Dua Tahun Gus Mul Berkibar

Gus Mul? Siapa yang tidak kenal dengan blogger kondhang kaloka dari kota gethuk ini. Goresan postingannya yang trengginas bin lucu di samping menghiasi tampilan blog pribadinya di www.agusmulyadi.com, www.agusmulyadi.web.id maupun di www.gusmul.com, bualan dagelannya juga banyak terpampang di www.merdeka.com. Seberapa Sampeyan mengenal akrab dengan tokoh kita yang mengaku tidak pernah lulus pesantren namun bisa mendapatkan panggilan Gus ini?

Gus Mul bernama lengkap Agus Mulyadi. Jadi Gus Mul merupakan akronim alias kependekan dari nama Agus Mulyadi tersebut! Lho baru ngeh? Tentu saja kita tidak akan sangsi jika Gus Mul mengaku lahir di bulan Agustus, bulan yang sangat keramat bagi bangsa Indonesia. Demikian pulakah sosok Gus Mul juga memiliki kharisma keramat? Ingin tahu asal-usul sebutan Gus Mul nggak?

Al kisah, Agus Mulyadi sudah gentur menekuni dunia perbloggeran selepas sekolah di SMA Tidar. Dia bahkan pernah mengembara di tatar Sukabumi dan Tanah Ngayojokarta sebagai layouter majalah dan operator warnet. Sejak itu pulalah ia meluncurkan blog getuk magelangan sebagai semangat nasionalisme terhadap kota kelahiran tercintanya.

Sekian lama ngeblog, barulah di awal tahun 2013 ia menampakkan batang hidunya di salah satu gethukan, kopdarannya Bala Tidar Magelang. Tak berselang lama, ia turut menjadi duta Bala Tidar dalam perhelatan Asean Blogger Festival Indonesia (2013) di Kota Bengawan Surakarta. Di sanalah ia mulai mengibarkan diri sebagai seleblogger spesialis dagelan mataraman sebagaimana yang ia warisi dari Pak Trimo, bapaknya yang memang artis kethoprak tersohor pada eranya.

Nah tatkala di Solo itu ia masih aktif menggunakan akun twitter @agusmulyadi_… … (saya agak lupa akun persisnya). Dalam suatu perbincangan ia mengungkapkan kegundahannya. Dalam dunia online ia merasa namanya kurang branding. Ia ingin merumuskan sebuah nama yang singkat, simpel, mudah diingat dan mencerminkan sebuah karakter yang khas, unik, dan kuat. Dia sempat menyinggung pilihan identitas yang sering saya pergunakan di dunia online. Menurutnya dengan menambahkan satu kata yang unik di depan nama asli saya, ternyata ada kesan dalam yang bisa tergambar.

Gus MulMendengar keluh-kesahnya tersebut, tentu saja saya tidak tinggal diam. Melalui sebuah perenungan singkat di depan Pendopo Pura Mangkunegaran yang keramat, saya sampaikan pemikiran yang terlintas pada saat itu. “Kenapa nggak mengusung Gus Mul?” usul saya saat itu. Namamu kan Agus Mulyadi. Satu suku kata diambil dari bagian akhir kata agus, dan satu kata diambil dari permulaan kata mulyadi. Menurut saya nama sandi itu sudah sangat unik dan berbobot.

Memang pada saat itu Gus Mul tidak langsung mengiyakan atau menolak usulan saya. Tetapi pada suatu postingan yang saya dedikasikan untuk memperkenalkan sosok Agus Mulyadi di profil Pendekar Tidar#17 yang sempat saya tulis sepulangnya dari Solo, saya selipkan lagi profokasi Gus Mul. Dan dalam beberapa kesempatan sepanjutnya iapun meluncurkan akun twitter baru @gusmul ketika bercengkrama dengan Bang Qomar. Mulai saat itulah Agus Mulyadi menyandangkan diri sebagai Gus Mul. Waktu itu, kira-kira tepat dua tahun yang lalu.

Semoga dengan kisah ini Anda para pecinta Gus Mul lebih bisa menghayati celotehan guyon matonnya yang sarat dengan pesan nilai kehidupan yang dalam sebagai kumpulan tulisannya dalam Bergumul dengan Gus Mul.

Lor Kedhaton, 5 Mei 2015.

.

Kopdar Lebaran yang Hampir Terlupakan

Lebaran selalu menjadi momentum untuk pulang ke kampung halaman. Mudik, itulah tradisi tahunan yang sudah mendarah daging di setiap putera daerah yang merantau jauh dari bumi kelahiran. Maka kesempatan di kampung halaman itu seringkali dimanfaatkan untuk mempertemukan kembali balung pisah yang sebelumnya sempat tercecer dan berserakan di berbagai tempat atau wilayah. Bertemu, bertatap muka, bercandaria, berbincang riang, tertawa ngalor-ngidul dalam sebuah reuni temu kangen, baik dengan keluarga, saudara, kerabat, ataupun teman-teman merupakan sebuah kenikmatan tersendiri yang tiada tara indahnya. Demikian halnya dengan jalinan paseduluran tanpa batasnya Balatidar yang seolah sedang meredup, menjadi menyala kembali tatkala menjelang lebaran kemarin sempat berkopdaria kembali.

Bukber1

Nasib dan jalan hidup telah menempatkan beberapa sedulur Balatidar terpencar oleh bentangan ruang jarak dan waktu. Gelaran gethukan yang dulu pernah menjadi komitmen bersama untuk saling bertatap muka di setiap paruh bulan, kini menjadi kian sulit untuk diwujudkan dikarenakan tidak adanya tuan rumah yang sanggup dan komit untuk hamengku gawe. Maka sekaligus memanfaatkan mudiknya para sedulur Balatidar yang merantau, waktu di sekitar Lebaran menjadi pilihan peluang untuk berkumpul bersama lagi.

Begitu menginjakkan kaki di Bhumi Magelang tercinta, kira-kira sepekan menjelang Idul Fitri, saya mencoba mengontak Pangkopdar Nahdhi. Saya memintanya untuk melakukan kontak-kontak dengan semua elemen Balatidar serta mengagendakan kopdaran. Ada dua alternatif pilihan yang saya kemukakan. Pertama, kita berkumpul beberapa hari menjelang Hari Lebaran. Sedangkan alternatif kedua, kita kopdaran dalam suasana Hari Lebaran.

Untuk momentum pertama kita akan wadahi dalam gelaran buka bersama. Keuntungan memanfaatkan momen bukber beberapa hari menjelang Lebaran antara lain akan lebih banyak rekan Balatidar yang dapat hadir. Para sedulur yang dari rantaupun kemungkinan sudah merapat di Magelang. Namun demikian batasan waktu kopdaran mungkin akan sedikit terbatas, dikarenakan selepas buka bersama kita masih memiliki kewajiban ibadah tarawih, tadarus dlsb. Adapun untuk pilihan kedua, kumpul-kumpul sudah dalam nuansa lebaran, sangat cocok untuk digelar acara Halal bi Halal atau Syawalan. Kopdaran dapat memilih waktu dan tempat yang lebih leluasa. Namun sebagaimana tradisi di lingkungan masyarakat kita, momentum Lebaran seringkali lebih kita utamakan untuk melakukan silaturahmi diantara keluarga inti dan sanak kerabat dalam wujud ujung, syawalan ataupun pertemuan trah. Dengan mengingat kondisional tersebut, maka pada pilihan kedua sangat mungkin hanya segelintir Balatidar yang bakalan hadir.

Dengan berbagai pertimbangan di atas maka diputuskan kopdaran gethukan digelar dalam bentuk buka bersama. Untuk lebih menyemangati rasa kebersamaan, sengaja pula diundanglah para sedulur dari berbagai lintas komunitas yang ada di sekitar Magelang. Hal ini dimaksudkan untuk memperluas jaringan dan jalinan paseduluran warga Magelangan. Kopdaran bukber sekaligus dapat dijadikan sarana untuk saling mengenal, saling berbagi cerita mengenai komunitas masing-masing, sekaligus melakukan saling penjajagan untuk jalianan sebuah kerja sama di masa depan dalam rangka turut memberikan sumbangsih bagi kemajuan Magelang tercinta.

Demikan, akhirnya sore itu bertepatan dengan hari Senin, 5 Agustus 2013, segenap Balatidar merapat di Rumah Makan Ayam Bakar Bu Tatik setelah sebelumnya sempat merencakan di beberapa tempat yang ternyata sudah fullbooked. Dalam kesempatan yang sangat membahagiakan tersebut selain dari keluarga besar Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang, turut hadir pula para sedulur dari Komunitas Kota Toea, Komunitas Magelang Online, beberapa aktivis, serta mantan wartawan.

