perjalan ini sekaligus sangat baik untuk menempa fisik dan psikis pengunjung dengan laku mendekatkan diri kepada alam dengan sedekat-dekatnya.

Tibalah di ujung jalur tangga sebuah pelataran berumput hijau pada sebidang tanah datar di sisi bukit anak Gunung Sumbing. Di sinilah Candi Selogriyo berdiri dengan anggunnya.

Selogriyo3

Candi Selogriyo merupakan candi Hindu yang dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Sanjaya. Dengan ciri bangunan yang ramping nan langsing, candi ini beratap susun tiga dengan mahkota sebentuk stupa bulat yang mungkin merupakan pengaruh nafas bangunan candi Budha. Adapun di ketiga sisi, terdapat hiasan relung dengan patung Shiwa dalam berbagai posisi berdiri. Di beberapa sudut juga nampak patung Shiwa yang mengendarai Lembu Andini. Sedangkan salah satu sisi candi merupakan pintu yang menghubungkan ke dalam ruang dalam bangunan candi. Dulunya ruang dalam tersebut tentu digunakan untuk bersembahyang atau bermeditasi dengan segala kelengkapan arca atau altarnya. Namun kondisi saat ini, ruang dalam nampak suram dan lembab dan tidak ada satupun patung pujaan yang tersisa.

Menikmati keanggunan Candi Selogriyo akan membawa kita kepada suasana keheningan yang sesekali diselingi desir suara angin yang turun dari puncak Sumbing. Kesejukan suasana gunung, kesunyian yang menghanyutkan, seringkali membawa kita kepada suasana kantuk. Di area pelataran candi telah dilengkapi dengan pondok terbuka yang dapat dipergunakan untuk beristirahat sambil terus menenggelamkan diri dalam eksotika masa lalu yang mengharu biru. Candi Selogriyo dengan berbagai latar sudutnya merupakan sebuah masterpiece hasil karya adiluhung para leluhur yang sangat membanggakan dan harus senantiasa dilestarikan.

Selogriyo4  Selogriyo5

Ada satu catatan kecil sebagai bentuk kerpihatinan dimana kondisi struktur bangunan candi sudah sangat rentan terhadap getaran, terlebih jika terjadi gempa bumi yang cukup kuat. Sementara ini untuk mengamankan bangunan candi, pihak berwenang memasang sabuk yang mengikat bagian tubuh candi. Mungkin untuk selanjutnya perlu dipikirkan untuk merestorasi struktur bangunan agar tidak perlu lagi memakai sabuk pengaman dan keindahan candi dapat tampil dengan lebih sempurna.

Ngisor Blimbing, 15 Agustus 2015

Air Terjun Sekar Langit – Magelang

Sekar Langit1Meskipun sangat awam dengan ilmu cuaca dan perikliman, namun hampir setiap lapisan masyarakat akhir-akhir sangat akrab dengan istilah elnino. Konon elnino inilah yang menyebabkan musim penghujan mengalami kemunduran, sehingga musim kemarau tahun ini menjadi berlangsung semakin lama. Dan kitapun tahu jika musim kemarau sudah melanda, maka kekeringan akan melanda sebagian wilayah tanah air.

Tidak hanya sungai mulai susut bahkan mengering airnya. Tidak hanya perbedaan suhu udara yang sangat ekstrim antara waktu siang dan malam hari. Kemarau tentu saja menyebabkan terganggunya pola tanam yang berujung kepada kegagalan panen, terutama akibat tidak tercukupinya pasokan air.

Bayangkan jika pada suatu siang bolong matahari bersinar dengan sangat teriknya, tentu saja kita merasa sangat kepanasan. Kepanasan selanjutnya memicu rasa haus yang tiada terkira. Dalam situasi demikian, apakah hal yang menyenangkan untuk dilakukan? Bagaimana dengan berendam atau kekeceh di dalam aliran air sungai nan jernih dan sejuk menyegarkan? Memangnya masih ada air bening mengalir di masa kemarau yang teramat sangat panjang kali ini?

Tentu saja di tengah kondisi dimana kebanyakan daerah mengalami kekeringan, tidak semua daerah mengalami kondisi yang sama. Tentu ada satu-dua daerah masih menyisakan mata air yang tetap ajeg mengeluarkan kandungan suci perut bumi. Di beberapa daerah, terutama di bagian pedalaman pada puncak gunung atau perbukitan, mata air masih terus mengalirkan airnya. Meskipun tentu saja alirannya sedikit-banyak mengalami penyusutan, tetapi bisa dikatakan debit alirannya hanya susut sangat sedikit.

Sekar Langit2

Di wilayah Kabupaten Magelang, masih terdapat beberapa mata air yang bahkan masih terus mengalirkan air terjun yang cukup besar. Salah satunya adalah air terjun yang terletak di bawah kaki gunung Telomoyo yang merupakan perbatasan antara Magelang, Semarang dan juga wilayah Salatiga. Air terjun ini dikenal secara luas oleh masyarakat setempat sebagai air terjun Sekar Langit.

Air terjun Sekar Langit merupakan salah satu wisata alam yang menjadi andalan Kecamatan Grabag. Sedikit bergerak dari perempatan Pasar Grabag ke arah utara akan terdapat sebuah simpangan mengarah ke kanan. Dengan menyusuri jalan beraspal berkelok yang samakin menanjak, kita akan mencapai lokawisata Air Terjun Sekar Langit yang berada di Desa Tlogorejo.

