“GOTONG ROYONG UNTUK KEMASLAHATAN”

TB2012-1

LATAR BELAKANG

TLATAH BOCAH (bhs Jawa: Area Ramah Anak) merupakan sebuah jejaring komunitas yang bermimpi mewujudkan area ramah anak, sebuah ruang fisik dan psikologis yang memberikan kesempatan anak berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat. Jejaring ini menumbuhkembangkan kepekaan anak terhadap realita sosial, alam lingkungan, dan relasi antar manusia yang diwujudkan dalam beberapa program kegiatan.

FESTIVAL SENI

Salah satu tujuan diadakannya Festival Seni Anak Merapi / Tlatah Bocah adalah melestarikan nilai–nilai kebersamaaan di masyarakat. Pada festival tahun 2012 lalu festival ini menggerakkan 30 komunitas (+-1500 orang) meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan materi untuk mempersiapkan komunitasnya selama kurang lebih dua bulan mensukseskan festival yang digelar.

Masyarakat Merapi mempunyai pola pikir sederhana yang mengedepankan kebersamaan, gotong royong, tepo seliro, dll dimana terlihat dalam pengelolaan tradisi setiap dusun seperti upacara adat dan kesenian. Selain itu, masyarakatnya juga mentolerir adanya kepercayaan dan berbagai agama untuk hidup rukun berdampingan menjadi sebuah akulturasi budaya. Hal tersebut merupakan pencerminan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai bahasa, tradisi, suku, dll. Namun demikian, dalam dua dekade ini, banyak kejadian luar biasa bernuansa kekerasan atas nama suku, agama, ras, dan golongan di beberapa wilayah Indonesia tanpa penyelesaian tuntas yang dapat memicu disintegrasi kebangsaan.

Keprihatinan terhadap permasalahan tersebut disikapi dengan kampanye GOTONG ROYONG UNTUK KEMASLAHATAN melalui Festival Tlatah Bocah VII ini dengan mengangkat kekayaan budaya masyarakat Merapi serta keterlibatan komunitas daerah lain dalam rangka mengukuhkan persatuan untuk menjaga keharmonisan dan toleransi sebagai pondasi pembangunan bangsa.

TB2012-2

AGENDA FESTIVAL

1. Merti Jiwo

Pelaksana : Panitia Tlatah Bocah VII

Peserta : Simpatisan terbatas (pendaftaran)

Publik : Masyarakat dusun setempat (gratis)

Hari – Tanggal : Sabtu – Minggu, 22 – 23 Juni 2013

Lokasi : Dusun Turgo – Desa Purwobinangun – Kecamatan Pakem

Merti Jiwo berarti bersih diri mengembalikan pada fitrah nurani. Tlatah Bocah memaknainya sebagai pembukaan festival untuk menyatukan persepsi para penggiatnya. Agenda yang dilakukan berupa doa bersama, diskusi, dan eksplorasi gerak (tari) di lokasi yang jauh dari keramaian untuk memahami kehidupan. Merti Jiwo selalu dilakukan di salah satu dusun paling Merapi yang paling atas dimana identik dengan keheningan

Tahun ini, Merti Jiwo akan dilaksanakan di Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, sebuah dusun mempunyai pemahaman tinggi terhadap karakter Merapi dikarenakan pengalaman erupsi pada pada tahun 1994.

Tahun lalu, Merti Jiwo dilaksanakan di Gligir Pasang (Kabupaten Sleman), sebuah dusun di lereng Merapi pada ketinggian +–1250 meter yang dipisahkan oleh jurang dari dusun lain dan hanya dihuni oleh 10 Keluarga (32 jiwa). Pada tahun 2011 agenda ini dilaksanakan di dusun Stabelan (Kabupaten Boyolali), 2010 di dusun Ngandong (Kabupaten Magelang).

2. Hajat Seni

Pelaksana : Reog Singo Dilogo

Peserta : 30 tim kesenian Komunitas seni dari Surabaya, Salatiga, Purwodadi, Merapi, Menoreh, Sumbing, Salatiga, dll

Publik : Penonton (gratis)

Hari – Tanggal : Sabtu – Minggu, 6 – 7 Juli 2013

Lokasi : Dusun Gumuk, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang

Hajat seni merupakan sebuah perayaan kesenian untuk secara bersama mengkampanyekan hak anak (hak hidup, tumbuh kembang, pendidikan, partisipasi). Puluhan komunitas yang terlibat dalam kampanye ini terdiri berasal lereng Merapi, Sumbing, perbukitan Menoreh serta beberapa daerah lain di Jawa (Jakarta, Surabaya, Grobogan, Salatiga, Surakarta, Temanggung, Kulonprogo, dan Jogja).

Pada tahun 2012, Hajat Seni dilaksanakan di dusun Gejiwan, 2011 di dusun Sengi, 2010 di di Sumber, 2007-2009 di Gowok Pos.