Sengaja dalam kesempatan tersebut kita ingin melampiaskan kerinduan yang terpendam sekian lama diantara sedulur Balatidar. Tidak ada format rangkaian acara tertentu yang dirancang, semua sekedar mbanyu mili, mengalir dengan sendirinya. Tegur sapa, gelak tawa candaan memeriahkan warung makan khas ayam bakar di Magelang tersebut pada saat-saat menjelang waktu berbuka puasa.

Bukber2

Namun demikian, demi memanfaatkan waktu dimana sebagian elemen barisan yang sangat mempedulikan Magelang tercinta bisa kumpul, maka satu per satu didaulat juga untuk bisa berbagi atau unjuk cerita mengenai banyak hal yang bisa saling dipetik hikmah dan manfaatnya. Diawali Mas Bagus Priyana dari Komunitas Kota Toe Magelang. Ia membagi cerita bagaimana mengelola sebuah komunitas dengan segala keterbatasan tetapi mampu eksis mengadakan agenda-agenda yang banyak diminati berbagai kalangan masyarakat.

Ia menandaskan, bahwasanya komunitas yang dipandeganinya sangat erat kaitannya dengan cerita dan kisah sejarah di masa lalu. Mempelajari sejarah tidak bisa lagi dilakukan hanya dengan membaca teks-teks kuno maupun buku-buku sejarah. Di tengah era arus hiburan dari berbagai media dan sarana di masa kini, maka pengenalan terhadap sejarahpun harus dilakukan dengan cara yang fun, santai, murah-meriah tetapi mengenai sasaran juga. Orang sekarang sukanya senang-senang, jalan-jalan, dolan-dolan bebarengan. Maka belajar sejarah yang diagendakan Komunitas Kota Toea sering dikemas dalam bentuk napak tilas mengunjungi berbagai obyek sejarah yang bersangkutan. Beberapa agenda yang pernah digelar diantaranya Telusur Jejak Pemerintahan Magelang, Telusur Jejak Sepur Magelang – Parakan, Remboeg Sedjarah, hingga pameran Magelang Tempo Doeloe bersamaan dengan rangkaian HUT Kota Magelang.

Selanjutnya Mas Ian, mantan wartawan Jawa Pos Group yang kini memilih untuk berwiraswasta berbagi pengalaman. Dalam bisnis stiker mobil yang kini ditekuninya, ia banyak memanfaatkan promosi dan memperkenalkan jasanya lewat dunia internet. Iapun kemudian berbagi bagaimana ia menggunakan blog, facebook, twitter dan media sosial yang lain untuk memperluas pelanggannya. “Di era internet sebuah usaha dapat dilakukan secara mendunia tanpa batasan ruang dan waktu untuk saling berkomunikasi. Namun demikian kita harus fokus dengan cakupan layanan yang sanggup kita lakukan sesuai dengan kemampuan bisnis yang masih terus tumbuh. Internet memang telah membawa bisnis kami menjadi mengglobal. Tetapi realitas kemampuan pelayanan yang baru mampu dilakukan harus difokuskan kepada pelanggan dengan segmen tertentu, apakah wilayah, umur, atau gender tertentu saja, “ demikian kira-kira uraian Mas Ian sore itu.

Lain lagi cerita dari teman-teman Komunitas Magelang Online. Mereka, meskipun baru eksis beberapa bulan namun memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menjadikan portal website mereka sebagai media informasi terlengkap mengenai Magelangan. Info tentang tempat-tempat penting, nomor penting, tujuan wisata utama, kuliner terenak dlsb adalah informasi yang disajikan selengkap mungkin. Mereka memiliki obsesi untuk memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya.

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, saya kembali mengingatkan komitmen bersama untuk kembali “ngurusi” blog masing-masing. Adalah teramat sangat disayangkan jika semangat ngeblog yang dulu pernah berkobar membara di dada para putera terbaik Magelang kian meredup seiring berjalannya waktu. Semua orang pasti memiliki kesibukan dan tanggungannya masing-masing, namun dengan semangat kebersamaan, barisan harus ditata dan dirapatkan kembali untuk turut berkontribusi bagi kemajuan Magelang tercinta. Rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas!

Obrolan sebenarnya terus berkembang sambil diselang-selingi makan dan minum selepas adzan Magrib berkumandang. Suasana warung makan yang ramai berjubel dengan para pengunjung yang berbuka bersama menjadikan keriuhan saur manuk yang menghasilkan gema di segenap penjuru ruang terbuka. Akhirnya menjelang waktu Isya’, satu persatu barisan Kopdar Bersama Lintas Komunitas tersebut mengundurkan diri dari paseban agung. Semoga kebersamaan yang indah itu akan terus berlanjut di masa-masa yang akan datang sebagai komitmen kita bersama untuk menjalin paseduluran tanpa batas.

Ngisor Blimbing, 21 September 2013

Sebagai catatan, para sedulur yang rawuh pada kesempatan tersebut diantaranya:

  1. Sang Nanang
  2. Ikhsan
  3. Rahardian
  4. Agus Mulyadi
  5. Ivan Purnawan
  6. Nahdhi
  7. Eko Ardian
  8. Agung
  9. Kukuh
  10. Bondan
  11. Kafur
  12. Bagus Priyana dkk (Kota Toea).

Syaiful dkk (Magelang Online)

Kopdar Balatidar Tempo Doeloe

Gethukan akrab kami artikan sebagai glenak-glenik methuk malem mingguan. Gethukan yang merupakan forum kopdarannya blogger Magelangan yang sering disebut Balatidar, sudah diluncurkan semenjak awal 2010. Namun justru keberlangsungannya akhir-akhir ini kian surut. Hal ini tidak terlepas dari semakin banyaknya para punggawa Balatiar yang telah menyelesaikan masa studinya dan terpaksa merantau untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing. Namun demikian, beberapa diantara barisan Balatidar yang semenjak awal telah berkomitmen untuk menjalin paseduluran tanpa batas melalui media blog, tetap berusaha nggadhang-nggadhang keberlangsungan tradisi gethukan.

Kopdar Tempo Dulu

Dengan nunut numpang di event HUT ke-1107 Kota Magelang, maka beberapa barisan Balatidar turut ngombyongi dan meramaikan hajatan Pameran Magelang Tempo Doeloe dan Festival Kuliner yang digelar di Kompleks Eks Karesidenan Kedu pada 27-28 April 2013 ini. Beberapa hari sebelumnya, Pangkopdar Nahdhi sengaja menyebar woro-woro akan diadakannya Gethukan Tempo Doeloe. Akhirnya pada Sabtu sore hingga petang, 27 April 2013 merapat beberapa Balatidar, seperti Sang Nanang, Nahdhi, Yudha Karyadi, Ikhsan-Dian, Agus Mulyadi dan Ivan Purnawan.

Kopdar sejatinya adalah penyambung komunikasi silaturahim yang sebelumnya sudah dijalin di dunia on line. Kopdar merupakan sebuah penegas bahwa Balatidar memiliki tekad untuk senantiasa menyegarkan tali paseduluran tanpa batas yang sudah lama ditautkan. Perpisahan karena perbedaan ruang dan waktu tidaklah akan menjadi penghalang bagi sebuah kebersamaan hati yang saling tertaut. Maka orang-orang yang mengutamakan persaudaraan atas nama Tuhannya sesungguhnya sedang menegakkan perdamaian diantara sesama anak manusia.

Kopdar Tempo Dulu4 Kopdar Tempo Dulu7

Tidak ada agenda khusus yang diusung dalam Gethukan Tempo Doeloe kemarin. Niat kami sedari awal hanyalah bertemu sebagai tombo kangen setelah sekian lama tidak sempat berkesempatan bertemu dan ngobrol panjang lebar. Maka pembicaraan yang mengisi perjumpaan tersebut ya berkisar mengenai kabar say hello, saling berbagi cerita mengenai kesibukan masing-masing, tentunya termasuk beberapa tanggapan mengenai acara-acara “pesta” yang digelar sebulan penuh di kota gethuk dalam memperingati hari jadinya.