Sekar Langit3   Sekar Langit4

Berada di sudut desa, terhampar sebuah lapangan berumput dengan empat patok bambu tinggi yang biasa dipergunakan untuk pangkalan lomba balap atau pacu burung merpati, istilah populernya adalah tomprang. Lapangan inilah yang sekaligus difungsikan sebagai lahan parkir bagi para pengunjung yang akan berwisata di Air Terjun Sekar Langit. Tepat di sudut lapangan berdiri gagah sebuah gapura beratap tumpang limas segi empat yang merupakan tempat penjaga dan menjadi loket penjualan karcis tanda masuk. Hanya dengan merogoh kocek lima ribu rupiah untuk setiap pengunjung, kita tidak akan rugi dan menyesal untuk menikmati kesejukan air di Sekar Langit.

Setelah melewati gerbang, pengunjung akan dibawa menapaki tangga menurun yang menghubungkan dengan sebuah jalur jalan setapak selebar dua meter. Jalur di tepian tebing yang sudah dicor block dengan rapi ini dipagari dengan deretan rumpun bambu. Ada beraneka macam bambu yang ada, seperti bambu petung, apus, ampel, legi, juga ori. Rimbunnya rumpun bambu dan jenis pepohonan lain menghadirkan suasana sejuk dengan semilir angin yang juga menghantarkan irama lagu alam yang didendangkan antar ruas bambu yang saling bergesekan maupun daun serta clumpring kering yang berserakan. Menapi jalur ini, pengunjung tetap harus waspada karena di sisi kiri tebing yang merupakan tepian aliran sungai tidak dipagari.

Sekar Langit5  Sekar Langit6 Sekar Langit7  Sekar Langit8

Berjalan kurang lebih satu kilometer, pengunjung akan melintasi sebuah jembatan gantung yang seolah menjadi gerbang pengantar dimana deru air sudah mulai terdengar dengan riuhnya. Di atas jembatan ini pula pengunjung sudah dapat melihat peandangan air terjun dari sisi kejauhan. Tepat di ujung jembatan gantung yang beralaskan tatanan ruas bambu terdapat bango bambu, semacam tempat istirahat bagi pengunjung yang perlu melepas lelah. Di bango ini pula dijual sekedar minuman ringan dan makanan kecil.

Melenjutkan titian jalanan selepas jembatan gantung, pengunjung masih perlu menapaki jalanan yang sedikit menanjak sebelum akhirnya Air Terjun Sekar Langit membentang di depan mata. Perjalanan kaki yaang dilalui sekian lama dan menjadikan sedikit kelelahan terasa langsung sirna oleh hempasan embun air yang berasal dari curahan air terjun.

Sekar Langit9

Air Terjun Sekar Langit memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter. Air dari ketinggian tebing seolah tercurah dengan bebasnya di antara relung bebatuan seolah menjadi perlambang kebebasan dan kemerdekaan alam anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Setelah menapaki beberapa tingkatan tebing, air langsung tercurah di dasar cekungan yang membentuk sebuah telaga nan asri. Di telaga bening inilah kita dapat sepuasnya kekecehan, berendam diri, bahkan mandi kungkum dan berenang. Sungguh sebuah keasyikan dalam balutan kenikmatan yang sungguh sulit tergambarkan.

Di samping keindahan pesona penampakan air terjunnya, Sekar Langit juga menyimpan sebuah legenda yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Konon di telaga Sekar Langit inilah terjadi kisah pengelanaan para bidadari yang turun dari kahyanga. Beningnya air telaga dan keasrian alam sekitarnya telah menjadikan para bidadari tersebut menikmati mandi bersama. Terkisahlah seorang anak muda bernama Jaka Tarub yang mendapati sekumpulan bidadari cantik sedang mandi. Entah firasat dari mana, Jaka Tarub kemudian mengambil salah satu pakaian bidadari tersebut.

Sekar Langit10

Pada saat para bidadari selesai mandi, satu per satu mereka mengenakan pakaiannya kembali dan bergegas terbang kembali ke kahyangan. Adalah bidadari bernama Dewi Nawangwulan yang memiliki baju kuning emas tidak dapat menemukan pakaiannya. Dikarenakan hari semakin siang para bidadari ketakutan ketahuan para dewa telah turun ke bumi dan mandi di telaga, maka bidadari yang lain segera pergi meninggalkan Nawangwulan. Tinggallah Nawangwulan seorang diri.

Di tengah kekalutan menghadapi hilangnya pakaiannya, Nawangwulan mengucap sayembara bahwa siapapun yang menolongnya akan disasmitani atau membaktikan diri, jika perempuan maka akan dijadikan saudara dan apabila laki-laki akan dijadikan suaminya. Akhirnya keluarlah Jaka Tarub menjadi penolong Nawangwulan. Akhirnya Jaka Tarub dan Nawangwulan menjadi suami istri dan hidup rukun bahagia.

Konon dari legenda inilah air terjun di Grabag ini dikenal sebagai Sekar Langit. Sekar berarti bunga atau kembang. Dengan demikian air terjun ini seolah menggambarkan jatuhnya bunga atau kembang langit yang tidak lain adalah Dewi Nawangwulan tadi.

Ngisor Blimbing, 13 Agustus 2015

Ngepos di Pagi Hari

Ngepos2Sekira satu minggu selepas Idhul Fitri kemarin, saya berkesempatan nggiring para cucu Mbah Kakung beranjangsana di Pos Pengamatan Merapi di Dusun Ngepos, Srumbung – Magelang. Dengan menembus kabut tipis sisa embun semalam, cuaca pagi itu memang cukup membuat tulang menggigil kedinginan. Jalanan beraspal yang berliku dan semakin menanjak membawa kami melintasi beberapa dusun tetangga, seperti Gejayan, Babadan, Nglembar, Bendan, Waru Doyong, Krajan, Ngagrong, dan pastinya Salam. Selepas menyeberangi Kali Putih sampailah kami di kerumunan Pasar Ngepos.

