Kopdar atau kopi darat, merupakan istilah yang merujuk suatu acara pertemuan secara langsung di darat. Kenapa harus pakai kata darat? Karena kelompok atau komunitas yang melakukan kopdar lebih sering berinteraksi atau berkomunikasi melalui media komunikasi tidak langsung yang waktu menggunakan frekuensi udara, misalnya lewat radio atau interkom. Sekarang dengan kemajuan komunikasi online, khususnya melalui jaringan internet, istilah kopdar tetap dipergunakan.

Sebelum maraknya media sosial yang lebih progresif seperti facebook, instagram, path, dlsb, blog menjadi media yang pertama-tama membangkitkan citizen journalism. Melalui blog, blogger (istilah seorang yang mengelola halaman web-blog) bisa berbagai tulisan, foto, gambar, hingga video. Virus blog begitu menggejala dengan munculnya banyak sekali blog baru bagaikan munculnya cendawan di musim penghujan. Bahkan trend blogger telah mendorong pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, menetapkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Masa itu berkisar antara 2007-2010.

Di samping komunikasi dan interaksi yang intensif secara online di dunia maya, semangat untuk berinteraksi berlanjut di darat. Istilah kopdar menjadi sesuatu yang sangat dinanti-nanti bagi para blogger. Kopdar blogger menjadi ajang perkenalan yang lebih nyata, lebih intents, lebih dekat dan lebih mendalam diantara sesama blogger. Kopdar memberikan keutuhan makna bahwa silaturahmi dengan perjumpaan langsung seringkali lebih memberikan arti dan mengikat rasa yang mendalam. Dari kopdarlah satu sama lain seolah merasa dipersaudarakan, menjadi saudara sejati.

Kopdar bisa berlangsung diantara hanya beberapa orang blogger, hingga ratusan bahkan ribuan blogger. Trend kopdaran kemudian mendorong kemunculan komunitas blogger dengan berbagai ragam afiliasi. Ada komunitas berbasis asal-usul kedaerahan, ada komunitas yang lahir karena persamaan profesi, dan lain sebagainya. Maka muncullah Komunitas Blogger Bunderan Hotel Indonesia (Republik BHI), Cah Andong dari Jogja, Bengawan dari Solo, Lumpia dari Semarang, Tugu Pahlawan dari Surabaya, Blogor dari Bogor, Be-Blog dari Bekasi, de-Blogger dari Depok, Komunitas Benteng Tangerang, Komunitas Pendekar Tidar Magelang, dan masih banyak yang lainnya.

Kopdar yang semula hanya berlangsung diantara blogger dalam kelompok atau komunitas kecil, selanjutnya juga memunculkan kopdar yang lintas komunitas, bahkan dalam skala nasional. Beberapa catatan kopdar akbar yang paling melegenda diantaranya Ziarah Timur-Tengah, Pesta Blogger, Wisata Blogger, Amprokan Blogger, Solo Online Lan Offline, On-Off, Kopdar Blogger Nusantara, ABFI, termasuk Festival TIK.

Di samping di Jakarta ataupun kota-kota besar yang lain, kopdar yang legendaris juga banyak berlangsung di daerah-daerah terpencil sekalipun. Salah lokasi paling favorit diselenggarakannya kopdaran adalah Gunung Kelir, Kaligesing, daerah diantara perbatasan Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo. Adalah Mas Totok Sugiharto, blogger yang asli Gunung Kelir yang senantiasa terbuka dan welcome dengan kedatangan blogger dari berbagai penjuru daerah untuk berkumpul bersama di kediamannya.

Bukan tanpa sebab dan alasan yang kuat kenapa para blogger rela datang jauh, mendaki punggung pegunung Menoreh dan menyepi diri ke Gunung Kelir. Di samping keterbukaan dan keramahtamahan sang tuan rumah, lokasi Gunung Kelir berdampingan dengan berbagai menara BTS dari berbagai operator layanan komunikasi. Hal ini menjadikan Gunung Kelir menjadi titik dengan kelimpahan bandwith sinyal komunikasi yang kimplah-kimplah. Di era keberadaan free wireless belum sebanyak sekarang, Gunung Kelir menyajikan sebuah kemewahan berselancar di dunia maya yang bisa dikatakan tanpa batas.

Kini jagad perbloggeran memang sedikit banyak sudah bergeser. Meskipun dari catatan beberapa pengamat menyatakan bahwa blog-blog baru terus tumbuh dan bermunculan, namun spiritnya tentu saja berbeda dengan “militansi” para blogger generasi awal. Demikian halnya dengan event-event kopdaran yang berlangsung pada saat ini. Khususnya kopdaran di Gunung Kelir, kopdar terakhir yang masih melegenda adalah gelaran Kopdar Kopi Kere. Kopdar Kopi Kere digelar pada medio Mei 2013.

Terus terang prostingan ini hadir karena terusik catatan Pak Sawali yang sebagaimana sedulur narablogger lainnya, merasa sudah sekian lama tidak ada gelaran kopdar yang menyamai kopdar “jaman dulu”. Sayapun kemudian baru tersadar bahwa apa yang disampaikan tersebut benar adanya. Ketika saya memberikan tanggapan kepada Pak Sawali, sayapun tidak lupa menjawil Mas Totok. 

Tanggapan itupun tidak bertepuk sebelah tangan. Mas Totok kembali sangat welcome jika dalam waktu yang tidak terlampau lama dapat diagendakan kopdar di tempanya, di Gunung Kelir. Ketika hal itu dishare melalui FB, tanggapan dan antusiasme narablogger yang lainpun begitu bersemangat. Semoga sedulur-sedulur blogger dapat segera turut merapatkan barisan, dan kopdar itu benar-benar bisa teragendakan. Persaudaraan blogger adalah persaudaraan tanpa batas. Monggo sedoyo.

Lor Kedhaton, 9 Januari 2017

Foto-foto dipinjam dari sini, sini, sini, sini,  sini, dan sini.