Ngobrol ngalor ngidul itupun hanya disambi dengan berkeliling, singgah dari satu stan ke stan pameran yang lainnya. Di depan sebuah stan yang memajang aneka alat permainan tradisional dari kayu, Nahdhi sempat mengeluhkan tidak diketemukannya peralatan main yang dulu pernah akrab di masa kecilnya. Saya sendiri tidak tahu persis apa yang dimaksudkan Nahdhi, karena dia menggambarkan sebuah benda yang sulit kami imajinasikan seperti apa wujud, bentuk, warna, ataupun bagaimana cara memainkannya. Adapun beberapa alat permainan jadul yang hadir di stan tersebut diantaranya pestol kayu, otong-otong, klithikan, gangsingan, bahkan ada juga perahu othok legendaris yang terbuat dari bahan blek.

Kopdar Tempo Dulu3

Kang Ikhsan sempat saya bisikkan beberapa alat permainan yang bagus untuk mendidik naluri dan nalar anaknya yang baru berusia beberapa bulan. Namun dia justru mengkhawatirkan kebiasaan anaknya yang sering nyokoti benda apapun yang ada dalam genggaman tangannya. Selama ini memang ia telah mengalihkan perhatian anaknya dengan alat “cokot-cokotan” yang terbuat dari bahan yang aman kalaupun benda tersebut dipegang, dijilati, tetapi tentu saja tidak untuk dimakan atau ditelan. Mungkin baru beberapa bulan ke depan, si anak akan dapat mengapresiasi peralatan permainan yang lain sesuai dengan proses tumbuh kembangnya nalar.

Di saat kami berkeliling ke arena Festival Kuliner, ternyata di panggung utama sedang berlangsung babak penyisihan kompetisi stand up comedy. Tentu saja panggung ini adalah panggung paling lucu diantara jajaran stan pameran yang lain. Bagaimana tidak lucu, sebuah pertunjukan ajang lucu-lucuan diantara para comic yang beradu bahan lawakan, di panggung yang gagah nan megah, tetapi setiap kontestan meluncurkan jurus lawakan-lawakan mautnya, tidak terdengar gemuruh tertawa dari bawah panggung. Apa pasalnya kelucuan yang lebih lucu daripada tema lawakan ini bisa terjadinya? Ternyata pengunjung yang berminat menonton kontes stand up comedy ini hanya bias dihitung dengan jari tangan. Selain dua orang dewan juri, dan para comicus yang sedang menunggu giliran naik panggung, bisa dibilang kamilah penonton yang serius dan bingung harus tertawa di bagian lawakan yang mana.

Kopdar Tempo Dulu1Beberapa lawakan yang meluncur diantaranya adalah kekhawatiran seorang comicus terhadap diluncurkannya brand image Kota Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga. Bayangkan saudara, jika Magelang dipenuhi dengan sejuta bunga, maka dimana-mana akan ada bunga. Di taman ada bunga, di rumah ada bunga, di lapangan ada bunga, di alun-alun ada bunga, di toko ada bunga, di jalananpun ada banyak bunga juga. Nah cilokone, bunga itu selalu menjadi kegemaran santapan sang lebah dan kumbang. Maka jika benar Magelang menjadi Kota Sejuta Bunga, bersiap-siaplah untuk “dientup” tawon. Hati-hati lho! Namun sang comicus ternyata sepakat bahwa brand image Magelang Kota Sejuta Bunga tersebut “hanyalah” sebuah makna kiasan.

Ada sebuah kesempatan yang patut disayangkan. Salah seorang Balatidar ternyata turut naik panggung stand up comedy tersebut. Namun sayangnya, sedulur kita tersebut naik panggung di urutan pertama pada saat rombongan kami belum sampai di lokasi.

Kopdar Tempo Dulu2 Kopdar Tempo Dulu5

Obrolan berlanjut di teras Masjid Diponegoro menjelang waktu Maghrib. Tanggapan mengenai berbagai event dalam rangka HUT Kota Magelang tahun ini memang lebih semarak dan meriah. Berbagai acara digelar, mulai grebeg gethuk, pentas seni, gerak jalan, lomba menari, lomba sepeda gembira, pameran mobil tua, sepeda tua, tempo doeloe, termasuk festival kuliner dan UMKM. Berbagai arena memang selalu padat dengan pengunjung oleh penonton yang antusias berduyun-duyun. Sebagai sebuah media sosialisasi dan promosi, berbagai event tersebut mungkin bisa menjadi titik awal pertumbuhan kreativitas dan bisnis di Magelang.

Ke depannya, kita semua mungkin sepakat bahwa event yang ramai pengunjung tersebut harus menjadi aset ataupun paket wisata yang bisa mengundang banyak pengunjung ataupun wisatawan dari luar Magelang, bahkan wisatawan mancanegara.  Dengan semakin menggema gaung Kota Magelang di kancah nasional,regional, global dan internasional, tentunya akan membawa kemajuan ekonomi Magelang. Nah, monggo direnungkan bersama dan blogger kira-kira bisa memposisikan untuk berperan di wilayah mana yang paling sesuai.

Bhumi Anging Mamiri, 2 Mei 2013

Tanggal Empat di Bulan Empat pada Tahun ke Empat

BALATIDAR DI TITIK PERSIMPANGAN JALAN

Setelah Kopdar Pendekar Tidar awal di Ndalem Peniten pada 25 Februari 2009, turunlah para Balatidar untuk kempal manunggal dalam Kopdar Akbar bersamaan dengan peringat HUT Kota Magelang ke 1103 di Alun-alun Magelang. Secara aklamasi melalui permufakatan yang bulat, dikibarkanlah Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang. Tidak hanya wirablogger dari empat penjuru lima kiblatnya Magelang yang turut bergabung, namun beberapa blogger dari Temanggung, Solo, bahkan Cianjur juga turut memperkuat barisan Balatidar.

Kopdar Akbar Ia Gethukan1

Dengan visi misi ingin meng-go blog-kan Magelang di dunia internet, maka tandang gawe Balatidar sudah cukup banyak ditorehkan dalam catatan sejarah perjalanan komunitas yang masih seumur jagung ini. Ingat saja seperti Lomba Menulis Tingkat Pelajar SLTP-SLTA dengan diiringi pelaksanaan Seminar Pendidikan yang pernah digelar tiga kali berturut-turut, masing-masing pada tahun 2010, 2011, dan 2012. Di samping itu, cukup banyak juga event-event baik di tingkat lokal maupun nasional yang diikuti oleh perwakilan blogger Magelang.

Seminar3a Seminar1a

Langkah-langkah kecil yang pernah diayunkan paling tidak sudah turut membawa nama Magelang di dalam percaturan jagad perbloggeran di tingkat nasional, bahkan regional Asia Tenggara. Diakui maupun tidak oleh setiap komponen Magelang, nama daerah yang memiliki monumen sejarah terbesar di Nusantara berupa Candi Borobudur yang kondhang kaloka di seluruh penjuru dunia ini masih terpinggirkan dengan kemasyuran kota Yogyakarta yang menjadi pintu gerbang ke Borobudur. Oleh karena itu, media blog sebenarnya dapat didayagunakan secara taktis dan strategis untuk mengabarkan kepada dunia mengenai potensi unggulan yang dimiliki Magelang.

KembulBujonoA Rembug1a

Pasang surut semangat dalam berkomunitas sudah pasti terjadi juga di lingkaran Balatidar. Ada blogger yang sedari awal mula kelahiran Pendekar Tidar telah turut bergabung dengan komitmen dan semangat yang tinggi  dan menjaga konsistensinya, baik dalam forum-forum kopdar, aktif dalam berbagai agenda kegiatan yang digulirkan, maupun dalam membuat postingan di blognya masing-masing. Namun demikian tidak sedikit pula barisan Balatidar yang sekedar mampir ngombe untuk sebentar melepas dahaga di tengah kegersangan dan kejenuhan aktivitas keseharian. Ada juga sedulur wirablogger yang diawal masa bergabung sangat menggebu-gebu dalam banyak hal, tetapi belakangan memilih untuk mundur secara teratur dan pada akhirnya menghilangkan diri di tengah rimba raya kehidupan seolah tidak ingin diketahui lagi oleh para sahabat yang dulunya sempat mengikrarkan diri dalam paseduluran tanpa batas.

Solo2a MiladeBlogger1a

Semua warna-warni perjalan tersebut mungkin memang sudah menjadi sebuah keniscayaan kehidupan. Bagaikan perputaran roda kehidupan, suatu kali kita akan mengalami posisi di puncak prestasi dan performance kita, namun di lain waktu justru kita harus menjalani titik nadir pencapaian tujuan kehidupan. Datang dan pergi, silih berganti bagaikan pergiliran antara siang dan malam, antara pagi dan senja, antara ramai, semarak, dan kesunyian, bahkan mungkin sebuah kehampaan.

Solo1a Solo3a

Blog sebagai salah satu media sosial mungkin memang terus terdesak olet facebook ataupun twitter. Semangat, komitmen, dan konsistensi barisan Balatidar secara jujur harus diakui sedang berada di titik terendah dalam kurun waktu beberapa bulan ini. Banyak diantara Balatidar ketika disapa dan digugah kembali untuk bersemangat lagi dalam meng-up date blognya memberikan alasan sedang sibuk dengan urusan yang lain. Namun yang paling tragis, masih ada yang menjawab tidak ada atau tidak dapat menggali ide.

PB2010a PB2010-1a PB2010-4a

Kenapa jawaban yang kedua ini membuat kita merasa tragis, sedih, bahkan sangat prihatin? Salah satu tujuan berkumpulnya Balatidar di dalam Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang adalah ingin memperbanyak informasi mengenai potensi-potensi keunggulan yang dimiliki Magelang sebagai sebuah sumbangsih para putera asli daerah terhadap tanah kelahiran dan kampung halamannya. Dalam berbagai kesempatan telah diagendakan sarasehan, kopdaran, hingga diskusi panjang lebar mengenai bagaimana kiat-kiat menggali ide postingan, percaya diri dalam menulis, hingga menjaga semangat untuk konsisten menulis. Di luar cara-cara pendekatan gethok tular di atas, bahkan semua Balatidar telah sepakat untuk membuat mekanisme “wajib posting” dan “wajib kementar di portal” untuk mensiasati kegersangan ide dan pasang surutnya semangat untuk menulis. Namun demikian, sebagaimana para anggota dewan wakil rakyat dan para pejabat tinggi di negeri ini, kesepakatan hanya tinggal menjadi sebuah kesepakatan dan janji-janji kosong. Sangat menyedihkan jika kita melihat komitmen Balatidar yang sangat rendah untuk melaksanakannya.

SyawalanA WisataBloggerA

Tanggal Empat di Bulan Empat pada Tahun ke Empat usia Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang saya rasa sangat strategis untuk kita jadikan sebagai momentum untuk berkaca diri, mereflkesikan semua perjalanan sejarah yang telah kita ukirkan bersama-sama untuk Magelang tercinta. Tanggal Empat di Bulan Empat pada Tahun ke Empat, komunitas ini bagaikan sedang mengalami kenyataan dan cobaan yang sangat berat. Tanggal Empat di Bulan Empat pada Tahun ke Empat, Balatidar sedang menapaki titik persimpangan jalan. Bagaikan berjalan di tengah perempatan dengan penuh kebimbangan dan keraguan, Balatidar seolah sedang kehilangan arah dan tujuan kemana kaki hendak dilangkahkan.

Unima1a Unima2a

Momentum persimpangan jalan ini menjadi sangat krusial dan menentukan nasib komunitas yang dengan jerih payah curahan pikiran, energi, tenaga dan biaya kita persatukan, kita tanam, dan kita pelihara selama ini. melalui tulisan ini sengaja saya ingin menggugah kembali komitmen sedulur Balatidar semua untuk kembali merapatkan barisan dimanapun kita berada dan dalam kondisi sesibuk apapun. Monggo kita bersatu dan bersama lagi dalam ikatan paseduluran tanpa batas yang pernah kita ikrarkan bersama-sama. Tanggal Empat di Bulan Empat pada Tahun ke Empat semoga bisa menjadi pepeling bagi kebangkitan kita bersama. Jaga dan peliharalah tali silaturahmi kita sebagai jiwa dan ruh komunitas yang kita cintai bersama. Hanya dengan kembali ke khittah tersebut Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang akan terus eksis memberikan kemanfaatan kepada lingkungan masyarakat Magelang dan terhindar dari kondisi laya mutu wala yahya, hidup segan matipun enggan.

Ngisor Blimbing, 4 April 2013

Rekam Jejak Bala Tidar 2012

Malam terakhir di penghujung tahun ini berselimut mendung. Letihnya raga menjalani beberapa penggawean membuat diri ini, sebagaimana di tahun-tahun yang lain, lebih memilih menyambut tahun baru dengan berdiam diri di tepi kesunyian. Merenung dan mawas diri, mengukur panjang jalan yang telah tertempuh setahun penuh. Ada suka, ada duka. Ada canda, ada tawa, ada pula air mata. Rupanya Tuhan telah menganugerahkan warna-warni kehidupan yang membuat hidup saya terasa semakin hidup.

Sebagai pribadi blogger yang menjadi bagian besar sedulur-sedulur Bala Tidar, sudah pasti setahun ke belakang ini ada catatan dan goresan khusus yang akan terukir sejati menjadi bagian kisah hidup yang tidak akan pernah terhapuskan. Tahun 2012, bagi sebagian besar sedulur Bala Tidar, mungkin menjadi tahun yang sedikit redup dengan minimnya momentum kebersamaan yang semakin jarang bisa menyatukan Bala Tidar di dunia off line. Namun demikian, kami  semua nampaknya harus senantiasa mengucapkan syukur kepada Gusti Alloh yang telah menakdirkan beberapa diantara kami tetap memiliki kencenging pikir dan komitmen kuat untuk tetap berpegang dalam tali paseduluran yang kami ikrarkan tanpa batas.

Beberapa catatan yang dapat saya rangkumkan dari tandang gawe dan kiprahnya Bala Tidar di ranah jagad padhang, diantaranya adalah:

panti_ar_rahmanBulan Januari. Meskipun awal tahun, namun Bala Tidar sudah membulatkan tekad dan langkah untuk kembali menggelar Lomba Menulis dan Seminar Pendidikan (LMSP 2012). Beberapa persiapan sudah mulai dilakukan di bulan ini, mulai dari pematangan konsep, perencanaan kegiatan, sosialisasi, bahkan pencarian mitra dan sponsor.  Di samping persiapan LMSP, beberapa sedulur Bala Tidar juga terus aktif berbagi pengetahuan dan keterampilan komputer kepada adik-adik di Panti Asuhan Ar Rahman, khususnya dilakukan pada setiap Jum’at sore.

Februari, bulan yang cukup sibuk dengan sosialiasi LMSP. Meskipun Bala Tidar yang turut turun tangan menggawangi kegiatan ini bisa dibilang sangat sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun semangat juang mereka sangat-sangat luar biasa. Tak lelah satu per satu sekolahan dikunjungi untuk mengedarkan undangan lomba dan seminar. Demikian halnya dalam gerilya mencari dukungan sponsor. Para pahlawan relawan sejati ini tak mengenal pamrih sedikitpun dalam menjalankan amanat di pundaknya. Tidak hanya pikiran dan tenaga dicurahkan, bahkan uang bensin dan transportasi tidak pernah dihitung. Kami “bekerja bakti” dengan prinsip rame ing gawe lan sepi ing pamrih.

 lm2012banner lmsp2012

Maret hingga pertengahan April adalah rentang waktu pelaksanaan lomba menulis tingkat pelajar yang mengangkat tema “Membaca Alam Membaca Kalam”. Hari demi hari selalu dihitung oleh sedulur Bala Tidar dengan penuh perasaan dagdigdug dan kekhawatiran yang mendalam. Hingga minggu ke tiga, belum juga ada tulisan yang dikirimkan peserta lomba. Namun demikian, di hari-hari terakhir justru datang kiriman naskah lomba berlomba-lomba. Barangkali memang kultur masyarakat kita yang suka nyrempet-nyrempet waktu dateline dalam urusan tanggung jawab, ataupun pekerjaan apapun. Meskipun tidak terjadi peningkatan jumlah peserta lomba secara signifikan, namun kami tetap patut bersyukur bahwa itikad dan kerja kami tidak sia-sia, bahkan mendapatkan perhatian dari beberapa kalangan.

images Kawagoe-3 Asakusa-6 Meiji Shrine-1

Di pertengahan bulan Maret, atas anugerah yang tiada terkira dari Kang Hakarya Jagad, saya berkesempatan melanglang ke negeri Jepang. Kepergian saya tersebut dalam rangka mengikuti program pertukaran antar pemuda (JENESYS Programme) se-ASEAN, Asia Timur, Asutralia dan Selandia Baru atas undangan dari Japan Foundation. Bukan secara kebetulan karena kehadiran saya di forum tersebut berkenaan langsung dengan aktivitas selaku citizen journalist atau independet journalist. Selama dua minggu penuh, kami serombongan diajak berkeliling setengah wilayah Jepang, mulai dari Tokyo hingga pulau Kyusu di ujung selatan. Beberapa tempat yang saya kunjungi diantaranya METI, Asakusa, Meiji Jingu Shrine, Ginza, Kawagoe, Haneda, Panasonic, PLT Geothermal Haccobaru, Beppu, Mitsubishi, Yokohama, hingga Osaka. Sarana transportasi domestik Jepang yang sempat saya nikmati diantaranya ANA Air dan kereta super cepat Shinkanzen. Inilah rejeki nomplok selaku blogger yang pernah saya rasakan.