Pasar Ngepos merupakan salah satu dari dua pasar resmi yang ada di wilayah kecamatan kami. Hari pasaran di pasar ini senantiasa selang-seling atau bergantian dengan Pasar Srumbung di dekat kecamatan. Beruntung pada pagi tersebut sedang gilirannya Pasar Ngepos berhari pasaran. Walhasil, semenjak Subuh para pedagang sudah mulai sibuk menata dagangannya dan para pembelipun juga sudah banyak yang berdatangan.

Sebagai pasar tradisional yang berada di tengah sentra pertanian, sudah pasti pasar ini menjadi pintu gerbang pertama keluarnya komoditas hasil pertanian di wilayah Merapi sisi barat. Aneka ragam sayur-mayur yang ditanam dari kesuburan abu Merapi dengan mudah dicari di sini. Ada sayur sawi, jetsin, lebor, kubis, kentang, buncis, kapri, kacang panjang, tomat, dll. Ada pula aneka ragam rempah dan bumbon, seperti cabe, bawang, jahe, kencur, dll. Sebagai sentra tanaman salak pondoh, tentu saja banyak warga yang menjualkan panenan dari kebunnya di pasar ini.

Ngepos4 Ngepos5

Selain melayani penjualan produk pertanian setempat, di pasar ini sudah pasti juga dijajakan aneka barang kebutuhan rumah tangga. Ada pula peralatan dapur, peralatan pertanian, hingga sapu lidi dan kain pel. Untuk urusan jajanan pasar, di pasar ini bisa ditemukan aneka jajanan kue tradisional, semisal gatot, thiwul, ongol-ongol, bubur terik, hingga rengginan dan enting-enting jahe. Bagi kebutuhan warga sekitar, keberadaan Pasar Ngepos sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Selain keberadaan Pasar Ngepos yang ramai dengan kesibukan pedagang dan pembelinya, di samping kerumunan pasar tepat di ujung pertigaan berdiri dengan kokohnya sebuah bangunan bentuk panggung setinggi kira-kira 25 m. Rumah panggung inilah yang merupakan pos pengamatan untuk memantau aktivitas gunung Merapi yang merupakan gunung teraktif di dunia. Pos yang telah dibangun sebagai peninggalan Belanda inilah yang menjadikan tempat ini disebut dengan Dusun Ngepos.

Rumah panggung yang disangga dengan rangkaian kerangka besi yang menjadi pos pengamatan gunung Merapi tersebut telah berdiri semenjak tahun 1935. Tentu saja tahun tersebut hanyalah merupakan waktu pada saat menari dibangun. Adapun keberadaan pos pengamatan atau mungkin menara pemantau yang lama sudah ada jauh sebelum masa itu dan menjadi cikal bakal penamaan Dusun Ngepos itu sendiri.

Ngepos3Pos pengamatan gunung Merapi di Ngepos merupakan satuan teknis pelaksana di bawah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Berada pada ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan air laut menjadikan wilayah ini termasuk kaki gunung Merapi yang berhawa sejuk, bahkan sangat dingin sebagaimana pada saat kami dolan kemarin.

Selain bangunan panggung pengamatan visual yang dilengkapi dengan peralatan teropong jarak jauh, di bawah bangunan menara juga terdapat semacam taman alat untuk pengamatan berbagai kondisi udara maupun cuaca setempat. Diantara alat pengamatan yang ada cuaca yang ada adalah termometer dan higrometer untuk pengukuran temperatur dan kelembaban udara. Ada pula regenmenter atau peralatan penakar curah hujan yang terjadi.

Di samping melihat-lihat aneka peralatan pengamatan yang ada di pelataran bawah maupun di dalam kantor, hal yang paling menantang ketika mengunjungi pos ini adalah kesempatan untuk menaiki tangga menara dan naik ke atas rumah panggung yang sangat mendebarkan. Hanya dengan injakan anak tangga dari lembaran balok tipis, siapapun akan merinding ketika menaiki dan melihat secara langsung arah bawah menara. Debar jantung bertambah kencang dikarenakan di sisi kanan dan kiri tangga naik juga hanya dipagari dengan besi tipis yang terasa seolah-olah dapat patah setiap saat.

Ngepos1 Ngepos2

Rasa dag-dig-dug dan was-was pada saat menaiki anak tangga akan terbayar dengan sebuah ketakjuban pada saat kita berhasil sampai di puncak menara pos pengamatan gunung Merapi ini. Bukan soal dapat melihat secara dekat peralatan-peralatan teropong di dalam pos, akan tetapi yang lebih mengasyikkan adalah pemandangan sekitar yang dapat diamati dengan padangan lepas ke segala penjuru mata angin. Di sisi utara (timur) tentu saja menjulang dengan perkasanya puncak Merapi yang senantiasa mengepulkan asap putihnya.

Adapun di sisi bawah arah selatan, barat, dan utara nampak terhampar rumah-rumah penduduk yang berjajar memenuhi perkampungan Dusun Ngepos. Keramaian pasar Ngepos dan rentang jembatan gantung di Kali Putih nampak sangat menakjubkan dipandang dari atas menara. Sungguh sebuah pengalaman yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, kecuali Anda datang langsung menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Meskipun penuh perjuangan untuk menepis rasa dag-dig-dug ketika menuju puncak menara, namun setiap pengunjung pasti akan senantiasa ketagihan untuk kembali menaiki menara pada kesempatan yang lain jika berkunjung lagi ke pos ini.

Ngepos6Anda pernah merasakan hal yang sama? Jangan sampai Anda ketinggalan pengalaman yang menantang ini. Datanglah sekali-kali ke Pos Pengamatan Gunung Merapi di Dusun Ngepos tersebut.