TB2012

3. Beasiswa Seni

Pelaksana : Aman Perkusi

Peserta : Komunitas

Publik : Individu (tiket)

Hari – Tanggal : Sabtu – 16 Agustus 2013

Lokasi : Warung Bang Hoody – Jl. Pejaten Barat Raya no 17 Jakarta Selatan

Beasiswa Seni digagas Aman Perkusi untuk mendukung kelangsungan seni tradisi dikenalkan pada anak-anak Merapi yang telah diinisiasi oleh Tlatah Bocah. Tahun ini merupakan tahun yang ke 3 pelaksanaan Beasiswa Seni ini. Perhelatan dimaksudkan mengajak individu yang tertarik pembangunan kampung yang menyertakan komunitas anak. Agenda yang dikemas adalah Tabung Sesama, Presentasi Pencapaian Beasiswa seni 2 dan Tlatah Bocah 6, Konser Musi WAPA Work art play art, Sering – Sharing diskusi inspiratif dengan menghadirkan inspirator dan tema Pergerakan Peristiwa Budaya tradisi muda, serta Pameran Rakyat.

Hasil dari Beasiswa tahun-tahun sebelumnya berupa 1 set gamelan, 15 Djembe, 3 suling, 1 karimba, 1 set rebana, 1 set kostum kesenian, serta 150 ayam untuk anak-anak Merapi yang pada tahun 2012 aktivitas beasiswa ini dilaksanakan di Gedung Pertunjukan Bulungan Blok M, Jaksel, sedangkan pada tahun 2011 di Payon Restoran Kemang Raya dan Cafe Kopi Merah Cilandak, Jakarta Selatan

4. Laku Lampah

Pelaksana : Omah Ngisor

Peserta : 30 tim kesenian Komunitas seni dari Surabaya, Salatiga, Purwodadi, Merapi, Menoreh, Sumbing, Salatiga, dll

Publik : Penonton (gratis)

Hari – Tanggal : Sabtu – Minggu, 24 – 25 Agustus 2013

Lokasi : Dusun Sambak, Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang

Laku Lampah mengandung arti proses spiritual dengan melakukan perjalanan ke tempat lain. Agenda berupa anjangsana komunitas–komunitas Merapi ke wilayah lain untuk mendukung keberlangsungan komunitas setempat serta mengkampanyekan hak anak dengan menyajikan berbagai pertunjukan kesenian local. Hal ini untuk mendukung keberlangsungan komunitas–komunitas anak di luar Merapi yang tergabung dalam jejaring Tlatah Bocah.

Pada tahun 2012, Laku Lampah menyambangi lereng Menoreh dengan mengajak beberapa tim kesenian lokal serta tamu dari Surabaya dan Salatiga untuk mendorong geliat kesenian setempat. Pada tahun 2011 Laku Lampah dilakukan di huntara Jumoyo (Kabupaten Magelang) untuk masyarakat pengungsi lahar hujan, huntara Cangkringan (Kabupaten Sleman) yang menghuni lingkungan ini dikarenakan awan panas dan juga di Deles sebuah dusun di pinggiran Merapi wilayah Kabupaten Klaten yang diapit Sungai Gendol dan Sungai Woro. Pemilihan 3 tempat ini untuk memberikan dukungan psikologis masyarakat setempat atas dampak erupsi Merapi di tahun 2010

5. Larung Sukerta

Pelaksana : Panitia Tlatah Bocah VII

Peserta : Komunitas

Publik : Penonton (gratis)

Hari – Tanggal : Minggu, 31 Agustus 2013

Lokasi : Dusun Telogolele – Desa Telogolele – Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali

Larung Sukerta merupakan suatu tradisi menghilangkan unsur negatif dalam kehidupan disimbolkan dengan melepas benda sebagai gambaran unsur tersebut. Prosesi ini biasanya dilakukan di sungai, sendang, maupun laut yang bersifat mengalir. Selain itu, larung juga menggambarkan kehidupan baru dengan berpikir positif atas segala yang terjadi.

Pada tahun 2012 dilaksanakan di sebuah mata air yang mempunyai karakter asin dan tawar di Kabupaten Boyolali. Pada tahun 2011 dilaksanakan di Trisik (Muara Sungai Progo – Kabupaten Kulonprogo), serta 2010 di Wonolelo (pertemuan sungai Pabelan dan Apu – Kabupaten Magelang).

SEKRETARIAT

Kontak
GunawanJulianto
Alamat RUMAH PELANGI
Jl. Talun km 1 no. 57 – Patosan
Muntilan – Jawa Tengah 56412
Telpon : 0818 – 0272 3030(Kakao Talk, Line, Whatsapp, SMS)Facebook: Tlatah BocahTwitter : @TlatahBocahWebsite : www.TlatahBocah.org

Email : TlatahBocah@gmail.com

Muntilan, 30 April 2013

( Gunawan Julianto )

Direktur Festival

Foto: Koleksi tlatahbocah.org