Di penghujung bulan April, ada dua event penting di jagad perbloggeran yang sempat saya hadiri. Momentum pertama adalah acara Intip Buku dan peluncuran bukunya Om Jay yang berjudul Menulis setiap Hari dan Merasakan Apa yang Akan Terjadi. Dalam acara tersebut hadir narasumber beberapa blogger tenar, diantaranya Kang Pepih Nugraha (wartawan Kompas), Imam FRK (mahasiswa penulis), Taufiq Effendi (Dosen muda UNJ), Prayitno Ramlan (purnawirawan TNI AU), Johan Wahyudi (pendidik), Iskandar Zulkarnain (Kompasiana). Sungguh sebuah momentum kopdaran yang luar biasa penuh taburan butiran ilmu dan pengetahuan.

 iB3 FTIK1

Masih di bulan April, saya juga berkesempatan mewakili sedulur Bala Tidar di perhelatan Wilujeng Surfing yang digelar di STT Telkom Bandung. Acara yang berlangsung selama 2 hari ini berisi puluhan workshop dan seminar yang berkaitan langsung dengan dunia IT. Yang paling menyenangkan di acara ini adalah hadirnya ratusan blogger dari seluruh penjuru Nusantara, meski tentu saja didominasi dari pulau Jawa. Di sana pulalah saya bertemu dengan banyak dedengkot blogger Indonesia, seperti Pakdhe Blonthang, Kang Kombor, Gajah Pesing, arek TPC, Ponorogo, Plat-M, Bengawan, Pak Nukman, dll. 

juara1_sma juara1_smp juara2_smp  IMG_5543  juara3_smp juara2_sma juara3_sma

Mei adalah puncak gawe-nya Bala Tidar. Bertempat di Gedung Wanita, kami menghelat acara Seminar Pendidikan bertema Pusaka di Balik Pustaka:”Revitalisasi Budaya Membaca”. Bekerja sama dengan Perpustakaan Daerah Kota Magelang dan beberapa sponsor, seperti Telkomsel Magelang, Polaris FM, dan Pandi, seminar dihadiri sekitar 150-an peserta. Hadir selaku narasumber adalah Ibu Sugiarti (Perpusda Kota Magelang), Sholahudin Al Ahmed(Suara Merdeka), Lusia Dayu (NBC Magelang) dan Pakdhe Blonthang (Bengawan). Meskipun dari segi kepanitiaan sangat minimalis sehingga kami yang ber-10 harus jungkir balik mengurusi setiap detail seminar, namun kamu bersyukur acara dapat berjalan dengan lancar. Inilah catatan sukses terbesar kami di tahun 2012 ini.

Juni hingga Juli nampaknya menjadi hari dan bulan relaksasi Bala Tidar, selepas puncak kegiatan LMSP 2012. Namun demikian, sebagai komitmen dari panitia untuk dapat menerbitkan naskah-naskah lomba yang masuk mengikuti kompetisi dalam sebuah buku, maka beberapa diantara Bala Tidar tetap sibuk mengurusi penyuntingan dan desain buku. Sayangnya hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai keberlanjutan proyek tersebut.

Agustus merupakan penghujung bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal. Meskipun tidak ada agenda Lailatul Kopdar sebagaimana dua tahun sebelumnya, namun masing-masing kami sibuk menyelami hadirnya Lailatul Qodar dengan cara kami masing-masing. Di awal bulan Agustus, saya sempat menghadiri MODIS (Monthly Disscussion) yang digelar oleh Kompasiana di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mengangkat tema Pengelolaan Sampah. Memasuki Hari Lebaran, beberapa Bala Tidar sempat Kopdar Syawalan di Ringin Tengah Alun-alun Magelang, yang dilanjutkan dengan menikmati bersama Festival 1000 Balon di Masjid Agung Payaman. Atas undangan Komunitas Kota Toea Magelang, perwakilan Bala Tidar juga sempat mengikuti Temoe Kangen Kerabat Kota Toea Magelang di rumah makan Voor de Tidar.

13440955111291832518 HutBeBlog4 copy 1347148049883288822

September menjadi momentum penting bagi Komunitas Blogger Bekasi (Be-Blog) karena mereka memperingati HUT ke-3. Bertempat di Balai Patriot Kota Bekasi, saya sempat menghadiri perayaan HUT yang mengambil tema “Semangat Kebersamaan dalam Harmoni Perubahan”. Uraian menarik mengenai bagaimana menjadi Blogger yang Sukses dan Mulia diuraikan oleh Jamil Azaini, seorang motivator yang juga menekuni dunia blog.

Bulan Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah bagi blogger di Indonesia. Di bulan inilah diperingati Hari Blogger Indonesia yang telah ditetapkan setiap tanggal 27 Oktober, semenjak tahun 2007 di Pesta Blogger I. Dalam rangka Hari Blogger itulah, saya sempat mewakili Bala Tidar untuk turut hadir di acara seminar dengan tema “Merumuskan Bahasa dalam Media Online dan Jurnalisme Warga”, pada hari Sabtu, 20 Oktober 2012, bertempat di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta. Hadir selaku narasumber dalam acara tersebut Masmimar Mangiang (Dosen Komunikasi UI), Pepih Nugraha (Manajer Redaktur Kompas), dan Ivan Lanin (Wikipedia Indonesia).

  GajahMada BN1 BN2012-1 FR1

November memiliki Hari Pahlawan. Di momentum tanggal itu pulalah digelar Kopdar Akbar Blogger Nusantara II di Makassar, Sulawesi Selatan. Tantangan yang sangat berat bagi sebagian blogger Nusantara untuk dapat turut hadir di kopdar terbesar yang digelar di luar pulau Jawa. Namun demikian, demi menyambukang tali silaturahmi saudara sebangsa setanah air, saya berangkat memenuhi panggilan dari Daeng Ipul dari Komunitas Anging Mammiri. Kopdar akbar yang dihadiri lebih dari 600a-an blogger tersebut berlangsung selama dua hari yang diisi dengan sesi seminar dan workshop, serta anjangsana wisata di sekitaran Makassar.

Desember….hmmm. Di bulan ini saya pribadi nihil dari aktivitas kopdar blogger. Di penghujung tahun, 31 Desember 2012, kembali perjalanan pengelanaan blogger saya ingat dan rekam kembali ke dalam postingan ini. Semoga ke depan kita semua di barisan Bala Tidar dapat lebih komitmen dan konsisten dalam menjalani amalan ibadah di jalur blog ini, sehingga dapat mencetuskan ide-ide positif yang akan menjelma menjadi program maupun agenda yang bermanfaat untuk sesama. Monggo sedulur! Salam Blogger !

Ngisor Blimbing, 31 Desember 2012

“Sri Kandi” Mayang Hadiyanti

PENDEKAR TIDAR#16

Mayang1Menjelang digelarnya hajatan Malam Lailatul Kopdar di posko Pattiro Magelang di akhir Ramadhan 2010, turut merapat sesosok perempuan yang kelihatan anteng adhem ayem. Kehadirannya di tengah Bala Tidar memang baru pertama kalinya itu. Namun beberapa Bala Tidar sudah langsung dapat “nyambung” obrolan yang akrab semanak karena memang telah terjalin komunikasi awal melalui media blog masing-masing. Di sesi awal diskusi yang didahului dengan perkenalan, ia memperkenalkan diri sebagai May. Bloggerwati yang bernama lengkap Mayang Hadiyanti ini kala itu tengah menempuh studi di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada.

Menurut pengakuan May saat itu, dirinya turut merapat ke pertemuan itu di samping karena kesamaan visi misi sebagai putra daerah yang ingin turut memajukan Magelang melalui media blog, ia juga berinisiasi untuk mengangkat gerak-gerik dan kiprah Pendekar Tidar menjadi topik penelitian tugas akhirnya. Menurutnya, dari sisi teori ilmu sosial maupun komunikasi, banyak sudut menarik hadirnya komunitas blogger yang memiliki basis pemanfaatan kemajuan teknologi informasi. Fenomena yang masih bisa dibilang belum umum di Indonesia ini sangat menantang untuk diteliti secara ilmiah. Dari sinilah titik awal keterlibatan May yang lebih intensif dalam berbagai kopdaran dan agenda-agenda yang digulirkan satu-satunya komunitas blogger di Magelang yang eksis.