Ngisor Blimbing, 3 Agustus 2015

Museum Sudirman Magelang

Museum SudirmanMagelang dari jaman ke jaman sudah tuoerkenal bin kondang kaloka dengan kesejukannya. Pertemuan angin gunung dari empat penjuru lima mata angin meliputi Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh yang dipadu dengan angin lembah Tidar inilah yang membawa hadirnya potongan surga di pusarnya Tanah Jawa. Tidak mengheran jika Rafles taupun Gubernur Jenderal penerusnya menjuluki Magelang sebagai Tuin di Java, Tamannya Tanah Jawa.

Di samping hawa udara yang sejuk sepanjang hari, panorama dan bentang alam datarang tinggi yang diapit Kali Progo di sisi barat dan Kali Elo di sebelah timur semakin menambah eksotika Magelang tercinta. Maka kondisi laksana surga ini membuat pemerintah Kolonial Belanda menjadikan Magelang sebagai pusat beberapa aktivitas vital, mulai dari pusat pemukiman, pendidikan, ekonomi, dan sarana penunjang kesehatan. 

Hal-hal tersebut di atas masih tersisa bahkan terus lestari hingga masa kini. Lihat saja pengembangan Magelang sebagai pusat militer umpanya. Keberadaan tangsi-tangsi militer eks Belanda yang masih tetap difungsikan. Ada kompleks Rindam, Secaba, Kodim, bahkan Akademi Militer tepat di bawah Gunung Tidar. Ada pula kompleks rumah sakit tentara yang kini juga diperuntukkan untuk perawatan masyarakat umum.

Berkaitan dengan Magelang dan RST, hawa Magelang yang tenang dan sejuk menjadi pilihan tempat perawatan berbagai orang yang sedang sakit. Bahkan seiring dengan redanya revolusi fisik Perang Kemerdekaan, Panglima Besar Sudirman yang menderita penyakit komplikasi paru-paru kemudian dirawat di salah satu rumah sakit yang ada di Magelang. Harapannya tentu saja, dengan ketenangan sekitar, dengan kesejukan hawa udara, dan juga dengan indahnya pemandangan sepanjang mata memadang, si sakit dapat menjalani perawatan dan peristirahatan dengan sebaik-baiknya, sehingga kesembuhan bisa segera terwujud.

Museum Sudirman1 Museum Sudirman2

Kita semua tahu fakta sejarah betapa gigih dan amanahnya Pak Dirman dalam memimpin perang gerilya melawan pasukan Belanda yang ingin berkuasa kembali di tanah air. Tak segan-segan, bahkan dalam kondisi sakit berat beliau sampai kemana-mana ditandu dengan kursi kayu yang dipikul oleh beberapa prajurit anak buahnya. Sungguh ia adalah sosok pahlawan yang sangat luar biasa jasa perjuangannya dalam penegakan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Takdir memang telah mencatatkan sejarah nyatanya. Dikarenakan komplikasi penyakit yang sudah sangat parah, Jenderal Sudirman tak mampu lagi bertahan. Beliau akhirnya mangkat meninggalkan alam fana dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta.

Meskipun dimakamkan di Yogyakarta, guratan sejarah yang menjadi saksi abadi perjalanan akhir jenderal pertama di republik ini tidak bisa dilepaskan dari Magelang. Alasan inilah yang menjadi latar belakang keberadaan Museum Sudirman di Magelang.

Museum Sudirman3Meseum Sudirman menempati sebuah rumah tua berarsitektur Belanda di Jalan Ade Irma Suryani, tepatnya di samping Taman Badaan, Magelang Utara. Meskipun terkadang museum tidak terbuka sepanjang hari dan nampak sepi, akan tetapi di dalam museum tersimpan beberapa koleksi barang-barang pribadi maupun kelengkapan dinas kemiliteran Jenderal Sudirman. Nampak di dinding ruang utama tampak papan berbingkai kaca yang memahatkan tulisan mengenai silsilah keluarga besar sang jenderal.

Di ruang sisi kiri, tertata dengan anggun seperangkat meja kursi yang dulunya biasa dipergunakan untuk menjamu tamu maupun untuk duduk santai berkumpul dengan kerabat-keluarga. Di ruang yang lain, dipajang pula kursi tandu yang dulu dipergunakan untuk menggotong Jenderal Sudirman pada saat memimpin perang gerilya di tengah hutan dan kampung-kampung terpencil. Meskipun tidak sebegitu luas dan lengkap koleksinya, kehadiran Museum Sudirman tetap menjadi aset sejarah yang sangat penting dalam rangka memberikan pembelajaran semangat nasionalisme dan patriotisme kepada generasi muda yang akan menghadapi tantangan jaman yang semakin tidak ringan.

Ngisor Blimbing, 24 Februari 2015

Napak Tilas Stasiun Kereta Api Muntilan

Terminal2Muntilan memang sekedar sebuah kota kecil. Namun letaknya yang sangat strategis di jalur wisata Jogja-Borobudur yang sekaligus menjadi bagian poros Jogja-Semarang, menjadikan posisinya menjadi penting. Kota ini berada sekitar 25 km arah utara Kota Budaya Jogjakarta terhubung dengan jalan negara yang lebar nan mulus. Setiap wisatawan yang menuju Candi Agung Borobudur dari arah Jogjakarta pasti akan melewati kota yang paling terkenal dengan tape ketannya ini.

Di samping menjadi titik penghubung perhubungan antar daerah yang strategis, Muntilan juga berperan sebagai kota perdagangan yang penting. Dataran luas nan subur yang terbentang dari sisi Merapi-Merbabu hingga Menoreh dan Sumbing merupakan kawasan pertanian yang sangat kaya raya dengan berbagai komoditas handal. Ada padi, sayuran, palawija, hingga berbagai macam buah-buahan. Bahkan klembak, komoditas endemik yang khas wilayah ini dan sangat terkenal untuk campuran racikan rokok kretek maupun filter.

