2

Asakusa

10 Mar 2012 by pendekartidar in Sosial-Budaya

ENERGI RELIGI MEGAPOLITAN TOKYO

Anak Magelang Melanglang Jepang – 3

Setinggi-tingginya pencapaian peradaban manusia, manusia tidak akan pernah bisa lepas kepada hukum alam. Dan siapa yang berada di belakang layar berlangsungnya semua hukum alam? Dialah Tuhan. Apapun kepercayaan dan agama manusia, ada satu persamaan pencapaian olah budi dan akal, bahwa di luar kemampuan logika dan imajinasi manusia selalu ada peranan yang tidak bisa ditandingi. Itulah peran Tuhan!

Jepang adalah negara dengan pencapaian teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi. Di balik semua pencapaian itu, ternyata mereka masih tetap mengakui adanya kekuasaan Tuhan. Di kalangan remaja  ataupun orang muda Jepang, perihal kepercayaan kepada agama, baik Shinto maupun Budha bisa jadi masih sangat tipis karena gejolak darah muda. Akan tetapi semakin orang mencapai usia tua dan kedewasaan, mereka membutuhkan secercah ketenangan hati dan jiwa yang tidak bisa diberikan oleh teknologi dan ilmu pengetahuan. Maka mereka mulai merindukan dan mencari Tuhan. Semakin dewasa pemikiran manusia, mereka semakin menjadi lebih religius.

 

Tokyo bisa jadi merupakan simbol kecanggihan hasil olah otak manusia. Gedung bertingkat yang menantang langit, jalanan mulus nan halus, kecanggihan sistem kereta Shinkasen, dengan seribu kesibukan manusia, dan dengan sejuta rahasia di balik sebuah kota yang menyandang predikat megapolitan, Tokyo masih menyisakan Asakusa.

Asakusa berada di sisi timur Tokyo mendekati arah teluk Tokyo. Asakusa bisa dibilang sebagai situs keagamaan yang masih tersisa di tengah derasnya modernisasi kota. Di dalam kawasan ini terdapat kompleks kuil yang sangat besar. Dua kepercayaan bersatu padu dalam satu lokasi yang berdampingan penuh keharmonisan. Tidak Budha, tidak Shinto, keduanya bersanding penuh kedamaian. Asakusa menjadi simbol dan saksi bahwa kepercayaan yang berbeda tidak bisa memisahkan manusia dari sebuah nilai kebenaran dan kebersamaan hidup.

Memasuki gerbang utama, pengunjung akan diantar kepada suasana dan nuansa penuh kekhidmatan. Dalam doa dan mantra, dalam setiap pengharapan akan datangnya kedamaian dunia, Asakusa menyediakan media meditasi dua aliran utama kepercayaan yang dianut masyarakat Tokyo, Budha dan Shinto.

Melangkah ke sisi kanan dari gerbang utama, berdiri gagah gerbang kayu galih simbol keberadaan Shinto Shrine, atau kuil Shinto. Agama Shinto merupakan adopsi dan akulturasi agama Budha yang datang dari India melalui China dengan kepercayaan lokal nenek moyang bangsa Jepang. Shinto menjadi agama dan keyakinan masyarakat Tokyo saat ini. Sebelum memasuki kuil untuk melakukan ritual ibadah, di sisi kiri terdapat tempat penyucian diri. Air dari pancuran kecil diciduk dengan gayung mungil dari batok kelapa, digunakan untuk membasuh tangan kiri, kanan, kemudian mengusap mulut.

Demikian kesucian lahiriah tercapai, doa siap dipanjatkan, ibadah siap dimulai. Tidak terlalu rumit, ummat Shinto berdoa di depan altar dengan mempertemukan kedua tangan di atas dada dan dengan sedikit menganggukkan punggung. Setelah doa selesai dipanjatkan, mundur satu langkah dan kedua tangan ditepukkan. Tidak ada waktu khusus bagi ummat Shinto untuk berdoa atau beribdah. Kuil selalu terbuka dan siapapun, kapanpun datang tidak ada helangan ruang dan waktu untuk melakukan ritual ibadah.

 

Di sisi tengah dari kawasan Asakusa terdapat bangunan kuil yang menjadi bagian tempat peribadatan ummat Budha. Kuil Budha tidak ditandai dengan gerbang kayu galih. Kuil Budha lebih mirip dengan bangunan klentheng bagi ummat Kong Hu Chu. Warna merah menyala mendominasi ornamen dan setiap bagian detail kuil Budha. Di tengah altar menjelang pintu utama tergantung lampu lampion raksasa simbol penerangan hidup. Di bawah lampu “kehidupan” itulah segala doa dan permohoan dipanjatkan.

Bergeser ke sisi belakang komplek Asakusa, berdiri dengan anggunnya sebuah menara pencakar langit. Menara ini lebih mirip dengan menara pagoda dewa langitnya masyarakat China yang pernah digunakan untuk mengurung Kerasakti Sun Go Kong. Menara inilah yang menjadi landmark kawasan Asakusa sebagai pusat energi spiritualitas masyarakat Tokyo. Kawasan peribadatan diakhiri dengan gerbang arah pintu keluar.

Keluar dari kawasan ibadah, pengunjung akan melewati satu lorong panjang dengan pajangan dagangan segala pernak-pernik khas Asakusa maupun souvenir khas Jepang lainnya. Di sini pengunjung dapat menemukan dengan mudah barang-barang bernuansa Jepang, mulai dari jenis gantungan kunci, baju, kaos, sumpit, gantungan magnetik, hingga jubah kimono dan pedang samurai, bahkan senjata rahasia para ninja. Anda datang ke Tokyo, pastikan tidak melewatkan Asakusa.

Shinjuku, 8 Maret 2012

Info lengkap:

http://en.wikipedia.org/wiki/Asakusa

  • 232 Views

THIS ARTICLE IS WRITTEN BY

pendekartidar

Pendekar Tidar adalah salah satu komunitas blogger di Magelang. Terdiri dari beberapa blogger dari berbagai kalangan yang disatukan karena berdomisili di Magelang, pernah tinggal di Magelang, pernah singgah di Magelang, atau karena memiliki kenangan tentang Magelang.

Author Profile
COMMENTS

Leave a Reply

%d bloggers like this: