Blog? Blogger? Apaan sich? Pada saat awal Kang Bahtiar mengajak diskusi soal blog, terus terang saya tidak nyambung sama sekali. Namun ketika diberikan contoh bahwa generasi awal blog dimulai dari Yahoo!3600, maka tanpa sadar saya telah memiliki blog semenjak pertama mengenal internet di tahun 2000-an. Memang fitur Yahoo!3600 masih sangat terbatas, bahkan waktu itu lebih diperkenalkan sebagai media untuk menampang curiculum vitae secara online saja, tidak kurang dan tidak lebih.

Setelah diskusi itu kemudian saya mulai mengenal layanan blog gratisan seperti blog.com, blogspot.com, wordpress.com, dan beberapa yang lain. Melihat banyak tumpukan buku di kamar kos Ndalem Kebun Kacang, Kang Bahtiar meyakini bahwa cukup lumayan banyak ilmu ataupun pengetahuan yang sudah sempat saya baca. Alangkah sayangnya bila pengetahuan itu kemudian hanya sekedar mengendap di memori otak tanpa orang lain turut menikmati kemanfaatannya. Ia mendorong saya untuk menuliskan beberapa catatan dari berbagai buku yang pernah saya baca sebagai sekedar berbagi dengan orang lain di dunia maya. Maka terkibarlah kemudian blog pribadi di annasagung.blog.com.

Semenjak memiliki atribut sebagai blogger, bertambahlah kenalan, teman dan sahabat melalui dunia maya yang kemudian banyak berlanjut ke dunia nyata lewat acara kopdaran. Kopdar dengan para blogger senior pertama kali saya ikuti atas ajakan Kang Bahtiar di sekitar kawasan Sarinah. Dalam kesempatan tersebut saya mulai mengenal Ndoro Kakung, Kang Zumuk Ora Kringeten, Mas Hedi, Gita, Mbakyu Blantik Ayu, dan beberapa teman yang bahkan sudah tidak teringat lagi.

  

Semangat dan spirit ngeblog benar-benar memacu adrenalin, karena banyak mendatangkan berbagai pengalaman-pengalaman baru yang sangat berkesan. Muncullah kemudian tiga serangkai antara saya, Kang Bahtiar, dan Ipul Bangsari. Terakhir tiga serangkai itu bertambah dengan kedatangan Rohibun yang juga turut mencari peruntungan di Jakarta dengan bergabung di kos Kebun Kacang. Di antara keempat blogger tersebut, hanya sayalah yang tidak bergabung di perusahaan Virtual-nya Pak Nukman. Semenjak itulah mulai dikenal Markas Kebun Kacang II No.70 di jagad perbloggeran yang mengundang banyak rasa penasaran blogger-blogger di Jakarta sekitar 2006-an itu.

Bahkan pernah ada seorang blogger yang secara khusus mengadakan penyelidikan untuk mengungkap seperti apakah markas keramat kami. Dengan bermodal peta di tangan, ia menyusuri kawasan Tanah Abang, keluar masuk beberapa gang sebelum akhirnya menemukan tempat kami. Semula ia berpikir bahwa “markas kami” semacam sekretariat sebuah organisasi atau komunitas resmi. Namun kedatangan si blogger pengintai tersebut di saat pertama kali, belum berhasil mempertemukan kami karena satu dan lain hal. Pada kesempatan ke dua kalinya, barulah ia bertemu dengan kami. Dialah kemudian yang lebih kami kenal sebagai Bebek yang kelak dinobatkan sebagai Pangkopdarnya BHI.

Semenjak kedatangan Bebek, beberapa blogger lain sering datang menyambangi kami. Pada suatu malam minggu yang keramat, beberapa blogger yang datang kami ajak untuk sekedar jalan-jalan menikmati “tarian air mancur” di sisi selatan Taman Monas. Jagongan dan leklekan-pun sambil ngobrol ngalor-ngidul beralaskan hijaunya rumput jepang berlanjut hingga dini hari. Monas di malam Minggu memang ramai dengan masyarakat awam yang haus hiburan murah meriah.