Dengan latar belakang kekayaan komoditas pertanian yang beragam sejak masa lalu, tidak mengherankan jika pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu membangun sarana transportasi kereta api untuk mengangkut produk pertanian ke luar daerah. Tidak mengherankan pula jika Muntilan di masa lalu memiliki sebuah stasiun kereta api yang cukup besar.

Sarana transportasi kereta api di Muntilan memang kini hanya tinggal kenangan bagi mereka yang pernah menyaksikan kejayaannya hingga di akhir tahun 70-an. Bagi generasi seperti saya bahkan hanya sekedar mendengar dongengan indah tentang para simbah kami yang bakulan sayur-mayur di pasar Bringharjo yang nglaju harian dengan naik kereta api. Namun demikian, hingga pertengahan tahun 90-an generasi kami masih lumayan beruntung dapat menyisakan sisa-sisa rel yang sebagian besar berada di kanan-kiri jalan Raya Jogja-Magelang. Bahkan semasa sekolah di bangku SMP yang berada di samping Toko Tape Ketan, setiap pulang sekolah saya dan beberapa kawan selalu menyusuri rel kereta api dari Muntilan hingga Gulon yang berjarak sekitar 1 Km.

Memasuki Muntilan dari sisi selatan, rel kereta di masa itu membentang di atas Kali Blongkeng. Keberadaannya tepat di sisi kanan jembatan jalan raya yang kala itu hanya satu sisi. Posisi jembatan kereta itu tepat pada posisi jembatan Kali Blongkeng sisi hulu saat ini. Dari titik tersebut, sepasang besi tua sejajar mendampingi Jalan Pemuda di sisi kanan yang kini tepat di pinggiran deretan kios-kios yang ada. Sebelum pelebaran jalan raya dilakukan, rel kereta sudah diurug dengan aspal dan dijadikan jalur lambat yang peruntukkan sepeda, becak dan andong. Lalu dimanakah tepatnya bekas lokasi stasiun kereta api Muntilan berada?

Terminal1Jika kita menyusuri kawasan terminal Drs. Prayitno di sisi Pasar Muntilan, janganlah heran bila sempat menemukan beberapa deretan toko yang mencantumkan alamat Kios PJKA Muntilan. Memang sebenarnya terminal yang saat ini ada merupakan stasiun kereta api di masa lalunya. Hingga akhir tahun 80-an lokasi terminal bus menempel dengan pasar yang kini dipergunakan sebagai kompleks pertokoan Muntilan Plasa. Adapun sisi seberang jalan, tepat di belakang deretan pertokoan yang menyatu dengan Pos Polisi Pasar Muntilan masih berupa jalur-jalur peron dengan beberapa lajur rel. Pada waktu itu, peron tersebut justru difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan roda dua bagi para pengunjung pasar.

Selain peron dan jalur-jalur relnya, di masa itu masih tersisa berbagai sarana dan prasarana kelengkapan sebuah stasiun kereta api. Ada wesel-wesel manual yang berperan untuk mengatur atau memindahkan arah jalur rel yang akan mengarahkan kereta pada saat memasuki area peron. Ada pula berbagai rambu dan sinyal terkait. Ada pula jaringan telepon dengan kabel kawat yang masih sangat jadul.

Seiring dengan dominasi pertumbuhan transportasi berbasis jalan raya yang menghubungkan Jogja-Muntilan-Magelang-Semarang menjadikan sarana transportasi kereta api kian tersudut. Akses yang lebih mudah, fleksibel, dan kecepatan menjadikan masyarakat bergeser menggunakan angkutan jalan raya. Hal ini mengakibatkan okupansi pengguna jasa kereta api terus menurun dan menyebabkan tingkat keekonomian kereta api sulit bersaing. Mau tidak mau, suka tidak suka akhirnya jalur kereta api Jogja-Semarang, termasuk yang ke arah Temanggung-Wonosobo dibekukan operasionalnya pada akhir tahun 70-an.

Kini, tatkala jalanan raya sudah mencapai titik jenuh kapasitasnya dan tidak mudah lagi untuk diperlebar maupun dibangun jalur jalan baru, serta ditambah dengan semakin banyak pengguna jalan menggunakan kendaraan pribadi, maka jalanan menjadi semakin padat bahkan sering macet. Untuk mengatasi hal tersebut, ke depan harus dikembangkan, dibangun dan ditingkatkan moda transportasi massal yang handal, termasuk penggunaan kereta api yang sekali jalan dapat membawa ribuan penumpang dan barang. Dengan latar belakang hal tersebut, wacana untuk mengaktifkan kembali jalur kereta api poros Jogja-Semarang yang pernah ada akan semakin menemukan momentumnya. Semoga tidak terlalu lama hal tersebut segera dapat benar-benar menjadi kenyataan. Bagaimana pendapat Anda?

Lor Kedhaton, 5 Desember 2014

Kenangan TK ABA Polengan

TK Polengan1   TK Polengan1

Kala itu umur saya kiranya baru genap lima tahun lebih beberapa bulan. Suatu pagi, pagi-pagi sekali saya diantar ibu saya ke sebuah taman kanak-kanak. Lokasi sekolah pra-SD itu berada di tengah-tengah dusun tetangga. Di depan sekolah sederhana terbentang luas sebuah pelataran alun-alun sebuah bangunan joglo anggun. Konon bangunan joglo satu-satunya yang tersisa di desa kami tersebut milik Pak Lurah yang memerintah kala itu. Tepat di sisi barat laut berdiri dengan anggun sebuah masjid terbesar di desa kami. Itulah Masjid Al Ikhlas.

