MERAPI PENUH MISTERI

(Catatan di tahun 2006)

Baru satu hari masyarakat warga lereng Merapi merasa lega dengan penurunan aktivitas Gunung Merapi, hari Rabu, 15 Juni 2006 sekitar pukul 12.00 dan 15.00 WIB terjadi luncuran wedhus gembel dengan jangkauan sekitar 7 km yang menyebabkan kembali dinaikkannya status Merapi menjadi Awas. Status awas kali ini hanya diberlakukan secara sektoral untuk daerah arah selatan dan tenggara yang meliputi alur Kali Gendol di Kecamatan Cangkringan dan Kali Woro di perbatasan Klaten. Flu dan batuk Merapi seakan suatu penyakit yang sudah kronis dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk mengembalikan kondisi kestabilannya seperti semula.

Meskipun guguran lava pijar yang menghasilkan awan panas tersebut selalu mengarah ke arah selatan dan tenggara bahkan kemarin sempat mencapai daerah wisata Kaliadem, namun karena arah angin selalu berhembus ke arah barat, mengakibatkan sektor barat Merapi termasuk desa kelahiranku kembali diguyur hujan abu dan pasir. Kondisi demikian membuat 150 warga di Desa Ngargosoka tetangga desaku terpaksa diungsikan untuk menghindari bahaya sekunder letusan Merapi berupa terhamburnya material mulai dari pasir, kerikil, krakal, bom, lapili dan mofet. Merapi memang penuh misteri dan sangat sulit untuk dipreksi akhir-akhir ini.

Informasi dari media massa yang sempat saya baca, diantaranya memberitakan tragedi Kaliadem yang porak poranda dan dua orang relawan terjebak di dalam sebuah bunker perlindungan. Di beberapa titik lereng Merapi memang telah dibangun beberapa bunker untuk perlindungan terakhir warga apabila datang si wedhus gembel yang tak terantisipasi. Di awal tahun ini pada saat memberitakan sebuah berita lelayu seorang tetanggaku yang meninggal kepada Padhe Joyo sakbrayat di Tunggularum, saya sempat menyaksikan dari dekat sebuah bunker yang terletak di Dusun Tunggularum Desa Wonokerto Kecamatan Turi yang berada di sebelah barat kawasan Kaliurang.

Bunker dirancang sebagai tempat perlindungan terhadap awan panas dan tidak dirancang secara khusus untuk perlindungan terhadap lava panas. Kasus kejadian Kaliadem kemarin dimana telah terjadi hamburan lava pijar yang mengubur bunker, sehingga menjadi sebuah teka-teki besar apakah dua relawan yang terjebak tersebut bisa bertahan. Pada sebuah bunker dilengkapi dengan fasilitas diantaranya persediaan air, tabung oksigen dan MCK. Barangkali kita semua hanya bisa berdoa semoga dua orang relawan yang diistilahkan oleh Pak Widi (seorang pejabat Pemkab Sleman) sebagai “bonek” tersebut dapat bertahan dan selamat.

Batuk dan flu gunung Merapi itupun sepertinya membuat batuk yang kuderita seminggu ini dan sudah memasuki tahap kesembuhan, kembali bangkit menyerang. Untuk yang satu ini barangkali terlebih karena kondisi pemulihan yang harusnya saya jalani dengan istirahat total, namun karena terbawa gegap gempita para maniak bola yang begadang nonton pertandingan di waktu dini hari seperti dini hari ini saat pertandingan Swedia vs Paraguay, sehingga menyebabkan tertundanya pemulihan batukku.

Dari dimensi mitologi masyarakat Jawa, Pangeran Mangkubumi, pendiri Kasultanan Ngayojakarto Hadiningrat membangun suatu konsep filosofis kesatuan imajiner diantara Merapi – Keraton – Laut Kidul. Konsep tersebut terkemuka dengan istilah Trihita Karana yang dapat diartikan tiga dimensi utama pilar penyangga sangkan paraning dumadi (asal, keberadaan dan tujuan hidup manusia).

Merapi pralambang ketinggian Parahiyangan(Allah) yang merupakan dunia malakut(ghaib) tempat bertahtanya Sang Khalik kehidupan. Keraton lambang Pawongan(Aku) dimana hal tersebut merujuk kepada dimensi dunia nyata tempat kehidupan manusia. Sedangkan Laut Kidul(Alam) sebagai simbol tataran dunia di bawah manusia seperti dunia hewan, tumbuhan dan makhluk halus.

Adanya Merapi yang sedang punya gawe dan senantiasa fluktuatif aktivitasnya bisa dimaknai bahwa Tuhan merupakan dzat Maha Kuasa yang mutlak kehendaknya atas titah makhluk-Nya di semua tingkatan kehidupan. Merapi barangkali merupakan sasmita bagi manusia agar kembali kepada jati diri dan kodrati fitrahnya untuk senantiasa berbakti, mengabdi dan beribadah hanya kepada-Nya. Terpaan globalisasi dunia barangkali telah banyak meninabobokkan manusia sehingga seringkali tidak mengindahkan perintah-Nya dan dengan segala kecongkakan jiwanya seringkali melanggar larangan-Nya.

Begitupun peristiwa gempa tektonik beberapa waktu lalu sebenarnya sebagai peringatan alam bahwa manusia terlampau serakah dalam mengekploitasi sumber daya alam sehingga seringkali mengesampingkan fungsi dan kelestarian lingkungan hidup serta kepentingan generasi anak cucu kita..

Manusia sebagai hamba Allah dan pengemban kekhalifahan alam semesta raya,  harus waskitha dan bijak dalam memahami kehidupannya sehingga ia mampu mengambil sikap yang sebaik dan seadil-adilnya untuk kepentingan keberlangsungan keharmonisan kehidupan di semua dimensi kehidupan. Hal tersebut akan menciptakan suatu tatanan kehidupan yang serasi, selaras dan seimbang dan akan membawa keberkahan bagi ketentraman dan keselamatan hidup di dunia hingga akhirat.

Wallahualam………………..

Jakarta, 16 Juni 2006