Bicara mengenai bloggerwati atau Bala Tidarwati di barisan Komunitas Blogger Pendekar Tidar, memang bisa dibilang sangat sedikit yang konsisten bertahan lama. Di masa awal tergabungnya blogger Magelang, hadir nama-nama seperti Emi Fa, Indah, Yunita, Prama, Eva, Nurul, Bidan Yuni, Susi, dll, kemudian May, namun belakangan yang masih eksis terdengar kabarnya di dunia maya tinggal segelintir saja. Bisa jadi semangat ngeblog yang memang sudah luruh ataupun dikarenakan ada kesibukan atau aktivitas lain yang lebih menyibukkan sehingga blog yang dulu pernah digagas menjadi terabaikan.

May menjadi cukup intens bergaul dengan beberapa Bala Tidar yang sengaja dijadikan subyek responden untuk penelitian skripsinya. Adalah Sang Nanang, Kang Ciwir, dan Yudha Dahlan yang dimintanya turut membantu menceritakan motivasi dan pandangan mengenai media blog, baik sebagai sarana ekspresi dan aktualisasi diri, maupun lebih jauh untuk nglumpuke balung pisah dalam sebuah komunitas yang peduli untuk menduniakan segala potensi Magelang melalui media blog.

Pada awalnya, penelitian terkait Pendekar Tidar yang dilakukan May sempat mengalami hambatan dan penundaan terkait dengan perisitiwa erupsi Merapi  2010 yang kemudian menyibukkan barisan Bala Tidar untuk turut membantu pengungsi di posko gabungan yang digawangi Rumah Pelangi, Pattiro Magelang dan Pendekar Tidar. Di posko inilah nampak sangat menonjol peran beberapa Sri Kandi Bala Tidar untuk mengurusi uba rampe logistik dan pendistribusian barang bantuan. Setelah suasana udan awu sedikit mereda, di sekitaran bulan Maret 2011, May baru bisa berkonsentrasi menyusun kembali rangkaian penggalian informasi dalam rangka penelitiannya.

Di samping intensif menyatu di barisan Bala Tidar dalam rangka penelitian, May juga sangat aktif turut menjadi garda terdepan dalam berbagai agenda kegiatan komunitas. Kiprahnya pertama kali terlihat sangat menonjol pada saat Pendekar Tidar mendapat kehormatan untuk turut meramaikan HUT Radio Polaris FM di penghujung tahun2010. Selanjutnya dalam agenda tahunan Lomba Menulis dan Seminar Pendidikan 2011, dia bisa dibilang menjadi “satu-satunya” Bala Tidarwati yang turut singset taliwanda melaksanakan gawe sejak perencanaan konsep, sosialiasi hingga pelaksanaan kegiatan.

Ketika di paruh akhir 2011, rekan-rekan Bala Tidar menggagas pelatihan komputer di Panti Asuhan Arrahman yang kebetulan berada tidak jauh dari rumah tinggalnya di Ngembik, May juga turut menjadi pengasuh adik-adik dalam belajar beberapa aplikasi komputer sederhana. Meskipun saat itu ia tengah intensif menggarap skripsinya, namun tanpa kenal lelah May merutinkan diri bolak-balik Jogja Magelang untuk turut mendukung barisan Bala Tidar. Sepeninggal Ema Fa yang hijrah ke Tanah Pasundan, tinggal Maylah satu-satunya Bala Tidarwati yang memiliki komitmen tertingginya untuk mencurahkan pikiran, tenaga dan pengorbanannya sebagai sebuah pilihan jalan ibadah melalui komunitas kami.

Mayang2

Sekitar Oktober 2011, May mulai memasuki tahapan akhir penelitian yang melibatkan kami-kami. Hingga akhirnya skripsi yang dia susun diuji di hadapan para dosen penguji, kami masih terus intensif berkomunikasi secara timbal balik meskipun dari jarak jauh. Akhirnya kelulusan itupun dapat diraih May dengan penuh gemilang. Dan sekitar November 2011, ia memberikan kabar tentang wisudanya. Kami semua tentu saja turun berbahagia atas prestasinya.

Kelulusan dari bangku kuliah tidak menyurutkan kiprah May di Pendekar Tidar. Dalam hajatan Lomba Menulis dan Seminar Pendidikan yang digelar untuk ke tiga kalinya awal tahun 2012 ini, May menjadi satu-satunya Bala Tidarwati yang terus setia menjalankan amanat-amanat tugas mulia sebagaimana disepakati oleh rekan-rekan lain yang dari hari ke hari jumlahnya kian menyusut. Cita-cita sudah dipancangkan, layar siap terkembang, maka tiada perkataan lain selain pantang menyerah dan berputus asa.

Mayang Hadiyanti. Dari segi nama yang disandangnya mengingatkan kami tentang bunga pohon jambe yang disebut mayang. Bunga mayang hadir dalam kesucian warna putih nan suci. Sebagai cikal bakal buah pinang, mayang melambai dan mekar sarwa merak ati bagi siapa saja yang memandangnya. Mayangpun bermakna kegiatan melakonkan wayang, wewayangan atau bayang-bayang. Sebagaimana manusia hidup di duniapun hanyalah sekedar melaksanakan titah dan dhawuh dari Kang Maha Wenang, maka sebaiknya manusia senantiasa andhap asor, penuh rasa tawadhu, dan senantiasa taat patuh atas segala perintah-Nya.

Kini di penghujung tahun, saya pribadi mendengar selentingan kabar bahwa adik kami, Mayang Hadiyanti, telah melepas masa lajang dalam rangka melaksanakan sunnah Kanjeng Nabi yang sudah pasti sangat dipundinya tinggi-tinggi. Satu lagi tahapan dan fase perjalanan hidup dimasuki oleh May. Sebagai saudara yang dipertuakan di dalam keluarga besar Pendekar Tidar, tentu saja hanya sebatas doa dan harapan yang bisa kami panjatkan. Semoga bahtera rumah tangga yang kini tengah dibangun May mendapatkan keberkahan dari Gusti Alloh untuk menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, adem ayem, tata titi tentrem, kalis ing rubeda lan sambekala, cinaketaken ing reja lan mulyanipun, atut rukun kadya mimi lan mintuna, bisa langgeng hingga dunia akhirat.

Ngisor Blimbing, 22 Desember 2012

NB: Tulisan ini saya dedikasikan atas pernikahan adik kami Mayang Hadiyanti, 16 Desember 2012, sekaligus dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-84 atas kiprah dan peranannya turut menggawangi barisan Komunitas Blogger Magelang. (Huff…….ternyata cukup sulit untuk menemukan seraut muka Bala Tidarwati yang satu ini dalam berbagai album koleksi komunitas. Rupanya dia lebih senang berada di balik layar)

Anak Magelang Melanglang Jepang

Akhir Oktober, niat hati sudah ingin ancang-ancang untuk turut menghadiri kopdar akbar 1000 blogger di Sidoarjo dalam paguyuban Blogger Nusantara. Melihat antusiasme dari rekan-rekan Komunitas Blogger Magelang yang aras-arasan untuk menyambut uluran silaturahmi dari rekan blogger dari seluuruh penjuru Nusantara, entah karena alasan semesteran, tidak libur, banyak acara, banyak kegiatan, banyak pekerjaan, hingga tidak punya uang, nampaknya saya yang dianggap sesepuh dalam komunitas itu harus mengambil alih untuk setidaknya mewakili blogger dari tatar Tidar. Maka dengan segala kesempitan waktu dan dana yang terbatas, saya tetap bertekad untuk ke Sidoarjo. Rencananya saya hendak budhal mbarengi rekan-rekan Blogger Detik yang akan berangkat dari Jakarta dengan menumpang keretan ke Surabaya. Continue reading “Anak Magelang Melanglang Jepang” »

Gethukan di Rantau

Gethukan yang merupakan kependekan dari glenak-glenik methuk malem mingguan merupakan ikon kopi daratnya Bala Tidar. Tua-muda, lelaki-perempuan, anak-anak, remaja dan dewasa, bahkan yang non bloggerpun dipersilakan untuk turut bergabung, kempal manunggal menjadi satu. Inti sari dari gethukan sebenarnya adalah pengejawantahan semangat paseduluran tanpa batas, atau bisa jadi paseduluran lintas batas. Batasan usia, status, bahkan wilayah keberadaan para Bala Tidar menjadi absurb. Tidak di Magelang, tidak di rantau, semangat gethukan ternyata tetap menyala dan dijunjung tinggi, sebagaimana gethukan di rantau yang tergelar pada 4-5 Februari 2012 di Griya Ngisor Blimbing, Tangerang, Banten. Continue reading “Gethukan di Rantau” »

Berbagi Itu Indah

Pelatihan Komputer di Panti Arrahman Magelang

panti_ar_rahman

Dunia Maya tidak selalu menakutkan, membahayakan dan merugikan. Selalu ada sisi positif dan manfaat yang bisa kita ambil, tergantung bagaimana cara kita dalam memperlakukan media tsb. Kalau analoginya mas Hanafi : “Pisau, tergantung kitanya mau dipake buat apa. Buat rajang-rajang bumbon bisa, mau buat nusuk orang juga bisa.”