Nama bangku sekolah yang pertama kali saya masuki tersebut adalah TK ABA Polengan. Melihat kependekan ABA, mungkin diantara para sedulur ada yang langsung paham bahwa sekolah tersebut berada di bawah pengelolaan salah satu ormas terbesar di tanah air. Bagi yang masih belum nyambung, ABA merupakan kependekan dari Aisyiah Bustanul Athfal.

Hari pertama sekolah memang diantar oleh ibu saya, sekedar untuk mendaftarkan kepada guru sekolah semata. Hari-hari selanjutnya, sebagaimana umumnya anak-anak desa, kami berangkat ke sekolah bebarengan dengan teman-teman yang lain. Jadi tidak musim, anak sekolah di jaman itu pake diantar-antar oleh orang tua. Mungkin itu sisi kemandirian anak kecil yang sudah tergembleng semenjak usia sangat dini. Bahkan beberapa bulan berselang, saya harus sekolah sambil momong dua adik kembar saya yang umurnya dua tahun di bawah saya. Meski pada awal hanya meunggui saya di luar kelas, pada akhirnya adik-adik saya tersebut resmi diterima di kelas nol kecil. Sementara saya, semenjak pertama kali masuk langsung bergabung dengan kelas nol besar, meskipun umur saya di bawah teman-teman sekelas saya yang lain.

Kira-kira menjelang pukul setengah tujuh pagi pintu ruang kelas mulai dibuka. Biasanya yang membukakan adalah anak dari Kepala Sekolah yang memang tinggal tidak seberapa jauh dari sekolahan. Begitu pintu-pintu terbuka, beberapa perangkat permainan dikeluarkan dari ruang kelas untuk dipasang di sekitar halaman sekolah. Tak seberapa lama berselang, guru-guru kami mulai datang. Sebenarnya kami pada waktu itu hanya memiliki dua orang ibu guru. Adalah Bu Sri Umiyati yang bertindak sebagai guru kelas nol besar merangkap kepala sekolah, dan Bu Dalifah yang mengasuh kelas nol kecil.

TK PolenganSekolah TK, tentu saja sangat menyenangkan. Hari-hari kami senantiasa diisi dengan permainan yang memberdayakan otak kami. Pagi sebelum masuk kelas, di halaman sekolah telah tergelar berbagai perlengkapan permainan anak-anak. Ada ayun-ayunan di bawah pohon kamboja. Ada plosotan di samping masjid. Besi-besi rangka untuk panjat-memanjat dan tlusuban. Ada pula jungkat-jungkit di sebelah timur kelas, dan beberapa mainan anak-anak yang lain.

Begitu dentang lonceng dibunyikan, semua murid langsung masuk ke dalam kelas. Meskipun di dalam kelas, tetapi pola pengajaran yang diterapkan juga lebih banyak dengan metode belajar sambil bermain. Memasang passel, memancing ikan kayu, bongkar pasang balok-balokan kayu sering kami lakukan. Kadang-kadang kamu juga diberi kerta warna krem merah, kuning, hijau ataupun biru untuk dilipat-lipat menjadi berbagai bentuk karya yang inspiratif. Seni lipat inilah yang di kala dewasa baru saya tahu bernama origami dan berasal dari negeri sakura.

Bernyanyi dan menari tentu saja tidak pernah ketinggalan. Bahkan meski masih kecil pada beberapa kesempatan kami sudah diajari berdeklamasi. Menulis huruf latin, tentu saja mulai diajarkan dan kami sedikit-dikit baru mengenal nama-nama huruf tetapi sama sekali tidak menghafal. Angka juga mulai diperkenalkan cara penulisannya, namun belum sampai kepada operasional matematis.

Tentang seragam sekolah. Tentu saja kami hanya mengenal satu seragam. Warna kuning krem dengan bawahan dan rompi warna hijau lumut. Itupun hanya kami kenakan untuk hari Senin dan Selasa. Selebihnya, ya kami berpakaian bebas tapi rapi dan sopan.

Hari Sabtu merupakan hari yang lebih santai dan sangat menggembirakan. Hari Sabtu biasanya dimulai dengan aksi bebersih lingkungan. Istilahnya kerja bakti atau gotong royong. Menyapu halaman sekolah bersama-sama. Membersihkan rumput di beberapa sudut. Memangkas tanaman hias dan bunga-bunga. Bahkan membersihkan lumut di dinding-dinding pagar sekolah. Selesai dengan kerja bakti, semua murid diajari membasuh tangan dan menggosok gigi bersama-sama. Masing-masing kami telah memiliki sikat gigi yang dilengkapi dengan cangkir kaleng. Hari Sabtu barangkali memang dirancang untuk menanamkan pentingnya menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat.

Masih di hari Sabtu. Selesai bebersih lingkungan dan bebersih diri, kami biasa makan bersama. Setiap Sabtu, satu per satu wali murid digilir untuk urunan menu makanan untuk disantap bersama. Biasanya mereka memberikan sumbangan dalam wujud beras dan gula jawa. Urusan masak-memasak biasa diurusi oleh keluarga ibu kepala sekolah. Sajian yang biasa kami santap mulai dari bubur kacang hijau, sego megono (nasi urap kelapa), juga kolak ketela atau pisang.

Hal yang paling unik dan menjadi kenangan yang tidak pernah terlupakan hingga kini pada saat kembul bujono atau makan bersama adalah tatkala para murid yang bertubuh besar menghabiskan jatah makanannya lebih cepat. Mereka kemudian bertanya bahkan saling teriak, “sopo sing ora entek?” Siapa yang tidak mampu menghabiskan jatah makanannya? Begitu ada murid yang biasanya bertubuh lebih kecil dengan nafsu makan yang tidak sehebat para murid besar, maka sisa makannya segera beralih ke piring si murid besar. Semua saling berbagi dengan ikhlas. Sebuah penanaman nilai kebersamaan yang sangat luar biasa.