Namun ada beberapa hal yang membuat kami kurang nyaman. Di atas rerumputan alas duduk kami, berbaris ratusan semut merah yang sempat merayapi kaki kami, bahkan menggigit kulit yang menyisakan rasa gatal-gatal. Di samping itu, keberadaan andong yang ditarik kuda di Monas menyisakan aroma bau “gempol”, alias kotoran kuda, dan pesing air kencingnya yang mengganggu hidung kami. Ditambah pertimbangan akses masuk Taman Monas yang terlalu jauh dari jalan raya, akhirnya untuk memberikan kesempatan kepada kawan-kawan blogger yang ingin kopdaran, kami memutuskan untuk memindahkan lokasi kopdaran di buk sekitar Bunderan HI, tepat di depan Plaza Indonesia. Dari sanalah kemudian muncul komunitas fenomenal dengan ke-ndesoan-nya yang dikenal sebagai Republik BHI.

Kepindahan saya ke Bandung untuk berguru kepada Dewa Ganesha, ternyata justru memberikan kesempatan untuk lebih sering pulang ke Magelang. Lewat kontak obrolan di blog, berkenalanlah saya dengan Kang Ikhsan, Kang Ciwir, Mas Hanafi dan Mas Eko. Bersamaan dengan liburan Imlek 2009 bertemulah saya, Kang Ikhsan, dan Kang Ciwir yang dirusuhi si Ponang di Ndalem Peniten. Catatan pertemuan perdana tersebut saya tuliskan dengan judul Kopdar Pendekar Tidar. Frase Pendekar Tidar inilah yang menginspirasi Kang Ciwir membuat banner PENDEKAR TIDAR: Komunitas Blogger Magelang. Semenjak itulah nama komunitas blogger di Magelang ini kami sandang.

Sehubungan dengan penyelenggaraan HUT Kota Magelang pada awal bulan April 2009 di Alun-alun Magelang, maka berkumpullah sekitar 15-an blogger yang memiliki keterkaitan dengan bhumi Tidar. Inti dari obrolan perdana tersebut adalah dukungan komunitas yang baru dideklarasikan untuk nyengkuyung program pengumpulan buku untuk perpustakaan di dusun Ngampon yang sudah diinisiasi oleh PATTIRO, PMII, dan remaja dusun setempat.

Kami, terutama saya pribadi, tentu sangat menyadari betapa kerdil dan kecilnya komunitas yang kami gagas dan lahirkan bersama. Sebagai sebuah komunitas yang bukan siapa-siapa di percaturan kehidupan masyarakat Magelang ataupun Kedu Raya, tentu saja tak banyak aksi ataupun agenda yang kami telurkan. Namun demikian dengan segala keterbatasan sumber daya, terkhusus personil dan dana, setidaknya kami berkomitmen untuk meng-go blog-kan Magelang melalui dunia internet sesuai dengan visi misi komunitas kami. Niatan kami adalah turut berperan dalam menduniakan dan mempopulerkan potensi-potensi yang dimiliki Magelang ke pentas pergaulan dunia.

Untuk mewujudkan cita-cita, visi misi dan komitmen kami untuk Magelang, kamipun sering turut bergabung dalam agenda-agenda komunitas blogger di wilayah lain guna lebih memperluas pergaulan dan tentu saja dalam rangka menyatakan bahwa Magelang ada, tidak hanya di atas lembaran peta semata, namun hadir nyata-nyata melalui dunia maya dan dunia nyata.

Terkhusus untuk turut memberikan wahana pengembangan kreativitas pelajar di Magelang, komunitas kami secara rutin menggelar lomba menulis antar pelajar SLTP-SLTA dan seminar untuk guru pada setiap momentum ulang tahun komunitas. Agenda rutin ini telah berlangsung selama tiga tahun berturut-turut dari 2010, 2011, dan 2012. Dalam hal penyenbarluasan virus ngeblog, kamipun mendampingi beberapa sekolah ataupun kelompok masyarakat untuk belajar ngeblog secara gratis.

Inilah kiprah kami untuk “mengibarkan” Magelang, tanah lahir dan leluhur kami.

Ngisor Blimbing, 6 Oktober 2012