Begitupula dengan facebook. Sebagian dari Anda ada yang punya facebook dan sebagian yang lain ada juga yang tidak punya facebook. Tidak masalah, karena memiliki facebook bukanlah merupakan sesuatu yang wajib alias keharusan. Dibalik sisi negatif facebook yang beberapa waktu lalu sering kita dengar di berita, tentunya ada juga sisi positifnya. Salah satu nilai positif facebook adalah yang jauh dapat semakin dekat dan yang dekat akan semakin merapat. Begitu juga dengan kisah saya berikut ini.

Di Kota Magelang, tepatnya di daerah Ngembik ada sebuah Panti Asuhan yang seringkali saya baca papan namanya (maklum, simbah saya tinggal di Ngembik jadi kalo mau kesana pasti melewati dan membaca tulisan di papan nama tsb) tapi saya belum pernah satu kali-pun menginjakkan kaki di sana. Pada suatu hari, tanpa sengaja di facebook saya melihat beberapa foto tentang mushola yang air bekas wudhunya dialirkan ke kolam ikan. Wah, menarik nih. Setelah ditelusuri ternyata yang punya foto adalah pak Dharmawan Sumiran (beliau adalah salah satu pengurus di Panti Ar Rahman, tepatnya bendahara panti).

Pendekar Tidar Pelatihan TI Di Panti Arrahman

Akhirnya, saya-pun meng-add beliau sebagai teman. Selain itu saya juga menyampaikan niatan untuk bersilaturahmi dan melihat-lihat aktivitas atau kegiatan teman-teman di Panti Ar Rahman. Panti Ar Rahman ternyata memiliki karakteristik yang unik bila dibandingkan panti yang lain. Kalo teman-teman berkunjung ke sana, mungkin suasananya akan sedikit berbeda dengan bayangan teman-teman selama ini. Suasana di Panti Ar Rahman ini tidak seramai maupun semeriah yang ada dalam benak kita. Mungkin karena panti putra dan putri lokasinya terpisah dan juga kadangkala teman-teman panti masih mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung sampai sore hari di sekolahnya masing-masing.

Sekilas tentang Panti Ar Rahman. Panti Ar Rahman didirikan pada tahun 1992 dan sampai saat ini ada sekitar 70 anak yang tinggal di panti. Sebagian besar masih mengenyam pendidikan di SMP dan SMA dan sebagian yang lain ada juga yang sedang studi di universitas. Panti ini tidak hanya menampung teman-teman yatim piatu tetapi juga teman-teman dari keluarga yang kurang mampu. Selain berupaya untuk membantu agar teman-teman tetap bisa meneruskan pendidikan formal, teman-teman di Ar Rahman pun diberikan pendidikan kewirausahaan seperti perikanan, pertanian, jualan bakso, kerajinan dan keterampilan tangan.

Pendekar Tidar Pelatihan TI Di Panti Arrahman

Apakah yang bisa kita berikan ke Panti Ar Rahman? Wow…banyak sekali. Yang punya dana bisa membantu mendonasikan dananya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari maupun pendidikan teman-teman, yang punya bahan makanan bisa juga dibagikan untuk diolah oleh teman-teman dan yang punya keahlian maupun keterampilan tertentu bisa juga disebarkan ke teman-teman di panti ini. Pokoknya apapun yang teman-teman miliki, yang mungkin menurut teman-teman biasa dan tidak ada harganya, akan menjadi sesuatu yang istimewa apabila dibagikan dengan orang lain.

Begitu juga dengan Bala Tidar – sebutan untuk anggota Komunitas Blogger Magelang, Pendekar Tidar – berbekal niat sederhana untuk berbagi apa yang kami miliki, kami-pun memberanikan diri untuk menerima ‘tantangan’ dari pak Dharmawan untuk memberikan pelatihan komputer di Panti Ar Rahman ini. Sampai tulisan ini diterbitkan, Alhamdulillah kami sudah melakukan 3 kali pertemuan dengan teman-teman panti. Yang pertama adalah perkenalan dan pemutaran film Linima(s)sa-nya Internet Sehat, yang kedua adalah pengenalan komputer (Computer Basics) tahap pertama dan yang ketiga adalah Computer Basics tahap kedua.

Pendekar Tidar Pelatihan Komputer Di Panti Arrahman Magelang

Keterbatasan fasilitas bukanlah suatu hambatan bagi kami yang membuat kami galau atau menyerah. Justru keterbatasan itulah yang malah mendorong dan memotivasi kami untuk lebih bersemangat dalam berbagi dan lebih kreatif dalam menyampaikan materi. Doakan, semoga kami bisa istiqomah dalam investasi ini dan ikut membantu mewujudkan sasaran panti yaitu dapat menampung 1.000 anak sebelum tahun 2027. Anda tertarik untuk ikut menyukseskan sasaran tsb?

Diambil dari Bala Tidar –> Yudha Karyadi

Kilas Bala Tidar 2011

Pasang-surut, naik-turun adalah irama hidup sebagai sebuah keniscayaan. Sebagaimana ummat manusia yang mengerti agama dan paham peradaban, kita tentu saja senantiasa berkeinginan agar hari ini lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Spirit ini semestinya memang mendorong manusia untuk senantiasa berproses menuju kepada keadaan yang lebih baik. Demikian halnya ketika sedikit dari sebagian personal yang memiliki keprihatinan tentang eksistensi bhumi Magelang di dunia maya, yang kemudian tergabung di dalam Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang, juga memiliki harapan menjadi sebuah komunitas yang semakin eksis dan solid.

Dua ribu sebelas merupakan masa kritis yang tidak mudah dilalui untuk mempertahankan eksistensi komunitas ini. Dinamika perjalanan komunitas mau tidak mau dan suka tidak suka harus melewati berbagai rintangan, hambatan, dan cobaan yang tidaklah semakin ringan. Soliditas dan solidaritas yang menjadi nafas kebersamaan ketika dalam komunitas ini diusung motto “Paseduluran Tanpa Batas” rupanya tidak begitu mudah untuk diwujudkan. Hal ini tidak lepas dari instabilitas stamina dari setiap Bala Tidar yang mengaku menjadi bagian dari barisan komunitas.

Awal tahun merupakan titik kulminasi kelelahan selepas hampir semua keluarga besar Bala Tidar merasakan dampak letusan dahsyat gunung Merapi yang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan bagi semua komponen masyarakat Magelang. Sisa-sisa dampak dan efek samping aktivitas erupsi Merapi masih terus berlangsung seiring dengan musim hujan yang kian menderas. Langsung ataupun tidak langsung suasana ini jelas berdampak kepada agenda komunitas yang telah dirumuskan sebelum erupsi Merapi berlangsung, seperti lomba dan seminar, dan tentunya wacana Visit Magelang 2011.

Mengawali 2011, di bulan Januari Bala Tidar mendapatkan kehormatan untuk turut bergabung dalam acara Napak Tilas Sejarah Bangunan Tua di Kota Magelang yang digagas oleh Komunitas Kota Toea Magelang. Sejarah dan kisah mengenai Masjid Agung, alun-alun, kantor kadipaten, kweekschoool, karesidenan, gedung balaikota lama, hingga Masjid Payaman dan makam Bupati Danuningrat menambah wawasan beberapa perwakilan Bala Tidar yang turut dalam acara tersebut.

Sebagai sebuah komitmen untuk memberikan wadah kreasi para remaja untuk mengembangkan bakat dalam seni tulis-menulis, Bala Tidar tetapkan niat dan tekad untuk tetap menggelar event tahunan dalam rangka HUT ke-II Komunitas Pendekar Tidar. Maka secara maraton dipersiapkanlah agenda lomba menulis khusus pelajar tingkat SLTP-SLTA dan seminar untuk para guru, orang tua dan umum. Berkenaan dengan kesan erupsi Merapi yang masih segar di ingatan warga Magelang, sengaja lomba menulis mengangkat tema “1001 Sisi Erupsi Merapi”.