Hari puncak yang menjadi kebanggaan kami semua adalah Hari Perayaan. Apakah Hari Perayaan? Hari Perayaan merupakan peringatan HUT Aisyiah (kalau tidak salah). Pada hari tersebut, TK ABA se-kecamatan biasanya dikumpulkan pada salah satu TK untuk memperingati Hari Perayaan yang biasa diisi dengan berbagai macam lomba anak-anak. Lomba yang biasa digelar seperti lomba bernyanyi, puisi, tari, dan beberapa cabang olah raga anak-anak. Uniknya, karena keterbatasan sarana transportasi, para murid seringkali digiring dalam long march yang sangat panjang ke suatu sekolah yang menjadi tuan rumah Hari Perayaan. Meskipun lelah tapi kami sangat bahagia, terlebih kami juga mendapat nasi bungkus daun pisang yang dilengkapi sekedar telur pindang serta sayur kentang, tempe krecek.

Setelah satu tahun duduk di TK ABA Polengan, saya digiring bu guru untuk pindah ke SD di belakang desa. Umur saya baru enam tahun lewat dua bulan. Sementara teman-teman sekelas saya pada umumnya berumur satu atau dua tahun di atas saya. Bagaimanapun, taman yang paling indah hanya taman kami. Taman yang paling indah taman kanak-kanak (ingat dengan lagu ini).

Ngisor Blimbing, 27 September 2014

Napak Tilas Stasiun Secang

Stasiun Secang   Stasiun Secang1

Secang merupakan sebuah kota kecil di sisi utara Kabupaten Magelang. Kota ini merupakan titik penghubung jalur utama Jogja-Semarang dengan jalur tengah Jawa Tengah yang menembus Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, hingga Purwokerto. Posisi yang sangat strategis ini sudah semenjak jaman penjajahan Belanda diperankan oleh Kota Secang. Di samping jalur transportasi jalan raya yang sudah ada semenjak pemerintahan Mataram, pada masa Belanda, Secang menjadi titik perlintasan jalur kereta api yang sangat penting.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bagian tengah wilayah Jawa Tengah sebagian besar merupakan dataran tinggi dengan hamparan gunung-gunung vulkanik yang memberikan kesuburan tanah yang tiada tara. Tidaklah mengherankan jika wilayah ini menjadi sentra budidaya pertanian, perkebunan, dan tentu saja kehutanan. Berbagai produk pertanian penting dihasilkan dari wilayah ini, seperti padi, sayur-mayur, tembakau, kopi, teh, serta aneka buah-buahan. Demikian halnya hasil peternakan, semisal lembu, kerbau, kambing, serta beragam hewan unggas.

Sebagai wilayah produsen berbagai komoditas pertanian yang penting, Belanda memandang perlu untuk membangun jalur transportasi yang berguna untuk membawa produk dari daerah pedalaman menuju kota-kota besar maupun pelabuhan utama untuk keperluan ekspor ke negara lain. Salah satu moda angkutan massal yang mampu membawa barang dalam kuantitas yang besar adalah kereta api. Inilah alasan utama mengapa Belanda membangun jaringan rel kereta api yang menghubungkan poros utara-selatan antara Jogja-Semarang, serta poros barat-timur antara Secang-Purwokerto pada masa itu.

Secang di masa Belanda memang sudah berbeda dengan Secang di era kemerdekaan saat ini. Meskipun di masa kini Secang tetap memerankan posisi strategis penghubung transportasi poros utara-selatan dan barat-timur, namun keberadaan jalur kereta api sudah tidak difungsikan lagi. Namun demikian, bagi siapapun yang masih ingin bernostalgia ataupun menyusur bekas rel kereta api yang pernah jaya di masanya, di Secang masih terbentang beberapa ruas sisa-sisa rel yang semakin menampakkan ketuaannya.

Stasiun Secang2Apabila kita ingin menelusuri sisa-sisa jalur rel kereta api ataupun jejak-jejak sejarah kejayaan kereta api yang melintasi Kota Secang, tidaklah salah jika kita memulainya dari titik bekas Stasiun Secang. Area sisa Stasiun Secang terletak di sisi belakang Kantor Koramil Secang yang tepat berada di pinggiran Jalan Raya Jogja-Semarang. Dengan menyusuri gang sempit beraspal kita dapat menemukan sebuah bangunan tua dengan genteng tua yang bolong di beberapa bagian. Bangunan yang semakin rapuh namun nampak gagah tersebut di berbagi sisi dindingnya sudah nampak kusam, bahkan telah banyak plesteran semen coklat yang terkelupas. Di bagian halaman depan maupun belakang, sisa pelataran tua yang terhampar nampak ditumbuhi rumput liar yang menandakan sangat minimnya tindakan perawatan. Sekilas bangunan stasiun tersebut justru nampak seperti rumah tua tanpa penghuni yang angker dengan mitos hantu gendruwo penunggunya.

Di samping jalur masuk sebagaimana telah diutarakan di atas, bangunan bekas Stasiun Secang juga dapat dicapai melalui jalan sempit di sisi barat pasar, tepat di seberang Masjid Kauman Secang ke arah selatan. Dari mulut jalan hingga lokasi yang turut menorehkan sejarah transportasi kereta api tua ini kurang lebih hanya berjarak 300 meter.