Januari, Februari, hingga Maret adalah selang waktu Bala Tidar berusaha merapatkan barisan untuk secara serius mempersiapkan event lomba dan seminar. Dengan harapan kepesertaan lomba dan seminar yang lebih meningkat dan menjangkau kalangan yang lebih luas, maka paket event tersebut sengaja diundurkan waktu pelaksanaannya menjadi Mei dan Juni. Di sela-sela persiapan agenda tahunan, salah seorang Bala Tidar memberikan kepastian tentang niat yang pernah diutarakannya untuk mengangkat beberapa sisi komunitas menjadi sebuah tema penelitian untuk kemudian diajukan sebagai tugas akhir guna mendapatkan gelar kesarjanaan. Sungguh kesempatan yang sangat luar biasa sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah.

April memang hari kelahiran Komunitas Pendekar Tidar bersamaan dengan HUT Kota Magelang. Sangat berbeda dengan saat pertama kali digelar Kopdar Bala Tidar, 11 April 2009, yang kemudian menjadi tonggak kelahiran Komunitas Pendekar Tidar, HUT ke-II komunitas berlalu tanpa ritual ataupun peringatan apapun. Semua berlalu begitu saja, seolah komunitas ini dalam suasana mati suri. Nampak sekali stamina sebagian Bala Tidar mencapai titik kritis, bahkan ada beberapa diantaranya yang kemudian tidak jelas kemana rimbanya!

Pengalaman menggelar event yang sama pada tahun sebelumnya sebenarnya merupakan modal awal yang sangat berharga. Dukungan Dispora Kab Magelang dirasa lebih total dan tulus turut membesarkan hati Bala Tidar. Terlebih lagi XL Magelang dan Radar Magelang turut menjadi sponsor serta media partner menjadikan harapan kegiatan tahun ini lebih sukses dari tahun sebelumnya. Namun sayang seribu sayang, eksistensi eksternal yang semakin diakui oleh beberapa kalangan masyarakat luar justru tidak menjadikan dorongan bagi sebagian besar Bala Tidar untuk lebih eksis mengawal perjalanan komunitas.

Detik demi detik menjelang dateline lomba dan seminar, barisan Bala Tidar belum temata bahkan semakin terlihat mawut dan ambyar. Dapat dihitung dengan jari, hanya segelintir Bala Tidar yang tetap setia dan komit terhadap komitmen yang telah diputuskan bersama. Meskipun penuh dengan peluh, kegelisahan, rasa was sumelang dan dagdigdug dari panitia inti, akhirnya panitia menerima sejumlah naskah dari peserta yang jumlahnya cukup memadai.

Hal yang lebih tragis justru terjadi untuk kegiatan seminar dimana jumlah kepesertaan hingga  detik terakhir tidak melebihi angka dua puluh. Sebuah kemunduran memang! Namun seminar akhirnya tetap berlangsung pada Sabtu 25 Juni 2011 bertempat di Pendopo drh. Soepardi, Kompleks Sekretariat Pemerintah Kabupaten Magelang, Kota Mungkid dengan tema “Internet Sehat untuk Generasi Masa Depan” dengan narasumber Acep Saepudin dari Internet Sehat Indonesia/ICT Wacth, Bahtiar Rifa’i dari Komunitas Blogger BHI Jakarta, Gunawan Juliyanto dari Tlatah Bocah, dan Rahardian Mukti selaku admin group Wisata Magelang di facebook.

Di bulan Juli semestinya Bala Tidar mendapatkan tawaran dari ASEAN Blogger Community chapter Indonesia yang didukung penuh Kementerian Luar Negeri untuk menggelar workshop tentang pengenalan wacana ASEAN Community 2015. Acara kemudian digelar di Jogja dengan kepanitian dari Komunitas Joglo Abang. Beberapa perwakilan Bala Tidar berkesempatan menghadiri acara yang berlangsung di Hotel Melia Purosani tersebut.

Agustus, bersamaan dengan bulan Ramadhan, Bala Tidar mendapat undangan untuk bersilaturahmi dengan Komunitas Penggunan Linux Indonesia cabang Magelang. Dalam forum ini tercetus ide untuk membuat website bersama sebagai wadah gerak bersama bagi segenap komunitas pengguna dunia maya yang ada di Magelang.  Hampir bersaman dengan itu, perwakilan Bala Tidar juga turut menghadiri acara Workshop dan Pameran Foto yang digagas ASEAN Blogger Community chapter Indonesia di Museum Bank Mandiri, Jakarta. Menjelang Idul Fitri, Bala Tidar sempat kembul bujono untuk berbuka bersama di Omah Pring dengan disaksikan ketenangan aliran Kali Elo di pinggiran Kota Magelang.

Bulan September 2011, halal bi halal di Hari Lebaran hanya sebatas lewat online karena pada waktu diundang ke Ndalem Peniten banyak Bala Tidar yang menyatakan diri berhalangan hadir. Bahkan pada saat Kang Ikhsan, salah seorang sesepuh sekaligus pendiri komunitas, melangsungkan hari bahagia dengan memetik sang kembang idaman dari tlatah Gelangan, tetap hanya segelintir Bala Tidar yang turut menjadi saksi.

Masih di bulan yang sama, memenuhi undangan dari Be-Blog, Komunitas Blogger Bekasi, untuk menghadiri acara Amprokan Blogger 2012. Turut hadir pada acara ini saya sendiri, Kang Dobelden, dan Faris Ashim. Acara yang menghadirkan blogger dari segenap penjuru tanah air ini berlangsung meriah dan penuh kesan karena di samping peserta dibekali pengetahuan dalam seminar yang mengangkat topik tentang blogging, dunia IT, cyberlaw, lingkungan dan etika blogging, kami juga turut touring ke Jababeka dan Taman Buaya.

28 – 30 Oktober digelar kopdar seribu blogger dalam Forum Blogger Nusantara bertempat di Sun City, Sidoarjo, Jawa Timur. Kumpulan blogger yang memiliki visi untuk mengarahkan penggunaan blog dalam rangka blogpreunership ini banyak digagas oleh rekan-rekan dari Poros Daerah. Intinya di samping memberikan sisi peluang dan kesempatan untuk menjadikan blogging sebagai aktivitas berpendapatan, Blogger Nusantara juga ingin menepis paham Jakarta centris! Sayang seribu sayang, saya yang sudah ancang-ancang jauh hari untuk menghadirinya terhambat oleh kesehatan tubuh yang kurang bersahabat sehingga batal hadir. Harapan akan ada perwakilan Bala Tidar yang ikut ngombyongi, ternyata hanya harapan hampa!

Bergeser ke bulan November. Bersamaan dengan berlangsungnya acara KTT ASEAN XIV di Bali, ASEAN Blogger Community juga menggelar conference. Adalah sebuah kehormatan Komunitas Pendekar Tidar diundang untuk mengirimkan perwakilannya dengan ongkos transportasi dan akomodasi ditanggung penuh oleh panitia. Tanggal 22 November 2011, Graha Sabha Pramana menorehkan salah satu wisudawatinya yang mengangkat judul skripsi “Magelang dalam Blog”. Sampeyan ingin membacanya juga? Silakan request kepada kami!

Detik-detik akhir tahun segera datang menjelang. Waktu senantiasa bergerak maju tanpa ada kuasa kita untuk menghambatnya. Satu per satu prestasi telah kita torehkan bersama. Satu per satu kesalahan, bahkan kekalahan, juga telah kita catat dalam memori dan jejak sejarah komunitas kita. Adalah sebuah kegembiraan jika kita tengok bahwa Komunitas Pendekar Tidar sudah banyak terlibat di kancah nasional, bahkan mulai mengglobal dengan keikutsertaannya dalam ASEAN Blogger Community. Secara eksternal eksistensi kita semakin dikenal dan diakui oleh berbagai pihak. Namun catatan pentingnya justru secara internal kita haru semakin merapatkan dan menguatkan barisan. Soliditas dan solidaritas harus terus ditingkatkan. Stamina harus terus dijaga sebagai pijakan komitmen, konsistensi dan kebersamaan untuk terus berkarya bagi kejayaan Magelang tercinta. Monggo kembali merapatkan barisan! Salam Bala Tidar!

Ngisor Blimbing, 11 Desember 2011