Dalam posisinya seperti saat ini, Stasiun Secang seolah memiliki sisi depan di bagian timur yang berdekatan atau sejajar dengan jalanan raya. Namun bila menilik dari bekas-bekas jalur rel atau peron tempat pemberhentian kereta api, kemungkinan justru bagian depan stasiun justru terletak di sisi sebelah barat. Hal ini nampak dengan keberadaan lima lajur jalur rel yang masih tersisa hingga kini.

Saat ini Stasiun Secang memang hanya bisa dikenang. Namun apabila wacana untuk mengaktifkan kembali jalur rel kereta api Jogja-Semarang benar-benar terlaksana, pastinya Stasiun Secang akan menggeliat lagi dan menjadi titik transisi yang sangat ramai.

Ngisor Blimbing, 19 September 2014

Sop Snerek, Menu Spesial Khas Magelang

Senerek1Tidak semua hal peninggalan bangsa penjajah selalu jelek bagi bangsa yang pernah dijajahnya. Pernah mendengar kata senerek? Konon senerek berasal dari kesleonya lidah wong Jowo ketika menyebutkan kata snert. Snert dalam bahasa Belanda berarti kacang polong hijau. Jenis kacang ini dimasak menjadi menu snert soup untuk menghangatkan badan pada musim dingin. Menu ini turut dibawa ke Nusantara pada saat tuan-tuan menir dan noni-noni Belande menjajah negeri kita.

Adalah Magelang, sebuah kota yang sengaja dirancang untuk mendidik calon militer Belanda. Di Kota Tentara pada dataran tinggi yang beriklim sejuk ini para Bule Londo tersebut tentu saja merasa kangen dengan menu sajian di kampung halaman Holand. Mereka teringat snert soup, maka dikenalkanlah sop istimewa ini dalam sajian-sajian menu keseharian maupun di kala pesta dansa-dansi para noni. Menu snert soup dibuat dari kacang polong rebus yang dipadukan dengan irisan daging babi lengkap dengan kuah kaldunya, ditambah dengan irisan kentang, wortel, dan bawang bombai.

Lambat laun, tentu saja melalui juru masak warga pribumi, terjadilah pribumisasi menu snert soup tersebut. Ketiadaan kacang polong sebagaimana yang banyak terdapat di wilayah Holand digantikan dengan kacang merah. Unsur daging dan kaldu babi yang haram bagi sebagian besar wong Jowo yang menganut Islam diganti dengan daging dan kaldu sapi atau ayam. Kata snert-pun dilipat dengan lidah Jawa menjadi senerek. Maka kacang merah dengan bintik-bintik merah tua hingga merah marun disebut sebagai kacang senerek.

Senerek2Secara lengkap dalam menu sop senerek, di samping tentu saja unsur kacang senerek, sop ini dilengkapi dengan irisan atau suwiran daging. Kita dapat memilih antara daging sapi atau daging ayam sesuai dengan selera masing-masing. Menemani daging, hadir pula rebusan daun bayam hijau, irisan wortel dipadu dengan gurih dan harumnya bawang merah goreng yang digelar sepapan di atas hamparan nasi putih yang menggugah citarasa. Semua komposisi nasi sop senerek direndam dalam kuah kaldu gurih yang akan semakin memancing selera bersantap kita. Hidangan mantap ini semakin terasa menggigit lidah karena dihadirkan dari proses masak yang sepenuhnya menggunakan perapian kayu bakar yang menambah sensasi rasa alami. Ah, tentu saja rasane makyuss habis wis!

Sop kacang senerek kini menjadi menu kuliner khas Kota Magelang. Diantara warung makan penjual sop senerek, adalah warung senerek Bu Atmo merajai menu ini di Magelang. Tidak saja bagi masyarakat lokal Magelang, senerek Bu Atmo sudah kondhang-kaloka alias terkenal hingga ke luar daerah. Jangan merasa pernah singgah atau pergi ke Kota Magelang jika belum sempat merasakan nikmatnya sajian sop senerek Bu Atmo.

Senerek3 Senerek4

Penasaran dengan warung senerek Bu Atmo, monggo mampir di bilangan deretan warung yang berada di Jalan Mangkubumi, kawasan Jendralan, Kota Magelang. Tidak sulit menemukan lokasi tempat ini karena keberadaannya sangat dekat dengan Gedung Eks Karesidenan Kedu yang memiliki nilai sejarah sebagai tempat dilakukaknnya perundingan antara Pangeran Diponegoro dan Jenderal de Kock yang mengakhiri Perang Jawa (1825-1830).

Bu AtmoWarung Bu Atmo buka melayani para penggemar sop senerek khusus pada jam pagi hingga sore hari, biasanya antara pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Makan kenyang, penuh paduan protein nabati dan hewani yang berimbang, menjadikan sop senerek sangat baik untuk kesehatan tubuh kita. Sebagai hidangan pendukung, disajikan pula lauk-pauk berupa tempe bawang goreng, tahu bacem, sate usus dan jeroan, plus krupuk yang mak kriuk. Hidangan semakin lengkap jika ditemani srutupan es beras kencur yang seger meger-meger. Menu ini akan paling cocok untuk bersantap di kala gerahnya suasana tengah hari.

Di samping menu utama sop senerek, di warung Bu Atmo juga menyediakan menu lain, seperti nasi rames, brongkos dan gudeg. Semua hidangan dimasak secara tradisional menggunakan perapian dari kayu bakar yang alami. Tindak Magelang, atau sempat singgah, bahkan sekedar lewat Magelang, jangan pernah ragu untuk menikmati sajian khas sop senerek di Warung Bu Atmo Kawasan Jendralan. Monggo sedoyo!

Senerek5Ngisor Blimbing, 8 September 2014

Warung Sop Serenek Bu Atmo
Jl Mangkubumi No 3 Magelang Jawa Tengah 085868201616